Hold Me Tight {Part 1}

hols-me-copy

Judul: Hold Me Tight

Author: Oh Honey

Main cast: Cho kyuhyuh – Hwang Eunbi (OC) –others

Genre: romance, sad, married life

Length: chapter

Author’s Note: sekarang author balik dengan ff baru. Semoga kalian pada suka. Ff ini memang cerita yang klasik banget tapi aku tetep berharap kalian suka sama ff amatiran ini.

Jangan lupa meninggalkan komen disetiap chapternya ya…

 

—–HAPPY READING—-

Untuk kesekian kalinya wanita itu menghela nafas dalam-dalam. Riuhnya pesta di halaman rumahnya tidak membuatnya sedetik saja dapat menarik senyumnya walau dengan terpaksa.Goyangan kecil pada gelas wine ditangannya menggambarkan kecemasan dalam hatinya.

“tinggal 99 hari lagi” gumamnya.

Hidupnya akan selesai, dia akan segera mati dalam waktu 99 hari. Seperti ayah, dan juga kakak laki-lakinya. Berakhir dengan peti mati yang akan segera ia rasakan. Mendadak dadanya menjadi sesak, mengingat betapa menyakitkan sebuah fakta. Fakta yang pernah dia dengar dengan telinganya sendiri, fakta yang bahkan dia tidak bisa ungkap demi orang-orang yang ia cintai. Fakta yang perlahan menghancurkannya menjadikannya kepingan-kepingan rasa sakit yang akan selalu menghantuinya.

 

Pria tua dan keluarganya yang sangat dia sayangi, bahkan dia menangis tersedu di pemakaman ayahnya dan juga kakak laki-lakinya. Pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya, tapi tidak setelah dia menggetahui fakta itu. Fakta bahwa pria tua itu telah membunuh semua orang yang ia sayangi dan sialannya dia tidak bisa hanya sekedar mengatakan kepada polisi bahwa pria tua brengsek itu yang telah menyeret orang-orang tercintainya menjeput ajal. Dan tidak lama lagi dia akan menjadi target selanjutnya. Tepatnya 99 hari lagi. Semua warisan keluarga ini akan jatuh secara utuh ketangannya setelah dia berusia 23 tahun, 99 hari lagi. Itu artinya dia akan mati seperti ayah dan kakaknya saat umurnya genap 23 tahun. Entah itu kecelakaan mobil seperti kakaknya atau mati di rumahnya karena racun, siapa yang tahu. Dia benci kenyataan ini, menuntutnya terus hidup dalam kepuraan-puraan seperti penjahat-penjahat itu, menuntutnya terus menghitung hari seperti wanita bodoh, dan terus hidup dalam rasa cemas yang bahkan di dalam rumahnya sendiri dan ini semua menjadikannya wanita yang begitu dingin dan menyedihkan.

 

Hanya ada dua pilihan yang dia punya untuk mengakhiri ini semua, membiarkan pria tua itu memasukkan racun ke dalam makanannya atau dia yang membunuh dirinya sendiri sebelum umurnya 23 tahun. Dan dia kesal saat tidak ada pilihan untuk tetap hidup disana. Dia akan mati apapun yang terjadi.

 

Kenapa 23 tahun? Karena saat itu semua kekayaan keluarga ini akan jadi miliknya jadi tidak ada kesempatan bagi pria tua dan keluarganya itu untuk terus merasakan nyamannya kursi kebesaran Daejung Grup. Tidak masalah bagi eunbi untuk memberikan semuanya kepada penjahat itu. Tapi pikiran picik macam apa ini? demi nyawanya dia bisa memberikan semuanya yang demi Tuhan itu tidak cukup untuk menyelamatkan nyawanya. Tidak ada musuh yang begitu berbaik hati meskipun dia sudah mendapatkan apa yang ia mau. Keserakan itu akan terus menggerogotinya. Dan pria tua itu tidak akan membiarkan eunbi hidup walaupun warisan itu, harta itu sudah menjadi miliknya. Kenapa? Karena dia penjahat. Seorang penjahat tidak akan membiarkan seekor semut pun hidup setelah dia mengetahui kebusukannya. Tidak akan pernah. Sekecil apapun itu dia akan menyingkirkan semua yang menjadi penghalangnya dan semua orang yang telah mengetahui kebusukannya.

