18 AGAIN [PART 6]

HAPPY READING

 

Kyuhyun berbaring di ranjang king size miliknya. Tapi bukan untuk bersantai. Astaga, bahkan dia tidak bisa bersantai karena sejak tadi dia terus mengutuk dirinya sendiri yang telah mencium Eunbi.

 

‘Hey cho kyuhyun apa yang kau lakukan? Dia itu muridmu. Kau tidak ingin masuk penjara karena dituduh sebagai seorang pedofil kan’

 

“ah aku bisa gila!” kyuhyun menarik kasar selimut putih miliknya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Mungkin tadi kyuhyun hanya berpura-pura tenang dan tidak terjadi apa-apa. Tapi adakah yang tahu kalau sejak tadi sore pria itu sibuk menenangkan hati dan pikirannya. Jantungya yang tiba-tiba bekerja tidak normal, hatinya yang malah senang dengan hal tadi dan pikirannya yang terus mengutuknya karena melakukan hal gila.

 

Kyuhyun membuka selimutnya sebatas dada. Matanya menatap langit-langit kamarnya seperti sedang menerawang jauh ke sana.

“sebenarnya apa yang ada dipikiranku?”

 

Dia meraih ponselnya malas saat terdengar nada pesan masuk. Tapi sedetik kemudian dia berjingkat dan langsung duduk tegap.

**

Eunbi memegang kedua pipinya yang terasa hangat. Efek dari kejadian tadi sore masih terlalu membekas untuknya, hanya dengan membayangkannya saja bisa membuat letupan-letupan kecil pada hatinya yang berefek pada detak jantung dan rona merah di pipinya.

“Eunbi ah. Apa kau sedang sakit?”

Eunbi mendongak.

“aku?. Tidak” katanya tampak sangat bodoh.

 

Na mi hanya melihat Eunbi penuh kebingungan. Sejak tadi dia pulang Eunbi sudah berbaring dan berkali-kali memegang pipinya tanpa berkata apa-apa.

 

“kau memegangi pipimu terus.”

Eunbi mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. Astaga. Pasti dia tadi terlihat sangat bodoh.

“tidak. Tidak. Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir”

Na mi mengangkat bahu tidak peduli.

 

Kembali Eunbi sibuk dengan pikirannya dan ponsel pintarnya. Mengetik beberapa baris kata kemudian menghapusnya lagi. Seperti itu sejak 10 menit yang lalu.

 

“hah?!” eunbi membanting ponselnya dengan kasar saat jarinya tanpa sengaja menekan tombol send.

“yak. Yak apa yang baru saja aku lakukan?” makinya pada diri sendiri.

Dia kemudian mengotak atik ponselnya. Dan memejamkan matanya setelah itu, pesan itu sudah terkirim dan dia tidak bisa menarik pesan itu lagi. Jadi apa yang harus dia lakukan.

Apa dia harus kembali mengirimi pesan pada cho kyuhyun? ‘soesangnim maafkan aku, karena aku tidak sengaja mengirim pesan padamu’ dan itu akan membuat dia terlihat sangat bodoh. Atau mungkin dia bisa mematikan ponselnya. Ya, itu bukanlah ide yang buruk. Tapi tunggu- kyuhyun sedang mengetikkan sesuatu. Biar Eunbi ulangi KYUHYUN MENGETIKKAN SESUATU. Ya Tuhan jantungnya semakin tidak terkontrol.

**

‘terima kasih karena sudah menemaniku bermain tadi sore. Aku sangat menikmatinya’

Kyuhyun membaca pesan itu pelan-pelan. Bahkan dengan kapasitas otaknya yang lumayan bisa membuat dia terlalu lemot untuk cepat-cepat membalas pesan itu. Kyuhyun hanya berfikir kalau Eunbi mungkin akan menghindarinya, dan hubungan mereka akan terasa sangat canggung seperti saat dia mengantar Eunbi pulang tadi. Tapi apa barusan cho kyuhyun baru saja menerima pesan dari Eunbi?

 

Jarinya bergerak cepat setelah memikirkan satu baris kalimat, tapi kemudian dia buru-buru menghapusnya. Dia harus tetap terlihat keren dan tenang seperti biasanya bukan.

 

Send.

Akhirnya pesan itu terkirim. Dia mungkin sudah gila karena setelah pesan itu terkirim kyuhyun tidak sabar untuk segera menerima balasan dari pesan itu.

 

‘tidak masalah. Terima kasih juga karena sudah membantuku’

Eunbi melemaskan pegangan tangannya pada ponsel miliknya. Dia terlalu senang sampai tidak menyadari kalau sejak tadi dia tersenyum tidak jelas. Membuat na mi kembali berfikir kalau temannya dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Dengan cepat dia membalas pesan itu, mungkin kyuhyun akan berfikir kalau Eunbi sudah sangat menunggu balasan pesan darinya tapi Eunbi tidak peduli itu. Biarlah dia berfikir seperti itu pada Eunbi.

 

“selamat malam cho soesangnim”

 

“selamat malam”

 

Kedua orang itu merebahkan tubuhnya pada ranjang mereka sambil memeluk ponsel mereka. Rasanya ranjang yang sudah mereka tiduri berkali-kali itu terasa lebih lembut seperti bantalan-bantalan bulu angsa yang di pesan khusus. Terlihat begitu bodoh dan kekanakan saat mereka merasa sangat bahagia hanya karena pesan yang entah dari mana terlihat romantis sampai membuat mereka sama-sama menyunggingkan senyuman. Tapi itu berbeda bagi mereka. Ini begitu sederhana dan sesuatu yang mereka rasakan sekarang tidak bisa mereka ungkapkan, hanya mereka yang tahu. Dan Tuhan. Tentu saja.

**

Beberapa hari telah berlalu, dan ini adalah hari terakhir masa skors Eunbi. Beberapa hari ini dia habiskan dengan melakukan beberapa hal. Membaca buku, berselancar di dunia maya, atau mengunjungi beberapa tempat. Sebenarnya Eunbi sedikit bingung dia sedang dalam masa hukuman atau masa liburan? Setidaknya dia tidak akan mendengar omelan dari orang tuanya karena mengetahui putrinya di skors dari sekolah. Astaga. Kalau hal itu benar-benar terjadi dia tidak akan tahu apa yang bisa ayahnya lakukan padanya. Mencekiknya atau segera mencoretnya dari daftar ahli waris. Tapi beruntung kalau ini hanya 18 again.

 

Eunbi menutup buku diarynya.  Dan meraih ponselnya saat nada pesan masuk terdengar.

‘masa skorsmu akan berakhir besok. Apa kau sudah siap untuk kembali ke sekolah?’

Itu pesan dari kyuhyun. Sejak saat eunbi mengirimi pesan pada kyuhyun entah siapa yang memulai membuat mereka selalu berkirim pesan. Meskipun kadang Eunbi hanya bertanya ‘apa yang dia harus lakukan hari ini untuk menjalani hukumannya’ dan kyuhyun yang akan membalas ‘belajarlah. Itu baik untukmu menghabiskan masa skorsmu’

Hanya pesan-pesan singkat seperti itu yang mereka lakukan.

 

‘sudah. Aku bahkan sudah mempersiapkan peralatan sekolahku untuk besok’  ini bahkan belum 10 detik saat pesan itu terkirim tapi Eunbi sangat tidak sabar menunggu balasan pesan dari kyuhyun.

 

‘bagus. Kuharap kau tidak melupakan dimana ruang kelasmu setelah liburan selama 2 minggu.’

Eunbi terkekeh geli. Sejak kapan kyuhyun memiliki sedikit humor. Ya, meskipun itu hanya sedikit tapi bukankah itu luar biasa jika itu kyuhyun.

 

‘liburan? Astaga bahkan aku sekarang sedang dalam masa hukuman. Bagaimana cho soesangnim menyebutnya liburan’

 

‘karena kau terlalu sering mengunjungi cafe dari pada perpustakaan’

‘ya ampun. Apa cho soesangnim mengikutiku? Aku tidak tahu kalau aku mempunyai pengemar.’

‘dan aku bukan pengemarmu nona’

 

Eunbi tidak pernah merasa terhibur dan sesenang ini berkirim pesan dengan seseorang.

**

Hari ini Eunbi bangun lebih awal dari biasanya, bahkan na mi sedikit merasa aneh karena Eunbi sudah siap dengan seragamnya saat dia baru saja membuka mata. Gadis itu hanya bilang ‘aku tidak mau terlambat datang ke sekolah’ pada na mi. Sudahlah, mungkin itu memang benar dan na mi tidak ingin memikirkan itu terlalu jauh.

 

Semuanya sudah siap, eunbi hanya tinggal mengikat tali sepatunya. Astaga. Tali sepatu lagi. Seharusnya dia membeli sepatu baru waktu dia skors, setidaknya dia tidak akan kesal karena mengikat tali sepatu terlalu sering.

 

Di tempat lain, lagi-lagi kyuhyun melempar kemejanya sembarangan di atas ranjang miliknya. Dia hampir menghabiskan setengah jam hanya untuk memilih satu setelan baju kerja. Mungkin nanti pembantunya akan bekerja ekstra untuk merapikan kamar kyuhyun. Memangnya ada apa dengan hari ini? Kalender yang dia lingkari pada hari ini, persiapan yang luar biasa. Kyuhyun sedang tidak akan pergi menemui presiden korea  selatan bukan? Bukan. Tentu saja. Hanya kyuhyun yang tahu bagaimana dia bisa serepot ini untuk menyambut Eunbi yang kembali ke sekolah lagi. Menyambut? Haruskah kyuhyun membawa bunga sebagai ucapan selamat?

 

Akhirnya kyuhyun turun terburu-buru melewati anak tangga seperti hampir akan melompatinya. Dengan persiapan yang luar biasa dia hampir terlambat, lihatlah bahkan ayahnya sudah tidak ada di meja makan, hanya ibunya dan dibantu pembantunya merapikan peralatan makan. Apa dia harus melewatkan sarapan?

 

“kau tidak sarapan dulu?” tanya nonya cho setelah melihat kyuhyun melintas begitu saja dihadapannya setelah meraih kunci mobil.

“aku sedang buru-buru”

 

“jelas saja kau terburu-buru jika kau terlalu lama memilih baju” cibir nyonya cho begitu pelan. Suaranya bahkan hanya terdengar oleh Shin Ahjumma yang berdiri di sampingnya.

“ahjumma. Apa kau berfikir kalau kyuhyun sudah punya kekasih?” tanya nyonya cho tiba-tiba dan bersemangat.

Shin Ahjumma yang ditanya hanya pura-pura berfikir sebelum menjawab

“mungkin. Tuan muda tidak pernah seperti ini”

“benarkah? Wah itu kemajuan yang sangat besar. Jadi aku tidak perlu lagi mengenalkannya dengan banyak wanita”

**

Eunbi duduk di bangkunya tanpa melakukan pekerjaan yang berarti, dia hanya berkali-kali mengecek tatanan rambutnya yang kali ini dia biarkan tergerai dengan jepit rambut kecil di sebelah kanan. Dia ingat pada hari pertama dia masuk sekolah disini keadaannya sangat kacau dan hari ini dia tidak akan membuat kesalahan sedikitpun pada penampilannya. Setelah puas dengan penampilannya eunbi memutar tubuhnya menghadap yoojin yang sedang sibuk membaca novel. Ya ampun ini seperti bukan yoojin yang biasanya. Mungkin selama Eunbi tidak masuk sekolah gadis itu mencari sedikit kesibukkan dengan membaca novel. Eunbi rasa itu lebih baik dari pada bergosip.

“kau mempunyai hobi baru? Membaca novel?” tanya Eunbi kemudian

Yoojin menggeleng dan tetap fokus pada bacaannya.

“lalu untuk apa kau membacanya?”

“aku hanya membacanya karena novel ini akan segera rilis menjadi film. Jadi aku tidak boleh terlihat bodoh saat murid-murid lain membicarakan hal ini. Hampir semua murid disini sudah membacanya. Kau tahu siapa yang bermain di film ini nanti?”

Ternyata Eunbi salah. Gadis ini tidak berubah. Bagaimana eunbi bisa berfikir kalau membaca menjadi hobi yoojin? Nyatanya gadis itu membaca buku ini hanya untuk sebuah perbincangan.

 

Sebagai jawaban dari pertanyaan yoojin tadi eunbi menggeleng.

Tiba-tiba yoojin menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja hampir seperti menggebrak meja.

“SONG JONGKI” katanya nyaris berteriak. Untung saja gendang telinga eunbi sudah terbiasa dengan volume suara yoojin.

“aku benar-benar tidak sabar” lanjutnya sambil menyatukan kedua tangganya seperti memohon sesuatu.

 

Eunbi hanya mengangguk malas.

 

“kau tahu novel ini menceritakan gadis yang sangat polos tiba-tiba jatuh cinta pada tetangga barunya. Dia begitu bodoh memahami cinta sampai dia membuat list tentang tanda-tanda orang jatuh cinta.” Terang yoojin.

 

“list?”

Yoojin mengangguk

“jantung yang selalu berdebar saat kau bersamanya, tanpa sadar kau selalu mengingatnya dan tersenyum saat bersama, kau akan bersemu saat kau menatap wajahnya, mengingat setiap kejadian yang terjadi bersamanya, dan- kau tidak ingin membuat mulutku kering karena menceritakannya kan? Ya ampun. Dia menulis itu semua dalam berlembar-lembar kertas. Aku bisa gila kalau menceritakan semuanya.”

“baiklah lanjutkan saja”

**

Eunbi menyangga dagunya dengan tangan sebelah kanan, kyuhyun sekarang berdiri di depan kelas entah menjelaskan apa. Telinga Eunbi mendadak sedikit bermasalah karena otaknya dipenuhi dengan percakapannya dengan yoojin.

‘jantung yang berdetak kencang, pipi yang bersemu saat dihadapannya, selalu tersenyum bodoh‘

 

Apakah aku sedang jatuh cinta sekarang?

Dengan cho kyuhyun?

Haruskah aku mengakuinya?

 

AKU JATUH CINTA PADANYA

CHO KYUHYUN. AKU MENCINTAIMU !!!

 

Hatinya tiba-tiba menghangat karena pengakuan yang baru saja dia buat untuk dirinya sendiri. Sepertinya musim semi telah menghampiri hatinya membuat ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam hatinya dan membuat dia menarik ujung bibirnya tanpa sadar.

 

Eunbi kembali pada dunia nyatanya saat senggolan di lengannya menariknya paksa dari pemikiran indahnya.

Mulut Eunbi membentuk kata ‘apa’ tanpa bersuara.

Yoojin menggeser satu lembar kertas yang sudah dibentuk hampir menyerupai bola, tanpa basa basi Eunbi segera membukanya.

 

‘aku senang melihatmu lagi. Ku tunggu kau untuk makan siang bersama.’

MINHO

Eunbi menatap minho yang sudah berbalik menatapnya. Laki-laki itu membentuk mulutnya membuat sebuah kalimat. ‘makan siang bersama. Aku menunggumu’ dan Eunbi hanya mampu tersenyum.

 

“sepertinya dia tidak sabar untuk mengajakmu makan bersama” ledek yoojin yang entah kapan sudah membaca kertas kusut itu. Jiwa penasarannya memang akan selalu meningkat setiap harinya.

**

Kyuhyun menggeram sendiri melihat kelakuan dua sejoli yang seolah tidak menghiraukan kehadirannya. Dunia memang terasa milik berdua saat orang saling jatuh cinta. Tapi apakah dia tidak punya waktu lain untuk saling menggoda? Astaga. Kenapa tiba-tiba udara di sekitar kyuhyun menjadi panas?.

 

Tanpa basa-basi kyuhyun melempar penghapus yang dia pegang tepat mengenai sasaran. CHOI MINHO.

“apa kau tidak punya waktu lain untuk mengobrol?” tanyanya penuh dengan ancaman.

“maaf soesangnim. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Sesalnya.

“jangan lakukan hal itu dikelasku tuan choi. Atau kau ingin aku menghukummu” kata kyuhyun mencoba menunjukkan kekuasaannya. Apa kyuhyun tampak seperti anak kecil dan tidak berwibawa seperti biasanya? Mungkin sebentar lagi imagenya akan berganti. Dari Cho Kyuhyun yang keren menjadi Cho kyuhyun yang kekanankan.

**

Deru mobil kyuhyun yang memasuki halaman membuat nyonya Cho langsung berdiri dari duduknya, dia tidak sabar untuk menanyakan sesuatu pada anak kesayangannya itu.

 

“cho kyuhyun. Kau sudah sampai?” kata nyonya cho tiba-tiba, membuat kyuhyun berjingkat kaget. Terkadang ibunya itu memang melakukan hal-hal yang tidak masuk diakal. Seperti menyambut kyuhyun di depan pintu seperti ini. Astaga. Kyuhyun merasa dia baru duduk di taman kanak-kanak.

 

“Eomma. Apa yang Eomma lakukan?” kyuhyun mengelus dadanya dan balik bertanya ke ibunya. Untung saja jantungnya ciptaan Tuhan kalau tidak mungkin- Ah! Kyuhyun tidak sanggup melanjutkannya.

 

“jadi apakah kau sudah punya kekasih? Kenapa tidak memperkenalkannya pada Eomma?” tanya nyonya Cho tidak sabar sambil mengekor dibelakang kyuhyun.

 

Kyuhyun berbalik dan menatap ibunya curiga. Terkadang kyuhyun juga tidak mengerti bagaimana jalan pikiran orang yang sudah melahirkannya itu. Kekasih? Apa ibunya baru saja menonton acara televisi dan menuntut kyuhyun untuk segera punya kekasih seperti beberapa hari yang lalu?

 

Nyonya cho mengendus bau kyuhyun.

“kau bahkan mengganti parfumu”

“Eomma!” kyuhyun memprotes. Dia tidak menyangka kalau ibunya begitu teliti.

“kenapa berteriak seperti itu? Aku kan hanya bertanya”

“aku tidak punya kekasih. Jadi jangan menanyakan hal yang tidak penting seperti itu lagi”

Setelah itu kyuhyun hilang dibalik pintu kamarnya.

“dia mengganti parfumnya, mempersiapkan penampilannya dengan berlebihan. Tapi dia bilang dia tidak punya kekasih?. Kadang disaat awal-awal hubungan memang suka malu-malu” nyonya cho menyimpulkan sendiri. Ya, ini lebih baik dari pada dia mendengar ‘kyuhyun itu adalah penyuka sesama jenis’. Kepalanya rasanya akan pecah mendengar itu.

**

“apa-apaan Eomma? Kekasih? Yang benar saja?” omel kyuhyun sambil melepaskan kancing-kancing kemejanya dengan tidak sabar. Lengkap sudah kekesalan hari ini. Pagi hari yang berantakan karena Eunbi dan sekarang bahkan Eommanya juga ikut menambah tingkat emosinya. Tapi, apa yang dilakukan Eunbi?

“Dasar anak SMA. Apa dia tidak punya waktu lain untuk mengobrol selain di dalam kelas? Memangnya sudah berapa lama mereka tidak bertemu?”

“choi minho. Sepertinya kau harus aku beri hukuman.”

 

Setelah kyuhyun selesai melepas kemejanya dengan mulut yang tidak bisa berhenti mengomel. Dia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, mungkin dengan mandi bisa menghilangkan sedikit kemarahan pada dirinya.

 

Air yang meluncur dari shower membasahi setiap inchi tubuhnya. Tangan kyuhyun menyisir rambut basahnya ke belakang. Kemudian dia terdiam dan berkacak pinggang.

“kenapa aku masih saja mengingatnya. Eunbi. Awas saja kalau aku bertemu dengannya. Tidak. Aku tidak mau bertemu dengannya.”

 

Memangnya apa yang terjadi sampai kyuhyun marah seperti ini? Mungkin saat kyuhyun sadar, dia akan tersenyum geli mengingat tingkahnya yang tidak lebih buruk dari anak SMA.

**

Kakinya bersila di atas tempat tidur dengan tanggan kanan yang dia gunakan untuk menyangga dagunya.

Eunbi mengamati ponselnya tidak sabar.

“ini bahkan sudah lima menit. Tapi dia belum juga membalas pesannya.”

