18 Again

18 again

Title: 18 Again

Author: Oh Honey

Genre: Romance, School Life

Main Cast: Cho Kyuhyun, Hwang Eunbi (OC), others

HAPPY READING

JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK

 

Amerika

Sesuatu yang sederhana bisa menjadi sesuatu yang sangat luar biasa untuk seseorang dan sebaliknya, sesuatu yang luar biasa bisa menjadi sesuatu yang sangat membosankan dan menyesakkan untuk sesorang. Ya, itu hanya tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Akankah itu menjadi sesuatu yang luar biasa atau sesuatu yang sederhana. Mungkin inilah alasan dari kata bijak don’t judge by the cover.

 

Kehidupan Eunbi gadis yang berusia hampir 22 tahun atau hanya tinggal 5 bulan lagi usianya akan genap 22 tahun terlihat begitu sempurna dengan segala yang dia miliki. Kehidupan yang tidak pernah kekurangan karena dia adalah anak tunggal pemilik perusahaan eletronik besar di Korea Selatan, perusahaan yang begitu besar bahkan bisa dibilang menjadi singa di dunia bisnis, menghasilkan kekayaan yang tidak akan habis untuk ketujuh turunannya. Baiklah, mungkin ini terdengar berlebihan tapi percayalah kalian akan ternganga melihat berapa banyak won yang tersimpan di dalam buku tabungannya, berapa banyak koleksi mobil di dalam garasinya dan berapa mahal setiap inchi pakaian yang membalut tubuhnya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, hampir semua itu adalah keluaran merk terkenal dan limited edition. Satu lagi karunia yang Tuhan berikan pada gadis itu, kecantikan alami khas Asia tanpa campur tangan dokter bedah plastik. Bagaimana mendeskripsikan kecantikan gadis yang memiliki tubuh semampai dengan tinggi badan sekitar 170 cm, rambut hitam dibawah bahu, mata hazelnut dengan bulu mata yang lentik tanpa bantuan mascara, kulit seputih porselen bahkan jika kalian berfikir orang korea selatan sudah memiliki kulit yang putih maka Eunbi mempunyai kulit putih seputih kertas, dan bibir penuh berwarna pink alami. Mungkin kalian bisa menyebutkan sebagai kecantikan alami ala vampire.

 

Segala sesuatu yang Eunbi miliki selama ini nyatanya tidak hanya memberikan kebahagiaan tapi juga menyesakkan untuknya. Beberapa hari ini pikirannya melayang, mengingat bagaimana kehidupannya selama ini berjalan. Kehidupan yang begitu datar, itulah kesimpulan yang dia ambil. Tidak ada yang namanya kehidupan seperti roda yang berputar kadang kau berada di bawah atau kadang kau berada diatas, tidak ada kehidupan seperti rolling coaster yang bisa mengaduk-aduk perasaanmu, tidak ada indahnya musim semi yang membuat bunga-bunga sakura bermekaran atau tidak ada dinginnya musim dingin yang membuatmu lebih memilih meminum coklat panas bersama sahabat. Nyatanya kehidupannya hanya seperti jalan tol yang begitu mulus dan kalian hanya perlu mengikuti satu jalur itu saja, begitu datar, sederhana dan membosankan. Dia hanya perlu berjalan sesuai dengan rencana yang telah orang tuanya berikan, tidak ada sebuah keinginan atau cita-cita.

 

Kehidupan yang begitu sempurna untuk orang lain itu, sedikit membuatnya teriris saat mengingat bagaimana kehidupan masa remajanya berjalan. Tidak ada acara shopping bersama teman, bergosip, atau menertawakan kebodohan yang pernah dia lakukan. Jika kalian bertanya apa yang pernah dia lakukan di masa remajanya, maka dia hanya akan mengelengkan kepala. Tidak ada. Dia hanya mengingat bagaimana dia harus segera pulang kerumah setelah pulang sekolah dengan sopir yang sudah menunggunya diluar gerbang, mendatangi tempat les melukis dan belajar pada malam hari, selalu seperti itu setiap hari. Dan bagaimana dengan hari liburnya? Tentu saja dia hanya akan berada di dalam istananya, melukis, berenang, atau mungkin hanya menghabiskan waktu di depan televise. Atau terkadang dia harus menghadiri pesta bersama orang tuanya, menghadiri acara amal yang dibuat perusahaannya. Dia sedikit senang untuk yang terakhir, setidaknya dia bisa bertemu dengan banyak orang.

 

Eunbi menghela nafasnya dalam-dalam, kepalanya menengadah menatap langit Amerika yang penuh dengan bintang. Gadis itu mengeratkan tangannya pada pagar besi di balkon kamarnya.

 

Pikirannya kembali bernostalgia, mengingat apa saja yang pernah dia lakukan. Jika dipikir-pikir kehidupannya selama ini tidak lebih buruk dari putri rapunzel yang terkurung di atas menara dan tidak pernah melihat bagaimana kehidupan di luar berjalan. Sekarang otaknya berputar pada masa SMA, masa yang kata orang adalah masa sekolah paling membahagiakan. Tapi lagi-lagi otaknya memberontak, bahagia? Jika definisi bahagia hanya sebatas uang maka iya, dia bahagia. Tapi jika definisi bahagia adalah bagaimana kalian bisa tertawa dan menghabiskan waktu bersama sahabat dan mungkin orang yang kalian cintai maka Eunbi akan berfikir lagi. Pernahkah dia melakukan hal itu? Pernahkah?

Demi Tuhan. Eunbi tidak pernah punya seseorang yang disebut sahabat. Mereka semua tidak lebih dari seorang rekan bisnis baginya. Bagaimana tidak, jika seseorang yang kalian sebut teman itu hanya peduli tentang bagaimana caranya mendekati Eunbi dan menghasilkan keuntungan untuk perusahaan-perusahaan keluarga mereka. Begitu menggelikan untuk Eunbi.

 

Lagi-lagi dia menghela nafasnya, kali ini semakin dalam dan besar. Memorinya dan otaknya tidak pernah menyimpan hal yang membahagiakan itu. Dia kecewa, dia sedih. Mungkin sekarang otak dan hatinya telah diracuni oleh beberapa cerita roman picisan yang sering dia baca di waktu luang, tentang kisah cinta anak SMA, tentang persahabatan para gadis remaja, tentang cinta pada masa muda yang menggebu-gebu. Cinta? Lagi-lagi dia berfikir. Pernahkah dia merasakan cinta? Cinta seorang gadis pada seorang laki-laki, pernahkah? Tentu saja dia pernah, meskipun Eunbi tidak yakin itu perasaan kagum atau cinta. Hatinya masih terlalu abu-abu untuk membedakannya. Kakak kelasnya sewaktu SMA yang sering dia lihat lewat celah buku yang sengaja Eunbi gunakan untuk mengintip keseriusan laki-laki berseragam dengan bukunya. Haruskah Eunbi menyebutnya sebagai cinta pertama? Atau cinta monyet?

 

Kembali dia teringat pada tumpukan cerita sialan yang berhasil mencuci otaknya. Jika dia lebih berani pada waktu itu, apakah sekarang murid laki-laki yang sering dia kagumi dapat melihatnya juga? Jika tidak ada peraturan Ayahnya yang menyuruhnya untuk segera pulang, apakah dia punya waktu untuk sekedar minum teh bersama temannya? Jika dia bukanlah anak tunggal pewaris perusahaan besar, apakah dia akan jauh lebih bahagia? Jika dia bukan dari keluarga terpandang yang harus selalu menjunjung tinggi yang namanya ‘nama baik’ apakah dia akan lebih bebas menentukan pilihan hidupnya? Jika Eunbi bukanlah Eunbi yang sekarang, akankah semuanya berubah?

 

Setelah otaknya berperang tentang bagaimana kehidupannya selama ini, munculah beberapa pertanyaan lain yang siap menggoda akal sehat Eunbi.

Haruskah dia kembali pada masa itu untuk mengusir semua rasa penasarannya?

**

“ Tidak Nona!” Pria yang berumur sekitar 40 tahunan itu hampir berteriak frustasi pada Nona Mudanya. Dia kesal, dia frustasi.

“Arrggghhhhhh” Pria itu mengacak rambutnya dan menatap penuh ketegasan pada gadis muda yang duduk di sofa bludru berwarna putih.

“Ayahmu bisa membunuhku!” katanya penuh dengan penekanan dan mungkin kekhawatiran kalau hal itu akan benar-benar terjadi.

“Ahjussi tidak perlu khawatir. Ayah tidak akan melakukan itu” itu adalah suara Eunbi, gadis yang duduk di sofa dan mengamati wajah pria yang dia panggil Ahjussi itu lamat-lamat seperti menantikan ekspresi apalagi yang akan pria setengah baya itu keluarkan.

“ Kau pasti tahu Ayahmu seperti apa. Dia tidak akan pernah membiarkan kau melakukan ide gila itu”

“Ayah mungkin tidak, tapi Ahjussi bisa. Ahjussi akan membantuku” Sialan mulut Eunbi yang begitu gampang dan enteng mengeluarkan kalimat itu membuat Ahjussi itu kembali mengacak-acak rambutnya atau sedikit menjambak-jambak rambutnya. Ya sama seperti Ayahnya atau kalian bisa percaya pada pepatah buah tidak jatuh dari pohonnya. Bagaimana bisa sifat keras kepala Ayahnya begitu mendominasi sifat gadis ini.

 

Ahjussi mendudukkan dirinya di sofa disamping Eunbi setelah dia menghela nafasnya dalam-dalam mencoba menenangkan emosinya yang akan meledak karena gadis ini.

“Nona, aku masih punya istri dan anak yang harus aku hidupi. Aku tidak bisa mati sekarang” katanya lebih lembut dari sebelumnya dan lebih frustasi dari sebelumnya. Tentunya.

“Aku tidak bilang Ahjussi akan mati. Ahjussi hanya perlu membantuku dan tidak mati”

“Tapi Ayahmu akan benar-benar membunuhku!” ujarnya dengan menggeratkan gigi-giginya seperti menahan amarahnya.

“Aku akan memberikan apapun untukmu, jika kau membantuku”

Ya Tuhan. Penawaran macam apa ini? Memberikan apapun?