Kesalahan macam apa yang pernah dia lakukan di kehidupan sebelumnya? Dia tidak bisa bertahan disini. Tidak bisa.

 

“kenapa kau tidak turun dan menyapa rekan bisnis kita?”

 

Eunbi memutar tubuhnya, penjahat ini, penjahat ini yang telah membuat hidupnya serasa dineraka. Kerutan di sekitar mata dan bahkan rambutnya yang sudah mulai memutih membuatnya masih terlihat tegas dan licik.

 

“bukankah itu semua rekan bisnis, SAM.CHON” jawab eunbi dengan senyum jengahnya

Pria tua itu tertawa, tawa yang begitu menyakitkan untuk eunbi dengar. Tawa yang sama saat pria tua itu membunuh ayahnya. Adiknya iparnya sendiri. Brengsek.

“bukankah sebentar lagi kau yang akan memimpin perusahaan jadi mereka semua itu juga rekan bisnismu.”

‘dan sebelum itu terjadi kau akan membunuhku lebih dulu’ tambah eunbi dalam hati.

**

Semuanya masih sama pagi ini, steak yang dipanggang begitu sempurna menjadi menu sarapannya pagi ini. sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Meja makan yang begitu luas hanya terisi oleh satu orang wanita yang duduk di paling ujung meja makan ini. suara pisau yang memotong daging itu menjadi satu-satunya suara yang tertangkap dalam gendang telinganya. Dia kesepian dan dia benci ini. Hidup di rumah yang begitu mewah seorang diri bahkan jauh lebih menyakitkan dari pada putri tidur yang bahkan tidak bisa membuka matanya. Semua terasa kosong, ini bukan rumah. Pikirnya. Ini lebih dari sebuah penjara atau mungkin sarang emas yang begitu menyesakkan. Orang berjas hitam yang selalu berdiri di setiap sudut ruangan, para maid yang siap melayaninya bahkan hanya untuk menuangkan air putih unuk membasahi tenggorokannya. Semua terasa menjengkelkan. Bukan ini yang eunbi inginkan, dia hanya ingin tawa rumah ini kembali lagi. Tawa yang selalu ada sebelum orang-orang terkasihnya pergi.

Semua kemewahan ini hanya menjadi sebuah pesakitan yang tidak pernah bisa ia selesaikan sebelum dia mati.

80 hari lagi

Kembali dia menghitung hari di dalam kunyahan-kunyahan kecil steak yang ia masukan ke dalam mulutnya. Dia seperti sedang menghitung hari kematiannya sendiri, miris bukan. Dan diantara kedua pilihan yang ia punya, dia akan memilih, membunuh dirinya sendiri.

Kapan?

Dimana?

 

Nanti malam, nanti malam dia akan benar-benar mengakhiri drama yang tidak ada habisnya ini, mengakhiri semua kemewahan yang begitu menyesakkan ini, mengakhiri kesepian dan kekosongan yang selalu dia rasakan.

 

“aku sudah selesai” katanya pada maid yang berdiri di sampingya, menunggunya sarapan. Menggeser kursinya dengan wajah datar dan dingin, selalu seperti ini. Tidak ada ekspresi lain selain tatapan dingin yang menyedihkan yang terpancar dari iris coklat miliknya.

**

Langit malam ini tampak lebih gelap dari biasanya, tidak ada bulan hanya beberapa bintang yang tampak menghiasi langit.

Langkah kakinya yang kecil-kecil terus berjalan di pinggir jembatan, air yang begitu dalam, di bawah begitu menakutkan.

Kakinya perlahan memanjat jembatan yang terlihat kokoh itu, tangannya bergetar menyentuh dinginnya besi tua itu. Angin malam yang terasa lebih dingin dari sebelumnya menerbangkan anak rambutnya.

‘ini lebih baik’ yakinnya pada hatinya sendiri. Dia akan menyusul orang tercintanya dengan kakinya sendiri.

 

Butiran es jatuh tepat mengenai punggung tangannya, memberinya rasa dingin. Kepalanya menengadah menatap langit.

“salju pertama’ gumamnya.

Dia memejamkan matanya. Jika kalian berdoa pada saat salju pertama turun maka doa kalian akan dikabulkan, itu adalah cerita yang pernah eunbi dengar. Dan untuk malam ini saja, untuk salju terakhir yang ia rasakan. Bolehkah dia berharap bahwa doanya akan di dengar?