Inilah ada waktu terlama untuk eunbi menunggu balasan pesan dari kyuhyun.

“memangnya apa yang dia lakukan sekarang?”

Lagi-lagi eunbi memberengut kesal.

**

Kyuhyun sudah berganti dengan pakaian rumahannya, celana hitam dan kaos putih polos. Dia berniat berbaring saat dia melihat ada pesan masuk di ponselnya.

 

‘soesangnim. Apa kau punya ide untuk lukisanku ?’

 

Kyuhyun tersenyum miring.

“kenapa dia tidak tanyakan saja pada Choi minho” kata kyuhyun pada ponselnya, seperti seakan-akan Eunbi akan mendengarnya.

Lama dia berfikir untuk membalas pesannya atau tidak tapi kemudian tangannya bergerak lincah di atas benda persegi itu.

 

Eunbi meraih ponselnya semangat saat terdengar nada bergetar.

Tapi kemudian bahunya melemas.

 

‘maaf aku sedang berkencan sekarang’

 

lagi-lagi Eunbi dibuat kesal, jika tadi dia kesal karena pesannya tidak juga dibalas tapi sekarang dia kesal karena balasan cho kyuhyun. Eunbi jadi berfikir kalau sebaiknya pria itu tidak membalas pesannya saja.

Apa katanya tadi? Berkencan? Cihh bahkan sekarang dia terang-terangan bilang berkencan setelah dia melukai banyak sekali wanita. Apa wanita sekarang jauh lebih cantik dari sebelumnya. Dasar. Pria. Aku juga cantik. Bahkan semua orang mengakui itu.

 

Dengan kesal akhirnya Eunbi kembali mengetikan sesuatu dan menekan tombol send pada ponselnya.

 

 

Kyuhyun tidak sabar menunggu balasan pesannya. Hatinya menerka-nerka apa yang akan gadis itu balas. Bahkan kyuhyun menggenggam ponselnya takut jika telinganya tidak bisa mendengar adanya pesan masuk. Baiklah. Cho kyuhyun memang sedikit berlebihan.

 

Kyuhyun berjingkat saat telapak tangannya merasakan sebuah getaran dari ponsel miliknya. Buru-buru dia  membuka pasword ponselnya.

“Sial! Kenapa salah terus” kyuhyun mengumpat.

Disaat seperti ini kenapa dia bahkan tidak bisa membuka pasword ponselnya sendiri dengan benar. Apa dia sangat terburu-buru sampai tangannya lupa pasword yang dia ciptakan sendiri?

 

‘baiklah. Semoga sukses. Aku harap soesangnim tidak mendapat satu gelas americano atau cafelatte di mukamu’

 

Kyuhyun melempar ponselnya ke atas ranjangnya.

 

“sialan! Beraninya dia membahas masalah itu lagi”

 

Disatu sisi, ditengah rasa kesalnya Eunbi menyunggingkan senyumnya. Dia cukup puas setelah membalas pesan kyuhyun. Bukankah sangat menyenangkan setelah membuat seorang cho kyuhyun tidak berkutik seperti sekarang. Eunbi berani bertaruh kalau sekarang gurunya itu sedang memakinya dan menyumpahinya akan menjitak dahinya lagi besok saat di sekolah. Tapi siapa yang peduli. Biarlah itu menjadi urusan Eunbi besok.

**

Ini sudah hampir 10 menit Eunbi berada di dalam kamar mandi. Memangnya apa yang sedang dia lakukan? Dia sudah tiga kali bolak-balik kesana, bahkan sekolah akan dimulai lima menit lagi.

 

“eunbi ah. Apa kau masih lama?” na mi berteriak diluar kamar mandi.

“kau duluan saja” jawab Eunbi lemah dari dalam.

 

Hari ini sepertinya keadaan tubuhnya sedang dalam keadaan yang tidak baik. Dari tadi dia terus memuntahkan makanannya, bahkan keringat dingin mulai membanjiri dahinya. Ah! Rasanya dia akan pingsan, Eunbi merasa sudah tidak punya tenaga lagi. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya sejak bangun tadi pagi, kepalanya sudah terasa sangat pening.

 

Eunbi membuka pintu kamar mandi begitu pelan seperti tidak sanggup membuka pintu itu.Kamarnya sudah sepi, ya mungkin na mi sudah berangkat.

 

Baru saja dia akan mendekat ke tempat tidurnya tapi lagi-lagi perutnya bergejolak. Dengan tenaga yang sudah hampir habis Eunbi memutar tubuhnya dan langsung melesat ke dalam kamar mandi.

**

Na mi merasa khawatir karena eunbi belum juga datang,  bahkan ini sudah lewat pelajaran pertama. Gadis itu sudah berulang kali menghubungi eunbi dan mengirimi gadis itu pesan tapi tidak ada satupun yang mendapat jawaban membuat gadis itu semakin khawatir.

 

Mungkin eunbi sedang berada dalam masalah.

 

Na mi mengendap-endap keluar dari kelas. Ini pertama kalinya dia ingin membolos dari pelajaran. Dan tentu saja ini bukan karena dia lupa mengerjakana tugas atau menghindari pelajaran matematika yang memusingkan. Na mi hanya merasa kalau teman satu kamarnya itu tidak berada dalam keadaan yang baik-baik saja. Setidaknya na mi harus memastikannya dengan kepala matanya sekarang, mengingat dia meninggalkan Eunbi dalam keadaan yang tidak baik.

 

Persahabatan na mi dan eunbi memang dalam hubungan yang baik lagi dan kali ini na mi tidak ingin mengacaukan itu semua seperti kamarin. Setidaknya ini yang bisa dia lakukan untuk membalas kebaikan eunbi padanya. Bukankah sudah kewajibannya untuk melihat bagaimana kondisi gadis itu? Setidaknya sebagai teman yang baik na mi tidak boleh egois bukan?

Kakinya melangkah begitu pelan memastikan kalau alas sepatu miliknya yang menyentuh lantai tidak membuat suara sekecil apapun. Tapi-

 

“Na mi kau mau kemana?”

Na mi berbalik dan mendapati cho kyuhyun sudah berdiri di belakangnya. Disaat seperti ini kenapa kyuhyun berkeliaran dan mengacaukan rencananya untuk kabur.

 

Kyuhyun mendekati na mi, dia tahu ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan darinya buktinya na mi tetap diam dan menunduk tidak menjawab kyuhyun. Melihat kejadian kemarin membuat kyuhyun sedikit manaruh curiga pada apapun yang dilakukan gadis itu. Siapa yang menyangka kalau gadis yamg terkenal pintar  bisa menyusun sebuah rencana jahat. Dan sekarang apa lagi yang akan dia lakukan? Berkeliaran di tengah jam pelajaran seperti ini?

 

“Soesangnim. Sebenarnya-”

Na mi menjeda kalimatnya sebentar menatap kyuhyun ragu. Dia tidak yakin kalau kyuhyun akan mempercayainya tapi dia akan mencoba.

“Sebenarnya. Aku hanya mengkhawatirkan eunbi. Dia tidak masuk sekolah hari ini dan tadi pagi aku meninggalkannya dalam keadaan yang tidak baik”

“Jadi aku ingin-”

Kalimat na mi terpotong saat kyuhyun tiba-tiba berucap dan menepuk pundaknya

“Masuklah ke kelas. Biar aku yang melihatnya”

 

Setelah itu kyuhyun benar-benar pergi meninggalkan na mi yang masih terlalu heran melihat kyuhyun yang begitu panik, bahkan pria itu sudah berlari begitu cepat menghilang dari lorong kelas.

“ada apa dengan cho soesangnim?” kata na mi heran.

**

Hentakan sepatu kerja kyuhyun beradu dengan lantai asrama menciptakan suara menggema disetiap lorong yang dia lalui. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Mendengar keadaan eunbi dari na mi membuatnya tiba-tiba khawatir. Dia bahkan tidak sadar kalau pergi begitu saja tanpa mendengarkan na mi lebih jauh. Seolah otaknya tidak bekerja, yang ada di dalam kepalanya hanya ‘bagaimana keadaan gadis itu’.

 

“sialan! Aku lupa bertanya dimana kamarnya” kyuhyun mengumpat. Lagi-lagi otak cerdasnya tidak berfungsi. Bagaimana dia bisa lupa bertanya pada na mi nomor kamarnya? Dia berlari seperti orang gila dan sekarang berhenti di tengah-tengah lorong yang diapit oleh deretan pintu di kanan dan kirinya melupakan satu hal penting. Jadi apa yang harus dia lakukan sekarang?

 

Ah!

Kyuhyun mengingat sesuatu.

Buru-buru dia mengambil ponselnya dari saku celananya, mencari satu nama dari puluhan kontak nama yang tersimpan dalam ponsel pintarnya.

 

“tolong kirimkan nomor kamar Eunbi. Hwang Eunbi. Cepat!” kata kyuhyun cepat setelah teleponnya diangkat oleh seseorang. Bahkan orang diseberang sana belum sempat mengucapkan salam, atau apapun yang biasa dia katakan.

“Hwang Eunbi?”

“iya. Hwang Eunbi. Cepat!”

Siapapun lawan bicara kyuhyun, pasti tahu kalau pria itu sekarang dalam keadaan kesal. Sialan! Lagi-lagi kyuhyun mengumpat. Dia terus menghitung detik menantikan orang yang dia telepon menjawab pertanyaannya.

 

“hwang Eunbi. Kamarnya no 209 tapi cho soe-“

TUT-

Sambungan telepon itu terputus. Kyuhyun sudah tidak peduli lagi apakah orang diseberang sana akan mengumpat atau memakinya.

 

Langkah kakinya yang besar dan mata yang begitu teliti melihat nomor disetiap pintu membuat kyuhyun tidak memikirkan hal lagi selain kamar Eunbi. Beruntung kyuhyun tahu nomor petugas asrama disini jadi dia tidak perlu kembali ke gedung sekolah dan meneriaki na mi karena tidak memberitahukan nomor kamarnya. Baiklah. Kyuhyun akui itu kesalahannya. Kesalahan terbodohnya.

 

Nafasnya masih terdengar sangat memburu. Jarak antara gedung sekolah dan gedung asrama ini lumayan jauh dan untuk pertama kalinya kyuhyun mengutuk ayahnya yang sudah membuat sekolahan seperti ini.

Perlahan kyuhyun mengetuk pintu kamar itu sampai ketukannya perlahan berubah menjadi sebuah desakan saat tidak ada jawaban sedikitpun dari dalam. Kyuhyun mengambil ponsel dari dalam kantongnya dan menekan nomor ponsel eunbi, tapi hanya terdengar suara operator yang menjawab. Kembali kyuhyun mengetuk pintu kali ini lebih menuntut dari sebelumnya. Haruskah dia mendobraknya? Masa bodoh dengan itu.

Satu kali

Dua kali

Tiga kali

BRAKKK

Pintu itu terbuka.

Kyuhyun melesat begitu saja masuk ke dalam kamar itu. Matanya mengedar dan-

 

“Eunbi!”

kyuhyun nyaris berteriak saat melihat gadis itu terbaring di depan kamar mandi. Ya ampun. Apa gadis itu sudah tidak punya kekuatan hanya untuk berjalan ke ranjangnya dan berbaring disana?

 

Sebenarnya eunbi masih dapat mendengar dering ponselnya yang berbunyi beberapa kali, ketukan pintu sampai pintu itu di dobrak. Tapi dia bahkan tidak sanggup hanya berdiri tulangnya seperti agar-agar yang tidak bisa menopang berat tubuhnya. Bahkan suaranya seperti tertahan di tenggorokan, dia tidak sanggup hanya untuk mengatakan ‘tolong aku’.

 

“Soesangnim” kata eunbi lirih, sangat lirih bahkan dia ragu kalau kyuhyun yang sudah berjongkok di sampingnya dapat mendengar panggilannya. Dia tidak pernah merasa sangat lemah seperti ini, bahkan dia sempat berfikir kalau dia akan benar-benar mati saat tidak ada orang yang datang kesini.

Kyuhyun membantu Eunbi untuk duduk, menyandar padanya. Ya, melihat bagaimana kulit putih pucat yang menghiasi wajahnya itu kyuhyun dapat memastikan kalau gadis itu dalam keadaan yang sangat tidak baik.

“Apa yang terjadi?” Kyuhyun meletakkan telapak tangannya pada dahi eunbi mengecek suhu tubuh gadis itu. Meskipun kyuhyun tidak yakin itu akan membantu.

“Soesangnim.Aku-” kalimat eunbi terhenti hanya sampai disitu saja karena setelah itu kesadarannya benar-benar hilang.

 

Kyuhyun menjadi panik sendiri. Berkali-kali dia menepuk-nepuk pipi Eunbi berharap dengan itu dia akan sadar.

“Yak bangunlah. Bangunlah hwang eunbi”

 

Ini akan percuma saja. Percuma saja karena kesadaran eunbi sudah hilang dan kyuhyun tidak akan bisa mengembalikan kesadaran Eunbi hanya dengan menepuk-nepuk pipi eunbi yang sudah pucat.

 

Kyuhyun meletakkan sebelah tangannya di bawah kepala eunbi dan sebelah tangannya lagi di belakang kaki eunbi.

**

Kyuhyun berjalan cepat dengan eunbi yang ada di gendongannya. Kyuhyun bahkan lupa kalau dia harus mengambil mobilnya yang terparkir di halaman sekolah untuk membawa Eunbi ke rumah sakit.

 

“Siapapun cepat buka pintu mobilnya!” kyuhyun berteriak sangat frustasi saat dia berjalan mendekat ke mobilnya.

“Brengsek! Siapapun cepat buka pintunya!” lagi-lagi kyuhyun berteriak kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Bahkan membuat hampir semua murid dan guru yang ada di dalam kelas keluar karena teriakan dan umpatan kyuhyun. Kyuhyun mungkin sudah lupa kalau dia berada di lingkungan sekolah dan mengumpat seperti tadi. Dia bahkan tidak peduli kalau sebentar lagi dia akan mendapat teguran dari guru-guru yang lain. Memangnya siapa yang peduli.

 

Lee ahjussi satpam sekolah, berlari begitu terburu-buru mendekati kyuhyun. Pria itu nyaris melompat dari markasnya karena teriakan kyuhyun. Bahkan dia tidak sempat hanya untuk berfikir apa yang sebenarnya terjadi.

“kuncinya ada di kantong jasku” kata kyuhyun setelah lee ahjussi sudah berdiri di sampingnya. Kali ini kyuhyun tidak berteriak, dia jauh lebih tenang dari pada tadi.

Untung saja otak lee ahjussi tidak lemot seperti kyuhyun tadi, buru-buru dia mengambil kunci mobil kyuhyun dari dalam jasnya.

 

Pintu itu terbuka.

Kyuhyun buru-buru membaringkan eunbi di kursi kemudi, setelah itu kyuhyun segera masuk ke balik kemudi, menancap gas begitu saja tanpa memperdulikan  semua orang yang masih tercengang dengan kelakuan bar-bar kyuhyun. Tidak ada yang pernah melihat kyuhyun begitu panik seperti ini. Hey. Bagaimana orang yang biasanya datar bisa menunjukkan ekspresi seperti barusan?

Kepala semua orang masih dipenuhi dengan pikiran mereka sendiri bahkan setelah mobil kyuhyun sudah menghilang dari gedung sekolah. Mereka hanya bertanya pada dirinya sendiri ‘apa yang terjadi dengan cho kyuhyun?’

 

Untuk kedua kalinya na mi tercengang dengan sikap kyuhyun. Setelah dia tadi melihat kyuhyun berlari begitu saja meninggalkan dia dan sekarang, astaga! Dia seperti melihat shooting drama secara langsung. Ini gila! Biasanya na mi tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, tidak mau mengerti bagaimana perasaan orang disekitarnya. Tapi untuk pertama kalinya, hatinya terbuka. Na mi dapat melihat kalau kyuhyun dan Eunbi tidak hanya terikat pada hubungan murid dan guru.

Bisakah itu terjadi?

Cho soesangnim dan Eunbi?

Tanyanya pada dirinya. Baiklah mungkin ini bukanlah urusannya. Dan dia tidak akan ikut campur dengan itu.

**

Pintu UGD itu sudah tertutup. Pria yang sekarang terduduk di kursi tunggu dengan nafas yang masih memburu seperti tadi masih tidak sadar bagaimana kepanikannya barusan, melesatkan mobilnya di jalan raya tanpa memperdulikan kalau dia bisa saja menabrak mobil lain karena menyalip dengan cara yang luar biasa, atau dikejar mobil polisi karena melajukan mobilnya di luar batas. Pikirannya hanya tertuju pada gadis yang masih berada di dalam dengan orang-orang berjas putih. Dan dia tidak peduli dengan yang lain.

 

Pintu itu terbuka, pria berjas putih yang disebut dokter mendekati kyuhyun.

“Anda tidak perlu khawatir. Dia hanya keracunan makanan saja. Beruntung dia segera di bawa ke rumah sakit karena dia kehilangan banyak cairan. Setelah ini dia akan segera di pindahkan ke ruang rawat biasa”

Bahu kyuhyun langsung melemas. Beruntung tidak terjadi apa-apa pada eunbi. Astaga. Kenapa beberapa menit yang lalu seperti menit-menit yang paling menegangkan dalam hidupnya?. Dan dia tidak pernah merasa sangat khawatir seperti tadi.

 

Kyuhyun memejamkan matanya sebentar.

Keracunan?  Bagaimana gadis itu bisa keracunan?

Setelah Eunbi sadar kyuhyun pasti akan menuntut penjelasan tentang ini semua padanya.

**

Kyuhyun duduk di kursi samping ranjang rumah sakit dengan sprei berwarna putih dan selimut bertuliskan nama rumah sakit. Tangannya bersedekap seperti sudah kebosanan. Menanti gadis yang baru saja membuat paginya begitu kerepotan, membuka matanya. Menurut dokter sebentar lagi Eunbi akan sadar tapi belum juga ada tanda-tanda kelompok mata yang dari tadi terpejam itu akan membuka matanya. Apakah dia sedang bermimpi indah sampai tidak rela untuk bangun? Pikir kyuhyun.

 

Terangnya lampu di langit-langit kamar seperti menusuk kornea matanya. Samar-samar Eunbi mendengar suara yang semakin lama semakin keras memanggil namanya. Tidak ada respon. Eunbi bahkan masih tidak bisa merespon panggilan yang jelas terdengar di telinganya karena fokusnya sekarang hanya membuat pandangannya menjadi lebih jelas. Semua terlihat buram. Masih. Tapi meskipun begitu, dia masih bisa menangkap pria yang tiba-tiba berdiri dari duduknya.

 

“Eunbi. Kau mendengarku?”

Eunbi menoleh setelah penglihatannya membaik.

Rupanya suara itu adalah milik cho kyuhyun.

“kau mendengarku? Apa perlu aku panggilkan dokter?” lagi-lagi kyuhyun bertanya. Ini adalah pertanyaan yang sama yang dia tanyakan selama tidak kurang dari lima detik. Astaga. Bahkan Eunbi belum juga menjawabnya.

 

Baru kyuhyun berbalik hendak memanggil dokter. Sepertinya Eunbi butuh pemeriksaan lebih lanjut karena belum juga menjawabnya. Ya, itu adalah pemikiran kyuhyun. Tapi tiba-tiba suara kecil yang masih terdengar begitu lemah menyambangi telinganya membuat kyuhyun berbalik dan mengurungkan niatnya untuk pergi.

“soesangnim”

“apa? Apa kau merasakan sesuatu?” lagi-lagi kyuhyun terserang virus panik. Entah ini sudah kepanikan keberapa selama pagi ini seperti dia tidak punya waktu hanya untuk menghirup nafas dengan tenang.

Hanya gelengan kepala yang mampu Eunbi lakukan. Tentu eunbi masih terlalu lemas dan malas untuk mengatakan sesuatu.

 

Eunbi masih mengingat semuanya, semua kejadian yang terjadi pagi ini. Mulai dia bangun tidur, merasa pusing dan harus bolak-balik ke kamar mandi sampai dia tidak punya tenaga hanya untuk bangun dan berdiri berjalan ke ranjangnya. Dan Eunbi juga mengingat memori terakhirnya sebelum semuanya benar-benar gelap. KYUHYUN.