Ahjussi itu memijat-mijat pelipisnya seperti menimbang-nimbang tentang tawaran Eunbi dan tentang pekerjaannya. Ya, pria itu bekerja untuk Ayah Eunbi. Menjaga putri kesayangannya, menjadi asisten Eunbi atau menjadi sopirnya sejak gadis itu berumur 7 tahun. Bisa dibilang dia sudah mengabdikan hidupnya untuk keluarga Eunbi saat usianya masih sangat muda. Bahkan dia sudah menggap Eunbi sebagai anaknya sendiri. Tentu tawaran Eunbi menggiurkan tapi-

 

“Tidak! Aku tidak mau!” Tolak pria itu tegas. Dia tidak akan tergiur dengan tawaran Eunbi, pekerjaannya sekarang, pengabdianya kepada Ayah Eunbi menolak dengan mentah tawaran Eunbi yang sempat menggelitik pikirannya.

 

“Kim Ahjussi. Aku ingin menemukan kebahagianku” kata Eunbi begitu tulus dan lembut bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Dia tahu pria yang dipanggil Kim Ahjussi olehnya itu tidak akan dengan mudah mengabulkan keinginannya tapi Eunbi hanya punya satu orang itu untuk membantunya. Tidak ada Ayahnya atau orang lain yang bisa Eunbi percaya. Tentu saja dia tidak mungkin menceritakan keinginannya pada Ayahnya jika Eunbi tidak ingin dicekik oleh Ayahnya.

 

“Tapi-“ kalimat Kim Ahjussi mengantung di udara. Sungguh dia tidak akan keberatan mengabulkan permintaan nonanya tapi tidak dengan yang satu ini. Oh, ini gila!. Kenapa nona mudanya itu memintanya untuk membantunya kembali ke masa SMA. Tolong digaris bawahi SMA. Dia sudah gila atau kepalanya habis terbentur di kamar mandi?

 

“Ahjussi pasti bisa membantuku. Kim Ahjussi hanya perlu menyiapkan sekolah baru untukku, menggurus beberapa dokumen untuk kepindahanku” suara Eunbi kembali berusaha memprovokasi pikiran Kim Ahjussi. Jujur, pria itu tidak tega pada Eunbi yang merengek padanya seperti ini. Dia tidak pernah mengingankan sesuatu sampai seperti ini. Ya, itu karena dia sudah mempunyai segalanya.

 

Kim Ahjussi menghela nafasnya untuk kesekian kalinya.

“Aku menyerah. Baiklah, aku akan membantu Nona”

 

Tatapan berbinar itu begitu ketara menghiasi wajah Eunbi bahkan sekarang gadis itu sudah memeluk Kim Ahjussi secara brutal, mengguncang-nguncang tubuh itu dengan rasa bahagia yang begitu membuncah.

“Terima kasih Ahjussi. Terima Kasih. Kau memang yang terbaik”

 

Dorongan kecil itu, membuat Eunbi memundurkan tubuhnya melepaskan pelukannya yang erat dan sedikit berlebihan itu dari Kim Ahjussi. Rupanya Ahjussi itu sudah tidak tahan dengan sikap Eunbi.

“Jadi apakah Nona bisa menjamin kalau Tuan besar tidak akan membunuhku?”

“aku tidak bisa menjamin”

Sialan kau Hwang Eunbi!

Kim Ahjussi melebarkan matanya seperti akan melepaskan bola matanya dari tempatnya.

“Tapi aku akan berusaha agar Ayah tidak membunuhmu. Aku tidak berjanji atau menjamin tapi aku akan berusaha.” Lanjut Eunbi

 

Entah ini angin segar untuk Kim Ahjussi atau peringatan untuk Kim Ahjussi untuk tidak membantu Nona mudanya. Tapi keputusan sudah dia buat, apapun resikonya Kim Ahjussi akan menghadapinya  meskipun hatinya belum sepenuhnya siap menghadapi itu semua.

 

“Baiklah aku akan mempersiapkan nyawaku” ujar Kim Ahjussi lirih tapi masih dapat didengar oleh Eunbi. Hanya saja gadis itu tidak mau ambil pusing tentang kalimat yang baru saja pria itu katakan, mungkin rasa bahagianya membuat telinganya sedikit sombong.

 

Seperti tidak peduli tentang kekhawatiran Kim Ahjussi, Eunbi berjalan menjauhi pria itu mendekati anak tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Lantai kamarnya. Tapi belum sempat kakinya menginjak anak tangga pertama, Eunbi berbalik.

“Aku ingin Ahjussi cepat mengurus keperluanku. Sepertinya minggu ini cocok untuk keberangkatanku”

Eunbi tidak ingin membuang-buang waktunya, dia ingin cepat mewujudkan mimpinya. Merubah semua memorinya tentang kehidupan masa remaja dengan lebih berwarna. Mungkin 4 bulan sudah cukup. Ya, sejujurnya dia hanya punya waktu empat bulan untuk itu. Jangan pernah berfikir kalau gadis itu mengidap penyakit mematikan sampai hanya punya waktu 4 bulan. Sungguh bukan itu. Dia hanya bisa memanfaatkan waktu itu, waktu saat dia menunggu hari graduationnya di universitas. Ayahnya mungkin akan sedikit lengah karena yang dia tahu Eunbi masih berada di Amerika dan tentu dengan orang kepercayaannya. Kim Ahjussi.

 

Demi patung liberty, nona mudanya itu tampak sangat menyebalkan untuk Kim Ahjussi saat ini. Apakah tinggal di Amerika selama hampir empat tahun merubah Eunbi?

**

Eunbi sudah selesai mengemasi barangnya, memasukkannya pada koper berwarna pink kesayangannya. Dia tidak membawa semua pakaiannya, hanya beberapa potong saja yang dia perlukan. Toh, dia akan lebih sering memakai seragam sekolahnya. Sekolah?. Mengingat satu kata itu, lagi-lagi dia tersenyum, seperti anak umur lima tahun yang akan masuk ke taman kanak-kanak di hari pertamanya, begitu senang dan tidak sabar. Lengkungan di wajahnya semakin ketara saat beberapa gambaran dan imajinasi liarnya tercetak jelas di atas kepala, betapa bahagianya masa SMA yang akan dia hadapi.

 

Semua lamunan itu buyar saat suara ketukan pintu memenuhi gendang telinga Eunbi. Kim Ahjussi mendorong sedikit pintu itu, menyembulkan sedikit kepalanya di antara pintu yang sedikit terbuka.

“masuklah” kata Eunbi semangat.

“rupanya Nona sudah selesai berkemas” Kim Ahjussi menatap koper yang sudah tergeletak di samping ranjang Eunbi dan kembali menatap nona mudanya yang sedang menarik ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan.

“ini” pria itu menyodorkan map berwarna coklat kehadapan Eunbi

“apa ini?”

Sepertinya Kim Ahjussi tidak perlu menjawab pertanyaan Eunbi, karena gadis itu sudah merebut map coklat dan dengan serampangan membukanya.

“ternyata Ahjussi sudah mengurus semuanya”

“pesawatnya akan berangkat dua jam lagi. Kalau nona tidak ingin ketinggalan pesawat sebaiknya nona segera turun”

**

Tabrakan awan-awan putih dengan badan pesawat membuat sedikit guncangan kecil. Perjalanan ini terasa sangat panjang dan melelahkan tapi tidak untuk Eunbi, gadis itu bahkan tidak bisa hanya untuk memejamkan matanya satu menit saja. Dia takut kalau dia memejamkan matanya maka pesawat ini tidak sampai di Korea Selatan. Baiklah, ini konyol.

 

Eunbi mengeluarkan sebuah buku berwarna biru dari dalam tas kecil yang dia bawa, sepertinya itu adalah buku diary. Buku diary yang sengaja dia siapkan untuk mencatat semua warna-warni masa SMA nya nanti.

“sepertinya. Aku harus menuliskan sesuatu di halaman pertama” kata Eunbi lirih seperti sedang berbicara pada buku itu.

Setelah itu, tampak tangan Eunbi mulai mengoreskan tinta-tinta hitam yang membentuk sebuah tulisan di halaman pertama.

’18 Again – Selamat Datang masa SMA ku’

Hanya satu kalimat itu yang Eunbi tuliskan. Dia memeluk buku diary itu setelah menutup bolpoint yang telah menorekan noda hitam pada buku diary nya.

 

Pesawat itu telah menyentuh tanah Korea Selatan. Gadis yang dari tadi tidak pernah menghilangkan senyumannya terus berjalan di ikuti oleh Kim Ahjussi dibelakangnya. Tanggannya direntangkan saat dia sudah sampai di pintu bandara, angin Korea Selatan menyentuh telapak tangannya. Hidungnya mencoba menarik nafas sedalam-dalam seperti dia akan mati kalau tidak segera menghirup udara.

 

Audi berwarna hitam itu berhenti di depan Eunbi, seorang laki-laki yang memakai jas berwarna hitam dan kemeja putih tampak keluar dari kursi kemudi dan menghampiri Kim Ahjussi yang berdiri di belakang Eunbi setelah menunduk di hadapan Eunbi yang masih asyik melepas kerinduannya pada tanah Korea Selatan. Sepertinya laki-laki itu adalah salah satu pengawal di keluarga Eunbi. Dan seperti itulah, Kim Ahjussi yang bisa dibilang sudah mendapat jabatan yang berarti di keluarga Eunbi bisa dengan mudah menyuruh seseorang untuk menjemputnya di bandara tanpa membuka suara.

 

Sudah hampir 15 menit mobil itu melaju membelah padatnya jalanan Seoul di siang hari. Eunbi duduk dengan nyaman di bangku penumpang, lagi-lagi tangannya dia keluarkan sedikit dari kaca mobil. Merasakan angin yang terus menampar telapak tangannya seiring mobil yang terus melaju.

“Ahjussi apa setelah ini kau akan pergi ke rumahmu?”

“tentu saja aku akan pulang ke rumahku. Aku tidak mungkin pulang ke rumah nona atau aku akan segera digantung oleh Tuan Besar” kata Kim Ahjussi sedikit menyindir. Tapi seperti tidak peka, Eunbi masih asyik dengan kegiatannya tadi.

“tentu kau harus pulang ke rumahmu. Istri dan anakmu pasti merindukannmu”

Lihatlah, bagaimana Eunbi masih tidak merasa kalau Kim Ahjussi baru saja menyindirnya.

Lupakan!.

Sekarang mobil mereka sudah berhenti di depan sebuah gerbang sekolah. Mata eunbi kembali berbinar, jantungnya berdegup tidak beraturan. Kenapa sekarang dia merasa sedikit gugup?. Ayolah Hwang Eunbi apa yang kau takutkan. Disini kebahagianmu akan dimulai. Putus Eunbi dalam hati.
“simpanlah ini. Aku sudah memasukkan nomor baru disitu dan aku juga sudah menyimpan nomor teleponku disana. Kalau ada apa-apa Nona harus segera menghubungiku”

Eunbi mengangguk dan masih mengamati ponsel yang baru saja kim Ahjussi berikan padanya. Ponsel ini tidak sebagus dengan ponselnya dulu, tapi setidaknya ini masih bisa digunakan.