‘aku ingin kembali bahagia seperti dulu’ doanya dalam hati.

Kelopak matanya terbuka dan…

BYURRRRR

Air itu menenggelamkannya, semua kenangan indah yang pernah terjadi dulu tiba-tiba berputar di otaknya. Melihat orang-orang yang dicintainya tertawa bersamanya, menghabiskan makan malam bersama dengan penuh tawa. Dan itu indah. Eunbi tersenyum dalam air yang terus membawanya lebih dalam. Dia siap. Dia siap menjemput kebahagian itu, menemui orang-orang terkasihnya.

Matanya perlahan terpejam, kesadarannya hampir hilang saat tiba-tiba tangan itu menariknya ke atas. Membawanya kembali pada dunia yang terlalu kejam untuk dia mimpikan.

**

PRANGGG

Gelas itu pecah begitu saja dengan suara yang begitu memekakkan telinga.

“bodoh! Kau bilang dia kabur?” makinya penuh dengan amarah. Kim So Hoon. Pria tua itu meradang mengetahui bahwa keponakan tercintanya tidak ada di rumah. Dan bodoh semua bodyguard yang dia bayar mahal hanya untuk mengawasinya bisa begitu saja kehilangan wanita polos itu. Membiarkan wanita muda itu kabur dan menghancurkan rencananya. Sialan.

 

“maafkan saya tuan. Saya akan segera mencarinya” tunduk pria dengan jas hitam yang selalu melekat di tubuhnya, tidak berani sekedar mengangkat kepalanya.

“tentu saja kau harus mencarinya!” teriak Kim so hoon di depan wajah kepala keamanan itu.

 

Setelah kepergian anak buahnya tadi, pria tua itu meminum kasar alcohol dari botolnya langsung. Setelah itu dia membantingnya mengenai tembok, menjadikan botol itu seperti gelas yang dia lempar tadi.

Matanya memerah karena marah.

“aku akan mendapatkanmu mati ataupun hidup. Hwang eunbi”

**

Sinar lampu itu perlahan menusuk retina matanya, aroma obat-obatan perlahan memenuhi rongga hidung dan suasana putih yang begitu dominan membuatnya bergidik ngeri.

“apakah aku sudah mati?” batin eunbi

Eunbi menggerakkan tangannya, dan apa ini. selang infus. selang infus itu berada di pergelangan tangannya membuatnya sedikit nyeri karena tadi sempat sedikit menariknya.

“kau sudah bangun?” suara itu mengisi gendang telinganya dan saat itu dia sadar, dia belum mati. Dokter dan perawat yang berlalu lalang di depan ruangannya menjadi pertanda bahwa dia masih berada di rumah sakit bukan di surga. Tapi kenapa bisa ini terjadi?

“apa kau masih merasa sakit?” suara itu lagi.

Eunbi menatap pria yang duduk disamping ranjangnya, pria yang sedang menatapnya penuh prihatin.

“nuguseyo?” Tanya eunbi

“kau tidak mengenalku? Yak gadis nakal. Apa pergi dari rumah selama satu bulan membuatmu lupa pada oppamu?”

“oppa??” kata eunbi membeo

“yak ada apa denganmu? Kau jangan membuatku takut. Dengan melihatmu melompat ke sungai dua hari lalu sudah membuatku hampir mati. Dan sekarang apa, kau seolah lupa padaku?”

Tangan itu, tangan yang membawa eunbi kembali pada dunia adalah tangannya. Tangan pria yang tidak pernah meninggalkan ruangan eunbi. Dia adalah Lee Donghae. Pria pengantar makanan cepat saji dengan dadanan yang jauh dari kata rapi.

“Lee Sejeong. Kau tidak melupakan oppakan?” Tanyanya lagi.

Sejeong? Lee Sejeong?? Siapa?

 

“jadi bagaimana dok keadaannya?” Tanya donghae khawatir menatap adiknya yang bahkan lupa siapa namanya.

“sepertinya dia terkena amnesia. Tapi tenanglah mungkin ini hanya sementara karena dia masih shock.”

