Diary #Miss Him

diary-miss-him

Title : Diary #Misss Him

Author : Oh Honey

Lenght : series

Genre : Sad

Author’s Note : ini adalah series ketiga dari Diary. semoga suka dan jangan lupa comment. dan jangan lupa baca juga series sebelumnya biar tambah ngerti dengan alur ceritanya.

oke langsung aja, HAPPY READING ALL 🙂

Rindu. Satu kata yang sangat menyakitkan bagi sebagian orang, termasuk diriku. Tak pernah terbayangkan oleh diriku kalau merindukan seseorang akan terasa semenyakitkan ini, seolah nafasku direnggut paksa dan tak membiarkanku untuk hidup. aku tidak menyangka kalau rindu memiliki efek yang sangat besar bagi diriku, layaknya ledakan atom atom yang saling bertabrakan dan menimbulkan berbagai gelombang yang tak terdefinisikan.

 

Sudah 1 bulan aku dan appa pindah ke Gwangju kota yang sering aku kunjungi sewaktu aku kecil, karena nenekku memang tinggal disini. Di kota ini aku memiliki cukup banyak kenangan bersama oemma. Dan aku menemukan hobi baru disini yaitu MENGENANG sosok oemma lewat sudut sudut kota Gwangju. Menyenangkan rasanya saat aku dapat mengingat setiap momen momen indah bersama oemma. Ingin rasanya aku memutar waktu dan kembali ke masa masa dulu saat oemma masih ada disampingku, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya, aku ingin mengukir lebih banyak kenangan bersama oemma. Mengingat semua itu membuatku sadar kalau aku telah melewatkan begitu banyak kesempatan bersama oemma. Kesempatan yang tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.

 

Langit malam ini terlihat begitu tenang, tak ada tetesan air hujan yang mencoba menerobos keluar, hanya terlihat beberapa bintang bintang kecil yang seolah mencoba menyemarakkan sepinya langit malam ini.

Pikiranku jauh melayang entah kemana saat aku menerawang keatas, mencoba memahami perasaan langit yang terlihat sangat sepi. Dalam hati aku bertanya. Apa kau sedang merindukkan seseorang? Seperti diriku?.

 

Lagi dan lagi aku menulis di buku diary berwarna biru kesayanganku. Sepertinya menulis dairy sudah menjadi kebiasaanku. Dan aku tidak ingin kebiasaanku ini hilang karena memang inilah satu satunya tempatku meluapkan semua rasa yang ada diriku. Aku tidak dapat bercerita ke seorang teman karena memang aku tidak memiliki teman yang bisa kuajak berbagi cerita, aku juga tidak dapat bercerita pada appa karena aku tidak ingin membebani pikirannya dengan PERASAAN TIDAK JELAS yang aku rasakan. Hanya inilah cara satu satunya yang bisa aku lakukan untuk meluapkan semua perasaanku. Menulis.

 

Mengenai rindu, aku tau satu fakta tentangnya sekarang, yaitu rindu itu menyakitkan dan menyiksa. Ada banyak hal yang aku rindukan sekarang, kehidupanku dulu di seoul, teman teman sekolahku, guru sekolahku, oemma dan yang paling menimbulkan goresan terdalam dihatiku, KYUHYUN. Yah, aku merindukannya. Sangat.

Ingin rasanya aku menangis setiap mengingat namanya, ingin rasanya aku berteriak didepannya dan mengatakan kalau aku SANGAT MERINDUKANNYA. Ingin rasanya aku memeluknya dan menggenggam tanganya. Aku ingin semua itu.

Tapi kenyataan seolah menamparku cukup keras, menyadarkanku kalau semua itu tidak mungkin terjadi karena aku telah PERGI dari hidupnya. Sejenak aku berpikir apakah seharusnya aku tidak pergi?  Sehingga rindu ini tidak pernah ada?.

Aku benar benar merasa tersiksa dengan semua rindu ini, aku ingin menguburnya dalam dalam.

Aku hanya ingin MELUPAKANNYA tapi kenapa rindu ini selalu datang dan menganggu?