 

Pria itu masih sibuk mendengarkan dokter yang baru saja memeriksa Eunbi. Ya. Akhirnya kyuhyun memanggil dokter juga meskipun Eunbi bilang bahwa keadaannya sudah baik-baik saja. Kecuali tenaganya yang masih terlalu lemah.

 

Kyuhyun menunduk hormat pada dokter setelah mengucapkan terima kasih. Dengan canggung kyuhyun duduk di kursi yang dia duduki tadi. Tidak ada yang berbicara. Eunbi diam dengan tatapan yang terus melihat ke arahnya. Demi Tuhan. Kyuhyun merasa terintimidasi oleh tatapan itu. Seperti tatapan yang menuntut penjelasan tentang semua yang sudah terjadi. Astaga. Bagaimana kyuhyun harus menjelaskannya? Menjelaskan bagaimana pria itu bisa langsung datang ke kamarnya, mendobrak pintu, dan langsung menggendong Eunbi membawanya ke rumah sakit. Ya ampun! Bahkan kyuhyun tidak sadar hal itu bisa dia lakukan. Dia tidak yakin apa yang ada dipikirannya saat itu. Dan sekarang dia sedikit malu dengan tindakan heroiknya. Hey! Seumur hidup dia tidak pernah menunjukkan emosi sampai seperti itu. Baiklah. Baiklah. Kyuhyun harus mencari alasan bukan untuk menjawab semua itu?. Kenapa dia bisa langsung datang ke kamar Eunbi dan menobrak pintu. Na mi. Bukankah dia bisa memakai na mi sebagai alasan? Dan masalah adegan saat kyuhyun membawa Eunbi ke rumah sakit. Ng…bukankah Eunbi tidak sadar?

 

Kyuhyun berdehem untuk membasahi tenggorokkannya.

“bagaimana keadaanmu?”

Sial! Basa basi seperti apa ini? Rutuk kyuhyun dalam hati

 

“baik”

Kyuhyun mengangguk.

“aku-na mi bilang kalau kau sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dia sangat khawatir, makanya aku datang untuk melihatmu” kyuhyun sedikit tertawa. Entah untuk apa, mungkin untuk menyembunyikan sedikit kebohongannya.

“na mi sangat khawatir sampai akan membolos pelajaran” kata kyuhyun lagi.

 

Eunbi hanya memperhatikan tanpa berniat untuk menyela. Memangnya apa yang harus dia sela? Dia memang penasaran bagaimana kyuhyun bisa tahu kalau dia sedang tidak baik-baik saja, tapi itu semua sudah terjawab bukan. Dan itu karena na mi. Meskipun sebenarnya hatinya sedikit kecewa. Bukankah akan lebih baik kalau kyuhyun memang datang karena dia khawatir pada Eunbi?

 

Memangnya apa yang aku harapkan.

 

Sepertinya cerita-cerita fiksi itu kembali membuat Eunbi menghayal. Memangnya bagaimana kyuhyun bisa tahu kalau tidak lewat na mi?

 

Eunbi menghela nafasnya.

“aku haus” katanya tiba-tiba membuat kyuhyun tadi sempat salah tingkah menanti jawaban Eunbi kaget.

Jawaban apa ini? Batinnya. Dia pikir Eunbi akan bilang.

‘ah.. kau bohong. Kau bahkan berkeringat sangat mengatakannya’ tapi beruntunglah karena Eunbi tidak sepandai kyuhyun untuk menganalisa kebohongan.

 

“huh? Ah- iya-iya”

Sepertinya kyuhyun harus men-service otaknya setelah pulang dari rumah sakit. Bahkan sekarang telinganya juga sedikit terganggu.

 

Kyuhyun membantu eunbi untuk bersandar pada bantal yang sudah dia letakkan bersandar pada kepala ranjang. Dengan telaten kyuhyun mengambil gelas itu kembali setelah Eunbi selesai dengan urusannya.

 

Dan setelah itu, kyuhyun hanya memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri melihat hal yang menarik yang ada di ruangan ini. Mungkin hal itu bisa menjadi topik pembicaraan mereka selanjutnya, pikirnya.

 

“soesangnim. Terima kasih”

Kyuhyun berhenti mengedarkan matanya dan menoleh pada Eunbi.

“heh? Ah-kau tidak perlu berterima kasih”

Astaga! Sepertinya hari ini kyuhyun sang malaikat kegelapan berubah menjadi malaikat kebaikan. Bagaimana bisa dia mengatakan ‘tidak perlu berterima kasih’? Bahkan tadi dia sempat berfikir akan meneriaki Eunbi dan menuntut penjelasan tentang kejadian ‘keracunan ini’. Tapi kenapa sekarang rasanya otak dan mulutnya bahkan tidak bisa memikirkan apapun.

 

Eunbi tersenyum. Dan sialnya kenapa dia masih terlihat cantik dengan wajah yang masih memucat seperti itu? Hentikan!. Apa yang kau pikirkan cho kyuhyun.

 

“aku sudah menghubungi ayahmu”

“ayah?” seperti mendapat kekuatan tak terduga Eunbi nyaris berteriak sampai membuat kyuhyun akan terjungkal dari kursinya. Bagaimana orang yang tadi bahkan tidak bisa mengatakan satu baris kalimat sekarang berteriak begitu keras?

 

Ayah? Apa kyuhyun baru saja bilang kalau dia baru saja menghubungi ayahnya?

 

Kurasa aku benar-benar akan dibunuh kali ini

 

Kyuhyun hanya menatap heran, Eunbi yang baru saja berteriak di depan wajahnya. Mulut Eunbi bahkan sekarang sedikit menganga dengan mata yang membesar membuat kyuhyun semakin jelas melihat bayangannya sendiri dari mata itu.

“soesangnim. Baru saja menghubungi ayahku?” tanya Eunbi memastikan

“iya. Aku menghubungi nomor yang kau berikan padaku”

 

Nomor? Yang kuberikan padanya?

 

Tiba-tiba Eunbi menghela nafasnya. Bagaimana dia bisa lupa kalau dia tidak memberikan nomor ayahnya tapi nomor kim ahjushi. Mungkin ini efek dia pingsan tadi. Mungkin.

 

“kenapa kau sekaget itu saat aku mengatakan ayah?”

“tidak. Tidak. Aku hanya-hanya berfikir kalau dia pasti akan sangat khawatir” bagus hwang Eunbi. Semakin lama kau semakin pintar untuk mencari sebuah alasan.

 

Kyuhyun mengangguk mengiyakan. Ya, orang tua mana yang tidak khawatir saat mendengar anaknya masuk rumah sakit. Tapi sebagai seorang wali kelas kyuhyun harus memberitahukan itu pada ayahnya bukan?

 

“kata dokter kau keracunan. Memangnya apa yang kau makan?”

“heh? Keracunan?” eunbi mengulang kalimat kyuhyun. Dia bahkan tidak tahu kalau dia keracunan, dia pikir dia hanya masuk angin. Masuk angin sampai pingsan?.

 

Kyuhyun bersendekap dan menyandarkan punggungnya pada kursi.

“kau bahkan tidak sadar kau memakan makanan basi” sindir kyuhyun

 

Eunbi menyebikkan bibirnya. Dia tidak makan apa-apa kemarin kecuali roti. Roti yang dia temukan di dalam tas sekolahnya tanpa melihat tanggal kadarluarsanya. Apa dia begitu kelaparan sampai harus memakan makanan basi? Menyedihkan. Kenapa kehidupannya sekarang terlihat sangat menyedihkan?

 

“kau tidak ingin bunuh diri karena aku berkencan tadi malam bukan?”

“ap- APA?”

Oh ya ampun! Bahkan Eunbi masih mempunyai akal sehat. Bagaimana pria ini bisa berfikir seperti itu? Sepertinya tingkat kenarsisan kyuhyun naik kebeberapa level.

“bunuh diri dengan makan makanan busuk? Yang benar saja?”

Kyuhyun mengangkat bahunya.

“mungkin saja”

 

Mungkin saja, pantatnya! Apa tidak ada cara yang lebih elegan? Elegan untuk mati?

Sepertinya otak cerdas kyuhyun sudah hilang. Atau mungkin tertinggal di sekolah karena berlari tadi. Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu.

 

Tiba-tiba Eunbi menyeringai. Sepertinya gadis itu sudah sembuh. Tenaga yang tadi dia rasa habis sudah terisi penuh bersamaan dengan tetesan cairan infus yang masuk ke dalam tubuhnya. Atau mungkin bukan karena cairan infus itu.

 

“apa soesangnim pikir aku akan cemburu karena kau bilang berkencan?”

“ap-APA?” kali ini kyuhyun yang nyaris berteriak.

“huh? Yang benar saja?” kata kyuhyun mencoba tenang. Kenapa Eunbi sering membuat kyuhyun mati dengan kalimatnya sendiri.

 

Gadis ini benar-benar licik.

 

“jadi apa kencannya sukses?”

“tentu saja” jawab kyuhyun cepat.

Eunbi terdiam. Apa kyuhyun benar-benar senang dengan kencannya tadi malam?

Dia semangat sekali.

“wanita itu cantik dan menyenangkan” lanjut kyuhyun.

Eunbi sudah malas menanggapi. Pembicaraan ini sudah tidak seru lagi baginya. Dan Eunbi berfikir kalau lebih baik dia pingsan lagi, jadi dia tidak perlu terlibat pembicaraan dengan kyuhyun tentang kencan itu.

 

“selamat kalau begitu” kata Eunbi malas.

 

Kyuhyun merasa ada yang salah. Dari nada Eunbi barusan, kyuhyun merasa dia baru saja melukainya dan membuat sebuah kesalahan.

“aku-“

 

Pintu yang terbuka sangat kasar, membuat kyuhyun tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Pria paruh baya tiba-tiba masuk setelah membuka pintu nyaris seperti menabrak pintu itu.

TBC

AUTHOR’S NOTE: maaf untuk part yang ini agak lama, karena author akhir-akhir ini sedikit sibuk. Tapi semoga part ini tidak mengecewakan. TERIMA KASIH.

silahkan tinggalkan KOMEN ya setelah membaca 🙂

Advertisements

18 AGAIN [PART 5]

PART 5

HAPPY READING 🙂 DON’T FORGET TO COMMENT 🙂 🙂

 

Eunbi berjalan sambil sesekali menyeka hidungnya. Sweeter yang dia pakai tidak sepenuhnya membantunya menghilangkan rasa dingin ini. Rasa pusing dikepalanya sudah berkurang beruntung kamarin sekolah libur jadi eunbi bisa memanfaatkan waktu itu untuk istirahat seharian.

 

“hwang eunbi apa yang terjadi denganmu?”

Yoojin tiba-tiba datang dari arah belakang dan melihat eunbi heran sekaligus khawatir.

“aku sedang flu”

“di musim seperti ini?”

 

Ayolah. Yoojin jangan buat kepala sahabatmu ini kembali pusing.

 

Sebagai jawaban eunbi hanya mengangguk terlalu malas untuk menanggapi. Apakah eunbi harus menceritakan kejadian kemarin lusa padanya? Tidak. Eunbi cukup tahu bagaimana mulut gadis itu berfungsi. Dia jauh lebih hebat dari pada pencari berita diluar sana.

**

Hari ini sepertinya eunbi harus mempunyai keberanian yang lebih dari pada biasanya. Dia tidak yakin bisa menghindari hukuman kyuhyun untuk saat ini tapi lebih dari itu eunbi masih belum bisa menghapus rasa bersalahnya pada kyuhyun untuk kejadian kolam renang itu. Tapi sialnya adalah kelas kyuhyun ada di hari ini. Mungkin Eunbi akan berdoa jika kyuhyun akan memilih tidur dirumah dari pada menghadiri kelas hari ini.

 

Dan sepertinya doanya tidak benar-benar dijawab oleh Tuhan. Guru muda yang saat ini eunbi hindari sedang berdiri di depan kelas seperti biasanya. Mungkin tidak seperti biasanya karena, penampilan cho kyuhyun tidak sesempurna biasanya. Walaupun dia tetap terlihat tampan. Apa yang kau pikirkan hwang eunbi!

Ya. Semua orang bisa melihat kalau pria itu sedang sakit. Kulit putihnya terlihat sedikit pucat dengan hidung yang sedikit memerah, sama persis dengan kondisi eunbi yang diam di tempatnya dan mencekeram kuat-kuat sweeter miliknya.

 

“selamat pagi” kata kyuhyun membuka kelas. Dan sedetik kemudian terdengar jawaban dari semua anak di kelas ini.

“baiklah, hari ini kita-“

Hatchi!

 

Hatchi!

Yang terakhir itu bukanlah suara bersin kyuhyun, tapi Eunbi. Gadis yang menjadi penyebab dari keadaan ini.

 

Kyuhyun menutup hidungnya begitu juga dengan Eunbi, pandangan mereka beradu seperti sedang melakukan perbincangan.

“apa yang kau lakukan?”

“aku sedang flu soesangnim”

“bagus. Bahkan kau juga menyebabkan aku terkena flu ditengah-tengah musim seperti ini”

 

Kyuhyun masih tidak melepas tatapan matanya berusaha mengintimidasi eunbi, mencoba menyadarkan gadis itu kalau ini semua terjadi karena dirinya. Dan yang paling menjengkelkan untuk kyuhyun adalah tidak selang dari 5 detik dirinya bersin eunbi juga ikut-ikutan melakukan hal sama.

 

Dia sedang mengejekku atau apa?

 

Eunbi menunduk dan mengusap hidungnya. Bukan kesalahannya bukan, jika dia bersin hampir bersamaan dengan cho kyuhyun? Bagaimana bisa dia mengontrol hal itu? Mungkin memang kesalahannya karena telah membuat kyuhyun flu seperti sekarang. Tapi untuk yang barusan eunbi tidak harus disalahkan bukan?

 

“kita akan melanjutkan pelajaran kemarin”

Hatchi!

Sepertinya dia tidak bisa mengajar dengan baik untuk hari ini.

Kyuhyun kembali mengusap hidungnya tapi belum selesai dia melakukan itu-

Hatchi!

Eunbi kembali bersin selang beberapa detik dari kyuhyun. Sekarang tidak hanya kyuhyun yang menatap eunbi heran tapi hampir semua murid di kelas ini.

 

Yoojin menyenggol Eunbi dan membentuk mulutnya seperti mengatakan ada apa denganmu?

Eunbi menggeleng. Tentu saja tidak ada apapun yang terjadi selain dia yang terkena flu dan cho kyuhyun juga sedang flu.

 

“sepertinya tidak hanya aku yang terserang flu sekarang ini” kata kyuhyun setelah berhasil mengendalikan dirinya untuk tidak mengatakan pada eunbi ini semua adalah kesalahanmu nona hwang.

 

Hatchi!

Hachi!

Mereka berdua lagi-lagi bersin dengan waktu yang hampir bersamaan.

Eunbi segera mengusap hidungnya dan tanpa sadar dia tersenyum. Entah untuk alasan apa, tapi dia merasa lucu dengan keadaan sekarang. Dia yang menyebabkan mereka berdua terserang flu dan sekarang bahkan mereka berdua bersin hampir bersamaan.

 

Kyuhyun melihat Eunbi tersenyum bahkan hampir tertawa di tempatnya dan perlahan dia juga ikut menarik sedikit ujung-ujung bibirnya. Begitu tipis dan hampir tidak ketara, tidak ada yang menyadari itu kecuali Eunbi yang dari tadi masih menatap kyuhyun. Hatinya tiba-tiba merasa hangat, dia tidak pernah melihat senyum yang begitu sedikit seperti itu tapi begitu menenangkan hatinya. Senyuman yang langkah, bahkan eunbi berani bertaruh kalau belum pernah ada yang melihat kyuhyun tersenyum seperti itu.

 

Senyuman eunbi menular begitu saja pada kyuhyun. Dia ingin marah pada Eunbi tapi dia juga merasa sedikit lucu dengan ini semua. Bagimana bisa mereka bersin secara bersamaan? Dan itu terjadi tidak hanya satu kali.

**

Eunbi segera mengemasi buku-bukunya yang ada di meja, dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia pergi begitu saja seperti sedang mengejar seseorang.

 

Langkahnya terus saja mengikuti punggung kyuhyun pergi. Setelah kelas dibubarkan beberapa menit yang lalu eunbi ingin memberikan sesuatu untuk kyuhyun, seperti permintaan maaf atau mungkin pertanggung jawaban.

 

Eunbi hampir memanggil kyuhyun saat tiba-tiba ada yang merangkul pundaknya dari belakang.

“choi minho” kata Eunbi kemudian

“kau mau kemana?”

“aku akan-“

“sebaiknya kita pergi ke kantin dan menikmati makan siang.”  Minho memotong kalimat Eunbi sebelum gadis itu dapat menyelesaikan kalimatnya.

 

Eunbi sedikit kelimpungan mengatasi minho. Pria itu sudah menarik eunbi begitu saja menuju kantin.

**

Perlahan eunbi mendekat pada meja kyuhyun. Eunbi berhasil pergi dari minho dengan beralasan ingin pergi ke toilet kalau tidak mungkin dia tidak akan punya kesempatan untuk memberikan obat ini pada kyuhyun.

 

Ruang guru sangat sepi di jam makan siang seperti ini, tapi biasanya dia masih bisa menemui kyuhyun di jam segini.

 

Apa dia sedang makan siang

Setelah meletakkan obat flu itu di atas meja kyuhyun, eunbi menarik note di atas meja kyuhyun dan menuliskan sesuatu disana. Semoga kertas itu dapat membantunya untuk meminta maaf pada kyuhyun.

**

Kyuhyun meletakkan kopi yang baru dia belinya di atas meja kerjanya, matanya menyipit melihat sesuatu yang sepertinya bukan miliknya.

 

Soesangnim. Maafkan aku untuk kesalahan kemarin. Aku tahu aku salah dan aku siap untuk hukuman yang kau berikan.

Minumlah obat ini untuk meredakan flumu.

-hwang eunbi-

 

Setelah selesai membaca kertas note itu kyuhyun mengambil botol obat yang diletakkan disamping note itu tadi.

 

“aku tidak tahu tahu kau sedang merayuku untuk tidak menghukummu atau apa” kata kyuhyun pada dirinya sendiri.

Apapun maksud eunbi tapi nyatanya gadis itu sudah mengenai sebagian hati kyuhyun.

**

Eunbi menatap langit-langit kamarnya begitu senang, seperti sedang melihat bintang-bintang di langit sedang menempel di dinding kamarnya. Pikirannya sedang berkeliaran kemana-mana, tepatnya pada kejadian di kolam renang dan tadi siang. Dia tidak percaya kalau dia memberikan obat itu pada kyuhyun.

 

Sekarang apa yang dia pikirkan setelah menerima obat itu?

 

Eunbi tidak yakin kalau itu bisa menghindari dari hukuman kyuhyun. Tapi biarlah, bukankah itu semua terjadi karena kesalahannya jadi dia harus mempertanggung jawabkannya dan menerima hukuman itu dengan diam.

 

Suara pintu kamar mandi yang terbuka menyadarkan Eunbi, kalau dia tidak sendiri di ruangan ini. Na mi langsung naik ke atas ranjangnya dan menarik selimut sampai batas dada. Eunbi sudah tidak memaksa na mi mengerti tentang kondisi sebenarnya setelah dia memutuskan untuk mengambil jalan keluar itu. Mungkin nanti setelah seleksi itu dilakukan Eunbi akan mencoba memperbaiki hubungan ini kembali.

 

Na mi tampak gelisah, jika eunbi berfikir gadis ini sudah tertidur dari tadi nyatanya na mi bahkan tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya seperti sedang berperang. Perperangan batin.

 

“kau harus membuat eomma bangga dan mewakili sekolahmu untuk olimpiade matematika itu”

“lihatlah kakakmu. Bahkan dia bisa mendapat beasiswa di luar negeri”

“jika kau menang itu akan mempermudah kau melanjutkan sekolahmu”

“ingat eomma tidak punya uang untuk membayar uang kuliahmu nanti”

 

Na mi memejamkan matanya seiring hatinya mengambil keputusan.