“Nona juga harus ingat kalau nona harus membalas Email yang dikirim Tuan besar setiap minggunya.”

Ah, Eunbi hampir lupa tentang hal itu. Ayahnya memang selalu mengiriminya Email setiap  minggu untuk mengecek putrinya, meskipun dia sudah tahu bagaimana keadaannya karena Kim Ahjussi selalu melaporkannya. Ayah Eunbi jarang menelepon Eunbi, ya itu karena kesibukan mereka dan perbedaan waktu yang membuat mereka sedikit kesusahan untuk meluangkan waktu hanya untuk sekedar bertelepon.

 

“aku akan mengingatnya” kata Eunbi setelah puas memperhatikan ponsel itu.

 

**

Suara roda kecil di bawah koper yang beradu dengan lantai asrama terdegar menggema di setiap lorong. Mata Eunbi menelisik mencocokkan nomor kamar yang dia tulis di kertas note dengan deretan angka yang berada di pintu yang dicat berwarna coklat.

“ketemu!” katanya penuh semangat.

Tangannya dengan lihai merogoh kantong belakang jeansnya untuk mengambil kunci pintu.

 

Ceklek!

 

Ruangan yang tidak lebih besar dari ruang tamu di rumahnya terasa penuh dengan dua tempat tidur di sisi kanan dan kiri, berdampingan. Dua meja belajar di sudut ruangan yang menghadap langsung pada jendela besar. Satu kamar mandi di sudut ruangan membuat ruangan ini terasa lebih sempit.

“ini lumayan. Tidak terlalu buruk” gumam Eunbi. Tangannya sedang menyentuh beberapa benda yang berada disana, ranjangnya, meja belajarnya, dan boneka kecil di samping tempat pensil yang diletakkan di atas meja belajar disampingnya.

“Sepertinya aku tidak akan tinggal sendiri”

 

Eunbi mengalihkan perhatiannya dari koper dan beberapa buku yang dia tata begitu rapi di meja belajar miliknya, kepalanya menoleh pada pintu yang baru saja dibuka. Seorang gadis berseragam sekolah dengan kaca mata bulat yang terlihat begitu tebal dan sedikit kuno, poni yang memenuhi dahinya dan rambutnya yang dikuncir kuda. Perlahan melangkah mendekati ranjang di sisi Eunbi setelah gadis itu meletakkan tasnya di atas kursi di meja belajar.

Selama beberapa menit Eunbi maupun gadis itu hanya saling diam seperti tidak ada orang lain yang berada satu ruangan dengannya. Sadar dengan sesuatu yang seharusnya Eunbi lakukan, Eunbi berdiri mendekati gadis yang sekarang sedang melepaskan jas seragamnya dan mengantungnya pada hanger.

 

“Perkenalkan namaku Hwang Eunbi. Aku baru pindah kesini” ujar Eunbi dengan penuh semangat, tangannya terulur meminta gadis itu menjabat tangannya. Tapi gadis itu hanya menoleh melihat Eunbi sebentar dan tangan Eunbi sebentar seperti tidak berminat tentang acara perkenalan yang Eunbi lakukan. Beberapa detik kemudian, Eunbi menarik tangannnya menepuk udara disekitarnya. Dia sedikit mencebikkan bibirnya, merasa tidak dihargai atau mungkin dia terlalu malu karena nyatanya teman satu kamarnya ini tidak tertarik dengan perkenalannya.

 

“Aku punya peraturan di kamarku”

“Apa?”

Sekarang gadis itu sudah memutar tubuhnya, pandangannya jatuh pada Eunbi yang sekarang masih membuat beberapa kerutan di dahinya.

“Kau bebas melakukan apa saja. Ya itu terserah padamu. Tapi aku tidak suka kalau kau berisik atau membuat masalah dikamarku” Katanya begitu datar dan dingin. Otak Eunbi masih mencerna perkataan gadis yang masih belum Eunbi ketahui namanya, kalimat yang gadis itu sebut sebagai ‘peraturan’. Itu tidak sulit, pikirnya. Hanya tidak boleh berisik dan membuat masalah, dia rasa itu adalah peraturan yang wajar dan Eunbi yakin dia pasti bisa untuk mematuhi itu.

“Baiklah. Jadi apa ada lagi?”

Gadis itu menggeleng dan duduk begitu saja di depan meja belajar milikya tidak memperdulikan Eunbi yang hanya bisa mematung di tempatnya. Ayolah, Hwang Eunbi sangat tidak tahan di abaikan seperti ini. Harga dirinya terasa diinjak bahkan oleh anak SMA yang mungkin belum genap berusia 18 tahun.

Mata Eunbi menatap tajam punggung yang sekarang sudah sibuk dengan pensil dan buku.

“Aku rasa SMA ku yang kedua ini akan sama suramnya” kata Eunbi lirih, sangat lirih sampai suaranya tidak bisa ditangkap oleh gendang telinga gadis SMA itu.

 

Matahari kota Seoul sudah berada diperaduannya, kamar asrama yang dia tinggali terasa begitu sepi bahkan lebih sepi dari langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang sebagai pelengkap malam. Gadis berkacamata yang belum Eunbi ketahui namanya masih sibuk dengan beberapa rumus fisika dan matematika.

Auchh! Eunbi benci ini. Apakah benar semuanya tidak ada gunanya? Dia memutuskan untuk kembali pada masa SMA tapi lihatlah Eunbi masih duduk sendiri di ranjang miliknya dengan memeluk boneka teddy bear kesayangannya. Dia butuh teman mengobrol sekarang. Seperti apa yang selama ini dia harapkan, mengobrol sampai malam dengan teman sekamarnya. Setidaknya itulah yang Eunbi harapkan sebelum ‘gadis itu’ perlahan menghancurkan harapan Eunbi. Ya Tuhan sekarang Eunbi sadar bahwa peraturan yang gadis itu sebutkan tadi sore adalah sebuah perjanjian yang paling menyebalkan. ‘Tidak boleh berisik’ bagaimana Eunbi bisa berisik kalau dia tidak punya teman untuk berbicara?. Menyebalkan!. Percakapan tentang peraturan yang gadis itu buat adalah percakapan yang pertama dan terakhir, setelah itu sepertinya Eunbi harus menelan semua ludahnya dan lebih memutuskan untuk menenggelamkan semua khayalan dan keinginannya.

 

Eunbi menendang kesal selimut yang membungkus kakinya, secepat kilat dia langsung terduduk dan mengacak rambutnya. Dia tidak tahan. Ini lebih buruk dari pada dia tinggal dirumahnya tanpa teman. Setidaknya dia bisa bermain gadget dan memutar musik keras-keras atau mungkin mengobrol dengan para pelayan dan Kim Ahjussi. Haruskah dia mengobrol dengan boneka teddynya sekarang? Oh, dia tidak ingin gila sekarang.

“Argggghhhh!” teriak Eunbi frustasi.

 

Tatapan yang begitu tajam dari balik kacamata itu menyadarkan Eunbi kalau dia baru saja melanggar sebuah peraturan. Peraturan yang membuatnya hampir gila sekarang.

**

Matanya mengernyit karena sinar matahari yang mulai mengganggu tidur nyenyaknya.

“tutup gordennya Ahjussi. Aku masih mengantuk” rancaunya dengan mata yang masih tertutup. Kembali Eunbi memposisikan tubuhnya mencari tempat ternyaman dari ranjang yang terasa sedikit berbeda dari ranjang yang biasa dia tempati.

 

Gadis berkacamata itu memasukkan beberapa buku ke dalam ransel dan menggelengkan kepalanya sejenak mendengar rancauan Eunbi. Dialah pelakunya, orang yang membuka gorden jendela membuat bias-bias sinar matahari masuk dan menganggu tidur Eunbi.

 

Dia berjalan sambil membenarkan letak ranselnya dan berdiri di samping ranjang Eunbi, memperhatikan sebentar tubuh yang tertidur memunggunginya.

“jika kau tidak ingin terlambat maka cepatlah bangun. Sekolah akan dimulai 15 menit lagi”

 

Sekolah? Sekolah? Sekolah? Kalimat yang sangat datar dan dingin itu hanya tertangkap beberapa kata saja oleh Eunbi. Entah karena dia berada dia antara batas sadar dan tidak atau karena tidak ada kata yang menarik selain kata sekolah.

Sekolah? Sialan. Eunbi terduduk diatas ranjangnya begitu tiba-tiba membuat kepalanya sedikit pening.  Kesadarannya sudah kembali 75%. Ya, saat gadis berkacamata itu terdengar menutup pintu dari luar maka sekarang kesadarannya sudah benar-benar kembali.

“jam berapa sekarang?” tangannya sibuk mencari jam weker yang seingatnya dia letakkan di samping tempat tidurnya. Tapi kemana sekarang? Oh shit! 15 menit. Gadis itu bilang 15 menit.

Secepat kilat Eunbi langsung berlari ke dalam kamar mandi meraih serampangan handuk yang menggantung di depan pintu kamar mandi.

 

Hanya butuh waktu 5 menit untuk Eunbi menyelesaikna mandinya. sebenarnya dia mandi atau mencuci muka? Biarlah. Dia tidak peduli sekarang bagaimana rupa wajahnya.

“ah. Sialan” kembali umpatan itu keluar dari mulutnya. Dia ingin mengutuk orang yang telah membuat kemeja sekolahnya dengan banyak kancing. Kancing sialan yang telah memperlambat pergerakkannya dan demi Tuhan jam dinding terus berputar.

 

Suara sepatu yang menghentak lantai terdengar sepanjang lorong sekolah. Nafasnya tidak beraturan lagi, bahkan mungkin sejenak Eunbi lupa bagaimana caranya bernafas dengan benar. Sekarang dia sudah benar-benar terlambat, dan tidak punya waktu hanya untuk mengatur nafasnya.

 

‘Ruang Guru’

Dia segera melesat begitu saja masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan meja-meja kerja dan sialannya lagi Eunbi harus mencari wali kelasnya disini. Dia tidak tahu bagaimana rupa wali kelasnya tapi  setidaknya Eunbi ingat nama guru yang harus dia temui sekarang.