Kenapa rindu ini sangat menyiksaku? Kenapa aku sangat merindukannya? Kenapa semua tentang dirinya tak pernah mau pergi dari pikiranku. Bahkan saat aku tidur. Kenapa dia selalu muncul dimimpiku?. Kenapa dia selalu berhasil mengacaukan pikiranku?. Aku BENCI dengan semua rindu yang aku rasakan. Dapatkah aku membuang semua rindu ini?. atau dapatkah aku menghempaskan semua rindu ini bersama angin malam yang sedang bertiup?.

 

Flashback on

Sore itu aku pulang lebih awal dari biasanya, hari ini jadwal kuliahku tidak sepadat biasanya. Kulihat appa belum pulang, mungkin ia akan pulang 1 atau 2 jam lagi. Kulangkahkan kakiku menuju singasanaku. Kamar. Aku benar benar capek, tubuhku seperti diremuk. Kurebahkan tubuhku dikasur mencoba menenangkan setiap otot ditubuhku.

“eunbi ah..”

Aku merasa ada yang mengguncang guncangkan tubuhku. Mataku sedikit demi sedikit terbuka. Ah, rupanya aku ketiduran. batinku

“appa” ucapku lirih.

“kenapa kamu menangis?” Tanya appa dengan nada khawatir dan aku hanya tertegun mendengar pertanyaannya. Menangis? Aku menangis? Benarkah?

Kuusapakan jariku kedaerah mata dan benar AKU MENANGIS.

“anni appa, siapa yang menangis, aku sedang tidur” jawabku menyakinkan, aku tidak ingin appa khawatir dengan keadaanku.

“benarkah?”

Aku hanya mengangguk, menyakinkan.

“baiklah, tidurlah lagi”

Dan detik berikutnya appa mengusap kepalaku sambil tersenyum sebelum keluar dari kamarku. Lewat usapan lembut itu appa mencoba menguatkanku, mungkin appa memang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku tapi aku yakin appa merasakan ada sesuatu yang sedang menganggu pikiranku. Hanya saja ia tidak ingin menanyakannya padaku, appa memang selalu begitu. Selalu menungguku bercerita dari pada menanyakan apa yang sedang menganggu pikiranku.

Soal menangis. Aku sendiri tak tau kenapa aku tidur sambil menangis. Sampai beberapa detik setelah kesadaranku kembali sepenuhnya aku sadar apa yang membuatku menangis. Dan mengingat alasan itu membuatku ingin menangis lebih kencang. Secara tiba tiba air mataku menerembes keluar, dadaku terasa sangat sesak seolah ada ribuan batu didalamya, kusembunyikan wajahku dibalik batal agar appa tak mendengar tangisku. Aku mencoba meredam suara tangisku agar mendengarnya. Aku tak ingin ia mencemaskan diriku.

Entah apa yang aku pikirkan sebelum tidur sampai membuatku memimpikan sosok yang sangat aku rindukan selama 1 bulan terakhir ini. KYUHYUN. Laki laki itu seolah tidak membiarkan aku untuk hidup dengan tenang.

Berbagai pertanyaan secara spontan muncul dipikiranku. Bagaimana bisa aku menangis tanpa aku sadari? Kenapa efek kyuhyun begitu besar bagi diriku sampai membuat aku menangis setiap hari bahkan saat aku tidurpun aku menangis? Dan pertanyaan terakhir adalah pertanyaan yang sangat aku benci, sebegitu rindukah aku padanya sampai setiap apa yang aku lakukan tak pernah lepas darinya?

Ironis, mungkin itu kata yang tepat yang dapat menggambarkan keadaanku sekarang, aku memutuskan untuk pergi dari kyuhyun tapi aku tidak pernah bisa benar benar pergi darinya. Hari hariku tak pernah lepas darinya. Dibanding mengingat semua mata kuliah di kampus aku lebih sering mengingatnya. Dibanding memikirkan diriku aku lebih sering memikirkan tentangnya. Bahkan aku menangis dalam tidurku hanya karena aku bermimpi tentangnya.

Ada apa dengan diriku, kenapa aku benar benar tergila gila padanya?

 

Hari hari yang aku lewati selanjutnya tidak lebih baik dari hari sebelumnya, bahkan hari hariku lebih buruk. aku semakin merindukkannya sejalan dengan detik detik yang terus bertambah.