**

Suara gemericik air dari dalam kamar mandi menandakan kalau eunbi belum selesai mandi. Na mi. Gadis itu berdiri tidak tenang di tempatnya, tangan kanannya memegang USB. Hanya dia yang tahu apa yang menganggu pikirannya. Tapi bukankah dia sudah memutuskannya tadi malam? Maka dengan perasaan yang masih kacau, na mi akhirnya mendekat juga. Dia memasukkan USB itu pada tas ransel milik eunbi. Hatinya masih meragu tapi dia tahu dia harus melakukan ini semua.

 

“apa yang kau lakukan?”

Na mi masih belum beranjak dari tempatnya walaupun dia sudah melakukan pekerjaannya dari tadi. Dia terperanjat karena suara Eunbi. Na mi berbalik.

“aku akan berangkat dulu”

Setelah mengatakan itu, na mi benar-benar pergi. Eunbi mengerutkan keningnya di tempat.

**

Seleksi olimpiade matematika akan dilakukan besok, dan kim soesangnim sebagai penanggung jawab terlihat begitu sibuk dan cemas. Bukan. Bukan karena dia takut jika muridnya tidak bisa mengerjakan itu dengan baik. Tapi-

“dimana aku meletakkannya?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Kemarin malam dia pikir dia meninggalkan USB nya di laci meja kerjanya tapi tidak ada dimana-mana. Dia sudah hampir membongkar semua ruang guru ini.

 

“kim soesangnim.”

Kim soesangnim terperanjat.

“aku ingin mengembalikan buku yang aku pinjam kemarin”

“letakkan saja disitu” jawab kim soesangnim sekenanya karena nyatanya dia kembali fokus membelah setiap tumpukan buku dan kertas di atas mejanya.

“soesangnim apa yang sedang kau cari?” na mi kembali membuka mulut.

“ah! Apa kemarin kau melihat USB ku?’

Na mi menggeleng

“tidak. tapi aku-“

**

seperti pagi biasanya sebelum kelas dimulai, eunbi sibuk mendengarkan cerita yoojin. Dan sialnya eunbi menikmati setiap kebiasaan paginya. Jika dulu dia akan datang ke sekolah lima menit sebelum kelas dimulai dan kembali akan sibuk dengan ponsel pintarnya atau buku-bukunya tapi hal ini sangat berbeda dan bertolak belakang dari itu.

 

“HWANG EUNBI!!”

Eunbi berjingkat di tempatnya, di mendonggak kaget. Teriakan kim soesangnim bahkan membuat semua murid dikelasnya terdiam secara bersamaan. Murid yang dari tadi sibuk dengan pekerjaan mereka hilang entah kemana. Suara-suara itu seperti hilang dibawa angin.

 

Belum sempat eunbi menjawab panggilan Kim soesangnim atau lebih tepatnya teriakannya, langkah kaki kim soesangnim yang besar-besar secepat kilat membawanya pada meja eunbi dan-

“soesangnim apa yang kau lakukan?” eunbi dibuat terkejut untuk kedua kalinya ketika kim soesangnim menarik kasar tas eunbi dan menumpahkan semua isinya di atas lantai.

“diamlah!” katanya penuh dengan penekanan dan menggeratkan semua gigi-giginya.

“tapi apa yang kim soesangnim lakukan?”

 

Kim soesangnim tidak menjawab tapi gerakan tangannya terhenti. Dia kembali berdiri setelah mengambil satu barang dari ceceran isi tas Eunbi.

 

“kau bisa menjelaskan ini diruanganku Hwang Eunbi” kata kim soesangnim penuh penekanan.

Semua orang terdiam begitupun Eunbi. Matanya sedikit memicing melihat USB yang diacungkan kim soesangnim padanya.

 

Bagaimana benda itu ada di dalam tasku?

Aku tidak punya USB seperti itu

 

FLASBACK

Satu hari yang lalu

“kim soesangnim”

Kim soesangnim mendongak dari layar laptopnya, sebelum meraih buku tebal dari laci mejanya. Na mi memang sudah bilang jika dia ingin meminjam salah satu buku milik kim soesangnim. Dia butuh banyak persiapan untuk mengikuti seleksi itu dan mewakili sekolahnya karena na mi tahu bagaimana pintarnya Eunbi dalam memecahkan setiap soal matematika.

 

Mata na mi memicing, matanya memang minus tapi dengan bantuan kacamata dia bisa melihat jika layar laptop itu menampilkan soal untuk seleksi dua hari lagi.

“ini”

Na mi tersentak dari lamunannya. Dia menarik lurus ujung bibirnya sebelum benar-benar pergi.

 

Hatinya meragu, semua malaikat dan setan dalam dirinya berperang. Na mi masih mematung di samping pintu ruang guru. Setelah melihat sedikit soal matematika itu, keegoisan dalam dirinya menginginkan yang lebih.

Perlahan dia memantapkan hatinya dan berjalan masuk ke dalam.

 

Hening.

Ruangan yang cukup besar ini tidak menampakkan siapapun, entah kemana mereka semua pergi.

Tangannya yang sedikit bergetar bergerak membuka satu demi satu laci. Na mi yakin benda yang dicarinya ada di dalam salah satu laci itu. Dan-

Gerakan tangannya terhenti. Lagi-lagi dia meragu. Na mi sudah sejauh ini tapi hatinya selalu meragu di setiap langkah yang dia ambil.

 

Na mi berdiri dan mengenggam benda kecil itu erat-erat. Tangannya masih bergetar. Langkahnya terhenti di ambang pintu saat mendengar derap langkah yang perlahan semakin dekat.

 

Eunbi masuk begitu saja, tidak menyadari kalau na mi masih bersembunyi di balik pintu. Mata na mi tak pernah lepas dari setiap gerakan yang eunbi lakukan.  Dia takut kalau tiba-tiba eunbi menyadari kehadirannya.

“hwang Eunbi. Apa yang kau lakukan disini?”

Eunbi berbalik dan tersenyum pada min soesangnim. Wanita muda dengan rambut sedikit kecoklatan.

“aku-aku hanya ingin meletakkan barang milik cho soesangnim” kata eunbi begitu gugup. Tentu dia tidak bisa memberitahukan yang sebenarnya padanya bukan.

 

Disaat kedua orang itu terlibat perbincangan, perlahan na mi keluar dari ruangan itu.

Jika tadi Na Mi sempat bingung harus dia apakan benda ini setelah dia selesai dengan urusannya, tapi setelah melihat eunbi dan min soesangnim tadi kembali setan dalam dirinya berteriak menemukan satu jalan untuk masalahnya.

 

FLASBACK OFF

**

BRAKK

kim soesangnim mengebrak mejanya, membuat semua orang yang ada di ruangan terperanjat kaget.

“yak! Apa kau masih mau bilang kalau bukan kau pelakunya?! Min soesangnim dan na mi tahu kau diam-diam datang ke ruangan ini”

Eunbi menggeleng untuk kesekian kalinya.

“tapi aku tidak melakukan itu.” Tegas Eunbi

Kim soesangnim menyeringai.

“tidak ada pencuri yang akan mengaku”

Eunbi menggeram. Pencuri? Dia baru saja dibilang pencuri?

 

“aku bukan pencuri.” desisnya

“soesangnim tidak bisa menuduhku begitu saja” lanjutnya

 

“ck. Sudah cukup aku melihat USB ku ada di dalam tasmu”

“sudah ku bilang bukan aku!” kali ini Eunbi berteriak. Dia sudah jengah mendengar setiap tuduhan yang kim soesangnim arahkan padanya. Dan demi Tuhan. Bahkan Eunbi tidak tahu betul apa yang sebenarnya terjadi, dia bahkan baru tahu kalau USB itu adalah milik kim soesangnim dan berisi soal untuk seleksi besok. Tapi ada apa ini? Kenapa dia yang dituduh menjadi pencuri disaat dia bahkan tidak tahu USB itu ada di dalam tasnya.

 

“yak!”

Eunbi memejamkan matanya rapat-rapat saat tangan kim soesangnim terangkat hendak menamparnya. Mungkin pria itu sudah kehilangan kesabarannya menghadapi Eunbi. Tapi siapa yang ingin mengakui kesalahan yang bahkan dia tidak pernah melakukan itu.

 

Dia tidak merasakan ada sesuatu yang menyentuh pipinya. Membuta Eunbi perlahan memberanikan membuka kelopak matanya.

 

“apa kau akan melakukan kekerasan di sekolah ini?” ini tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan tapi sebuah peringatan.

 

Tangan kim soesangnim tertahan oleh genggaman kyuhyun. Kim soesangnim menahan marahnya dan menghempaskan tangan kyuhyun begitu kasar. Tapi pria yang yang menahan tangannya itu tampak dingin dan datar seperti biasanya. Tidak mengerti bagaimana kemarahan kim soesangnim yang akan meledak.

 

“aku hanya ingin memberikan pencuri ini sebuah pelajaran.”

“bukan aku” sela Eunbi

“kau tidak memiliki bukti untuk membuktikan kalau dia yang mencuri USB itu”

“bukti seperti apa yang kau maksud?”

Kyuhyun bukannya tidak tahu kalau kim soesangnim telah menemukan USB itu di dalam tas Eunbi. Tapi entah kenapa dia masih tidak bisa mempercayainya begitu saja, padahal biasanya dia tidak memiliki banyak toleransi untuk urusan seperti ini. Ada beberapa hal yang meyakinkan kyuhyun bahwa Eunbi bukanlah orang yang seperti itu. Dia tahu betul kalau gadis itu tidak memerlukan bocoran soal itu untuk menang.

“min soesangnim melihatnya datang ke ruang guru saat semua orang tidak ada dan yah, aku menemukan USB itu di dalam tasnya. Jadi aku harus membuktikan apa lagi cho soesangnim?”

“aku tidak bisa memastikan kalau dia tidak melakukan hal itu, tapi satu halyang  aku bisa pastikan kalau waktu itu dia datang kesini bukan untuk mengambil USB mu”

 

Kim soesangnim tersenyum mengejek.

“apa sekarang kau mencoba untuk melindungi muridmu?”

“kalau begitu jelaskan padaku untuk apa muridmu ini datang ke ruang guru disaat seperti itu”

 

“dia memiliki urusan denganku dan aku tidak harus menceritakan semuanya kepadamu.” Jawab kyuhyun tanpa ragu. Apa dia harus menceritakan pada kim soesangnim kalau Eunbi memberinya obat setelah menariknya masuk ke dalam kolam dan menyebabkannya flu? Biarlah itu menjadi rahasia mereka berdua kan

 

Tidak ada kata-kata yang terucap dari mulut eunbi. Gadis itu sekarang hanya sibuk mendengarkan begitupun semua orang yang ada diruangan ini. Tentu saja, eunbi tidak berani untuk mencela perdebatan ini dan mungkin tidak ada yang berani.

 

“kembalilah ke kelas. Sebentar lagi kelas dimulai”

Seperti biasanya ini adalah perintah yang harus eunbi lakukan. Sejujurnya dia berterima kasih kepada kyuhyun. Setidaknya eunbi tahu ada orang yang masih percaya padanya. Meskipun dia masih bingung dengan semua keadaan ini. Pertama, bagaimana mungkin USB itu ada di dalam tasnya jika dia bahkan tidak pernah melihat benda itu. Kedua, bagaimana bisa tiba-tiba kim soesangnim mencari itu di dalam tasnya jika tidak ada yang memberi tahunya. Tidak ada yang tahu jika waktu itu eunbi datang ke ruang guru selain min soesangnim. Tapi, hey kim soesangnim tadi bilang Na mi?

**

“na mi!”

Gadis itu mengangkat wajahnya dari lembaran-lembaran soal.

 

Setelah meminta Na mi untuk mengikutinya, disinilah mereka sekarang. Atap sekolah.

Eunbi berbalik. Dan pandangannya bertemu dengan mata na mi yang dibingkai dengan kaca mata miliknya.

“kau yang memberitahu kim soesangnim tentang USB itu di dalam tasku?” eunbi langsung bertanya tanpa basa-basi seperti dia sudah tidak punya waktu lagi.

“kau hanya ingin membahas ini?. Kalau begitu aku pergi”

Tapi belum sempat na mi benar-benar pergi. Tangannya tertahan oleh tangan Eunbi.

“ini bukan ‘hanya’ na mi. ini masalah yang besar”

Na mi tersenyum mengejek.

“semua orang tahu kalau USB itu ada di dalam tasmu, jadi apa lagi yang ingin kau buktikan?”

“kau yang memberitahu kim soesangnim?” Eunbi kembali bertanya tidak memperdulikan pertanyaan na mi. Dia hanya butuh jawaban untuk pertanyaannya itu bukan yang lainnya.

 

Na mi terdiam tidak menjawab Eunbi. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

“jawab aku Na mi!”

Na mi tersentak karena teriakan Eunbi.

Gadis itu menatap eunbi nyalang.

“iya. Aku yang memberitahu kim soesangnim. Lalu kau mau apa?”

Kali ini eunbi yang terdiam. Otak dan telinganya terasa sulit untuk mencerna semua itu.

“bagaimana kau tahu USB itu ada di dalam tasku?” kali ini eunbi tidak berteriak.

“kau tidak harus mencari bukti atas semua kesalahanmu”

Setelah itu na mi benar-benar pergi meninggalkan eunbi di atap sekolah. Bahkan kali ini Eunbi tidak berniat untuk mencegah gadis itu pergi. Pertanyaannya sudah terjawab dan dia bisa menebak semua jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya yang lain.

 

“itu tidak mungkin. Bagaimana Na mi melakukan hal itu”

**

Setelah memikirkan beberapa hal, Eunbi kembali turun, tatapannya tampak datar dan dingin tidak seperti biasanya mungkin karena marah atau kesal. Sayup-sayup dia masih bisa mendengar beberapa anak yang terang-terangan membicarakannya karena kejadian tadi. Tapi dia tidak peduli, eunbi melesat begitu saja masuk ke dalam ruang kelasnya. Bukan. Bukan tempat duduknya yang dia hampiri tapi tempat duduk gadis yang tidak pernah peduli dengan kehidupan sekitar bahkan sekarang Eunbi tahu kalau gadis itu tidak pernah memikirkan untuk berteman dengannya.  Na Mi.

 

Na mi mendongak, menatap malas Eunbi yang menjulang di depan mejanya. Dia bisa merasakan kalau tatapan eunbi tidak bersahabat seperti biasanya, dan tidak perlu ditanya kenapa gadis itu bersikap seperti ini.

 

“aku akan membuktikan kalau bukan aku yang bersalah shin Na mi” katanya penuh penekanan disetiap katanya seperti memaksa na mi untuk mengingat setiap kata yang diucapkan gadis itu.

Kau berurusan dengan orang yang salah. Anak kecil tambah Eunbi dalam hati.

 

Semua kelas terdiam bahkan Eunbi masuk kelas dengan cara serampangan. Telinga mereka merekam dengan jelas apa yang baru saja gadis itu katakan, tapi tidak ada yang tahu arti dari kalimat itu.

**

Satu hari ini sekolah terasa berbeda dari hari sebelum-sebelumnya. Untuk hari ini dia menyadari bahwa SMA keduanya memang berbeda dari yang sebelumnya. Tapi Eunbi tidak tahu apakah dia harus senang atau tidak.  Tidak ada yang percaya pada Eunbi kecuali yoojin dan minho, mereka masih bersedia menghabiskan makan siang bersama bahkan minho berusaha keras untuk menghiburnya, mengatakan kalau itu semua tidak penting dan tidak perlu memikirkan semua kata orang. Baiklah, mungkin itu sedikit menghibur Eunbi karena dia tahu masih ada orang yang percaya padanya. Dan Na mi-

 

Eunbi menghela nafasnya dalam-dalam sebelum merebahkan tubuhnya. Dia baru saja sampai asrama dan langsung membersihkan dirinya. Tidak. Dia tidak ingin bertemu dengan na mi dan membahas masalah itu lagi. Itulah sebabnya Eunbi menghindari na mi dan mungkin gadis itu juga. Lihatlah, bahkan dia sudah tertidur. Tidak seperti biasanya.

**

“Cho soesangnim”

Eunbi berlari kecil-kecil menghampiri kyuhyun yang sekarang sudah berhenti 2 meter di depannya.

“ada apa?”

“aku-aku” eunbi sedikit ragu untuk mengatakannya tapi dia tidak punya pilihan lain. Dari sekian banyak guru disini, Eunbi rasa hanya kyuhyun yang dapat dia percaya.

“apa?”

“bisakah kita bicara? Maksudku tidak disini. Ada hal yang ingin aku katakan”

 

Kyuhyun tidak suka diperintah apalagi oleh muridnya. Tapi pria itu mengekor juga dibelakang Eunbi.

 

Lorong sekolah yang sepi ini, membuat perbincangan mereka terasa begitu rahasia dan canggung.

 

Eunbi membasahi bibirnya, seperti mencoba melemaskannya. Dia takut kalau-kalau kalimat yang akan dia ucapkan tidak bisa keluar dari dalam mulutnya.

 

“apa?” tanya kyuhyun sedikit menuntut

“aku ingin meminta bantuan cho soesangnim”

“bantuan?”

Kyuhyun mengernyitkan keningnya tidak mengerti. Dan eunbi hanya mengangguk sebagai jawaban.

 

“dua hari lagi sekolah akan memutuskan hukuman atas kasusku kemarin. Tapi sebelum itu ada yang ingin aku lakukan”

“kau tidak perlu khawatir tentang kasus itu, aku bisa membereskannya.”

Tentu saja dia bisa, karena dia adalah anak dari pemilik sekolah ini. Kasus itu bisa dengan mudah dia tutupi dengan mengeluarkan Eunbi dari daftar peserta olimpiade lalu membuat soal yang baru lagi. Dan siapa yang berani membantahnya, kim soesangnimpun tidak akan mungkin bisa berkutik.

 

Eunbi menghela nafasnya.

“jika aku menerima begitu saja hukumanku atau kalau soesangnim membantu dengan kekuasaanmu itu sama saja mengaku kalau aku yang melakukannya.”

 

Ya, itu benar batin kyuhyun

Sejujurnya dia juga tidak pernah melakukan hal seperti itu. Seperti yang biasanya yang terjadi, kyuhyun adalah guru yang paling sering menghukum muridnya bahkan untuk kesalahan sekecil apapun. Dan sekarang dia menawarkan Eunbi sebuah bantuan? Yang benar saja!.

“bisakah soesangnim membantuku mencari bukti itu?”

Kyuhyun mengangguk begitu saja.

 

Setelah menceritakan apa rencananya pada kyuhyun, gadis itu menantikan respon dari kyuhyun. Dan seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu, kyuhyun tampak begitu serius untuk berfikir. Tapi-

“baiklah. Datanglah sepulang sekolah nanti”

 

Senyuman itu. Eunbi menarik ujung-ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan yang indah. Lagi-lagi selama beberapa detik, itu bisa menarik kesadaran kyuhyun dari dunia disekitarnya.

 

Ada apa denganku?

 

Perbincangan itu selesai tapi tidak ada yang berniat untuk berpamitan lebih dulu. Entah apa yang sedang mereka tunggu. Bukankah urusan mereka sudah selesai? Eunbi asyik menatap ujung sepatunya dan sibuk dengan pikirannya, disisi lain kyuhyun tampak begitu santai dan cool seperti biasanya memasukkan tanggannya kedalam saku celana dan menatap lurus ke depan. Tidak tahu pasti apa yang sedang dia perhatikan tapi ya, mungkin itu hanya sebagai pengalih perhatiannya dari Eunbi. Eunbi. Gadis itu. Apa yang special darinya? Batin kyuhyun.

 

“soesangnim.”

“Ng” jawab kyuhyun tanpa menoleh pada Eunbi.

“apa flumu sudah hilang?”

 

Pertanyaan macam apa itu hwang Eunbi!

Eunbi mengutuk pertanyaannya sendiri. Untuk apa dia bertanya seperti itu, jika dia bisa melihatnya sendiri. Hidung kyuhyun sudah tidak memerah seperti waktu itu dan pria itu juga tidak bersin-bersin.