 

Setelah itu, eunbi tetap disini untuk beberapa hari. Terkurung di ruangan putih dengan orang asing yang terus memanggilnya Sejeong. Apa dia kehilangan ingatannya? Tidak, eunbi masih mengingat siapa namanya, dia masih bisa mengingat tentang kehidupannya yang menyedihkan. Tapi kenapa bisa pria itu terus memanggilnya Sejeong. Siapa dia sebenarnya.

**

Kepulangannya dari rumah sakit tidak membawa eunbi pada rumah mewahnya tapi pada rumah susun yang jauh dari kata mewah, bahkan rumah ini tidak lebih besar dari ruang tamu miliknya.

 

Kamar yang hanya cukup untuk kasur lipat dan satu lemari kecil ini sekarang menjadi kamarnya. Kamar Sejeong. Beberapa hari disini membuat eunbi tahu bahwa Sejeong, wanita itu adalah adik donghae. Dan eunbi terlonjak kaget saat melihat foto Sejeong. Mata yang sama dengan miliknya, bibir yang sama dengan bibirnya, kulit yang sama putihnya dengannya. Semuanya terasa sama, tidak ada bedanya. Jadi dia siapa sebenarnya? Kembaran eunbi? Tidak dia tidak pernah punya saudara kembar.

 

Semua orang didunia mempunyai seseorang yang sangat mirip dengan dirinya, itulah mereka berdua. Hanya mirip. Lalu dimana dia sekarang? Dimana Sejeong yang asli?.

 

Donghae pernah bercerita kalau Sejeong kabur dari rumah karena dia bosan hidup miskin seperti ini, tapi ini sudah hampir satu bulan setelah eunbi menggatikan Sejeong tapi wanita itu belum muncul juga. Haruskah sekarang dia senang karena dia punya kehidupan baru? Dia senang. Tentu saja, dia punya kakak laki-laki lagi. Akhirnya dia punya keluarga setelah sekian lama.

***

Kebahagian perlahan menyelimuti kehidupannya, paginya jauh lebih cerah dari sebelumnya, malamnya jauh lebih hangat dari sebelumnya. Sampai hari itu datang, hari dimana donghae mengetahui semuanya.

 

“siapa kau sebenarnya?” katanya penuh penekanan. Tidak ada tatapan hangat yang selalu dia berikan.

Eunbi bergetar dalam diamnya, tangannya mencekeram kuat ujung baju miliknya membuat kuku-kuku jari tangannya memutih.

“ap-apa maksud oppa?” suaranya terdengar begitu gugup dan takut

“adikku tidak pernah memakan kacang karena dia alergi, tapi kau bisa duduk tenang memakan kacang hitam, adikku bahkan membenci kucing tapi kau tidak dan satu lagi” donghae menjeda kalimatnya, tangannya dengan kasar menyingkirkan poni yang menutupi dahi eunbi membuatnya hampir kehilangan nafasnya.

“dia tidak memiliki tahi lalat” kemudian donghae dengan kasar menarik tangannya membuat eunbi hampir terjatuh karena kaget.

 

Dia berhak tahu yang sebenarnya, pikir eunbi. Cerita yang selama ini dia simpan begitu rapat harus kembali dia buka. Akhirnya bibirnya mengatakan dengan jelas bahwa dia bukan Sejeong, bukan adik perempuan pria yang sekarang sudah meneteskan air matanya.

Dia bersalah, dia bersalah. Eunbi benci mengakui itu dan dia merasa begitu menyesal telah membohongi donghae. Menghancurkan keluarga kecil ini, eunbi salah. Demi kehidupan barunya dia membuat keluarga kecil lain berantakan.

Kalimat terakhir yang keluar dari bibir donghae terus mengusik pikiran eunbi.

“kehidupanmu bukan disini, tidak seharusnya kau disini”

Apakah ini pengusiran untuk eunbi?

Eunbi menghapus kasar air matanya. Jika disini bukan kehidupannya lalu dimana kehidupannya? Di rumah mewah itu? Rumah yang penuh dengan rasa sakit. Tidak, dia tidak ingin kembali kesana. Dia ingin tetap disini, dirumah kecil yang memberikannya kebahagiaan.