Dimalam minggu ini aku mengahabiskan waktuku bersama appa. Variety show menjadi pilihan aku dan appa untuk menghabiskan malam ini.

Disebuah sofa berwana putih aku mendudukkan diriku disamping appa, tak jarang gelak tawa appa terdengar ditelingaku. Aku senang appa bisa tertawa begitu lepas, setelah apa yang telah kita lewati berdua. Tapi entah kenapa pikiranku tiba tiba kosong, variety show yang sejak tadi menjadi fokusku sejenak hilang dari pikiranku.

“eunbi ah..”

Gunjangan appa menggembalikan kesadaranku.

“apa yang kau lamunkan?”

Aku mengerjapkan mataku berkali kali mencoba mencari kesadarnaku yang belum sepenuhnya kembali. Appa menatapku intens dan akupun juga menatapnya.

“tidak ada” jawabku bohong.  Harus aku akui aku terlalu sering melamun akhir akhir ini, bahkan saat makanpun terkadang pikiranku tiba tiba kosong.

“sejak kita pindah kesini, appa sering melihat kau melamun dan wajahmu terlihat murung. Apa kau tidak senang kita pindah kesini?”

Appa semakin memandangku intens, sepertinya aku sudah membuat appa sangat khawatir.

“anniyo appa,” aku menjeda kata kataku, berusaha mencari alasan apa yang harus aku ucapkan pada appa

“ aku hanya…aku hanya…” kata kataku tergantung diudara dan entah kenapa air mataku malah jatuh. Ini diluar kehendakku, aku sama sekali tidak ingin menangis sekarang tapi kenapa.. kenapa aku menangis.

“kenapa kau menangis?”

Raut wajah appa terlihat semakin khawatir, dia kemudian mengenggam tanganku.

“appa, aku merindukannya. Aku sangat merindukannya” ucapku lirih, sepertinya setiap organ tubuhku bekerja diluar kontrolku, aku tidak berniat mengatakan itu tapi entah kenapa kata kata itu yang justru keluar dari bibirku.

Dan detik berikutnya aku tidak bisa lagi mengontrol setiap tetes air mata yang keluar. Aku tidak bisa lagi menahan sesak didadaku. Aku menangis tersedu sedu, sampai dadaku terasa sangat sakit. Tegorokanku sakit dan mataku seolah menumpahkan semua air mata yang aku punya.

Sesekali kupukul dadaku dengan terisak mencoba meredam sakit ini

“appa, kenapa ini sangat menyakitkan?”

“kenapa aku sangat merindukannya?”

Ucapku dengan susah payah, karena tangis ini menyusahkanku untuk mengeluarkan satu katapun.

Mungkin appa tidak tau siapa sebenarnya yang aku rindukan, tapi appa seolah mengerti betul dengan apa yang aku rasakan. Dia membawaku kedalam pelukannya mencoba menenangkanku, dan dia juga ikut menangis bersamaku. Aku dapat mendengar isakannya perlahan dan itu semakin membuatku menangis tak karuan bahkan mataku terasa sangat panas dan suaraku sudah hilang entah kemana. Kueratkan pelukanku pada appa dan dapat aku rasakan appa juga mengeratkan pelukannya pada tubuhku.

Malam minggu yang seharusnya menyenangkan, menjadi sangat kelabu, sepertinya memang ini lah puncak kerinduanku, aku tidak bisa lagi menahannya.

**

Udara sore hari ini terasa lebih dingin dari biasanya, sepertinya musim dingin akan datang sebentar lagi. Ku eratkan mantel yang membalut tubuhku. Sesekali kulirik jam tangan kecil yang melingakr ditanganku.

“15 menit lagi” batinku. Saat ini aku sedang menunggu bus yang akan membawaku pulang.

Tanganku meraba raba kedalam tas selempang berwarna hitam milikku, mencoba mencari sebuah benda yang  aku rasa dapat menemaniku menunggu busku.

“ah ini dia” kataku pelan.

Ku colokkan headset berwana putih ke handphoneku. Kuputar sebuah lagu asal.

Perlahan dapat aku dengar music yang mengalun indah lewat handhoneku.