 

“iya. Dan itu berkatmu”

“apa?” eunbi hampir berteriak. Bukan. Bukan karena dia tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh kyuhyun tapi- apa dia baru saja menerima semacam ucapan terima kasih?

 

Kyuhyun menyunggingkan senyumannya.

“dan berkatmu juga aku terserang flu”

“ah itu-“

Eunbi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“mianhae. Cho soesangnim. Aku benar-benar tidak ada maksud untuk itu”

“kau membuatku flu dan kau juga yang memberiku obat. Jadi bukankah itu sudah impas”

“jadi aku tidak perlu lagi menerima hukuman?” tiba-tiba Eunbi menjadi bersemangat. Tentu saja. Bahkan setiap hari dia akan berfikir hukuman apa yang akan dia dapatkan dari cho kyuhyun.

“apa kau begitu menginginkan sebuah hukuman?”

“tidak-tidak. Tentu saja tidak. Tapi aku hanya berfikir jika mungkin aku akan dihukum mengepel semua gedung sekolah selama satu minggu. Dan dapat aku pastikan jika setelah itu aku akan terbaring di rumah sakit”

“hahaha aku akan memikirkan hal itu.”

 

Eunbi terdiam karena suara tawa kyuhyun, dia seperti baru saja melihat matahari terbit dari barat. Apa ini nyata? Pikirnya.

Sadar dengan kelakuannya, kyuhyun berdehem untuk mengusir sedikit rasa malu yang baru dia rasakan.

 

“aku suka melihat cho soesangnim tertawa seperti itu, terlihat semakin tam-“

Eunbi menggigit bibir bawahnya, dia hampir saja kelepasan menyebut pria itu tam-

“tampan?” sela kyuhyun ditengah perdebatan batin eunbi.

Buru-buru gadis itu menggeleng tidak setuju. Ya, meskipun sebenarnya kata itu yang ingin dia katakan tadi.

“kau tidak perlu mengatakan sesuatu yang semua orang sudah tahu”

“aishhh. Aku menyesal hampir mengatakan hal itu”

“jadi benar kau menyebutku tampan”

 

Bodoh kau eunbi. Apa gunanya kau menyangkal tadi jika sekarang kau malah mengakuinya dengan mulutmu sendiri.

 

Eunbi memanyunkan bibirnya tidak suka dan kyuhyun, pria itu kembali tertawa. Apa begitu senangnya mendengar kata tampan? Tentu saja tidak. Kyuhyun sudah terlalu sering mendengar kata itu sampai telinganya terasa panas setiap harinya. Hanya saja itu lebih terdengar menyenangkan jika diucapkan seperti tadi. Entah karena Eunbi yang mengatakannya atau karena itu terdengar begitu tulus, atau mungkin keduanya.

 

Kyuhyun menghentikan tawanya. Dia sadar tidak ada yang sangat lucu disini, tapi hal sederhana itu bisa membuat dia kembali mengingat untuk tertawa.

“pergilah. Sebentar lagi kelas dimulai” kata kyuhyun dengan tangan yang tanpa dia sadari membuat gerakan kecil di atas kepala Eunbi.

 

Bukannya mendengarkan kyuhyun dan segera berbalik meninggalkannya. Eunbi masih mematung ditempatnya seperti ada lem yang merekat di sepatunya sampai tidak bisa menarik kakinya untuk melangkah dari sini. Bukan. Bukan karena dia tidak ingin menghadiri kelas dan lebih memilih mengobrol bersama kyuhyun tapi itu karena-

 

Hey cho kyuhyun baru saja mengacak-acak sedikit rambutku teriaknya dalam hati.

 

Bukan mengacak dalam artian yang sebenarnya, tapi lebih sedikit mengelus. Dan tiba-tiba jantungnya berdetak tidak karuan seperti ada seseorang yang menabuh genderang begitu keras sampai eunbi tidak yakin kalau jantungnya akan baik-baik saja.

 

“kau tidak mau masuk kelas?”

Eunbi tersentak dari lamunannya sendiri.

“ah! Iya. Aku akan kembali ke kelas. Terima kasih cho soesangnim”

 

Setelah itu Eunbi benar-benar pergi, tapi efek sentuhan kecil itu masih ada sampai dia berada di depan kelasnya. Mungkin anak-anak yang melihatnya di lorong tadi akan berfikir Eunbi gila. Gila karena kasusnya. Mengingat tentang kasus itu, Eunbi jadi ingat jika dia harus melakukan sesuatu.

**

Semua anak sudah pergi mengisi perut mereka yang kosong meninggalkan yoojin, eunbi dan na mi yang tidak pernah tertarik dengan yang namanya makan siang. Eunbi bahkan sempat berfikir kalau na mi bukanlah manusia. Bagaimana dia bisa bertahan hanya dengan memakan roti di pagi hari dan mie instan di malam hari. Ya, mungkin gadis itu sudah kenyang hanya setelah dia membaca berhalaman-halaman lembar buku. Tapi bukan itu yang ingin Eunbi lakukan. Mengatamati na mi dari jauh? Yang benar saja.

 

“jadi apa yang akan kau lakukan?” yoojin tiba-tiba membuka suara

“aku? Apa?”

“tentang kejadian kemarin. Sekolah akan mengambil keputusan dalam dua hari kedepan”

“tentu saja aku akan membuktikan bahwa bukan aku yang melakukan hal itu”

“caranya?”

“ melihat rekaman cctv” eunbi segaja sedikit mengeraskan suaranya dan menekan kalimatnya pada kata ‘cctv’. Matanya sibuk mengukur ekspresi apa yang na mi sekarang sedang tunjukan dari balik punggung berseragam itu.

 

Deg

Tangannya tiba-tiba terasa bergetar dan dingin. Na mi menegang di tempatnya.

Cctv? Kenapa aku melupakan hal itu?

 

Tidak. Dia sudah sejauh ini. Bagaimana mungkin ini bisa menjadi sangat berantakan dari apa yang dia bayangkan. Kadang otak cerdasnya memang berjalan sedikit lambat, atau mungkin Eunbi yang terlalu pintar.

 

“aku sudah meminta bantuan cho soesangnim untuk hal itu. Kau tahukan kalau kita tidak bisa masuk sembarangan ke tempat itu.” Tambah Eunbi dengan masih terus melihat na mi dari belakang.

 

Eunbi yakin kalau gadis itu melupakan hal yang satu ini. Cctv. Dan itu bisa menjadi celah untuknya.

**

Kyuhyun sibuk dengan komputer di depanya. Kali ini bukan untuk mengerjakan pekerjaannya tapi mencari sebuah kebenaran. Meskipun dia tidak tahu siapa pelaku sebenarnya atas kejadian pencurian itu. Tapi lagi-lagi dia percaya begitu saja pada Eunbi saat gadis itu mengatakan kalau na mi yang melakukannya. Gadis culun itu. Kyuhyun sampai tidak habis pikir bagaimana gadis yang cenderung anti sosial dan hanya sibuk dengan dunianya sendiri melakukan hal seperti ini. Semua catatannya salama ini selalu bersih.

 

Kyuhyun mendesah dan melemaskan sedikit bahunya setelah melihat rekaman cctv.

Eunbi benar. Tentu saja sekarang kyuhyun tahu betul siapa yang melakukannya, seperti yang dikatakan eunbi. Na mi.

 

Suara ketukan pintu membuat kyuhyun menoleh.

“masuklah” katanya kemudian

Tanpa ragu Eunbi langsung mengambil duduk di kursi sebelah kyuhyun.

 

“aku sudah mendapatkan buktinya” kata kyuhyun memulai

Eunbi hanya menatap kyuhyun ragu.

“na mi?” tanyanya Eunbi memastikan.

Kyuhyun mengangguk

 

Pria itu kemudian memutar video yang baru saja ditontonnya.  Dimulai dari na mi yang masuk ke ruang guru kemudian Eunbi dan begitulah kebenaran yang sebenarnya.

 

“kau tidak akan dihukum apalagi dikeluarkan dari sekolah, tapi sebaliknya”

 

Na mi kesulitan menelan ludahnya sendiri, rasanya seperti menelan duri yang sulit untuk dia cerna. Nafasnya menjadi pendek-pendek. Ya, gadis itu menguping setiap pembicaraan yang Eunbi dan kyuhyun lakukan.

 

Dikeluarkan dari sekolah. Tidak. Tidak. Aku tidak boleh dikeluarkan dari sekolah. Tidak. Tidak boleh.

**

Na mi mengendap-endap masuk ke dalam ruangan sesaat setelah Eunbi dan kyuhyun meninggalkan ruangan itu. Sebelum penjaga itu datang, maka na mi harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya.

 

Matanya sibuk mengamati semua folder-folder di layar komputer. Dia tidak tahu kalau dia akan melakukannya sampai sejauh ini. Kebohongan demi kebohongan dia lakukan untuk menutupi kebohongan yang lainnya.

 

Hapus.

Dia baru saja menghapus salah satu folder disana. Sejenak dia menghela nafas penuh kelegaan sebelum-

 

“na mi. apa yang kau lakukan?” eunbi berdiri di balik punggung na mi. ya, gadis itu tidak pergi. Eunbi tahu kalau ini akan terjadi. Tidak. dia sengaja melakukan ini.

 

Lagi-lagi na mi hanya bisa membatu di tempatnya.

“kau ingin menghilangkan bukti itu?”  eunbi melangkah mendekat dan matanya tidak pernah lepas dari na mi yang sekarang sudah berdiri dan berbalik menghadapnya setelah berhasil menguasai dirinya.

 

“ kalau iya. Memangnya kenapa?”

 

Bukan Eunbi yang berhasil dibuat terkejut oleh ucapannya sendiri tapi na mi yang terkejut. Eunbi mengangkat sebuah USB. Rupanya dia tadi sudah memindahkan file itu ke dalam USB nya.

“lakukan apapun yang kau suka, tapi aku tidak akan membiarkannya.”

“apa yang kau lakukan?” na mi menggeratkan semua giginya.

“seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan SHIN NAMI”

“jelaskan padaku. Apa salahku sampai kau melakukan ini semua padaku?” lagi-lagi Eunbi menuntut gadis itu untuk berbicara.

 

“kau tidak boleh membuatku dikeluarkan dari sekolah. Kumohon berikan USB itu padaku” bukannya menjawab pertanyaan Eunbi, na mi masih bersikukuh mengutamakan semua ambisinya. Ambisi yang menghancurkan dia dan Eunbi secara bersamaan.

“kau tidak bisa melakukan hal ini. Berikan padaku kumohon.”

“kenapa aku tidak bisa melakukan hal ini. Aku hanya akan mengungkap kebenaran”

“kau tidak mengerti apa yang sedang kau lakukan hwang Eunbi!” kali ini na mi sedikit berteriak. Dia sudah hampir kehilangan kesabarannya, lalu bagaimana dengan Eunbi?

“kita lihat saja apa yang besok sekolah putuskan”

Eunbi hampir menghilang dari balik pintu, tapi suara na mi menahan langkahnya.

 

“aku tidak punya pilihan lagi Eunbi ah.” Suara na mi terdengar lebih melemah, tidak sekeras tadi.

 

Eunbi berbalik menatap na mi yang sudah berkaca-kaca. Memangnya siapa yang menderita disini?

“apa yang tidak kau punya na mi. kau bisa mengatakan padaku kalau kau tidak ingin aku ikut. Aku akan senang hati akan mundur. Baiklah mungkin kau kecewa padaku karena setelah aku bilang aku tidak ikut tapi setelah itu namaku ada dalam daftar, tapi percayalah yoojin yang mendaftarkanku bukan aku” Eunbi berucap begitu saja, mengungkapkan semua keluhan yang dia rasakan kepada na mi berharap gadis itu bisa mengerti.

 

“aku harus bisa mewakili sekolah ini untuk olimpiade itu. Tapi dengan kau ikut itu menghacurkan semuanya”

“dengan melakukan semua ini? Kau sadar apa yang kau lakukan? Kau membuatku sebagai pencuri atas semua kesalahanmu. Kau mengerti itu?!”

Eunbi tidak bisa berkata-kata lagi. Dia ingin tenang tapi na mi selalu berhasil memancingnya.

 

“apa ini demi beasiswamu?” tebak Eunbi asal setelah berhasil mengontrol kembali dirinya.

“demi keluargaku”

Eunbi mengerutkan keninngnya tidak mengerti.

“aku hidup di keluarga yang selalu menuntutku untuk selalu berada di urutan no 1. Mereka tidak peduli apapun yang terjadi padaku. Hanya itu yang mereka inginkan dariku. Jadi kau hanya akan menjadi batu dalam langkahku.”

Na mi mengusap air matanya kasar. Dia tidak tahu sejak kapan air mata itu menerobos dinding pertahanannya. Inilah yang selalu menjadi beban gadis itu, setiap hari dia hanya akan mendengar orang tuanya untuk menyuruhnya belajar dan belajar. Bahkan dia sampai lupa kapan terakhir dia bermain bersama teman sebayanya. Ya, dia memang sudah terbiasa dengan itu semua tapi tetap saja saat orang tuanya membandingkan dengan kakak-kakaknya yang berhasil sekolah di luar negeri berkat beasiswa lalu diterima di perusahaan yang besar di korea selatan dia selalu kesal. Terkadang dia berfikir bagaimana orang tuanya tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya. Mereka hanya berfikir kalau hanya dengan belajar maka hidupnya akan bahagia. Mungkin orang tua na mi mempunyai pandangan yang berbeda. Pernah sekali saat masih di sekolah dasar saat na mi tidak mendapatkan peringkat satu disekolah dia harus rela terkurung selama satu hari penuh didalam kamar tanpa makanan. Sejak saat itu na mi bersumpah bahwa dia tidak akan pernah lagi tertinggal walau hanya satu langkah dari temannya. Jadi, apakah sekarang kalian paham bagaimana perasaan na mi? kenapa gadis itu memilih jalan seperti ini?

 

Eunbi lagi-lagi dibuat mematung oleh jawaban na mi, na mi bahkan sudah pergi meninggalkanya setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan. Lalu bagaimana dengan Eunbi sekarang? Apa yang harus dia lakukan?

**

Semua orang tampak bersitegang didalam ruang rapat. Lebih tepatnya hanya kim soesangnim dan cho kyuhyun. Jelas saja guru muda itu merasa geram dengan kim soesangnim karena menuduh Eunbi sembarangan. Baiklah, mungkin bukan salah pria tua itu kalau kenyataannya hubungan mereka berdua memang tidak terlalu baik dari awal. Apalagi sejak kyuhyun menghukum murid kim soesangnim yang ketahuan merokok, pasti kejadian ini menjadi salah satu kesempatan untuk memukul kyuhyun mundur. Dan ya, na mi. sepertinya kyuhyun meninggalkan muridnya yang satu itu. Gadis yang bahkan tidak pernah mendapat satu hukuman pun dari kyuhyun harus melakukan hal yang begitu tak terduga.

 

Na mi bergetar di tempatnya, sekarang dia dan Eunbi berdiri di hadapan cho kyuhyun, kim soesangnim dan tuan cho. Ayah kyuhyun itulah yang menentukan keputusan nanti.

 

Eunbi menatap ragu semua orang yang ada di dalam ruangan sebelum dia mengatakan apa yang harus dia katakan.

 

Eunbi menatap semua orang ragu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya menandakan kalau dia sedang cemas.

 

“maafkan saya. Saya memang mencuri USB itu dari kim soesangnim”

Itu adalah suara Eunbi.

 

Mata kyuhyun membulat. Apa gadis ini gila? Jelas-jelas bukan dia yang melakukan hal itu, dan kyuhyun juga tahu hal itu.

“Eunbi. Katakan yang sejujurnya” kata kyuhyun menekan. Tapi seolah telinga Eunbi tidak mendengar apapun.

“sekali lagi. Maafkan saya. Saya akan menerima apapun hukumannya.” Inilah keputusan yang pada akhirnya Eunbi pilih. Dia memang ingin membuktikan pada semuanya jika dia tidak bersalah, tapi hatinya terlalu baik untuk menghancurkan orang lain demi mengungkap kebenaran itu. Eunbi memang tidak pernah berada diposisi na mi tapi dia tahu bagaimana rasanya tidak punya pilihan dalam hidup. Sepertinya eunbi sedikit beruntung dari gadis itu karena dia mempunyai keberanian untuk melakukan hal yang dia inginkan.

 

“Eunbi! Kita berdua tahu siapa pelakunya” sekali lagi kyuhyun menekan Eunbi.

“apa yang kau-“

 

“sudahlah cho soesangnim. Dia sudah mengaku”

Kim soesangnim menyungginkan senyum kemenangannya tapi dia langsung merubah mimik mukanya setelah menyadari tatapan tak bersahabat dari kyuhyun. Kadang-kadang kyuhyun memang tampak sangat menakutkan dengan tatapan seperti itu.

 

“aku dan Eunbi sudah mengecek cctv. Bukan Eunbi yang melakukan itu tapi na mi”

Merasa namanya disebut, na mi merasa semakin ketakukan. Dahinya sudah dipenuhi oleh keringat dingin. Apa yang bisa gadis itu katakan sekarang? Dia bahkan tidak sanggup hanya untuk mengatakan satu kalimat saja untuk membela dirinya.

 

“Eunbi katakan yang sebenarnya.!” Lagi-lagi kyuhyun menekan Eunbi. Baru kemarin gadis itu memintanya untuk membantu mencari bukti dan membebaskannya dari masalah ini. Tapi setelah semua yang mereka lakukan, gadis itu bahkan tidak mendengarnya sekarang.

 

“tidak ada yang ingin saya katakan lagi. Saya pamit”

Setelah itu Eunbi benar-benar pergi tidak menghiraukan kyuhyun yang memanggilnya. Dia bahkan tidak peduli meninggalkan ruangan itu sebelum mendengar keputusan yang dibuat Tuan Cho.

**

Na mi keluar setelah Tuan cho memintanya untuk pergi. Gadis itu tidak tahu apakah dia harus senang atau tidak. Dengan eunbi mengakui kejadian itu membuat dia bebas dari hukumannya, tapi kenapa harga dirinya seakan terluka dengan itu. Sebagian dari hatinya merasa menyesal dengan kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan.

 

Gadis itu tidak jadi melangkah lebih jauh lagi karena ponselnya tiba-tiba bergetar.

Drt..drt…

Lama dia memandangi layar ponselnya sebelum dia pergi.

**

Na mi memandangi eunbi yang berdiri memunggunginya. Orang yang baru saja mengirimi pesan adalah dia. Eunbi. Dia sudah menunggu na mi sejak tadi di atap sekolah ini. Ada beberapa hal yang ingin gadis itu sampaikan.

 

Eunbi berbalik setelah mendengar derap langkah yang mendekat ke arahnya.

“na mi. ada sesuatu yang ingin aku katakan” katanya tanpa basa-basi

“na mi. mungkin aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu selama ini berlangsung. Tapi aku tahu bagaimana rasanya saat kita tidak punya pilihan untuk menentukan hidup kita sendiri.”

“dengan aku mengakui itu semua, aku berharap kau bisa lebih berani lagi untuk menentukan hidupmu sendiri. Kau tahu. Kau tidak akan pernah bahagia jika kau terus bersembunyi.”

“orang tuamu, keluargamu, dan dirimu tidak akan bahagia dengan semua kebohongan dan kepalsuan yang selama ini kau lakukan.”

 

Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Eunbi katakan untuk seseorang. Dia tidak yakin sejak kapan dia menjadi sedikit lebih dewasa seperti ini. Bahkan na mi hampir meneteskan air matanya. Dia akhirnya merasa sebagai orang yang paling bodoh didunia. Apapun yang eunbi katakan tadi, itu benar-benar menyentuh hatinya. Gadis yang dia sakiti bahkan tidak memakinya atau menamparnya, sesuatu yang lebih melukai harga dirinya.

Na mi bukanlah orang jahat yang mata hatinya sudah tertutup. Gadis itu bahkan tidak bisa tidur sejak melakukan hal itu, dia hanya gadis polos yang hanya terlalu takut menghadapi kenyataan. Kenyataan kalau dia bisa saja menjadi nomor dua.