“ahhh itu dia”

Eunbi segera mendekati meja dengan papan nama ‘Cho Kyuhyun’ kali ini dia tidak berlari lagi. Kakinya sudah terasa akan lepas dari tempatnya dan itu sedikit membuat jalan Eunbi terlihat tidak lurus lagi dan dia juga tidak mungkin berlari di dalam ruangan ini.

 

Cho kyuhyun mengangkat kepalanya dari layar laptop yang menjadi temannya. Matanya meneliti gadis berseragam yang tangannya dia sanggah di atas meja miliknya, dadanya naik turun seperti habis berlari marathon dan penampilannya sedikit….

“ehem” kyuhyun berdehem mengembalikan pikirannya dari beberapa fantasi liar yang sempat beberapa detik yang lalu bergentayangan di kepalanya.

 

Kepala Eunbi terangkat dan nafasnya sudah benar-benar hilang sekarang. Jika beberapa detik tadi Eunbi mencoba menetralkan detak jantungnya yang bedetak tak karuan sekarang dia merasa pasokan oksigen di sekitarnya benar-benar menghilang.

Sialan kenapa dia begitu tampan

Dia benar-benar lupa caranya bernafas bahkan dia tidak bisa hanya untuk mengedipkan matanya takut semua bayangan di depannya menghilang. Jika pada awalnya Eunbi menggira kalau wali kelasnya adalah pria paruh baya dengan perut yang membuncit, kaca mata kuda yang menggantung di hidungnya, rambut yang sedikit botak dan kumis tebal diwajahnya maka semua itu SALAH. Nyatanya wali kelas yang berdiri di depannya sekarang sangatlah tampan. Semua yang melekat di tubuh Kyuhyun begitu pas, mata yang tajam dengan iris mata berwarna coklat, tubuh tegap sekitar 180 cm, hidung mancung, kulit putih, kemeja yang sengaja dia lipat dibagian lengannya, dan-

“Murid baru apa kau mendengarkanku?”

“heh?”

Kyuhyun memutar bola matanya malas. Tangannya berkacak pinggang dia tidak suka dengan murid yang mengabaikan perkataannya dan lihatlah sekarang jam berapa. Kyuhyun melirik sekilas jam yang melingkar ditangannya.

“kau telat 20 menit lewat 5 detik. Apa yang kau pikirkan murid baru?”

“ahh. Saya minta maaf soesangnim. Saya kesiangan”

“kau kesiagan? Kau pikir ini sekolahan punyamu sampai kau seenaknya saja?” kata kyuhyun sedikit menyindir dan ya memang kyuhyun tidak suka bersikap sok baik dan beramah tamah apalagi terhadap muridnya. Dia akan selalu mengatakan apa yang dia ingin katakan.

Heol !

Eunbi sedikit kesulitan menelan ludahnya sekarang bukan karena pesona Cho kyuhyun tapi karena pria itu telah menghancurkan satu khayalan Eunbi yang baru saja terbentuk di kepalanya. Cho kyuhyun seorang guru muda yang berumur sekitar 27 tahun menurut perkiraan Eunbi adalah guru muda yang menyenangkan dengan tampang yang menyenangkan pula tentunya, tidak sekolot guru-guru yang sudah lanjut usia dengan emosi yang labil seperti anak remaja. Tapi sekarang lupakan tentang pesona guru muda yang mempunyai perilaku menyenangkan itu, Eunbi sadar Cho kyuhyun bukanlah guru yang seperti itu. Bahkan sekarang yang terlintas di dalam otak Eunbi adalah ‘apakah dia benar-benar seorang guru?’ tatapan tajam dan kelakuan yang bossy, apakah murid-muridnya akan tahan?

 

“ikutlah denganku. Aku akan menunjukkan kelasmu” ujar kyuhyun tak terbantahkan.

Eunbi hanya mengangguk kaku. Dia sudah tidak punya tenaga untuk mengumpat karena kesenangan yang dia harapkan perlahan menghilang. Memiliki roommate yang menyebalkan, guru yang juga menyebalkan meskipun tampan. Ah! Kenapa otak Eunbi selalu mengaitkan guru muda ini dengan kata tampan.

 

Kyuhyun berbalik setelah baru melangkah 5 langkah. Dia ingat sesuatu.

“kau perbaiki dulu penampilanmu dan itu”

“apa?”

Sepertinya kyuhyun tidak bisa mengatakannya. Gadis itu hanya mengikuti arah jari telunjuk kyuhyun dan- Shit!

Eunbi segera berbalik dan menggigit bibir bawahnya. Hatinya terus merutuki kebodohannya sambil terus membenarkan letak kancing bajunya. Entah ini kesialannya yang keberapa. Dia salah mengaitkan kancing bajunya membuatnya terlihat berantakan dan- silahkan bayangkan sendiri bagaimana penampilan gadis itu sekarang.

 

Setelah merasa kancing bajunya sudah benar sesuai dengan yang seharusnya, Eunbi berbalik menghadap Cho kyuhyun. Dia sudah menekan rasa malunya meskipun dia yakin wajahnya sudah memerah karena malu dan dia tidak berani menatap wajah wali kelasnya, Cho kyuhyun.

 

Sepertinya ini yang membuat kyuhyun sempat pecah dari konsentrasinya, ‘kancing Eunbi yang tidak benar’ membuat sesuatu yang tidak benar sempat terlintas di kepalanya. Sialan! Dia sudah seperti guru mesum.

 

Kyuhyun menghela nafasnya. Kancing baju Eunbi mungkin sudah benar tapi apakah gadis itu yakin kalau penampilannya sudah baik? Kyuhyun sudah tidak tahan menunggu gadis itu mengerti.

 

Eunbi segera mengangkat kepalanya saat dirasa ikat rambutnya terlepas membuat rambutnya terurai jatuh begitu saja. Bukan karena tali rambutnya putus. Bukan. Tapi ini adalah kelakukan pria yang berdiri di depannya. Mata Eunbi bertemu dengan mata tajam milik Kyuhyun.

 

“kurasa ini lebih baik” kata kyuhyun datar dan tidak peduli bagaimana tampang bodoh Eunbi yang masih mencoba bertanya ‘apa yang sedang kau lakukan’ lewat tatapan matanya.

“kau tadi sangat berantakan” baguslah kyuhyun mengerti pertanyaan lewat tatapan mata Eunbi.

Berantakan? Dia baru saja menghinaku berantakan?

 

“Hentikan tampang bodohmu itu. Dan cepat ikuti aku”

 

Mata Eunbi berkedip seperti habis terbangun dari 5 detik mimpi buruknya. Dia menghela nafas begitu dalam dan mulai berjalan perlahan menghampiri kyuhyun yang sudah berada diambang pintu mengesampingkan sebentar rasa kesalnya. Dia tidak tahu seburuk apa penampilannya tadi sampai wali kelasnya itu menarik ikat rambutnya. Tapi dia ingat dia tidak sempat menyisir rambutnya dan mengikat asal rambutnya dengan tali rambut yang dia temukan di tumpukan-tumpukan baju di dalam kopernya.

 

Jari-jari tangannya masih sibuk menyisir rambut sebisa yang dia lakukan, kedua telinganya sibuk mendengarkan beberapa peraturan yang meluncur begitu saja dari mulut kyuhyun, matanya sibuk memperhatikan jalan, kakinya sibuk mengimbangi langkah kaki kyuhyun yang lebar-lebar. Tidak ada satu pun tubuhnya yang diam tidak bekerja. Eunbi berhenti saat langkah kaki kyuhyun juga berhenti. Dengan canggung dia menurunkan jari-jari tangannya.

 

“Datang ke ruanganku nanti dijam istirahat”

 

Dan seperti yang sudah-sudah, setelah pria itu mengatakan apa yang dia mau, dia akan meninggalkan Eunbi. Cho kyuhyun sudah masuk ke dalam sebuah ruang kelas.

TBC

Author’s Note: Tunggu next partnya besok ya 🙂

setelah baca ff ini jangan lupa untuk komen ya:) Thank you

Diary #when we meet again

diary-new-2

Title : when we meet again

genre : series

author : oh honey

cast : cho kyuhyun – hwang eunbi

 

Apa kau pernah membayangkan saat secara tiba tiba cinta pertamamu kembali dan menawarkan sebuah cinta yang dulu pernah kau tawarkan?. Mungkin akan terasa sangat membahagiakan jika dia datang sebelum kau berhasil menghapus semua ingatan tentangnya. Tapi apa jadinya jika dia datang disaat kau sudah berhasil menghapus semua ingatan tentangnya? Apa kau akan tetap membiarkan dia kembali dan mengumbar semua ingatan masa lalu atau kau akan mengusirnya pergi dari hidupmu, selamanya?.

 

Takdir memang selalu membingungkan, layaknya gelombang air laut yang tidak pernah dapat diprediksi kedatangannya. Ada begitu banyak kemungkinan yang dapat terjadi dihidup ini yang tidak akan pernah kita tau akan seperti apa ending dari setiap kemungkinan itu.

 

Aku menatap dalam diam sungai han yang ada dihadapanku. Sungai itu terlihat sangat tenang berbanding terbalik dengan perasaanku saat ini yang terasa seperti dijungkir balikkan. mengingat kembali kejadian hari ini membuatku mendesah dalam dalam. Mungkin dulu aku sering berharap hal ini akan terjadi dikehidupanku namun saat ini aku sama sekali tidak ingin hal ini terjadi dikehidupanku. Bagiku semuanya sudah terlambat. Sangat terlambat.

 

Flashback on

Waktu memang berjalan sangat cepat, tak terasa saat ini aku sudah benar benar menjadi wanita dewasa. Sudah hampir satu tahun aku memutuskan kembali tinggal di seoul, bekerja di salah satu perusahaan menjadi aktifitas rutinku. Setiap hari aku akan bertemu orang baru dengan berbagai karakter, menyakinkan mereka akan sebuah proyek dan melakukan negosiasi. Bekerja menjadi staff marketing memang tidak mudah. Namun aku bahagia menjalani kegiatanku sekarang. Seperti ada kebahagiaan sendiri saat aku harus bertemu dengan orang baru setiap harinya.

 

Suara hak sepatuku yang beradu dengan lantai terdengar seperti irama music yang teratur. Aku terus menggiring langkah kakiku menuju sebuah meja yang terletak disudut restaurant. Dari tempatku berdiri aku dapat melihat seorang pria dengan kemeja warna biru dongker yang sedang membelakangiku. Dia adalah salah satu client yang harus aku temui hari ini.

Aku berusaha merapikan kemejaku yang sebenarnya masih terlihat sangat rapi sebelum akhirnya aku menyapa pria itu.