Satu lagu

Dua lagu

Dan lagu ketiga membuatku terdiam, pikiranku melayang entah kemana saat lirik demi lirik yang cukup dalam itu mengalun ditelingaku.

Maeil maeil neol saranghandago
Wichinyeon maeil maeil ni ireum buremyeon
Nae ape geudaega seo inneun
Sunganeul saenggakhae saenggakhae saenggakhar
Haru haru ni saenggake jam mot deureoyo
Haru haru geudaeppunijyo
Tteollyeooneun nae simjang sori deullyeoonayo
Saranghae saranghae saranghae

sigan jina dasi sewol jina
Uri hamkke handamyeon gyeote itdamyeo
Nan saenggakmanhaedo jakku nunmuli nayo

 

Trans : Hari demi hari, aku tak bisa tidur memikirkanmu
Hari demi hari, hanya kamu
Bisakah kamu mendengar suara hatiku yang bergetar?
Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu

Setelah waktu berlalu
Jika kita bersama, jika kamu disampingku
Hanya memikirkannya membuat aku menangis

 

I.O.I – I Love You, I Remember You (Ost Scarlet Heart Ryeo)

 

 

 

Lagu itu seolah menyindirku. Air mataku secara tiba tiba menerobos keluar. Kuusap air mata itu dengan jariku. Tapi sepertinya itu tidak menimbulkan efek, air mataku terus saja keluar seiring lirik yang terus mengalun tangisanku semakin menjadi, menimbulkan sebuah isakan yang sama sekali tidak aku inginkan. Aku tidak tau bagaimana reaksi orang disekitarku karena mataku kabur karena air mata.

“aggashi, kau tidak naik?”

“aggashi”

Aku dapat mendengar suara teriakan sopir bus itu, bus yang aku tunggu sejak 15 menit yang lalu. Tapi seperti terhipnotis aku hanya duduk ditempatku tanpa bergeser barang sejengkalpun. Sampai pada akhirnya bus itu berlalu dihadapanku, aku juga masih terdiam ditempatku dengan lelehan air mata yang membanjiri pelupukku. Pikiranku kosong saat itu aku tidak bisa memikirkan apa apa. Bayangan bayangan kyuhyun berputar dikepalaku bak sebuah rol film.

Flashback off

 

Sampai detik ini rindu ini terus menggerogoti diriku, semakin hari semakin aku merindukannya. Awalnya aku berpikir kalau cintaku pada kyuhyun akan hilang seiring jarak yang aku buat tapi ternyata aku salah jarak yang aku buat justru membuatku semakin mengingatnya dan semakin merindukkannya. Bahkan hanya dengan memikirkannya saja air mataku keluar dengan sendirinya. Lalu apa keputusan yang harus aku ambil saat meninggalkan dan menunggunya terasa seperti buah simalakama.

Mampukah aku terus bertahan diatas segala rindu ini?

Mampukah aku melupakannya?

Andai rindu ini mudah, mungkin setiap langkahku akan selalu merindukannya.

Andai rindu ini mudah, mungkin setiap nafasku juga akan selalu merindukannya.

Andai rindu ini tak pernah ada, mungkin aku tak sesakit ini.

===THE END===

NB : jangan lupa isi kolom komentar dibawah ya, komentar dari kalian sangat bermanfaat untuk author 🙂

kamsahamida 🙂 🙂

Diary #First Love

diary-frist-love

Title : Diary #First Love

Author : Oh Honey

Genre : sad

Lenght : series

Author’s Note : halo semua, author balik lagi kali ini dengan ff diary. ff ini sebelumnya author buat oneshoot tapi karena tiba tiba muncul ide buat ngelanjutin nih ff jadi author putuskan buat ngelanjut nih ff dan ff ini bakal author jadiin series.

semoga suka ya dengan ide author yang super geje ini 🙂

HAPPY READING, GUYS 🙂 🙂

Aku sering mendengar tentang kata, cinta itu tidak harus memiliki, cukup dengan melihat orang yang kita cintai bahagia maka kita juga akan merasa bahagia.  sekalipun dengan orang lain? aku TIDAK PERCAYA itu dan juga, cinta tidak harus memilki? BULLSHIT .