 

“na mi. aku tidak tahu kau menganggapku temanmu atau musuhmu. Tapi asal kau tahu. Kau tetap teman bagiku”

 

Teman yang memberiku warna di 18 again ku

 

Kali ini air matanya tidak bisa dia tahan lagi.

“mianhae eunbi ah. Mianhae. Seharusnya aku memang tidak melakukan hal itu. Katu tahu aku terlalu pengecut untuk mengakui itu semua.”

 

Na mi benar-benar menangis dipelukan Eunbi. Sudah cukup bagi eunbi dengan na mi menyesali hal itu. Dia tahu kalau na mi adalah anak yang baik.  Mungkin lebih baik Eunbi yang mendapatkan hukuman itu, kalaupun dia harus keluar dari sekolah ini, itu tidak masalah. Lagi pula dia datang kesini bukan untuk belajar tapi dia punya maksud sendiri. Dia bisa melanjutkan kehidupannya, kembali ke rumah mewahnya tapi na mi, eunbi pasti akan menyesal jika na mi benar-benar keluar dari sekolah ini. Mimpinya memang merasakan kehidupan SMA senormal mungkin, tapi dia pasti akan sangat merasa bersalah kalau mimpinya harus membunuh mimpi yang lain.

**

Kyuhyun akhirnya keluar dari persembunyiannya saat na mi sudah pergi meninggalkan eunbi di atap sekolah. Dia tidak bermaksud menguping pembicaraan kedua gadis itu. Dia memang bermaksud mencari eunbi dari tadi saat gadis itu sedang bersama na mi. Menuntut penjelasan dari gadis itu.

 

“jadi na mi yang menghapus rekaman cctv itu?”

Eunbi berbalik dan menatap kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.

Kepalanya mengangguk.

“maafkan aku karena telah mengecewakan cho soesangnim. Ada banyak pertimbangan yang sudah aku pikirkan” hanya itu yang mampu Eunbi katakan.

 

Kyuhyun menghela nafasnya.

“aku hanya tidak mengerti apa yang kau pikirkan sampai kau melakukan hal ini”

“aku hanya terlalu egois jika aku mengatakan pada semua orang tentang kenyataan ini”

“tapi memang itu yang harus terjadi” lagi-lagi emosi kyuhyun sedikit meluap. Bagaimana bisa gadis ini berfikir seolah-olah semuanya baik-baik saja.

“ada beberapa hal yang soesangnim tidak tahu”

“apa itu?”

Kyuhyun kembali frustasi saat Eunbi menggeleng sebagai jawaban.

“aku tidak bisa mengatakannya sekarang”

“lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau mungkin akan mendapatkan hukuman yang berat. Di skors selama satu bulan atau mungkin dikeluarkan”

Eunbi tersenyum.

“aku akan menghadapi apapun hukuman itu”

Kyuhyun menyerah. Dia bisa apa kalau gadis yang ingin dia bela merelakan begitu saja hukuman yang bahkan tidak seharusnya dia terima.

“kau rupanya senang mendapatkan hukuman” ejek kyuhyun

Eunbi tertawa.

“Dan itu karena soesangnim terlalu sering menghukumku”

 

Mereka berdua kemudian terdiam. Hanya angin yang mengisi setiap ruang disekitar mereka. Angin yang menerbangkan setiap anak rambut mereka, membuat sedikit berantakan rambut hitam itu.

 

“tentang na mi dan rekaman cctv itu. Maksudku tentang na mi yang sudah menghapus rekaman cctv itu. Biarlah menjadi rahasia kita. Aku mohon”

“dan kau merelakan dirimu?”

“kumohon. Na mi jauh lebih membutuhkan hal ini dari pada aku.”

“baiklah. Dan kau tetap menyimpan rekaman cctv itu dalam USB mu?”

“tidak. Aku sudah menghapusnya”

“kau memang sudah siap dengan hukumannya.”

Entah ini benar atau salah. Tapi lagi-lagi kyuhyun hanya bisa menghargai setiap keputusan gadis itu. Gadis yang sekarang sedang tersenyum ke arahnya karena lontaran kalimat yang baru saja kyuhyun katakan.

**

Angin yang menyebabkan daun-daun bergesekkan menyentuh kulit mulusnya. Ini adalah hari ketiga eunbi menjalani hukumannya. Sepertinya Eunbi harus bersyukur karena dia tidak ditendang dari sekolah itu, di skors selama 2 minggu itu terasa tidak begitu berat. Setidaknya Eunbi bisa menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan sendirian, ya itu lebih baik dari pada terkurung di dalam asrama yang terasa menyeramkan saat semua penghuninya tidak ada disana.

 

Jadi aku harus kemana sekarang?

 

Kakinya terus melangkah menyusuri trotoar. Dia memang tidak punya tujuan tapi ini terasa mengasikkan untuk Eunbi. Dia tidak tahu kalau berjalan ditengah-tengah mobil-mobil yang berjejer jauh lebih mengasikkan dari pada berada di dalam benda itu. Langit siang yang terlihat sangat cerah, beberapa orang yang berlalu lalang dengan kesibukkan mereka sendiri menjadi pemandangan yang tidak pernah Eunbi sadari sebelumnya.

 

Menikmati secangkir kopi, kurasa tidak buruk.

 

Eunbi berdiri di depan meja kasir. Otaknya masih berfikir mimuman apa yang harus dia pesan. Americano atau caffelatte.

 

“aku pesan Americano”

“caffelatte”

Eunbi berbalik.

Bukan. Bukan hanya karena orang disampingnya memesan hampir bersamaan dengannya tapi karena-

 

“cho soesangnim?”

Merasa namanya disebut, kyuhyun memutar tubuhnya menghadap gadis dengan penampilan casualnya. Rok putih pendek, kaos, tas selempang kecil, sepatu kets putih dan jangan lupakan rambut yang di ikat menjadi satu.

“apa yang kau lakukan disini?”

Bukannya balik menyapa kyuhyun malah mengajukan sebuah pertanyaan.

 

“aku? Hanya berjalan-jalan”

Kyuhyun menepuk dahinya pelan. Ya ampun dia lupa kalau gadis ini sedang berada di dalam masa hukumannya. Tapi berada di tempat ini.

 

Aku mohon jangan terulang lagi

 

“apa yang soesangnim lakukan?”

“aku?” kyuhyun tampak bingung sendiri menjawabEunbi. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri.

 

Eunbi ikut mengedarkan pandangannya dan-

 

“apa cho soesangnim sedang berkencan?”

Tepat.

Mengukur bagaimana ekspresi kyuhyun. Ya ampun tebakannya benar.

 

“bukan kencan. Hanya sedang bertemu saja:” elak kyuhyun

“kencan buta?”

 

Ya Tuhan apa dia seoerang cenanyang?

 

“kau tidak sedang membuntutikukan?”

Eunbi menggeleng. Yang benar saja, untuk apa dia mengikuti kyuhyun yang berkencan. Dia memang bosan di asrama tapi tidak dengan mengikuti kyuhyun. Lebih baik dia mati kebosanan di asrama.

 

“jadi gadis yang mana? Apakah cho seoesangnim akan menolaknya juga?”

 

Kyuhyun menghembuskan nafasnya malas. Kenapa sekarang muridnya ini seolah ikut campur dalam kehidupan pribadinya?. Tapi kyuhyun tidak peduli itu tentang hal itu.

kau lihat wanita yang disana?”

Eunbi mengikuti arah jari telunjuk kyuhyun. Dan mengangguk.

 

Gadis  dengan rambut berwarna sedikit kecoklatan, penampilan yang feminim, tas branded, dan riasan make up yang sederhana. Tidak ada yang salah dari penampilan gadis itu, kecuali kyuhyun. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Jangan katakan kalau dia benar-benar tidak suka dengan yang namanya wanita.

 

“aku sudah menolaknya asal kau tahu. Tapi sepertinya gadis itu kehilangan telinganya.”

 

Bagaimana kyuhyun menjelaskan tentang gadis itu. Dia jauh lebih menakutkan dari gadis-gadis yang sebelumnya yang dia temui. Akan lebih baik kalau gadis itu segera menyiram kyuhyun dengan air digelasnya dan hubungan mereka akan berakhir.

Setiap kyuhyun bilang. ‘aku sudah punya kekasih, aku tidak tertarik dengamu’ gadis itu hanya akan bilang. ‘dan aku akan membuatmu tertarik padaku dan selalu menunggumu’.

Sialan! Apa gadis itu benar-benar gila. Baiklah, mungkin sebentar lagi kyuhyun yang akan benar-benar gila.

 

“soesangnim menolaknya dengan cara yang sama?”

 

“aku sudah mencoba segala cara asal kau tahu”

“sudahlah, aku tidak seharusnya menceritakan ini padamu”

 

Kyuhyun berbalik setelah mengambil pesanannya tapi suara Eunbi menahannya.

“aku bisa membuat dia pergi”

Kyuhyun mengerutkan keningnya.

“berpura-pura menjadi kekasihku?”

Eunbi menggeleng

“aku bisa membantu soesangnim. Tapi soesangnim harus menuruti keinginanku?”

**

Eunbi merubah sedikit tatanan rambutnya, membiarkannya terurai dan memoles sedikit warna merah pada bibirnya. Kyuhyun sudah duduk di depan gadis itu. Dari tampilannya dia sepertinya gadis terpelajar, terpandang dan sedikit keras kepala. Eunbi tidak tahu kalau orang seperti itu ada, gadis yang seolah menaruh harga diri di urutan paling akhir. Jika saja itu Eunbi, eunbi akan segera menampar kyuhyun dan melengang pergi setelah pria sialan itu mengatakan ‘maafkan aku kau bukan tipeku, aku tidak tertarik padamu atau maaf aku mencintai orang lain’ benar-benar sialan kyuhyun itu!.

 

Perlahan dia berjalan mendekat dengan langkah kaki yang dia buat-buat, akan lebih baik kalau dia memakai heels sekarang hentakan hak sepatu yang runcing akan berpadu dengan lantai cafe membuat dia semakin menjiwai peran ini, tapi itu tidak masalah.

 

“cho kyuhyun shi” sapa Eunbi setelah dia berada di depan pria itu.

“iya” kyuhyun memberenggut tidak mengerti. Kalau saja eunbi mengatakan apa rencananya mungkin kyuhyun tidak akan terlihat begitu bodoh seperti sekarang.

“kau masih punya hutang padaku”

“hutang?”

“kau belum membayar pesananmu kemarin”

“pesanan? Apa?”

“ya ampun kau tidak sedang pura-pura pikun kan? 200 won. kau harus membayar 200 won untuk satu malam kemarin”

“apa?”

“yak! Jangan memancingku. Cepat bayar!” eunbi menaikkan suaranya membuat pelanggan yang lain ikut tersedak dari minumannya.

“apa yang harus aku bayar?!”

 

Eunbi tersenyum mengejek.

“ya ampun pria ini”

 

“agashi. Sepertinya kau salah orang” kata gadis yang duduk di depan kyuhyun, tepat disamping Eunbi berdiri.

“yak! Apa kau tidak tahu siapa pria ini? Kusarankan agar kau cepat-cepat pergi darinya”

 

“Tuan. Cepat berikan 200 won ku” kata eunbi mendesak.

“apa yang aku harus bayar padamu?”

“yak! Apa aku harus berteriak disini dan memberitahu semua orang? Eiyy aku bukan orang seperti itu tuan. Aku akan menyimpan rahasiamu rapat-rapat.”

“tapi jika kau lupa aku akan mengingatkannya.”

Eunbi membungkuk membuat wajahnya sejajar dengan wajah kyuhyun dan gadis itu.

“kemarin kau memintaku mencarikan seorang pria muda dan kau sudah menghabiskan malam bersama degannya. Jadi setelah kau bersenang-senang sebaiknya kau membayarku tuan.”

“apa?”

Mata kyuhyun membulat. Sialan! Kyuhyun terjebak sendiri pada rencananya. Kalau tahu begini dia tidak akan mengiyakan tawaran Eunbi untuk membantunya atau lebih baik memaksa Eunbi untuk menjadi kekasih pura-puranya. Tapi ini- ya ampun harga diri cho kyuhyun benar-benar berada di bawah sepatunya.

 

“apa? Pria?” gadis itu ikut bertanya dan dengan entengnya Eunbi mengangguk.

“jika tuan membayarku maka aku akan membawa mereka semua yang tampan-tampan ke depan pintu apartemenmu”

 

“oppa. Kau tidak-“

“aku-“ kyuhyun terpojok dia bingung sendiri dengan jawaban yang harus dia katakan.

“eiyy. Nona. Aku harap kau tidak berkata terlalu keras. Ini hanya menjadi rahasia kita. Kau tahu tidak semua orang bisa menerima kehadiran pria seperti tuan ini dengan baik disini. Lingkungan kita masih terlalu awam untuk mengenal cinta sesama jenis. Oh ya ampun. Apa kau salah satu teman wanitanya. Terkadang dia butuh wanita untuk menutupi jati dirinya dan-“

Eunbi  menghentikan kalimat panjangnya setelah gadis disampingnya tiba-tiba berdiri.

 

“kupikir kau pria yang sempurna tapi- ya ampun aku bahkan tidak sanggup hanya mengatakannya.”

“oppa mulai hari ini aku tidak akan mengganggumu lagi. Anggap saja kita tidak pernah bertemu.”

 

 

“BUAHAHAHAHA…”  eunbi tertawa begitu keras mengundang perhatian pengunjung cafe yang lain. Perutnya bahkan sampai terasa kaku.

“oh ya ampun. Aku bahkan sampai akan menangis karena terlalu banyak tertawa”

 

“kau sudah puas tertawa?”

“apa cho soesangnim tidak lihat tadi bagaimana ekspresi gadis itu. Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya. Dia benar-benar ketakutan karena mendengar cho soesangnim seorang-“

“seorang apa?”

Eunbi menelan ludahnya, rasa humor yang tadi dia rasakan tiba-tiba hilang dibawa angin. Tatapan kyuhyun benar-benar membuat suasana yang tadi terasa sedikit hangat membeku seperti es. Bagaimana gadis itu bisa lupa kalau kyuhyun mungkin saja marah karena hal tadi. Mungkin? Eunbi rasa itu bukan lagi ‘mungkin’ tapi benar-benar marah.

“kau puas menertawakan aku nona hwang?” ini bukan pertanyaan tapi sebuah peringatan.

 

Gadis ini memang benar-benar gila. Apa dia tidak tahu dengan siapa dia sedang berhadapan. ‘malaikat kegelapan’

 

“aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya membantu saja” jawab Eunbi pura-pura tenang dan tidak terjadi apa-apa. Meskipun dalam hatinya dia sedang mengutuk ide gila yang tiba-tiba muncul diotaknya tadi. Eunbi tidak tahu dari mana hal itu muncul dikepalanya sampai melupakan kalau mungkin saja masa skornya akan bertambah menjadi 4 minggu.

 

Kyuhyun menyenderkan punggunya pada sandaran kursi, menatap Eunbi dengan pandangan menghakimi.

“apa ini yang kau sebut sebuah ide? Kau gila? Apa kau tidak punya cara lain?”

“tapi dengan seperti itu dia tidak akan menganggu cho soesangnim lagi”

 

PLETAK

“auwh” eunbi mengadu kesakitan karena dahinya baru saja mendapat sebuah pukulan yang begitu menyakitkan. Lagi dan lagi eunbi harus merelakan dahinya sebagai sasaran kemarahan cho kyuhyun. Mungkin kalau ada kejuaraan menjitak eunbi rasa kyuhyun akan keluar sebagai pemenangnya.

“kau tidak hanya membuat dia pergi tapi kau juga baru saja membuat harga diri dan imageku menjadi benar-benar buruk”

“tapi itu hanya menjadi rahasia kita. Tidak ada yang mengetahuinya makanya aku mengatakannya dengan pelan”

**

“cho soesangnim. Kau harus menepati janjimu”

“aish” Eunbi mendengus kesal. Kyuhyun semakin mempercepat langkah kakinya. Telinganya sudah jenggah mendengar gadis itu berteriak-teriak dibelakangnya sejak tadi.

 

Ya ampun apa dia lupa kepada siapa dia merengek?

Baiklah mungkin Eunbi berhasil mengusir gadis penganggu itu dengan sangat baik, tapi kyuhyun gay? Demi Tuhan dia bisa langsung mencekik Eunbi jika tidak di depan umum seperti ini.

 

Kyuhyun tiba-tiba berhenti membuat Eunbi hampir terjungkal karena kaget. Dia segera berbalik tapi kenapa Eunbi merasa takut melihat dia mengeraskan rahangnya dan tatapan matanya yang tajam, oh Eunbi akan mati berdiri disini jika kyuhyun terus menatapnya dengan cara seperti itu.

 

“apa? Apa yang kau mau? Menemanimu nonton? Menemanimu bermain di game center?”

“soesangnim sudah berjanji padaku” jawab Eunbi dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar oleh kyuhyun dengan sangat jelas.

“dan kau melakukannya dengan cara yang sangat bagus. Aku bahkan tidak menyangka kau akan melakukan hal itu. Terima kasih. Terima kasih karena kau telah menyelamatkan hidupku”

Eunbi menunduk.

“maafkan aku. Hanya itu yang terpikirkan olehku. “

 

Kyuhyun berkacak pinggang dan membuang nafasnya kasar. Dia bingung harus marah atau malah berterima kasih pada gadis ini.

 

“jadi kau ingin kemana?” kata kyuhyun kemudian.

 

Eunbi langsung mengangkat kepalanya bersemangat.

“game center”

**

“Aishh menyebalkan!”

Eunbi menghentakan kakinya dan memberenggutkan bibirnya kesal. Sementara pria yang tadi harus berdebat dulu dengan Eunbi untuk datang kesini malah terlihat sangat menikmati permainan ini. Kyuhyun bahkan tertawa karena berhasil mengalahkan Eunbi untuk ketiga kalinya.

“berhentilah tertawa” sentak Eunbi

 

Kyuhyun menghentikan tawanya. Sudah lama dia tidak bermain disini dan itu terasa sangat menyenangkan.

“kau mengajakku bertanding tapi permainanmu begitu payah. Aku bahkan tidak pernah melihat permainan sepayah itu”

“berhenti mengejekku. Apa soesangnim sering memainkan ini?”

Kyuhyun tampak pura-pura berfikir.

“ya. Tapi kurasa itu sudah lama”

“sudahlah kita main yang lain saja. Permainan balap mobil itu tidak seru”

 

“dasar payah” katanya begitu pelan seperti sedang bergumam.

Kyuhyun menyunggingkan senyumnya dan segera berjalan menyusul eunbi yang sudah menjauh darinya.

 

Kyuhyun dan Eunbi terlihat begitu menikmati setiap permainan yang ada, mereka seperti lupa berapa umur mereka. Kadang berteriak bersama atau tertawa bersama.  Mungkin tidak akan ada yang menyangka kalau pria yang sekarang sedang asyik memasukkan bola basket pada ringnya itu adalah seorang guru.

 

“ah. Aku lelah. Kita pergi saja dari sini” Eunbi merenggangkan kedua tangannya dia tidak tahu kalau bermain game bisa sangat melelahkan seperti ini.

“baiklah. Kita pulang saja aku akan mengantarmu ke asrama”

“pulang?”

“ini bahkan masih sore. Kita masih bisa menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk berkeliling”

“kau ingin menambah hukumanmu?”

“ke taman kota tidak masalah”

Bukannya menjawab Eunbi malah memberikan kyuhyun saran tempat yang harus dia kunjungi selanjutnya.  Baiklah, itu terdengar sebagai saran tapi lebih kepada sebuah permintaan.

 

“baiklah ayo”

Eunbi masih sibuk tersenyum tidak jelas saat kyuhyun sudah melenggang pergi di depannya.

**

Sore hari seperti ini taman kota penuh dengan orang-orang yang sengaja menikmati senja bersama orang-orang terdekat mereka. Lalu bagaimana dengan Eunbi. Kyuhyun dan Eunbi?

Nngg..untuk saat ini mereka dekat. Ya, hanya itu.