“maaf saya sedikit terlambat”

aku sedikit membungkukkan kepala sebagai tanda permintaan maafku. Bersamaan dengan kepalaku yang perlahan terangkat mata laki laki itu memandangku dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Saat kepalaku benar benar terangkat, mataku terkunci pada sosok laki laki yang masih menatapku itu, aku sama sekali tidak menyangka dengan apa yang ada dihadapanku saat ini, kesadaranku seolah tiba tiba menghilang karena ketidakpercayaanku. untuk beberapa detik padangan kami bertemu.

“kyuhyun” ucapku lirih, saat kesadaran kembali menghampiriku.

“hwang eunbi” balas kyuhyun, laki laki itu masih terlihat sangat terkejut dengan kehadiranku, sama seperti diriku. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya dan aku tidak pernah menyangka Tuhan akan mempertemukanku kembali dengannya.

Perlahan kududukkan diriku disatu satunya kursi yang berada didepannya. Aku benar benar bingung, harus seperti apa aku berperilaku. Haruskah aku memperlakukannya sebagai teman lama yang tidak pernah bertemu atau hasruskah aku memperlakukannya sebagai cinta lama?

Kutatap wajah kyuhyun sekilas sebelum akhirnya kuputuskan untuk memperilakukannya sebagai seorang client dan tidak lebih dari itu.

“kyuhyun shi, aku adalah perwakilan dari Mercy Company yang akan menjelaskan sedikit tentang proyek yang ingin kita tawarkan”

Tenggorokanku terasa tercekat saat aku mengatakan kata demi kata yang keluar dari mulutku. Sangat sulit rasanya saat aku harus berpura pura mengabaikan keberadaan kyuhyun. Laki laki yang dulu pernah menjadi teman terbaikku bahkan menjadi cinta pertamaku.

“eunbi ah, bagaimana kabarmu?” Tanya kyuhyun lirih, dia masih saja menatapku dan mengabaikan semua perkataan yang keluar dari mulutku.

Aku sedikit memperbaiki posisi dudukku untuk menghilangkan rasa gugup yang menghampiri diriku, kubalas tatapannya.

“aku baik” kataku datar.

“kemana saja kau selama ini? kau tak pernah menghubungiku dan aku sama sekali tidak bisa menghubungimu, kau tinggal dimana selama ini?”

Kuhembuskan nafas beratku, rentetan pertanyaan yang kyuhyun lontarkan membuatku sedikit mengingat kejadian masa lalu. Dan aku benci itu.

“kyuhyun ah, aku disini untuk bekerja jadi bisakah kau menyimpan semua pertanyaanmu itu?”

Kyuhyun terlihat terkejut dengan ucapanku. Aku tau kalau aku saat ini terlihat sangat jahat. Tapi aku merasa tidak sanggup jika aku harus memperlakukannya sebagai teman lama apalagi cinta lama, terlalu mengejutkan untukku bertemu dengannya lagi dan aku sama sekali tidak siap untuk itu.

“eunbi ah, tidak bisakah kita…”

Ucapan kyuhyun menggantung diudara saat aku dengan lancang memotong pembicaraannya.

“kyuhyun ah, aku tidak ingin mencampurkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi.  jadi tolong hargai keputusanku”

Kyuhyun menghembuskan nafas beratnya, aku tau dia kecewa dengan pilihanku yang memilih menjadi seorang pekerja professional dari pada menjadi teman lama yang sudah lama tidak pernah bertemu. Dan aku tau kalau ini bukanlah pilihan yang akan orang lain ambil saat mereka bertemu dengan teman lama. Mereka pasti akan memilih untuk mengesampingkan pekerjaan dan memilih untuk mengobrol tentang kehidupan masa lalu, atau bahkan kehidupan saat ini. bukannya aku tidak ingin melakukan semua itu hanya saja aku tidak ingin aku terjebak dalam bayang bayang kenangan masa lalu yang berusaha dengan setengah mati aku lupakan, aku tidak ingin bayang bayang itu menghantuiku lagi dan memporak porandakan kehidupanku saat ini yang sudah aku tata sedemikian rupa.

“baiklah kalau itu keinginanmu” sesal kyuhyun

Hampir setengah jam aku dan kyuhyun hanya membicarakan tentang pekerjaan. Dan selama itu kyuhyun terus saja memandangku tanpa henti membuatku sedikit risih dengan apa yang dilakukannya.

Kubereskan map yang ada dimeja, memasukkan beberapa benda kecil seperti note dan bolpoint kedalam tas selempang yang aku kenakan.

“kyuhyun shi, aku pamit dulu”

Ucapku saat aku selesai dengan urusan beres membereskan. Kugeser kursi yang aku duduki dan berdiri.

“eunbi ah, apa kau akan pergi begitu saja? ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu”

“maaf kyuhyun, aku benar benar harus pergi sekarang ada pekerjaan lain yang harus aku selesaikan.”

Bohongku padanya. Kyuhyun adalah orang terakhir yang harus aku temui hari ini.

untuk kesekian kalinya kyuhyun menghembuskan nafas beratnya.

“baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu” kyuhyun menggeser kursinya dan berdiri dari duduknya.

“tidak perlu, aku bisa pergi sendiri”

“apa kau akan terus menolakku?”

Aku terdiam, tidak taukah dia kalau aku berusaha menghindarinya?

“bukan begitu, aku bisa pergi sendiri dan..”

Keseimbanganku hampir roboh saat kyuhyun dengan tiba tiba menarik tanganku dan melangkah pergi dari tempat kita berdiri. Dadaku bergemuruh hebat saat aku merasakan genggaman tangan kyuhyun. Genggaman yang dulu pernah aku impi impikan.

^-^

Langit sudah berubah menjadi gelap saat aku keluar dari kantor. Kueratkan tas selempang yang aku kenakan. Tangga demi tangga kuturuni dan sesampainya aku di pijakan tangga terakhir langkahku terhenti, mataku menangkap seorang laki laki yang sedang bersandar di mobil depannya. Laki laki itu adalah kyuhyun. aku tidak tau kenapa dia ada disitu tapi yang aku tau dia sedang melambaikan tangannya padaku saat ini.

apa dia sedang menungguku?

Aku masih berada diposisiku saat kyuhyun datang menghampiriku.

“kenapa kau kesini?” tanyaku sedikit terbata karena rasa gugup yang tiba tiba melanda. Ada apa dengan diriku, kenapa aku terus merasa gugup saat berada bersamanya?.

“aku datang menjemputmu”

“hem??” tanyaku dengan sedikit bergumam, bisa dipastikan kalau wajahku saat itu benar benar terlihat seperti orang terbodoh diseluruh dunia.

“untuk apa kau menjemputku? Aku bisa pulang sendiri” ucapku kemudian.

“karena aku merindukanmu, dan ada banyak hal yang ingin aku katakan”

Dadaku semakin bergemuruh saat indra pendengaranku menangkap kata “AKU MERINDUKANMU”. Walaupun aku tau kata itu tidak lebih untuk seorang teman tapi kata kata itu berefek besar bagi diriku.

‘ah sial, kenapa tubuhku memberikan respon ynga sangat berlebihan’

^-^

Sepanjang perjalanan yang aku lewati, aku hanya memandang keluar jendela tanpa bersuara sedikit pun. Suasana didalam mobil bersama kyuhyun terasa sangat canggung. Dari ekor mataku aku dapat menangkap berkali kali kyuhyun memandang kearahku.

“kau tinggal dimana selama ini?” suara kyuhyun memecahkan kesunyian.

Kyuhyun memandangku sekilas lalu kembali memandang lurus kearah jalan. Walaupun dia terlihat focus pada jalanan tapi dia memperhatikanku lewat ekor matanya.

Sedangkan aku tetap pada posisiku sebelumnya, memandang kearah luar jendela.

“aku tinggal di Gwangju” kataku datar dan lirih, entah kyuhyun dapat menangkap perkataanku atau tidak.

“kenapa kau pindah tanpa memberitahuku dan kenapa kau tak pernah menghubungiku?”

kali ini suara kyuhyun tak kalah datar dari suaraku.

“ada beberapa hal yang membuatku tidak bisa memberitahumu”

‘Dan semua itu karena mu’

“apa semua itu karena diriku?”

Aku sedikit berjingkat mendengar ucapan kyuhyun yang terdengar cukup lirih itu, kubalikkan posisiku menghadap kearahnya. Kutatap wajahnya yang berusaha focus pada jalan.

“anni”

Kembali kupalingkan wajahku kearah jendela, seolah pemandangan diluar lebih mengaksikkan dari pada berbincang dengan kyuhyun atau menatap kyuhyun.

“jika bukan karena diriku, kenapa kau tak pernah menghubungiku bahkan aku tak bisa menghubungi nomor handphonemu?”

Rentetan pertanyaan kyuhyun membuatku sedikit geram, aku sedang tidak dalam posisi ingin membahas semua yang telah terjadi, aku tidak ingin mengkorek kembali semua tentang masa laluku, termasuk masa laluku yang menyangkut tentang kyuhyun.

Kali ini kubalik posisiku menghadap kearahnya dan kutatap kyuhyun dalam dalam.

“bukankah aku sudah mengatakan kalau ada beberapa hal yang membuatku tidak bisa memberimu kabar” kataku sedikit geram.

“lalu ada apa dengan sikapmu? Kenapa kau bersikap seolah kau tak ingin bertemu denganku?”

‘aku memang tidak ingin bertemu denganmu, karena bertemu denganmu akan mengingatkanku dengan perasaanku padamu’

“hwang eunbi”

Suara kyuhyun menyadarkanku dari pikiranku sendiri tentang bayang-bayang masa lalu. Sepertinya kyuhyun sudah sedikit gerah menunggu jawaban dariku.

“tolong turunkan aku di gang depan, rumahku ada disekitar situ” kataku tanpa rasa bersalah

“aku tidak akan menurunkanmu sebelum kau menjawab pertanyaanku”

Mataku menatap tajam kearah kyuhyun, sedangkan kyuhyun terus memandang lurus kearah jalan.

“bukankah aku sudah menjawab semua pertanyaanmu”

“kau belum menjawab pertanyaanku yang terakhir, ada apa dengan sikapmu kenapa kau terlihat sangat berbeda?”

“bukankah setiap orang bisa berubah kapan saja, dan kenapa kau mempermasalahkan sikapku padamu? Kita bahkan tak pernah bertemu lagi sejak SMA lalu kenapa kau tiba tiba mempermasalahkan sikapku padamu?”