**

Eunbi menatap sendu sup yang masih mengepulkan asap itu. Donghae tidak pernah memperhatikannya lagi seperti dulu meskipun dia masih membiarkan eunbi tinggal ditempatnya. Tapi sungguh ini lebih menyakitkan dari pada dia diusir ke jalanan. Suara decitan pintu itu mengalihkan perhatian eunbi. Donghae hanya berjalan masuk ke kamarnya tanpa menolehkan padangannya ke eunbi. Bukankah seharusnya dia sudah mengusir wanita itu? Tapi sayangnya donghae tidak sampai hati hanya untuk mengatakan ‘keluar dari rumahku sekarang’ hatinya terlalu baik dan itu semakin membuat eunbi merasa buruk. Kau memang menyedihkan hwang eunbi. Pikir eunbi.

 

Tinggal satu hari lagi, besok usianya genap 23 tahun.

Sekarang dia berfikir kemana dia harus pergi setelah ini. keegoisannya harus berakhir disini, dia tidak ingin menjadi beban untuk donghae. Tapi kemana dia harus pergi? Tanpa uang, tanpa tanda pengenal, lalu kemana dia harus pergi?

**

Pria muda itu menatap wanita dengan berbagai alat kesehatan yang memenuhi tubuhnya. Senyum licik itu tergambar begitu jelas di wajahnya.

“aku akan mempercepat langkahmu untuk menemui keluargamu. Saudariku. Hwang eunbi” gumam pria itu. Dia adalah Kim Tae Hyun anak satu-satunya Kim So Hoon, dia adalah sepupu eunbi. Dan dia sama liciknya dengan ayahnya, hanya harta yang ada dalam pikirannya. Hanya itu tidak ada yang lain.

 

“bereskan ini nanti malam” katanya pada salah satu orangnya.

 

Tanpa mereka ketahui, dia bukanlah eunbi yang mereka cari. Dia adalah Sejeong, lee sejeong. Adik donghae yang hilang beberapa waktu lalu.

 

Sebelumnya, diwaktu yang sama saat eunbi pergi dari rumah untuk mengakhiri hidupnya. Gadis ini mengalami tabrak lari. Dan takdir apa ini? donghae kakak sejeong malah membantu orang lain untuk kembali pada kehidupannya. Setelah itu orang-orang kim so hoon dan kim tae hyun menemukan sejeong di rumah sakit. Mereka berfikir bahwa dia adalah eunbi.

**

Pagi ini tepat usianya 23 tahun, dan eunbi sudah memutuskan untuk kembali pada kehidupannya. Ya, dia akan kembali kepada rumah mewahnya tapi tidak seperti eunbi yang dulu. Dia akan merubah keadaan ini, segera.

 

Karangan bunga di depan rumahnya membuatnya sedikit bingung. Matanya terus berkeliaran mencari sesuatu yang salah disini.

“siapa yang meninggal?” batinnya.

Mobil-mobil mewah itu keluar dari gerbang rumahnya, mobil dengan bunga-bunga krisan yang menghiasinya dan foto…

“fotoku” gumamnya bingung

Dia sudah mati? Ini adalah pemakamannya?

Tidak, tidak. Bahkan dia masih berdiri di depan rumahnya.

“sejeong”

Eunbi membulatkan matanya.

“bajingan gila” eunbi mengumpat dalam hati. Dia tidak tahan, semua ini adalah kesalahannya. Kesalahannya karena terlalu egois untuk meraih kehidupan barunya yang tanpa sadar telah merenggut nyawa orang lain. jika saja dia tidak seegois dan sebodoh itu maka ini tidak akan terjadi, seandainya dia kembali dua hari sebelumnya maka bukan sejeong yang berada di dalam peti mati itu tapi dirinya. Dan itu akan menjadi lebih baik.

Air mata eunbi menetes begitu lancang membasahi pipinya.Tangannya mengepal marah, aku harus menyelesaikan ini, mengirim mereka semua ke neraka. Putus eunbi

 

Semua orang terus memandang eunbi heran, bahkan mereka sampai menganga tidak percaya.

Tapi dia terus merajut langkahnya selangkah demi selangkah menuju fotonya yang dikelilingi oleh berbagai bunga krisan putih. Beginikah pemakamannya? Pikirnya

“eunbi ah. Itukah kau?” Tanya pria tua itu, pria yang bahkan eunbi tidak sudi untuk menyebutnya paman.

“ne. ini aku. Pewaris Daejung Grup” kata eunbi penuh penekanan. Dan semua orang hanya terus memandangnya tidak percaya dan semua penjahat itu meradang mendengarnya.