Aku rasa tidak ada manusia di dunia ini yang sanggup merealisasikannnya. CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI, aku ingin tertawa rasanya. Entah siapa yang telah menciptakan kata kata itu, tapi aku rasa dia seorang malaikat paling baik yang pernah ada karena dia bisa mencintai seseorang tanpa harus memilikinya. Luar biasa.

 

Malam ini aku kembali menulis di buku dairy berwarna biru kesayanganku, aku mencoba  menumpahkan semua rasa yang ada didiriku semua beban yang ada dipikiran dan hatiku, layaknya langit malam ini yang menumpahkan semua bebannya lewat tetesan tetesan air hujan.

Lewat jendela kamarku aku dapat melihat tetesan tetesan air hujan membasahi setiap sudut kota, tidak menyisakan satu jengkalpun, nampaknya langit sudah sangat penggap untuk menanggung beribu ribu tetesan hujan dalam dirinya. Layaknya diriku.

Hari ini aku telah membuat keputusan yang berat, anni sangat berat karena aku harus menyakinkan appa untuk menyetujui keputusanku ini. tidak mudah memang untuk menjelaskan semua keputusanku ini pada appa, bahkan aku sampai menangis didepannya. Menyedihkan sekaligus memalukan.

Mengenai cinta tidak harus memiliki, awalnya aku percaya kalau itu mungkin saja terjadi, tapi pandanganku akan kata kata mutiara itu berubah saat aku mengalaminya sendiri. Cinta sepihak.

Aku tidak menyangka akan mengalami kisah melodrama ini, begitu klise dan menyakitkan. Cintaku pada kyuhyun tak akan pernah terbalas seperti yang aku harapkan. Seringkali aku berpikir untuk menunggunya tapi seringkali juga aku berpikir untuk melupakannya. Semua pikiran itu membuatku frustasi, aku tidak tahu langkah mana yang harus aku pilih. Menunggunya atau melupakannya. Keduanya sama sama menyakitkan dan menyiksa. Aku tidak yakin bisa melaluinya dengan mudah.

Kehidupanku bersama appa saat ini mungkin jauh lebih baik dari sebelumnya, tapi kisah cintaku, cinta pertamaku… jauh lebih buruk dari sebelumnya. Setiap hari aku harus melihat hal yang sama sekali tidak aku inginkan bahkan aku sangat membencinya. Kebersamaan kyuhyun dengan kekasihnya, park nana. Itulah alasan kenapa aku tidak percaya dengan kata CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI. Terlalu menyakitkan saat harus melihat kebersamaan orang yang kita cintai bersama orang lain. harus aku akui mereka memang terlihat serasi saat jalan bersama, tapi kenyataan itu justru seperti garam yang dengan sengaja ditaburkan pada luka hatiku, menyakitkan.

Ingin rasanya aku berteriak kepada mereka,

tidakkah kalian tau kalau apa yang kalian lakukan itu melukaiku?, tidakkah kalian tau betapa sakitnya hatiku saat harus melihatnya?, tidakkah kalian tau kalau aku setengah mati menahan luka ini sendiri?, tidakkah kalian kasihan padaku? Anni, aku tidak ingin mereka kasihan padaku. Aku sama sekali tidak ingin dikasihani oleh siapapun. Aku hanya ingin mereka tau kalau aku tersakiti.

 

Seharian ini aku merapalkan sebuah doa dalam hatiku, aku tidak tau bagaimana kehidupanku selanjutnya tapi aku harap keputusanku ini adalah keputusan yang tepat. Yah, aku rasa memang ini keputusan yang tepat. Setelah apa yang telah aku lakukan, uhh sepertinya aku benar benar bodoh atau urat maluku sudah putus. Entahlah, yang jelas semua ini karena efek kyuhyun atau lebih tepatnya cintaku pada kyuhyun. Aku benci mengingatnya.

 

Flashback

Hari ini adalah 7 hari sebelum hari kelulusanku dan itu berarti sebentar lagi aku akan benar benar menjadi wanita dewasa, ah senang sekali rasanya saat mengetahui kalau aku akan melepas gelar siswaku dan menggantinya menjadi MAHASISWA. Memikirkannya membuatku ingin berteriak sekeras kerasnya.