Rentetan rentetan kekesalan itu tiba tiba keluar dari mulutku tanpa bisa aku control. Aku tidak tau apa yang sampai membuatku begitu kesal pada kyuhyun saat ini dan aku juga tidak tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya kali ini. semua terasa sangat membingungkan, aku butuh waktu untuk memikirkan setiap kejadian ini.

kenapa aku bertemu lagi dengan kyuhyun? kenapa terselip rasa bahagia saat aku bisa melihatnya lagi?. Dan kenapa aku harus merasa kesal dengan pertemuan ini?. semua pertanyaan pertanyaan itu berputar terus dikepalaku tanpa mendapatkan jawaban yang jelas.

 

Secepat kilat kyuhyun menepikan mobilnya, dia memutar posisinya menghadap kearahku. Untuk beberapa detik mataku dan kyuhyun bertemu sebelum aku memutus kontak mata itu. Aku tidak ingin tenggelam terlalu jauh dengan semua tatapan kyuhyun.

“maafkan aku jika dulu aku menyakitimu, aku sama sekali tidak berniat menyakitimu”

“kau tak perlu meminta maaf padaku, itu semua bukan salahmu. Aku sendirilah yang telah menyakiti perasaanku”

Kyuhyun memang tidak perlu meminta maaf dengan apa yang sudah terjadi padaku karena pada kenyataannya aku lah yang telah menyakiti perasaanku sendiri.

Aku terlalu tenggelam dalam rasa cintaku padanya sampai aku sulit menghapus semua bayang bayang tentangnya.

“jangan pernah merasa bersalah lagi dan aku harap kau tak akan terbebani dengan semua yang telah terjadi. Semuanya sudah berlalu. Lupakanlah semuanya. ” lanjutku

“jika kau ingin aku melupakan semuanya lalu kenapa kau menuliskan sebuah surat yang membuatku tidak bisa melupakanmu bahkan disaat aku tidur?”

Aku terdiam cukup lama, perkataan kyuhyun seperti sengatan listrik bagiku. Apa maksudnya tidak bisa melupakanku? Bolehkah aku berpikir kalau itu sebuah tanda kalau kyuhyun memiliki perasaan terhadapku? Anni, tentu saja TIDAK.

‘sadarlah hwang eunbi, apa yang kau pikirkan bukankah kau sudah berhenti berharap darinya dan bukankah dulu secara terang terangan kyuhyun mengatakan kalau dia tidak memiliki rasa itu’

“maafkan aku kalau surat itu terlalu memberatkanmu. Mulai saat ini kau bisa melupakan semua tentang surat itu, aku juga tidak keberatan jika kau juga melupakan tentangku. Anggap saja semua yang aku tulis dalam surat itu hanya sebuah curhatan anak remaja yang sama sekali tidak berarti apapun”

“shiroe, aku tidak ingin melupakanmu sampai kapanpun”

“terserah padamu”

“terima kasih atas tumpangannya”

Tanpa ingin berbasa basi lagi aku langsung mendorong pintu mobil dan keluar. Aku langsung memberhentikan taksi yang lewat dan masuk kedalamnya tanpa menghiraukan terikan kyuhyun yang meamnggil namaku.

“mianhae kyu” ucapku lirih, kutatap kyuhyun yang semakin menjauh dari balik kaca spion.

Aku benar benar merasa sangat bersalah padanya, tak seharusnya aku berperilaku seperti itu. Mengacuhkan kyuhyun dan seolah melupakan tentangnya.

Jika kalian bertanya kenapa aku bersikap berlebihan seperti itu, akupun tidak tau. Saat aku bertemu dengannya lagi ada begitu banyak yang aku rasakan. Aku merasa bahagia dan kesal dalam waktu bersamaan. Aku bahagia karena pada akhirnya aku dapat bertemu lagi dengannya, dan aku merasa kesal karena saat bertemu dengannya aku sadar kalau aku sangat MERINDUKANNYA, aku BENCI itu. Aku benci saat aku harus mengakui kalau aku merindukannya karena itu berarti aku belum sepenuhnya menghapus semua perasaanku padanya atau bahkan aku memang belum benar benar menghapusnya.

 

Taksi yang aku tumpangi membawaku pergi sampai pada sungai han. Aku memilih untuk duduk dipinggir sungai, menghirup udara segar sebanyak banyaknya, berharap ini dapat membuatku lebih rileks. Mataku menerawang jauh pada aliran air yang terlihat tenang didepanku.

Flashback off

^-^

Udara malam mulai menyentuh permukaan kulitku, saat aku berjalan keluar kantor. Kuhela nafasku, lagi dan lagi aku melihat kyuhyun bersandar di kap mobilnya bak seorang foto model yang sedang melakukan sesi photo.

Entah apa yang ada dipikiran kyuhyun, setiap hari saat aku keluar dari gedung tempatku bekerja kyuhyun selalu bersandar dimobilnya dan melambaikan tangannya kearahku.. persis seperti saat ini.

Aku mendengus malas dan berjalan kearahnya, sedangkan dia justru menampilkan senyum lebarnya. Seperti orang tidak berdosa. Pikirku.

“kenapa kau kesini lagi?” tanyaku ketus.

“bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan menjemputmu setiap hari?” jawab kyuhyun sambil menampilkan senyum tidak berdosanya.

“dan bukankah aku sudah mengatakan kalau kau tidak perlu menjemputku lagi?” balasku datar.

“kenapa aku tidak boleh menjemputmu?”

Aku memutar otak mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan kyuhyun. kenapa aku tidak ingin dijemput kyuhyun? tentu saja itu karena aku tidak ingin berdekatan dengannya, setiap kali aku dekat dari jangkauannya kerja jantungku menjadi dua kali lebih cepat. Dan aku tidak ingin itu menjadi semakin parah. Aku tidak ingin menderita serangan jantung diusia semuda ini.

“tentu saja, karena aku ingin pulang sendiri”

“aku tidak ingin membiarkan kau pulang sendiri, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu”

Aku memicingkan kedua mataku ‘ apa- apaan dia ini, kenapa bersikap sangat protektif seperti ini. memangnya dia siapa?’

“kau jangan berlebihan, aku sudah terbiasa pulang sendiri jadi kau buang jauh semua pikiranmu itu”

“aku hanya mengkhawatirkanmu, sudah lah jangan bicara lagi. Ayo kita pulang”

Belum sempat aku membuka mulutku untuk membalas kata katanya. Kyuhyun sudah menarik tanganku dan mendorongku masuk kedalam mobilnya.

 

Seperti biasa suasana didalam mobil sangat sepi hanya ada beberapa obrolan yang kyuhyun buat.

“apa kau ingin makan dulu?”

Aku memalingkan wajahku yang semula menghadap ke jendela menjadi menghadap kearah kyuhyun, berusaha menimbang nimbang tawaran kyuhyun.  jujur aku sangat lapar karena aku melewatkan makan siangku tadi, tapi makan bersama kyuhyun..?

“tidak, aku ingin cepat pulang” kataku dengan nada ketus dan langsung memalingkan wajahku lagi.

Belum satu menit aku menolak tawaran kyuhyun tapi perutku dengan lancangnya berbunyi dan aku yakin kyuhyun mendengarnya. Ah sial. Dasar perut tidak tau diri.

“sepertinya kita harus makan dulu” kyuhyun tersenyum mengejek kearah perutku.

“tidak perlu, kita langsung pulang saja” kataku dengan berusaha menahan rasa malu yang sudah megusai diriku. Dalam hati aku merutuki diriku sendiri, kenapa perut ini harus berbunyi saat bersama kyuhyun, terlebih lagi saat aku berusaha mengabaikan ajakannya. Menyebalkan.

 

Tak butuh waktu lama bagi kyuhyun untuk membawaku kesebuah restaurant bergaya eropa. Perjuanganku untuk menolak tawaran kyuhyun terasa sangat sia sia karena bagaimanapun caraku menolaknya laki laki itu tetap membawaku kesini.

Perkataanku tempo hari tentang siapa saja bisa berubah kapan saja sepertinya terbukti pada diri kyuhyun. Kyuhyun telah berubah, berubah menjadi laki laki yang PEMAKSA.

“kau ingin pesan apa?” Tanya kyuhyun saat seorang pelayan menghampiri.

“sama saja denganmu”

Kyuhyun nampak serius meneliti setiap menu yang tertera pada daftar menu.

“kami pesan foie gras”

Pelayan perempuan itu kemudian menuliskan pesanan yang kyuhyun sebutkan dan berlalu pergi.

 

 

Tidak butuh waktu lama untuk menunggu makanan khas prancis yang dipesan kyuhyun sampai didepan mataku. Sebuah hati angsa yang dibuat pasta dan dicampur dengan saus khas prancis terlihat sangat menggiurkan, membuat perutku semakin merota rota untuk dikasih makan.

“selamat makan” kata kyuhyun.

Perlahan kupotong hati angsa itu dan memasukkannya kedalam mulutku. Rasanya benar benar meleleh dimulutku, hati angsa dan saus khas prancis itu seolah benar benar memanjakan lidahku. Apakah aku terlihat sangat norak?

“apa kau menyukainya?”

Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan kyuhyun.

 

 

 

“terimakasih atas tumpangan dan juga makan malamnya”

Kataku pada kyuhyun saat kita sudah berada di depan gedung apartementku.

“apa aku hanya mendapat ucapan terima kasih saja?”

“mwo?” alisku saling bertautan, jadi apa yang harus aku ucapakan selain kata terima kasih?.

“apa kau tidak akan menawariku mampir keapartemenmu dan membuatkanku secangkir teh?”

Haruskah? Kataku dalam hati.

“emm… itu..”

Belum sempat aku menyelesaikan kata kataku, kyuhyun sudah menarikku memasuki gedung apartement. Benar benar laki laki yang tidak tau malu sekaligus pemaksa.

“ada dilantai berapa apartementmu?”

Tanya kyuhyun saat tanpa sadar aku dan dia sudah berada didalam lift.

“8”

Kyuhyun kemudian menekan angka delapan, dan tidak butuh waktu lama sampai lift itu berhenti di lantai 8.

 

 

“duduklah aku akan membuakanmu teh”

Kyuhyun hanya mengangguk lalu mendudukkan dirinya di satu satunya sofa yang ada di dalam kamar apartementku.

“minumlah, dan cepatlah pulang”

“apa kau mengusirku?”

“ini sudah sangat malam bagi seorang laki laki untuk bertamu pada  seorang gadis lajang seperti diriku.”

“jadi kau belum memiliki pasangan?” raut wajah kyuhyun terlihat sangat senang. Matanya bahkan terlihat sangat berbinar binar.

“apa kau sedang mengejekku?”