***

Kemenangan itu sekarang di tangannya, Daejung Grup sepenuhnya menjadi miliknya. Dia berhasil sedikit mendorong pamannya mundur. Tes DNA, dia berhasil membuktikan bahwa dia adalah eunbi dan wanita dalam peti itu bukanlah dirinya. Mengingat itu membuat eunbi kembali diselimuti perasaan bersalah kepada donghae. Bagimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? tidak, eunbi yakin dia tidak dalam keadaan baik-baik saja. adiknya pulang bersama peti matinya. Eunbi kembali meradang, marah kepada dirinya sendiri dan marah pada semua penjahat-penjahat itu. Pikirannya begitu kacau sekarang. Dia harus membuat mereka semua berhenti. Warisan ini harus dimusnahkan pikirnya.

**

Lima hari kemudian

“eunbi ah apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?” Tanya kim so hoon marah

“ne. aku yakin dan bukankah ini semua milikku samchon.” Jawabnya dengan wajah dingin bahkan lebih dingin dari sebongkah es

“tap-tapi dengan menyumbangkan semua saham yang kau miliki. Apa itu masuk akal?”

“aku hanya ingin membereskan semua yang telah kau lakukan.”

“apa maksudmu?.”

“samchon pasti tahu maksudku.” Dan eunbi pergi meninggalkan pria tua itu yang mungkin sebentar lagi akan terkena serangan jantung.

“Arghhhh” teriaknya frustasi dan menjabak rambutnya sendiri.

“aku tidak akan membiarkan dia mengambil apa yang harus aku miliki” gumamnya.

 

Eunbi memang gila, dia menyumbangkan semua saham yang ia miliki kepada lembaga amal untuk orang-orang tidak mampu. Tapi bukankah ini jauh lebih mulia dan lebih baik dari pada memberikannya kepada penjahat itu.

 

Dan tanpa sadar eunbi telah membuat satu nyawa lagi dalam bahaya. Donghae, pria itu sekarang menjadi satu-satunya kunci untuk membuat eunbi menarik semua pernyataan yang dia katakan, menarik semua saham yang telah dia sumbangkan. Kenapa donghae? Kim so hoon tidak bodoh saat tahu eunbi memberikan donghae beberapa juta won. Ini adalah kesempatan kim so hoon.

**

Pria itu duduk di depan wanita yang sekarang nampak sangat berbeda dari beberapa hari yang lalu. Pakaian yang dia kenakan sekarang jauh berbeda dari pakaian lusuh di rumahnya, bahkan polesan make up itu menambah kecantikan alami yang dia miliki. Hwang eunbi, wanita itu terlihat benar-benar kaya sekarang. pikirnya.

 

“ada apa kau memintaku kesini?” tanya donghae memecah keheningan yang sebelumnya hanya terisi oleh tatapan satu sama lain.

Eunbi mengulurkan amplop coklat yang terlihat begitu penuh dan tebal.

“apa ini?” tanya donghae kemudian

“itu untuk ucapan terima kasih dan maafku”

Donghae mengambil amplop itu dan melihat isinya, sedetik kemudian senyum getirnya menghiasi wajah tampannya.

“apa kau berfikir aku melakukan semua ini karena uang ini?”

“ani. Bahkan mungkin uang itu tidak cukup untuk membalas semua kebaikanmu dan-“ eunbi menjeda kalimatnya, menarik nafasnya dalam-dalam

“dan untuk kematian adikmu” lanjutnya.

“aku menampungmu di rumahku karena aku mengira kau adalah adikku dan untuk kematian adikku kau tidak perlu bertanggung jawab atas itu.”

Pria ini memang terlalu baik. Dan bagaimana eunbi tidak bertanggung jawab atas kematian adiknya? Andai dia tahu kenyataan dibalik kematian adiknya, bisakah donghae masih duduk tenang di depan eunbi?

Eunbi tahu benar donghae tidak akan pernah menerima uang ini, karena sekali lagi pria ini begitu baik.

“aku sudah menganggapmu sebagai kakak laki-lakiku sendiri, pengganti oppaku yang sudah pergi.”

“dan tidak peduli untuk alasan apa kau menampungku tapi aku tetap berterima kasih atas itu.” lanjutnya

 

Tangan donghae menggeser amplop coklat itu, membawanya mendekat pada eunbi.