Dengan langkah tenang aku menyusuri koridor sekolah, hari ini aku ingin melepaskan semua beban yang menyiksaku. Berat memang, tapi aku telah memutuskan, aku akan mengungkapkan perasaanku pada kyuhyun. Terdengar gila?. Yah, sangat gila.

Walaupun aku sudah tau kata ‘penolakan’ yang akan aku dapatkan tapi aku tetap melanjutkan langkahku. Bodoh, yah aku benar benar bodoh, sudah tau kalau kyuhyun pasti akan menolakku tapi aku tetap nekat akan mengatakan perasaanku. Dasar bodoh. Tapi aku bisa apa saat aku tidak sanggup lagi menanggung perasaan ini. aku bisa apa saat rasa ini semakin membunuhku. Aku tidak ingin rasa ini membunuhku aku ingin aku yang MEMBUNUH rasa ini. yah, aku berpikir kalau kyuhyun benar benar menolakku itu akan membuatku membencinya dan melupakan semua rasa ini.

 

Kuhentikan langkahku saat aku hampir sampai di taman sekolah, kuhembuskan nafas beratku berharap ini dapat mengurangi rasa gugupku. Aku tidak menyangka kalau aku akan segugup ini sampai membuatku ingin kecing saat ini juga.

‘haruskah aku membatalkannya?’ Tanya ku dalam hati

‘anni, aku tidak boleh mundur’

‘tapi bagaimana kalau dia membenciku?’

Aku tertegun dengan pertanyaanku sendiri. Bagaimana kalau kyuhyun benar benar akan membencinku. Apakah aku sanggup menerimanya.

‘……itu akan memudahkanku melupakannya, karena aku juga akan membencinya’

Untuk terakhir kalinya kutarik nafasku dalam dalam sebelum aku melangkahkan kakiku kearah sosok jakung yang telah berdiri menatapku disamping bangku taman.

“kyuhyun ah..”

“kenapa kau lama sekali” rutuknya dengan wajah yang dibuat sebal.

“mianhae”

“eum, kenapa kau mengajakku bertemu disini tidak biasanya”

“…em.. itu.. karena..” ah, kenapa lidahku keluh sekali, padahal aku sudah berlatih sejak kemarin.

“karena, mwo?”

“karena ada yang ingin aku katakan.”

Kyuhyun menautkan alisnya, bingung.

“katakanlah”

“sebenarnya.. sebenarnya..”

“aissh sebenarnya apa?”

“sebenarnya aku menyukaimu” akhirnya, aku mengatakannya. Rasanya jantungku ingin meledak sekarang.

Kyuhyun menatapku tak percaya, aku bisa memaklumi sikapnya itu. Terlalu mengejutkan memang.

“mworago?”

“aku menyukaimu”

“eunbi ah, apa yang kau maksud menyukai adalah suka antara wanita dan pria?”

“eum”

“eunbi ah, bagaimana bisa.” Kyuhyun menjeda kata katanya.

“ Kita kan sudah berteman sudah cukup lama dan aku juga sudah..”

“arra, tapi aku bisa apa saat hatiku mengatakan itu, aku juga tau kau tak mungkin membalas perasaanku tapi aku hanya ingin mengatakannya, aku tidak ingin memendam ini seumur hidup”

“eunbi ah, mianhae” terlihat sekali dari wajahnya kalau ia sangat menyesal dengan apa yang ia katakan dan itu membuatku semakin ingin membencinya.

Kenapa dia harus meminta maaf dan menunjukkan wajah sedihnya?. Apa aku terlalu menyedihkan?. Rutukku dalam hati

“oh, kau tidak perlu minta maaf aku tidak berharap lebih darimu.” Ucapku dengan sedikit lirih, ini sangat bertolak belakang dengan apa yang hatiku katakan. Ingin rasanya aku menangis sekarang juga.

“aku pergi dulu kyuhyun ah”

Aku membalikkan tubuhku, sebelum air mataku mendesak keluar dihadapan kyuhyun. Aku tidak ingin terlihat menyedihkan dihadapannya. Dengan langkah tertatih kulangkahkan kakiku meninggalkan kyuhyun sendiri.

“auwww”

“gwenchana?” Tanya kyuhyun khawatir saat mengetahui aku terjatuh gara gara batu sialan ini.