“anni, aku hanya ingin mengatakan kalau aku juga sedang sendiri”

“lalu?”

“tidak ada, aku hanya ingin mengatakannya”

Kyuhyun lalu meminun tehnya, bibirnya sedikit tertarik keatas sebelum menyesap habis tehnya.

^-^

Seperti biasa aku akan berkutat dengan berbagai macam data yang cukup memusingkan kepala. Mataku dengan teliti melihat pada layar computer yang berada diatas meja kerjaku. Sesekali aku menyesap chocolate panasku yang masih mengepul.

“hwang eunbi, ada kiriman untukmu”

“untukku?” mataku beralih pada sosok tinggi chaeyon, salah satu temanku dikantor.

Chaeyon mengangguk mengiyakan, dan meletakkan sebuah buket bungan mawar pink besar.

“ini untukku?”

Tanyaku lagi, berusaha memastikan apa yang ada dihadapanku.

“iya, apa kau sedang berkencan dengan seseorang?. Ah dia romantic sekali. Kau membuatku sangat iri eunbi ah”

“anni, aku sedang tidak berkencan dengan siapapun”

“lalu ini dari siapa?” chayeon menunjuk bunga pink yang ada dihadapanku

“molla aku juga tidak tau, mungkin salah alamat” kataku cuek, aku sama sekali tidak bisa memikirkan satu namapun diotakku.

“mungkinkah?”

“mungkin”

“kyuhyun, cho kyuhyun. apa kau tidak mengenalnya?” kata chaeyon sambil memegang kartu pengirim yang ada di buket bunga itu. Mataku seolah melebar dua kali lipat.

“apa? Kyuhyun?”

Benarkah laki laki itu yang mengirimiku bunga ini?

“oh. Kau tidak mengenalnya?”

“aku mengenalnya”

“ah, pasti dia seseorang yang sedang dekat denganmu”

“aku rasa hubungan kita tidak seperti itu”

“lalu bunga ini?”

“entahlah aku juga tidak tau”

 

^-^

Untuk kesikan kalinya kyuhyun mengirimiku bunga, kali ini bunga baby breath dengan ukuran besar.

“kau mendapat kiriman bunga lagi?” Tanya chaeyon saat ia melintas disampingku.

“oh”

“wah, sepertinya dia tidak main main denganmu”

“maksudmu?”

“apa kau yakin kalian tidak memiliki hubungan yang special?”

^-^

“hwang eunbi”

Suara itu begitu familiar ditelingaku, kupanglingkan wajahku dan ternyata tebakanku benar, suara itu adalah suara kyuhyun. Aku tidak pernah bertemu kyuhyun  beberapa hari ini, hanya kiriman bunga yang aku terima darinya.

Kenapa dia datang lagi?. Batinku

Tapi baguslah, sudah sejak kemarin aku ingin melabraknya

 “apa kau suka bunganya? Aku tidak tau bunga mana yang kau sukai, jadi aku berinisiatif untuk mengirimkan bunga dengan jenis berbeda setiap harinya” ucap kuhyun pajang kali lebar dengan nada yang tanpa dosa, bahkan wajahnya menyiratkan kalau dia sangat bangga dengan ide memberiku bunga setiap harinya.

Ide yang sangat berliant cho kyuhyun karena kau berhasil membuatku seperti memiliki toko bunga pribadi.

“apa kau berniat membuat kamarku terlihat seperti toko bunga? Dan apa kau tau bunga lili yang kau kirimkan kemarin membuatku bersin bersin sepanjang hari”

Mengingat hari kemarin membuatku ingin menonyor kepala kyuhyun, bagaimana tidak sejak pagi aku harus bersin bersin tidak karuan sampai hidungku merah padam.

“maafkan aku. aku tidak tau kalau kau alergi dengan bunga lili”

“sudahlah, mulai sekarang berhentilah memberiku bunga setiap harinya. Apartementku sudah tidak memiliki sudut untuk menaruh bunga bungamu itu.”

“aku hanya ingin menunjukkan kalau aku sangat senang bertemu denganmu dan aku ingin kau selalu mengingatku disaat aku tidak bisa bertemu denganmu seperti kemarin”

“untuk apa? Kenapa aku harus selalu mengingatmu. Aku rasa hubungan kita tidak sabaik itu, dan sepertinya seorang teman tidak perlu mengirimkan bunga setiap harinya hanya agar dia selalu diingat”

Kata kata itu keluar begitu saja dari mulutku, aku sama sekali tidak bisa memahami perlakuan kyuhyun. bukannya aku tidak senang mendapatkan bunga setiap harinya, tentu saja aku senang apalagi aku adalah seorang wanita yang menggilai hal hal manis seperti itu. Hanya saja perlakuan kyuhyun itu membuatku menghayal kalau kyuhyun adalah kekasihku, dan aku tidak ingin itu. Aku tidak ingin lagi hidup dalam bayang bayang kyuhyun lagi.

Kyuhyun hanya diam dan menatapku sambil mendengarkan amukan tidak jelas yang aku lontarkan. Entah apa yang dia pikirkan sekarang, aku melihat guratan kekecewaan di wajahnya. Tapi biarlah aku tidak peduli itu.

“aku melakukan ini karena aku…”

Kata kata kyuhyun menggantung diudara setelah dengan lancangnya aku memotong perkataannya. aku tidak tau makluk apa yang sedang merasuki diriku sekarang , setiap kali aku melihat kyuhyun aku selalu ingin marah.

“sudahlah aku tidak ingin mendegar penjelasanmu. Mulai sekarang berhentilah mengirim bunga bunga itu dan jangan menemuiku lagi kecuali urusan bisnis.”

Ucapku dengan ketus, sedangkan kyuhyun hanya menatapkan penuh arti.

“bagaimana jika aku tidak menyetujui permintaanmu?”

Kyuhyun mengatakannya dengan sangat tenang nyaris tanpa ekspresi.

“aku tidak sedang dalam urusan untuk bernegosiasi denganmu. Cho kyuhyun”

“aku juga sedang tidak dalam urusan bernegosiasi denganmu hwang eunbi. Apapun yang terjadi aku tidak akan berhenti menemuimu”

Perkataan kyuhyun barusan membuatku berang, apa maksud laki laki ini. aku sama sekali tidak mengerti.

“apa hakmu? Aku rasa hubungan pertemanan kita sudah berakhir sejak lama. Jadi kau tidak memiliki hak apapun untuk bertemu denganku lagi kecuali untuk urusan pekerjaan”

“sebagai laki laki yang mencintaimu tentu aku punya hak untuk itu”

lagi lagi kyuhyun mengatakannya tanpa ekpresi, berbanding dengan diriku saat ini yang menganga tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar.

“apa kau bilang?”

“aku mencintaimu hwang eunbi” kali ini ekspresi kyuhyun berubah menjadi sedikit serius.

Aku terdiam cukup lama, berusaha mencerna apa yang barusaja kyuhyun katakan.

Kyuhyun mencintaiku? Kata kata itu terus berputar dikepalaku, membuatku pening.

Sadarlah hwang eunbi, itu semua tidak mungkin terjadi.

“aku tidak tau kenapa kau mengatakan itu dan untuk apa? Apa kau sedang meledekku karena kisah kita dulu atau kau sedang mencoba mengelabuiku?”

“apapun yang ada dipikiranmu itu bisa aku pastikan kalau semuanya SALAH. Aku mengatakan ini karena sudah sejak lama aku menanti waktu seperti ini. mungkin ini akan terdengar sangat membosankan tapi aku benar benar menantikan kehadiranmu. Sejak kepergianmu aku sadar kalau ternyata aku telah jatuh hati pada teman baikku sendiri. Dan aku sadar kalau kau telah membawa hatiku pergi bersamamu. Aku tau ini sangat terlambat dan aku terlihat seperti tidak tau diri dengan mengatakan ini setelah apa yang terjadi. Tapi aku benar benar tidak bisa hidup tanpamu, bertahun tahun ini aku hanya menghabiskan waktuku untuk MENUNGGUMU. Aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Karena aku yakin kalau kita akan dipertemukan kembali”

“seperti yang kau bilang kyu, ini sudah sangat terlambat. Aku tau menghabiskan waktu bertahun tahun untuk MENUNGGU seseorang tidaklah MUDAH, karena aku juga pernah berusaha untuk MENUNGGUMU tapi kau juga harus tau kalau menghabiskan waktu bertahun tahun untuk MELUPAKAN seseorang juga tidak MUDAH.”

Aku menarik nafas beratku sebelum aku melanjutkan kata kataku, entah untuk alasan apa dadaku terasa sesak saat mengetahui fakta kalau kyuhyun mencintaiku.

Ingin rasanya aku meneriaki kyuhyun dan memakinya

Kenapa dia begitu terlambat? kenapa baru sekarang dia mengataknnya?

“ Jadi aku tidak bisa menyia nyiakan waktuku yang telah aku habiskan untuk melupakanmu dengan kembali mencintaimu” kembali aku melanjutkan perkataanku.

“maaf kalau aku terlalu terlambat untuk memahami perasaanku dan aku tau kau masih mencintaiku sampai sekarang, jadi kau jangan berbohong padaku. matamu itu tidak bisa membohongiku”

Aku terperangah mendengar yang kyuhyun katakan aku masih mencintai kyuhyun?

“kau salah, sudah sejak lama aku menghapus perasaan itu dari hatiku”

“kau bohong, aku tidak melihat itu dari matamu”

“terserah kalau kau tidak percaya padaku aku tidak akan memaksamu untuk mempercayai perkataanku. Aku hanya punya satu permintaan, berhenti menemuiku lagi” ucapku tegas, aku sama sekali tidak peduli apakah kyuhyun percaya padaku atau tidak. Untuk saat ini aku hanya ingin kyuhyun pergi dari kehidupanku seperti sebelumnya.

Aku membalikkan badanku berniat untuk pergi dari hadapannya tapi belum sempat aku melangkahkan kakiku kyuhyun menarik tanganku membuatku mau tidak mau menghadap kearahnya, untuk sesaat padanganku dan kyuhyun bertemu.

“aku tidak akan melepaskanmu”

Kulepas genggaman tangan kyuhyun dengan menggunakan tanganku yang bebas, kemudian aku benar benar berlalu dari hadapannya. Sedangkan kyuhyun hanya menatapku. Mungkin dia masih syok dengan perilakuku atau entahlah aku tak tau.