“maaf tapi aku tidak bisa menerimanya.”

Dia pergi setelah mengatakan itu.

 

Pria itu memang benar terlalu baik, dan eunbi yang begitu jahat telah membuat pria ini sedih. Kehilangan adiknya yang bahkan dia tidak tahu bahwa adiknya meninggal karena keegoisan eunbi.

 

“pengacara Kang. Tolong aku” kata eunbi pada sambungan telepon.

 

Mungkin donghae tidak bisa mengambil uang itu, tapi eunbi tidak akan berhenti sampai disitu. Jalan satu-satunya yang dia pikirkan adalah uang asuransi. Dia akan memberikan uang kepada donghae atas nama uang asuransi kematian Sejeong.

 

Orang di sudut ruangan yang sama dengan eunbi tampak begitu focus melihat dan memperhatikan eunbi dari balik Americano yang dia minum. Sedetik kemudian terlihat dia sedang menghubungi seseorang. Berbicara diam-diam lewat sambungan telepon.

**

Pria tua itu berdiri membelakangi anak buahnya, menatap keluar jendela besar di ruang kerjanya dengan red wine ditangannya.

“jadi pria itu yang menampung eunbi sebelumnya.” Katanya mengulangi informasi yang disampaikan anak buahnya.

“cari tahu tentang pria itu dan terus ikuti eunbi” perintahnya tak terbantahkan.

 

Hidup penuh obsesi terhadap harta itulah dia, mungkin sekarang semua orang bisa melihat kim so hoon sudah memiliki segalanya tapi dia terlalu serakah sehingga semua yang dia miliki tidaklah cukup untuk memenuhi kebahagiannya.

**

Beberapa hari setelah eunbi memberikan sejumlah uang kepada donghae dengan kedok asuransi kematian Sejeong dan tidak butuh lama untuk kim so hoon mengetahuinya. Dan sekali lagi, setelah eunbi menyumbangkan sahamnya untuk lembaga amal dan sekarang dengan dia memberikan uangnya kepada donghae membuat kim so hoon kembali meradang.

 

“appa. Apa yang akan kita lakukan?” kim tae hyun memandang ayahnya yang Nampak berfikir, entah apa yang dia pikirkan sekarang.

“gunakan donghae untuk memberi pelajaran kepada gadis bodoh itu”

**

Eunbi menangis dan menatap semua orang dengan marah, tangannya mengepal begitu kuat.

“apa yang kalian lakukan?” Tanya eunbi marah.

Pandangannya menatap lurus pria yang sudah bersimpah darah di hadapannya, entah perlakuan seperti apa yang mereka berikan pada pria ini hingga membuatnya tidak sanggup hanya untuk berdiri dan mengangkat kepalanya.

Kertas itu terlempar begitu saja menampar wajah eunbi.

“tanda tanganinya sekarang” kata kim so hoon yang berdiri melipat tangannya di samping orang-orang bertubuh kekar yang mengelilingi donghae membuat eunbi melirik sekilas kertas yang sudah berada di bawah kakinya.

Penarikan kembali saham yang telah dia berikan kepada lembaga amal.

“cepat tanda tangani sebelum kami menghabisi pria ini” sekarang kim tae hyun mulai bersuara tangannya mengenggam pistol yang sudah berada disamping kepala donghae siap menembaknya kapan saja.

Eunbi hanya menatap marah semua orang itu, air matanya bahkan sudah lama membasahi pipinya. Di rumahnya sendiri, dia harus diperlakukan begini. Menyedihkan.

Tidak. Dia tidak akan melenyapkan satu nyawa lagi. Tidak lagi.

Eunbi mengambil kasar kertas di bawah kakinya, menarik pulpen yang diberikan anak buah pamannya. Dan secara cepat eunbi menorehkan tanda tangannya dan memberikannya pada kim so hoon.

Pria itu tersenyum miring dan segera membalik tubuhnya meninggalkan semua kekacauan ini.

“bereskan dia” katanya sebelum dia benar-benar pergi dan mendapat anggukan dari kim tae hyun.

 

DORRR

Suara itu begitu memekakan telinga

“tidakkkkkk” eunbi berteriak dan menatap ngeri tubuh donghae yang sudah ambruk di lantai ruang tamunya dengan darah seger mengalir dari kepalanya.