Aku hanya mengacungkan tanganku membentuk tanda oke tanpa membalik wajahku kearahnya. Aku tidak ingin kyuhyun tahu kalau aku sedang menangis. Jika saja ini bukan disekolah sudah dipastikan kalau aku sudah menangis sesenggukan. Sakit sekali rasanya.

Dalam perjalanan pulang aku merutuki kebodohanku sendiri, aku merutuki semua yang telah aku lakukan karena pada akhirnya aku tidak sanggup menahan rasa sakit karena kyuhyun.

Kenapa masih terasa sakit saat aku sudah tau kalau kata itu yang akan kyuhyun ucapkan. Kenapa masih terasa sakit saat aku sudah menyiapkan diriku untuk menerima semua itu. Kenapa rasanya dadaku sesak sekali dan kenapa batu sialan itu seolah meledekku dengan membuatku terjatuh. Kenapa semuanya terasa menyakitkan. KENAPA?

Flashback off

 

Setelah kejadian itu setiap hari aku berperang dengan hati dan pikiranku, memilih jawaban yang tepat menunggunya atau meninggalkannya. Dan pada akhirnya aku memilih untuk MENINGGALKANNYA.

Hari ini di hari kelulusanku aku memutuskan untuk meninggalkan kyuhyun dan semua tentangnya. Aku memohon pada appa untuk pindah ke kota lain, dan aku bersyukur karena appa mau mengabulkan keinginanku walaupun dia tidak tau alasan utamaku memintanya pindah. Aku mengatakan padanya kalau aku tidak punya teman disini dan aku ingin mencari teman ditempat lain.

 

Siang tadi saat perayaan kelulusanku, aku meninggalkan sekolah lebih awal.

“tok..tok..tok” kuketuk pintu didepanku beberapa kali sampai terlihat seorang wanita paruh baya yang membuka pintu untukku. wanita itu tersenyum kepadaku.

“oh, eunbi ah. Apa kau mencari tuan muda cho, bukankah kalian ada perayaan kelulusan disekolah?”

“ne ajumma, aku kesini hanya ingin menitipkan ini” kataku dengan menyodorkan sebuah surat dengan amplop berwarna biru laut.

“apakah ini untuk tuan muda cho?”

“ne ajumma, tolong berikan kepadanya”

“ne”

“terimakasih ajuma, aku pamit dulu.”

Aku tidak tau apa yang aku lakukan sekarang, kenapa aku harus meninggalkan surat untuk kyuhyun sementara aku memutuskan untuk meninggalkannya. Aku benar benar tidak tau dengan diriku sendiri aku hanya ingin melakukan apa yang hatiku katakan. Setidaknya sebelum benar benar meninggalkannya aku ingin mengungkapkan perasaanku sekali lagi dan pergi dari hidupnya secara baik baik.

 

Dibanding kata CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI aku lebih percaya dengan kata TAK ADA CINTA PERTAMA YANG SUKSES. Karena pada akhirnya aku memilih pergi meninggalkannya dari pada aku menunggunya dengan terus melihat kebahagiannya bersama orang lain. mungkin aku terlihat sangat lemah dan pengecut saat ini karena telah menyerah dan memutuskan untuk pergi meninggalkan kyuhyun dan semua kenangan bersamanya. Tapi percayalah, melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain itu seakan sebuah racun yang membunuh kita perlahan. Sangat menyakitkan melebihi sebuah pisau yang menggores tepat dinadimu.

TAK ADA CINTA PERTAMA YANG SUKSES. Yah, pada akhirnya aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan kalau cinta pertamaku tidak sukses dan berakhir menyedihkan.

 

Saat ini ditengah tetesan air hujan yang seolah ikut menangis bersamaku aku berdoa pada Tuhan kalau keputusan yang aku ambil adalah benar, dan aku berharap Tuhan mau membantuku untuk melupakan perasaan ini. perasaanku pada kyuhyun.

Terima kasih langit, karena malam ini kau ikut menangis bersamaku.

—THE END—

author’s note : gimana readers? suka gak? atau ngerasa geje banget? apapun yang kalian pikirkan silakan masukin dikolom komentar ya,

kamsahamida sudah mau baca 🙂 🙂