 

“soesangnim. Kau masih marah tentang tadi?” tanya Eunbi hati-hati.

Kyuhyun diam tidak menjawab. Membuat Eunbi menarik kesimpulan.

 

Rupanya dia masih kesal

 

“aku akan pergi dulu mencari minum.” Kata Eunbi dan gadis itu pergi setelah mengatakannya

 

Kyuhyun tidak tahu. Bagaimana bisa dia berada disini bersama Eunbi. Ya, kyuhyun masih sadar saat mengendari mobilnya kesini. Tapi dia tidak tahu bagaimana bisa dia menuruti Eunbi dengan begitu mudahnya untuk kesini. Dan dia diam saja saat gadis itu berpamitan untuk pergi. Rupanya otaknya sedang tidak berfungsi dengan baik, mungkin efek dari dia bermain terlalu lama tadi.

 

Eunbi sudah mendapatkan dua botol air minum. Dia tidak yakin kalau dengan ini dapat menghilangkan rasa kesal kyuhyun padanya. Tapi apa salahnya dicoba.

 

Langkah kakinya berhenti di lima meter di belakang kyuhyun.

 

“aku baru saja meninggalkannnya sebentar.” Kata Eunbi lebih kepada dirinya sendiri. Dia akui kalau kyuhyun itu tampan. Ya ampun. Apa dia baru saja menyebut kyuhyun tampan? Baiklah. Kyuhyun memang tampan tapi Eunbi tidak tahu kalau para wanita tidak akan membiarkannya mengganggur sedikit saja. Lihat saja sekarang, saat kyuhyun sudah dihampiri wanita berambut merah seperti nyala api, pakaian terbuka bahkan Eunbi bisa melihat warna bra wanita itu, bagaimana tidak. kalau dia memakai pakaian yang sangat tipis dengan bentuk punggung yang terbuka. Sebenarnya dia akan club malam atau taman kota? Atau gadis ini habis berkencan dan meninggalkan kekasihkanya karena melihat kyuhyun? Dasar wanita tidak tahu malu! Hey! Kenapa Eunbi jadi yang marah? Sudahlah. Yang pasti dia punya satu cara untuk mengusir gadis yang entah dari mana itu.

 

Kyuhyun mencoba menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Sialan! Dia bahkan sampai kesulitan mencari nomor telepon Eunbi. Kalau dia tidak ingat dengan siapa dia datang kesini maka kyuhyun sudah pergi dari tadi. Double sialan! Gadis yang duduk disebelahnya benar-benar menganggu. Awalnya kyuhyun pikir dia hanya seorang wanita yang menanyakan alamat tapi ya ampun. Sejak tadi wanita itu selalu mengganggu kyuhyun. Apa tidak ada satu hari saja dia bisa hidup tenang tanpa ada makhluk seperti ‘dia’.

 

“nona. Maaf aku harus pergi”

kyuhyun  sudah berdiri dan baru akan melangkah pergi saat wanita itu tiba-tiba merentangkan kedua tangannya di depan kyuhyun.

 

“setidaknya berikan aku nomor ponselmu” katanya memaksa

 

Kyuhyun menghembuskan nafasnya frustasi

“nona pergi dari hadapanku. Aku-“

 

“oppa. Maaf meninggalkamu lama”

Kalimat kyuhyun terpotong saat tiba-tiba tangannya di rangkul oleh seseorang. Dan oppa? Kegilaan gadis ini rupanya belum hilang.

“ini untukmu”

“tapi- dia siapa?” tanya Eunbi pura-pura tidak menyadari kehadiran wanita itu.

“kau tidak sedang mengganggunya kan? Ya ampun. Apa kau tidak bisa mengganggu orang lain saja. Dan berhentilah menatap kekasihku seperti itu atau akan kucongkel matamu”

“yak! Memangnya kau siapa melarangku menatapnya”

“aku? Aku KE KA SIH NYA. jadi pergilah dan goda pria lain saja ahjumma”

“ahjumma? Kau ingin mati?”

“memangnya aku harus memanggilmu apa. Kulitmu yang kusam, keriput di sekitar matamu. Oh atau aku harus memanggilmu halmonie?”

“ayo kita pergi sayang”

 

Eunbi menyeret kyuhyun pergi meninggalkan wanita tadi dengan kekesalannya yang tidak bisa dia tahan lagi. Astaga. Mungkin dia akan menghacurkan bumi dengan cara menghentakkan kakinya begitu keras seperti itu.

 

Kyuhyun terdiam. Memorinya memutar kejadian tadi berkali-kali seperti tidak bosan saat Eunbi mengatakan ‘aku kekasihnya’. Mungkin hari ini kerja otaknya memang sedang dalam masalah.

 

Eunbi berhenti dan tertawa.

“apa soesangnim tidak lihat bagaimana ekspresi wanita tadi. Dia pasti sangat kesal saat aku memanggilkan ahjumma. Astaga lagi-lagi aku hampir menangis karena tertawa.”

 

Merasa tidak ada respon. Eunbi terdiam dan melihat kyuhyun.

 Dia marah lagi?

“sekali lagi aku membuat wanita tidak penting seperti tadi pergi. Apa soesangnim marah karena aku berpura-pura sebagai kekasihmu? Soesanangnim marah karena aku menyebut soesangnim sebagai penyuka sesama jenis jadi tadi aku-“

 

Chup-

Kyuhyun mencium Eunbi begitu saja, menempelkan bibirnya pada bibir Eunbi membuat gadis itu menelan semua kata-katanya dengan mata membulat. Hanya beberapa detik bahkan Eunbi tidak sadar apa yang baru saja terjadi.

 

Astaga ciuman pertamaku

 

Kyuhyun berdehem untuk membasahi tenggorokkannya.

Apa yang baru saja aku lakukan?

“itu hanya sebagai bukti kalau akau masih suka dengan makhluk yang namanya wanita” kata kyuhyun kemudian setelah berhasil menguasai dirinya.

“ayo kita pulang”

 

Perlahan Eunbi menyentuh bibirnya. Pandangannya terasa masih kosong karena terkejut.

“apa yang barusan terjadi?” tanyanya kepada dirinya sendiri.

“apa yang dilakukan cho soesangnim barusan?”

Oh. Dia bisa gila!.

 

Tiba-tiba suasana canggung menjadi selimut diantara Eunbi dan kyuhyun. Gadis itu menyesal kenapa dia tidak naik bus saja dari pada terjebak satu mobil dengan kyuhyun. Tidak ada yang berucap atau kyuhyun hanya serius mengemudi dan Eunbi gadis itu bahkan masih menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba melompat tidak karuan. Haruskah dia segera mengunjungi rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan?

 

Mobil berhenti di sebuah bangunan sekolah saat Eunbi masih berselancar di dunianya sendiri sampai suara kyuhyun menyadarkannya.

“kau tidak turun?”

“turun?”

“ah iya. Iya aku akan turun” buru-buru Eunbi melepaskan seatbealt dan membuka pintu mobil dengan cara yang begitu cepat.

“terima kasih cho soesangnim” kata Eunbi setelah keluar dari mobil kyuhyun dan pria itu sudah menghidupkan mobilnya siap menancap gas. Kalau saja gadis itu tahu, kalau sebenarnya dia juga mati-matian menenangkan detak jantungnya dan pura-pura tenang padahal dia sampai merasa khawatir kalau gadis itu bisa mendengar detak jantungnya

TBC

AUTHOR’S NOTE: part ini panjang ya… tapi semoga kalian yang baca enggak bosen. dan author ingetin lagi bagi kalian yang baca untuk meninggalkan jejak. TERIMA KASIH 🙂

ditunggu next partnya ya 🙂

18 AGAIN [PART 4]

18 again

HAPPY READING

DON’T FORGET TO COMMENT

PART 4

Eunbi masih merasa tidak enak dengan kyuhyun setelah rumor itu tersebar. Dia hanya berfikir bahwa itu semua kesalahannya. Kalau saja dia tidak membahas masalah itu di ruang melukis kemarin mungkin tidak ada rumor seperti ini.

Dia berdecak dan meletakkan kuas ditangannya. Pikirannya membuat dia tidak bisa tenang untuk menyelesaikan lukisan ini, ditambah dengan masalah dengan na mi. Gadis itu masih saja menghindari Eunbi. Mungkin dia tidak memaki Eunbi tapi dia tahu kalau na mi benar-benar kecewa dan marah dengannya. Akan lebih baik kalau na mi mencaci makinya dan meneriakinya. Bagaimana sekarang dia harus bersikap pada na mi yang tinggal satu kamar dengannya, bertemu dengannya setiap hari. Rasanya hubungan ini jauh lebih buruk dari pada pertama kali eunbi bertemu dengan na mi.

 

Decitan pintu mengalihkan matanya ke pintu dan disanalah masuk orang yang dari tadi berkeliaran di kepalanya.

 

Kyuhyun melihat sekilas Eunbi yang duduk dengan celemek agar tidak mengotori seragam sekolahnya dari cat warna-warni yang dia pegang. Dia terus berjalan ke sudut ruangan, mengambil dokumen yang entah apa yang dia tinggalkan kemarin.  Setelah selesai dengan urusannya, kyuhyun ragu untuk keluar ruangan ini atau menghampiri Eunbi yang sepertinya punya sedikit masalah. Oh sialan! Kyuhyun tidak pernah merasa canggung seperti ini. Memangnya apa yang telah terjadi? Tidak ada bukan?

 

“apa ada masalah?” tanya kyuhyun setelah memutuskan untuk menghampiri eunbi.

Gadis itu sedikit tersentak.

“Ng.. aku hanya merasa ada yang kurang dari lukisanku dan aku masih memikirkan itu apa?” dustanya.

 

Kyuhyun melihat seksama lukisan yang hampir jadi di depannya. Cara eunbi melukis tampak sangat ahli dan dia tidak melihat ada yang salah kecuali-

“kurasa kau harus memberikan sedikit warna biru disini. Itu akan membantu mempertegas karakter bunga kecil ini”

Eunbi tampak berfikir sebentar sebelum kemudian dia mengangguk. Sepertinya saran kyuhyun cukup membantunya.

 

Kyuhyun masih belum pergi, memperhatikan bagaimana Eunbi menggoreskan cat berwarna biru seperti apa yang kyuhyun sarankan sebelumnya.

“kau tampak tidak asing dengan melukis” katanya basa-basi membuka percakapan. Ya Tuhan untuk apa kyuhyun melakukan hal ini! Ini tampak seperti bukan dirinya.

“aku pernah mengikuti les melukis sebelumnya. Tapi itu sudah lama.”

“tapi kenapa kau tidak bisa menyelesaikan tugas dengan baik”

“hah? Ap-apa?”

Eunbi menatap kyuhyun, dan gadis itu ingat tugas yang mana yang tidak bisa eunbi selesaikan dengan baik. Tugas perspektif. Haruskah dia bilang kalau itu karena dia masih sangat terkejut mengetahui fakta bahwa kyuhyun adalah guru kesenian dan akhirnya memilih bergosip dengan Yoojin tentang pria ini dan mengabaikan tugas perspektifnya. Tentu tidak bukan?.

“aku hanya sedikit kesulitan dengan garis-garis lurus dan sesuatu seperti itu”

 

KRING!…. KRING!……………..

Eunbi menghembuskan nafas leganya. Bel masuk itu benar-benar membantunya.

“soesangnim aku harus segera kembali ke kelas”

Dia buru-buru membereskan peralatannya dan menyimpannya.

**

Selama satu minggu ini hubungan Eunbi dengan Na mi masih belum membaik. Gadis itu jelas marah dengan semua kesalahpahaman ini, tapi apa yang bisa Eunbi lakukan sekarang? Dia bahkan bingung bagaimana mengambil keputusan dengan bijak untuk masalah ini. Membatalkan tes seleksi itu dan mengecewakan yoojin atau tetap mengikuti seleksi itu dan membuat Na mi semakin membencinya.

 

“Apa yang kau pikirkan? Kau bahkan belum memakan makananmu sama sekali” suara pria yang dipanggil Minho itu menyentak Eunbi dari lamunannya. Laki-laki itu memang sering menemani Eunbi makan siang di kantin, sebenarnya bukan menemani karena sudah ada yoojin yang selalu bersama Eunbi.

 

Eunbi menoleh menatap Minho yang duduk disampingnya. Bahkan sekarang yoojin juga ikut memperhatikan Eunbi.

“Tidak ada”

Eunbi pura-pura sibuk dengan makanannya. Meskipun dia tidak punya minat untuk memasukkannya ke dalam mulutnya.

 

Eunbi berhenti mengaduk makanannya saat tiba-tiba piringnya bergeser. Dia menoleh menatap Minho dengan penuh tanda tanya.

 

“makanlah makananku. kau sudah mengaduk-aduk makananmu dari tadi”

Ternyata minho menukar piring Eunbi dengan piringnya. Terkadang laki-laki itu menunjukkan perhatian yang sangat berlebihan kepada Eunbi seperti sekarang. Dan sialnya, Eunbi terlalu tidak peka dengan itu semua. Bahkan yoojin yang duduk didepan Eunbi harus mengginggit sendoknya sangking gemasnya dengan Eunbi yang terlalu cuek dengan minho. Kadang gadis itu ingin berteriak di depan muka Eunbi ‘Apa kau Bodoh?!’ seperti sekarang. Butuh waktu hampir dua tahun untuk yoojin bisa makan siang satu meja dengan minho, dan yoojin harus mengakui kalau itu terjadi karena Eunbi. Tapi gadis itu? Astaga! Yoojin bahkan sudah lelah untuk memberikan kultum tentang cho minho. Kalau mulut Yoojin bukan ciptaan Tuhan maka sudah rusak sejak gadis yang bernama Eunbi itu datang kesekolahnya dan mengabaikan Minho.

 

“aku belum memakannya. Jadi jangan khawatir” kata minho lagi, mencoba menebak pertanyaan yang ada dibalik tatapan mata Eunbi.

 

“aku bisa memakan punyaku”

Eunbi berusaha menarik piringnya kembali tapi Minho tentu lebih keras kepala untuk menukar piringnya dengan Eunbi. Tidak membiarkan gadis itu memakan makanan yang sudah tidak berbentuk karena ulah tangan cantik Eunbi.

 

“tidak. Makan saja punyaku” Minho bersikeras

“sudah kubilang aku bisa memakan punyaku”

“tidak!”

“Minho!”

\

“yak! Apa yang kalian lakukan?” yoojin geram sendiri menyaksikan mereka berdua. sepertinya dia melakukan kesalahan karena duduk diantara mereka seperti ini. Ya ampun! Kepalanya terasa akan pecah melihat pertengkaran tidak berguna ini. Bahkan hatinya juga ikut terluka  karena melihat minho yang begitu perhatian kepada sahabatnya itu.

“kalian tidak perlu makan. Jika tidak ingin makan!” putusnya.

Minho hanya memutar bola matanya malas. Tidak peduli dengan pendapat yoojin.

“sudahlah. Makan punyaku saja”

Setalah mengatakan itu, Minho pergi dengan membawa piring Eunbi. Membuat yoojin menghela nafasnya.

 

“aku tidak tahu kalau minho begitu keras kepala” eluhnya pada Eunbi.

“dan kau” yoojin menunjuk Eunbi dengan jari telunjuknya

“kau begitu bodoh karena mengabaikan minho. Apa kau tahu berapa murid perempuan disini yang patah hati karena itu?” tambahnya.

“bahkan aku harus menahan hatiku karena perhatian-perhatiannya padamu” katanya begitu mendramatisir bahkan menepuk-nepuk dadanya seperti ada yang mengganjal sistem pernafasannya.

 

“bukankah kau sudah punya kekasih? Kenapa masih mengincar minho?”

“yak! Itu beda!. Bisa berkencan dengan murid tertenar di sekolah seperti minho adalah sesuatu prestasi sendiri, kau tahu?”

 

Eunbi berdiri dan membawa piringnya.

“memangnya dia piala bergilir?. “

 

Yoojin mendengus kesal karena Eunbi juga meninggalkannya sendiri disini.

“akhirnya tidak ada yang makan diantara mereka. Dasar!”

Memangnya apa yang salah dengan perkataan yoojin barusan. Dia benar bukan kalau bisa dekat dengan choi minho yang tidak pernah menaruh perhatian berlebihan seperti itu pada murid perempuan disini adalah hal yang patut disyukuri. Bahkan yoojin rasa Kim Hayoung, primadona sekolah ini yang mati-matian mengejar Minho harus menggigit jarinya.

**

Eunbi membasuh tangannya dan menatap wajahnya di depan cermin setelah menutup kran. Eunbi menoleh saat suara beberapa pasang sepatu mendekat ke arahnya. Detik berikutnya Eunbi kembali sibuk membenarkan seragam sekolahnya lewat cermin toilet.

 

Kim Hayoung berdiri di samping Eunbi dengan dua pengikut setianya.

“kau murid baru itu kan?” tanyanya basa-basi

“iya” jawab Eunbi singkat.

“bagaimana rasanya dekat dengan minho?”

Eunbi menoleh menatap gadis yang sekarang juga sedang menghadap padanya seperti meminta penjelasan ‘ apa maksudmu?’

 

“aku hanya bertanya. Semua orang tahu kalau akhir-akhir ini minho mendekatimu”

“kita teman satu kelas” jawab eunbi tidak peduli dan berbalik hendak pergi tapi tangannya dicekal oleh kim hayoung. Eunbi tahu kalau gadis ini adalah primadona sekolah yang dekat dengan minho tapi apa urusannya dengan Eunbi?.

 

“kita belum selesai bicara hwang Eunbi” hayoung melepaskan tangganya dan menatap Eunbi dari atas sampai bawah, seperti sedang memindainya layaknya mesin scan.

“kau tidak begitu buruk meskipun tidak secantik aku”

Eunbi semakin mengerutkan keningnya tidak mengerti. Apa dia baru saja dihina?

“aku hanya ingin memperingatkanmu untuk menjauh dari minho. Kau mungkin sudah mendengar kalau aku adalah kekasih choi minho”

“lalu?”

Hayoung menepuk-nepuk pundak Eunbi, seperti meyingkirkan beberapa debu yang hinggap diseragam putihnya.

“kau tahu kecentilanmu terhadap minho sedikit menggangguku”

 

Apa? Kecentilan?

 

Eunbi menepis tangan hayoung sedikit kasar sedikit menyentaknya.

“kalau dia kekasihmu. Maka beritahu dia untuk tidak selalu mendekatiku. Kau mengerti?”

 

“ap-apa?” tiba-tiba hayoung menjadi tersedak oleh kalimatnya sendiri. Dan gadis yang baru saja menghancurkannya sudah berbalik hendak pergi. Tapi bukan hayoung namanya kalau tidak bisa menuntaskan hal ini. Tidak ada yang boleh dekat dengan minho selain dirinya. Itu kamus hidupnya.

 

Lagi-lagi Eunbi tidak bisa sampai pintu, karena lagi-lagi tangannya dicekal. Kali ini bukan hanya satu tangan tapi keduanya. Anak buah hayoung yang dari tadi setia menjadi penonton sudah berdiri di kanan dan kiri Eunbi, mencekeram kedua tangannya begitu kuat.

“yak! Apa yang kalian lakukan?” sentak Eunbi tidak terima

 

Hayoung mendekat.

“apa katamu tadi? Minho mendekatimu? Kau gila atau tidak waras? Gadis sepertimu memang terlalu percaya diri”

 

Eunbi menyeringai.

“kau menahanku karena tidak terima karena aku mengatakan kalau minho mendekatiku atau karena aku bilang ‘kalau dia kekasihmu’?”

 

Hayoung terdiam, lidahnya tiba-tiba keluh

 

“semua orang di sekolah ini tahu kalau kau yang mengejar-ngerjar minho. Dan semua orang juga tahu kalau hanya kau yang mengakui hubungan ini bukan minho”

“yak!”

“kenapa? Apa kau tidak terima? Bukankah semuanya benar?”

 

PLAK

 

Pipi Eunbi terlempar ke kanan karena tamparan hayoung.

 

“yak! Apa yang kau lakukan?!”

Eunbi hendak menampar gadis itu balik tapi sialnya tangannya ditahan oleh kedua pengikut setia hayoung.