Mereka penjahat itu tidak pernah akan membiarkan satu semutpun hidup setelah mengetahui kebusukan mereka, seharusnya eunbi ingat itu. Tapi dia tidak menyangka kalau semua itu harus terjadi di depan matanya.

“bereskan sisanya” katanya memerintah pria berjas hitam itu.

Dan memutar tubuhnya siap meninggalkan kediaman sepupunya. Tapi sebelum itu terjadi..

“akh…” pria itu meringis kesakitan merasa punggungnya ditusuk oleh sesuatu yang menggoyak kulitnya.

Eunbi, dia menusuk pria gila itu dengan pisau yang dia cari di dapur miliknya.

“apa yang kau lakukan?!” teriak kim tae hyun marah. Tatapannya bertemu dengan tatapan marah eunbi.

“ahk..”sekali lagi dia meringis sakit, menatap perutnya yang mengalirkan darah. Kakinya tiba-tiba tidak bisa menahan beban beratnya.

“kau harus mati kim tae hyun!” teriak eunbi frustasi dan akan menusuk kim tae hyun lagi. Tapi…

 

DORR…

 

Pandangannya tiba-tiba menjadi gelap, dia runtuh dengan darah yang mengotori dress baby blue miliknya. Matanya perlahan menutup dan untuk terakhir kalinya sebelum dia benar-benar menutup matanya. Kim tae hyun pria itu menurunkan pistolnya yang baru saja menembuskan pelurunya ke perut eunbi. Setelah itu semuanya benar-benar gelap.

**

Ruangan serba putih dengan bau obat-obatan itulah tempat wanita ini terbaring lemah dengan selang infuse di pergelangan tangan kirinya. Baju rumah sakit yang melekat di tubuhnya dengan wajah pucat itu tetap membuat dia terlihat cantik dan damai. Sudah dua hari sejak kejadian itu dia masih bungkam dalam tidurnya atau mungkin dia lebih suka tertidur seperti ini. Disaat tidak ada yang mengusik dan melukai hatinya itulah kebahagian yang eunbi inginkan.

 

Bayangan kelam itu berputar dalam otaknya seperti mimpi buruk yang terus menghantuinya di dalam tidur panjangnya.

Matanya tiba-tiba terbuka, eunbi telah terbangun dari tidur panjangnya dengan nafas yang memburu karena mimpi buruk itu.

 

Sekali lagi dia terbangun di ruangan putih yang dia benci. Dia benci karena dia harus kembali lagi ke dunia yang menyakitkan ini. Dan dia kembali tersadar diruangan ini bersama orang asing.

“kau sudah bangun nona?”

langkah kaki pria itu perlahan mendekat membuat eunbi menatap bingung pria dengan setelah jas yang tampak begitu mahal dan sialnya itu begitu pas membungkus tubuh pria itu.

“nugu?” tanya eunbi dengan suara seraknya.

“perkenalkan cho kyuhyun. Presdir Cho Group”

“apa maumu?”

—TBC—

39 thoughts on “Hold Me Tight {Part 1}

  1. Kenapa tiba2 ada Kyuhyun di situ? Dan apa hubungannya Kyuhyun dgn Eunbi?
    Menurut aku, alurnya agak terlalu cpt, trus untuk keterangan waktunya juga agak kurang jelas, jadi agak sedikit membuat bingung. Tp over all, ceritanya keren kok
    Fighting buat next post !!!

    Like

  2. Ceritanya bikin aku geregetan. Suka banget sama jalan ceritanya walau alurnya terlalu cepat. Aku pikir eunbi akan bersama donghae tapi kenapa ada kyuhyun gimana ceritanya? Penasaran nih sama kelanjutannya

    Like

  3. iya apa maumu, maumu apa kyuhyun ? makin penasaran sama kelanjutannya. hidup eunbi benar2 penuh dengan derita. pamannya jahat sepupunya apalagi, aku reader baru salam kenal dan ijin baca ya….

    Like

  4. Agak shock karena baru pertama kali baca ff author , dengan gaya author sendiri ini jadi ciri khas mungkin menurut pembaca batmru seperti saya yg biasa baca ff dengan alur yg rumit agak sedikit shock, alur ini terlalu cepat 😂
    Tapi balik lagi mungkin ini karena baru pertama baca ff author atau menurut ak pribadi but over all ini ffnya bagus banget

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s