^-^

Sebuah pesta dengan segala pernak pernik bernuansa biru electric tertata rapi di salah satu hotel berbintang lima, tidak banyak yang aku kenal, lebih tepatya TIDAK ADA yang aku kenal kecuali donghae. Laki laki yang saat ini sedang berjalan disampingku. Beberapa waktu yang lalu donghae memintaku untuk menemaninya datang ke pesta super mewah ini, sebenarnya aku tidak terlalu suka pesta terlebih aku tidak mengenal orang orang yang ada di sini tapi tentu saja aku tidak ingin mengecewakan laki laki paling baik setelah ayahku itu dengan menolak permintaannya. Dan beginilah akhirnya, aku mengekor disamping donghae tanpa aku tau mau kemana dia akan pergi melangkah.

Donghae menghentikan langkahnya pada kerumunanan laki laki berjas yang bisa aku pastikan kalau itu adalah teman kantor donghae.

“malam semuanya” sapa donghae pada mereka.

“hai donghae”

“siapa dia? Apa dia kekasihmu?”

Aku sidikit kaget dengan pertanyaan salah satu teman donghae sedangkan donghae hanya tersenyum tidak jelas.

“kenalkan dia eunbi”

“anyeong haseyo, hwang eunbi imnida”

“kau sangat cantik, pantas donghae memilihmu”

“terima kasih”

Aku tersenyum sedikit canggung, tidak ada kata kata yang terlintas di otakku selain kata ‘terima kasih’.

Mereka semua larut dalam percakapan antar sesama laki laki dan mengabaikan keberadaanku, seolah aku ini hanya nyamuk yang sedang terbang. Merasa bosan dengan keadaan ini, aku panglingkan pandanganku kesekeliling pesta mencari sesuatu yang mungkin lebih menarik dari pada obrolan kermununan para laki laki ini.

Mataku menjelajahi setiap ornament yang terpasang di setiap sudut ruangan seolah memastikan kalau tidak ada yang kurang dari pesta ini.

Satu detik…,

dua detik…,

tiga detik…  mataku terkunci pada pandangan seseorang yang sedang menatapku tajam. Untuk beberapa detik pandanganku dengannya bertemu. Nampaknya Tuhan sedang memiliki suatu rencana atas diriku, niatku mencari sesuatu yang dapat mengusir kebosananku berbuntut sesuatu yang mengejutkan- sangat MENGEJUTKAN.

Bagaimana mungkin dia ada disini?

Laki laki yang belakangan sudah tidak prnah menampakan batang hidungnya dihadapanku lagi, kini sedang berdiri 5 meter dari hadapanku.

Kuedarkan pandanganku lagi mencari sesuatu yang jauh lebih menarik dari sebelumnya, beusaha untuk menghiraukan tatapan kyuhyun yang begitu tajam. Tapi aku sama sekali tidak bisa menemukan apa yang aku cari.

“donghae ya, aku mau pergi ketoilet dulu”  aku berbisik pada donghae, dan donghae hanya mengganggukkan kepalanya mengiyakan.

Cukup lama aku berada di dalam toilet, membenarkan beberapa riasan.

Selesai dengan kegiatanku, kulangkahkan kakiku keluar berniat untuk kembali kedalam pesta yang sebenarnya sama sekali tidak aku nikmati.

Satu langkah..

Dua langkah…

Secara tiba tiba seseorang menarik tanganku dan menyudutkanku pada sebuah dinding, hampir saja aku berteriak sebelum aku tahu siapa orang brengsek yang telah menarikku dengan tiba tiba itu.

“apa yang kau lakukan?” tanyaku penuh amarah, sedangkan orang yang aku ajak bicara hanya menatapku penuh amarah, sama sepertiku.

Ada apa dengannya? bukankah aku yang harusnya marah padanya?

“jadi ini alasanmu, menyuruhku pergi dari kehidupanmu?”

Kyuhyun masih saja menatapku, seolah dia ingin mengulitiku dengan tatapan membunuhnya. Jujur aku tidak tau apa yang telah aku lakukan sampai membuatnya terlihat sangat marah seperti ini.

“apa maksudmu?”

“kau jangan pura pura tidak mengerti maksudku hwang eunbi”

“aku memang tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan.” Kataku dengan nada yang sedikit tinggi.

“donghae- kau menyuruhku pergi karena donghae”

“apa maksudmu? Aku tidak mengerti”

“berhenti berlagak tidak tau hwang eunbi” kyuhyun berkata dengan hampir berteriak membuat sedikit terperanjat.

“aku benar benar tidak mengerti cho kyuhyun”

“baik akan aku buat kau mengerti, kau adalah orang yang hampir 5 tahun ini membuatku menunggu, aku bahkan berusaha sangat keras untuk menemukanmu dan setelah waktu yang telah aku habiskan hanya untuk menunggumu, sekarang kau mengusirku pergi darimu. Awalnya aku mengira itu semua karena kau terlalu sakit hati denganku tapi aku salah kau mengusirku karena orang lain. dan orang lain itu adalah donghae. aku tau aku tidak punya hak untuk melarangmu berhubungan dengan siapapun tapi tak bisakah kau memberiku satu kesempatan”

Kyuhyun masih saja menatapku sedangkan aku hanya terdiam.

Kulepas eratan tangan kyuhyun perlahan pada lenganku, perlahan air mataku menetes tanpa aku mau dan tanpa aku sadari. Semuanya terjadi begitu saja.

“kau sudah begitu terlambat kyuhyun”

Karena aku telah memutuskan untuk menerima donghae. Lanjutku dalam hati.

Hari dimana aku dan kyuhyun bertemu kembali setelah sekian lama adalah hari dimana aku memutuskan untuk menerima donghae. aku memang tidak berkata pada donghae kalau aku mencintainya tapi aku akan berusaha untuk mencintainya. Aku dan donghae pertama kali bertemu saat kita masih sama sama dibangku kuliah. Pertemanan yang awalnya biasa saja menjadi sesuatu yang tidak biasa. Aku dengannya menjadi sangat dekat layaknya seorang sahabat bahkan aku telah menceritakan semua yang aku alami pada donghae termasuk kisahku tentang kyuhyun. donghae tau semuanya bahkan donghae juga tau kalau aku belum bisa benar benar melupakan kyuhyun.

Persahabatanku dengan donghae tidak jauh beda dengan persahabatan kebanyakan orang tapi tanpa aku sadari persahaban itu sedikit berubah karena donghae menyimpan rasa padaku, sedangkan aku hanya menganggap dia tidak lebih dari seorang sahabat. Benar kata orang TIDAK ADA PERSAHABATAN ANTARA WANITA DAN PRIA. Seiring berjalannya waktu persahabatan itu akan berubah menjadi cinta entah saling mencintai atau hanya cinta sepihak. Berulang kali donghae mengatakan perasaannya padaku tapi selalu saja berujung penolakan yang keluar dari mulutku. Sampai pada hari itu, aku memutuskan untuk berusaha menerima donghae dalam hatiku bukan karena aku merasa kasian pada donghae atau karena aku mulai mencintai donghae. semua itu semata mata karena aku ingin berusaha membuka hatiku untuk orang lain. tapi Tuhan memiliki rencana yang jauh dari dugaanku. Pada hari itu juga Tuhan mepertemukanku pada kyuhyun lagi. Duniaku seolah terjungkil balik, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan dan aku tidak tau keputusan mana yang tepat untukku.

Aku tidak tau apa maksud Tuhan tapi aku sangat mengutuk pertemuanku dengan kyuhyun itu karena semua itu membuatku meragu lagi untuk membuka hatiku untuk orang lain.

 “tapi kau masih mencintaiku, kenapa kau harus membohongi perasaanmu sendiri?”

“aku yang lebih tau tentang hatiku, bukan dirimu” kataku sedikit tegas, aku ingin berusaha mempertahankan keputusanku untuk membuka hatiku.

“tapi aku bisa melihatnya”

“kau salah, dan dengarkan aku baik baik agap saja kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. aku memang mencintaimu tapi itu dulu jauh sebelum kita bertemu lagi. Dan untuk masalahmu yang mencintaiku, aku yakin kau bisa melupakan rasa itu seiring bergulirnya waktu sama sepertiku.”

Kata kata yang keluar dari mulutku itu tidak hanya untuk kyuhyun tapi juga untukku. Aku berusaha menyakinkan diriku sendiri kalau Tuhan memang menginginkan aku dan kyuhyun bersama pasti Tuhan akan membuat aku dengannya bersama dengan jalan yang tidak pernah aku tau.

“jika memang waktu bisa membuatku lupa akan dirimu kenapa sampai detik ini aku belum bisa melupakanmu bahkan bayang bayangmu masih teringat jelas dipikiranku.”

“aku yakin waktu akan membantumu melupakanku”

Kuusap air mata yang sudah meleleh sejak tadi, kulangkahkan kakiku pergi meninggalkan kyuhyun sendiri yang masih menatapku.

pandanganku terasa kabur, efek dari sisa sisa air mata yang masih tertinggal dipelupuk mata. Sampai aku tidak menyadari kehadiran seorang laki laki yang berdiri sekitar satu meter dari hadapanku. Donghae, laki laki itu menatapku tanpa ekspresi. Melihat dari tatapannya aku yakin dia telah mendengar semua pembicaraanku dengan kyuhyun.

Donghae mungkin tau kalau aku memiliki cinta pertama bernama kyuhyun tapi dia tidak tau kalau aku telah bertemu lagi dengannya dan donghae tidak tau kalau kyuhyun yang aku maksud adalah kyuhyun teman satu kantornya. Ini adalah pesta khusus untuk para staff perusahaan, jadi bisa dipastikan kalau kyuhyun dan donghae adalah teman satu kantor. Hanya saja aku tidak tau apakah mereka saling mengenal atau tidak.

Aku terus melangkah kedepan dengan sedikit ragu menghiraukan tatapan dari kyuhyun dan juga tatapan dari donghae.

Oh tuhan selamatkan aku dari situasi ini, aku tidak ingin menyakiti siapapun tapi kenapa kau membuat aku seolah menyakiti mereka berdua.

Aku benar benar ingin keluar dari situasi ini, aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya, sendiri.

Langkahku terhenti  dihadapan donghae. aku hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbalik dan pergi begitu saja dan aku hanya mengekorinya dari belakang. Dan begitulah akhir dari malam panjang ini. aku telah menyakiti dua hati yang sebenarnya sama sekali tidak ingin aku sakiti.

======================tunggu next story nya=========================

author’s note : terima kasih udah baca ff ini, maaf kalau feel nya kurang dapet karena memang author buat ff ini kepotong potong terus, jadi ya begini lah hasilnya 😀

ditunggu comment dan like nya ya chingu, kamsahamida 🙂