 

“apa kau sudah sadar dengan siapa kau berhadapan?” hayoung mendekatkan wajahnya pada Eunbi, memberikan tatapan yang menurutnya menakutkan. Tapi bukan eunbi kalau dia tidak berani membalas tatapan anak SMA yang kurang ajar seperti Hayoung.

 

“seorang gadis bodoh yang berada di peringkat terakhir dan hanya mengandalkan tubuhnya yang tidak lebih bagus dari gadis diluaran sana” jawab Eunbi yang membuat hayoung semakin geram. Astaga! Ini adalah topik yang sangat sensitive untuk hayoung saat orang mengatakan kalau dia tidak punya otak, dan tidak lebih dari gadis yang tidak berguna.

 

Eunbi mungkin harus berterima kasih pada yoojin karena sudah memberikan informasi tentang peringkat gadis sok cantik di depannya ini.

 

Tangan hayoung mengepal, giginya bergemelutuk saling bergesekkan. Dan gadis itu berjalan ke sudut ruangan dan-

 

BYUR!!

 

Hayoung baru saja menyiram Eunbi dengan air kotor bekas mengepel yang berada di sudut toilet membuat seragam gadis itu basah kuyup.

 

“yak!” kali ini Eunbi benar-benar berteriak dan meratapi bajunya yang benar-benar basah dan bau.

 

“itu pelajaran untukmu agar kau lebih berhati-hati untuk berbicara”

“ayo kita pergi” kata hayoung pada dua teman setianya yang sedikit mengibas-ngibaskan lengannya yang sedikit basah karena ulah hayoung.

 

Hayoung berjalan pergi begitu angkuh tapi belum sampai tiga langkah gadis itu tertarik kebelakang. Tangannya memegangi tangan Eunbi yang menjambak rambutnya membuat dia mengadu kesakitan.

“yak! Apa yang kau lakukan?!” teriaknya kesal

“menurutmu apa yang aku lakukan? Memberi pelajaran gadis tidak berguna sepertimu” desis Eunbi

 

Eunbi semakin menarik rambut hayoung, bahkan dia merasa telah menarik beberapa helai rambut dari akarnya. Tapi siapa yang peduli dengan hal itu, bahkan Eunbi tidak peduli kalau gadis itu akan menjadi botak.

 

“yak! Kau gila!”

Kali ini hayoung ikut menarik rambut Eunbi membuat gadis itu ikut mengaduh kesakitan.

Kedua gadis yang bersama hayoung berusaha menarik tangan Eunbi dari rambut hayoung yang malah membuat Eunbi semakin menariknya.

“yak! Lepaskan gadis kecentilan!” teriak hayoung

“kau yang lepaskan! Gadis gila!”

Teriakan- teriakan itu membuat beberapa anak yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing berlari ke arah toilet dan menyaksikan tontonan yang tidak lebih seperti pertengkaran anak SD.

**

Minho berlari setelah yoojin menghampirinya dan mengatakan kalau Eunbi sedang bertengkar dengan hayoung di toilet.

 

“apa yang kau lakukan kim Hayoung?!” kata minho mengagetkan semua orang dan menyentak tangan hayoung kasar melepaskannya dari rambut Eunbi.

 

“kau tidak apa-apa?” tanya minho setelahnya pada Eunbi yang masih sibuk memegangi kepalanya dan menyisir sedikit rambutnya yang entah sudah berbentuk seperti apa.

 

“minho!” hayoung berteriak membuat minho berbalik dan menatap gadis itu.

“apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah mengkhawatirkan gadis itu?” adu hayoung.

“berhentilah mengacau kim hayoung!”

“aku? Kau menyalahkan aku? Aku hanya memberi pelajaran pada gadis yang sudah menggodamu ini” kata hayoung tidak mau kalah

“memangnya apa urusannya denganmu kalau dia menggodaku?”

“minho!” lagi-lagi hayoung berteriak tidak terima.

“kau bukan siapa-siapaku kim hayoung kita hanya berteman dan apa salah kalau aku juga berteman dengan Eunbi?”

Harga diri hayoung jatuh saat minho mengatakan kalau dia bukanlah siapa-siapa bagi laki-laki itu. Dan hebatnya lagi kalau semua murid yang mengerubungi mereka mendengar setiap kata yang dikatakan minho. Mungkin sebentar lagi dia akan jadi bahan gosip dari semua murid disini. Dan semua itu karena Eunbi.

 

“yak! Gadis kecentilan apa yang sudah kau lakukan pada minho?!”

“yak! Kau-“

 

“berhenti kalian!”

Eunbi urung membalas kalimat hayoung karena suara yang baru saja membuat semua orang yang tadi sibuk berkasak-kusuk diam seketika.

 

Kyuhyun berdiri di depan pintu toilet, dan melihat kedua muridnya yang terlihat begitu mengenaskan dengan tatanan rambut dan seragam yang sudah sangat berantakan.

**

Eunbi berdiri ketakutan di depan kyuhyun. Pria itu membawa Eunbi ke ruang guru dan memarahi dia dan hayoung habis-habisan. Dan hayoung gadis itu sudah dilepaskan kyuhyun setelah memberikan gadis itu hukuman, tapi kenapa Eunbi masih disini?

 

PLETAK

 

“auw!” Eunbi mengadu kesakitan dan memegangi keningnya yang baru saja kena sasaran kyuhyun.

“yak! Apa yang kau lakukan? Bertengkar di toilet demi laki-laki yang bernama minho?”

Kyuhyun duduk diatas mejanya dan mengamati Eunbi yang berdiri di depannya dengan kepala menunduk. Kadang kyuhyun sulit mengerti bagaimana murid perempuan jaman sekarang bertindak, bertengkar demi seorang pria yang bahkan tidak lebih tampan dari dirinya. Astaga cho kyuhyun! Tingkat kenarsisanmu sungguh luar biasa. Baiklah lupakan!

 

“Bahkan kau belum satu bulan disini dan kau sudah menciptakan keributan. Apa kau begitu senang dengan hukumanku?”

“aku hanya membela diriku. Gadis bernama hayoung itu yang memulai duluan” eunbi mencoba membela diri. Tapi sial!

 

PLETAK

“auwh” lagi-lagi Eunbi mengadu kesakitan karena ulah kyuhyun. Apa pria itu memiliki hobi menjitak muridnya. Kalau saja dia tahu betapa sakitnya itu mungkin dia akan segera memohon pengampunan Eunbi.

 

“aku tidak memintamu untuk menjawab” kata kyuhyun tegas.

 

Kyuhyun menghela nafas.

“bersihkan semua toilet seperti yang dilakukan hayoung.”

Eunbi tidak menjawab, terlalu malas hanya untuk mengatakan iya atau mungkin takut kalau keningnya akan jadi sasaran kyuhyun lagi.

“pergilah”

Eunbi menunduk memberi hormat dan siap pergi sebelum ada langkah kaki yang mendekat dan berdiri di sampingnya.

 

“soesangnim. Berikan hukuman juga padaku” kata minho membuat Eunbi urung untuk pergi.  Pria itu langsung melesat kesini setalah mendengar kalau hayoung dan Eunbi mendapat kan hukuman membersihkan toilet. Ya, minho tidak peduli dengan hukuman hayoung tapi eunbi? Minho tentu tahu kalau semua ini gara-garanya dan membuat Eunbi dalam masalah seperti ini.

 

Kyuhyun menatap minho, seperti sedang menilai murid laki-laki itu.

“kenapa aku harus memberimu hukuman?” tanya kyuhyun kemudian.

“semua masalah ini karenaku?”

Kyuhyun tersenyum meremehkan.

Apa dia akan bilang kalau dia baru saja menjadi rebutan gadis-gadis ini?

 

“benar. Semua ini terjadi karenamu”

“berikan saja hukuman Eunbi padaku” kata minho membuat mata Eunbi membulat.

Lagi-lagi kyuhyun tersenyum meremehkan. Bukan. Dia bukannya tidak menghargai niat baik minho. Tapi apa dia sedang shooting drama sekarang? Merelakan dirinya dihukum demi gadis ini? Ya ampun! Itu sungguh menggelikan.

 

“kalau begitu kenapa kau tidak ambil semua hukuman Eunbi dan hayoung? Bukankah itu semua karenamu?”

**

Akhirnya inilah yang terjadi, sepulang sekolah minho buru-buru melipat lengan bajunya dan membersihkan semua toilet. Laki-laki itu menjalankan semua hukuman Eunbi dan Hayoung.

“ah pegalnya”

“sudah kubilang tidak perlu. Kau masih saja memaksa” tiba-tiba Eunbi datang dari balik pintu dan membuat minho menyesal karena telah mengeluh. Habis sudah harga dirinya di depan Eunbi.

“aku tidak mungkin membiarkan kau dihukum”

Sebenarnya dia juga tidak yakin saat mengatakan pada cho soesangnim untuk memberikannya hukuman juga. Tapi dia harus bersikap gentleman bukan?

“minumlah!”  eunbi menyodorkan air mineral dingin padanya yang langsung diambil minho tanpa basa-basi.

“kau pasti merasa sedang diperebutkan olehku”

Minho berhenti meneguk air dan menatap Eunbi.

“memangnya kau tidak sedang merebutkanku dengan bertengkar dengan hayoung tadi?”

“eiyy. Aku menarik rambutnya karena dia menyiramku dengan air kotor. Apa kau pikir aku melakukan itu karena merebutkanmu?”

Minho menampilkan deretan giginya.

Kuharap seperti itu batinnya.

“terima kasih sudah mau menggantikan hukuman untukku”

“tidak masalah”

**

Eunbi masih memainkan kakinya yang dia masukkan ke dalam kolam renang. Tidak ada yang bisa dia lakukan seorang diri atau dia sudah bosan sendirian di dalam asrama dan akhirnya memilih untuk datang gedung sekolah, masuk ke dalam tempat ini malam-malam. Semua murid yang lain sudah pulang kerumah masing-masing karena besok adalah libur nasional, bahkan yoojin pun juga langsung pulang setelah kelas diakhiri.

 

Keheningan ini begitu kontras dengan pikiran Eunbi. Banyak masalah yang terjadi secara bersamaan akhir-akhir ini membuat dia kadang berfikir kalau sebuah kesalahan besar saat dia menuruti hatinya untuk kembali ke masa SMA. Tapi dari banyaknya masalah itu masalahnya dengan na mi yang sampai sekarang belum mempunyai penyelesaian. Dia ingin membatalkan ikut dalam seleksi itu tapi dia tahu kalau dia melakukan hal itu maka dia akan melukai yoojin yang sudah mendaftarkannya. Jadi pilihan apa yang harus Eunbi buat?

 

“apa yang kau laukan disini?”

Eunbi hampir melompat masuk ke dalam kolam renang karena terkejut. Apakah itu suara orang? Atau suara hantu penunggu kolam renang ini?

 

Semoga itu bukanlah hantu

 

Perlahan Eunbi menoleh. Kyuhyun sedikit mengerutkan keningnya karena melihat gadis itu tampak sangat lega saat melihat siapa yang datang.

 

Jangan bilang kalau dia berfikir aku…

 

“aku bukan hantu!” sentak kyuhyun

“omo! Apa soesangnim bisa membaca pikiranku?”

Sialan! Jadi benar kalau eunbi berfikir kyuhyun adalah hantu.

Kyuhyun memutar bola matanya malas.

“jadi apa yang kau lakukan disini malam-malam?”

“hanya ingin saja”

Di malam-malam begini seorang gadis duduk dipinggir kolam renang seorang diri dan dia bilang ‘hanya ingin saja’?

 

Awalnya kyuhyun hanya ingin memastikan orang yang dia lihat sewaktu melintasi kolam renang. Dan dia tidak menduga kalau orang itu adalah Eunbi. Murid baru yang sudah menciptakan kehebohan di sekolah karena bertengkar di toilet dengan primadona sekolah sekelas hayoung. Dan dapat dipastikan setelah itu kalau namanya akan banyak dibicarakan oleh murid-murid lain.

 

Eunbi terdiam saat kaki kyuhyun ikut masuk ke dalam kolam renang. Dia hanya bingung dengan sikap kyuhyun yang seperti ini. Eunbi pikir kyuhyun akan memaksanya berdiri dan menghukumnya membersihkan kolam renang. Mungkin.

 

“kenapa tidak pulang ke rumahmu?” tanya kyuhyun. Sebenarnya dia juga tidak yakin dengan pertanyaannya sendiri. Bahkan kyuhyun lupa kapan terakhir kali dia begitu peduli pada hal-hal kecil seperti ini, apalagi pada muridnya. Kyuhyun bahkan tidak menyadari sejak kapan dia tiba-tiba duduk dipinggir kolam dan ikut memasukkan kakinya ke dalam kolam. Hanya saja dia merasa Eunbi butuh teman untuk saat ini. Entah untuk apa.

“Ng..liburnya hanya satu hari. Dan kebetulan orang tuaku-“

Ayo berpikirlah lagi hwang Eunbi. Kemana orang tuamu?

“dan kebetulan orang tuaku sedang menjenguk bibiku di Busan. Jadi mereka tidak ada di rumah.”

 

Mereka sama-sama memainkan kaki mereka dalam air seolah pergerakan air itu jauh lebih menarik dari suasana seperti ini. Seharusnya kyuhyun sudah pergi dari tadi dan memaksa Eunbi untuk kembali ke asrama juga. Bersikap tegas seperti biasanya atau mungkin langsung menjintak dahi gadis itu seperti yang pernah dia lakukan. Tapi rasanya pergerakan air itu dan entah sesuatu seperti apa membuat kyuhyun enggan untuk beranjak. Sebenarnya ada apa dengan kyuhyun?

“soesangnim. Apa yang kau lakukan di sekolah malam-malam seperti ini?”

Akhirnya Eunbi membuka suara.

“aku meninggalkan ponselku di ruanganku. Jadi aku kembali lagi untuk mengambilnya.”

Eunbi mengangguk mengerti. Itulah kenapa tubuh kyuhyun tidak dibalut kemeja seperti biasanya, dia hanya mengenakan kaos dan celana kain berwarna hitam serta sweteer yang menghalanginya dari hembusan angin malam. Eunbi jadi berfikir kenapa kyuhyun tiba-tiba tidak bersikap kaku seperti biasanya karena setelan baju yang dia pakai? Baiklah itu tidak masuk akal.

 

“sepertinya aku banyak melupakan sesuatu akhir-akhir ini.” Lanjut kyuhyun.

Ya. Setelah melupakan dokumennya di ruang melukis, tadi dia melupakan ponselnya di ruang guru.

“apa soesangnim sudah setua itu untuk melupakan semuanya?”

“apa? Tua?”

Kyuhyun melempar tatapan tajam dan membunuhnya membuat eunbi kesulitan sendiri untuk mencari pasokan oksigen di sekitarnya.

“tidak. Maksudku. Bukankah orang pelupa indentik dengan orang tua?” katanya hati-hati.

“jadi maksudmu aku sudah tua begitu?”

Eunbi menggeleng. Tentu saja kyuhyun tidak tua. Bahkan nenek-nenek di pinggir jalan juga tahu hal itu. Eunbi hanya ingin sedikit mecairkan suasana dengan mengatakan hal itu. Dan dia lupa kalau yang dia ajak bicara adalah cho kyuhyun ‘seorang malaikat kegelapan’.

“tidak. Mungkin soesangnim hanya banyak pikiran seperti memikirkan tentang gosip itu?.” Elaknya

“apakah aku harus memikirkan tentang hal seperti itu?”

Lagi-lagi Eunbi menggeleng tidak setuju.

“omong-omong apa soesangnim sudah tahu siapa pelakunya?”

Kali ini kyuhyun yang menggeleng

“sudahlah. Tidak perlu memikirkan hal itu lagi.”

“aku pikir soesangnim akan mengejar orang itu sampai ketemu karena telah merusak imagemu”

“haruskah?” kyuhyun bertanya seperti mempertimbangkan kata-kata eunbi barusan

Eunbi mengangguk.

Mereka kembali diam. Seperti sibuk dengan pikiran dan pertimbangan mereka.

“soesangnim. Apa aku boleh bertanya sesuatu?”

Kyuhyun mengangguk “tentu. Apa?”

Beberapa detik eunbi hanya menatap kyuhyun, seperti mencoba mencari sebuah keyakinan untuk bertanya padanya.

“apakah soesangnim pernah dihadapkan pada dua pilihan yang sulit sekaligus?”

“pilihan seperti apa misalnya?” kyuhyun balik bertanya

“seperti-seperti-“ eunbi masih menimbang perumpamaan apa yang harus dia katakan pada kyuhyun, saat gendang telinganya menangkap suara kyuhyun.

“apa kau harus memilih antara dua laki-laki?”

“TIDAK” jawab Eunbi begitu cepat. Jelas sekali kalau eunbi tidak setuju dengan kyuhyun. Memilih antara dua laki-laki? Yang benar saja. Kalaupun iya, dia tidak akan mungkin memilih bercerita tentang itu dengan kyuhyun.

“lalu pilihan seperti apa yang sedang kau hadapi?”

Eunbi kembali terdiam dan ragu.

“katakan saja. Anggap kau sedang berbicara dengan kakakmu. Mungkin” kata kyuhyun memberikan sebuah keyakinan untuk eunbi bisa bercerita padanya.

“kakak? Yang benar saja”

“aku tidak setua itu untuk bilang anggap saja sedang berbicara dengan ayahmu”

Eunbi terkekeh. Dia tersenyum begitu lebar sampai matanya melengkung membuat bentuk seperti bulan sabit.

 

Sekarang kyuhyun yang terdiam karena senyuman Eunbi. Telinganya terasa mendadak tuli sampai dia tidak bisa mendengar apapun, hanya matanya yang berfungsi. Berfungsi begitu baik, merekam setiap lengkungan senyuman yang eunbi ciptakan. Begitu cantik. Batin kyuhyun.

 

Kesadaran kyuhyun kembali saat eunbi sudah kembali terdiam dan melihat jauh ke dasar kolam, dan kali ini kyuhyun yang tersenyum. Seperti sedang menertawakan kebodohannya barusan.

 

“apa soesangnim pernah memilih antara teman satunya dengan yang satunya?” kata eunbi setelah memutuskan untuk menceritakan semuanya pada kyuhyun dan tanpa perumpamaan. Ya, seperti apa yang pria itu katakan ‘anggap saja sebagai kakakmu’. Eunbi ingin mencoba itu, menceritakannya masalahnya seperti bercerita pada seorang kakak.

 

“teman seperti apa yang kau pilih? Apa kau harus melepaskan yang satunya untuk mempertahankan yang satunya lagi?” kyuhyun lagi-lagi balik bertanya pada Eunbi.

Eunbi mengangguk.

“yoojin mendaftarkan aku untuk ikut seleksi olimpiade matematika dan aku mungkin akan mengecewakan dia jika aku membatalkan olimpiade itu. Tapi disatu sisi aku sudah bilang pada na mi kalau aku tidak akan ikut olimpiade itu sebelum aku tahu yoojin mendaftarkan aku. Dia pasti sangat kecewa padaku sekarang” kata Eunbi lirih.

“mempertahankan sesuatu tidak harus melepaskan sesuatu yang lain. Pasti ada cara untuk membuat mereka melangkah bersama. Kau hanya perlu memikirkan jalan itu”

Eunbi lagi-lagi terdiam dan otaknya kembali berputar mencerna setiap kalimat kyuhyun. ‘mencari jalan itu’ apakah dia bisa memperbaiki hubungannya dengan na mi dengan tidak mengecewakan yoojin.

 

“jalan itu. Sepertinya aku punya jalan itu.” Kata eunbi besemangat.

“aku akan tetap mengikuti seleksi itu dan tidak mengecewakan yoojin tapi aku tidak akan mengerjakannya dengan benar agar na mi bisa mewakili sekolah kita”

Benar. Bagaimana dia tidak bisa memikirkan tentang jalan keluar seperti itu. Selama ini dia hanya berfikir untuk bagaimana menjelaskan pada na mi kalau bukan dirinya yang mendaftar untuk ikut seleksi itu.

 

Kyuhyun tersenyum yang beradu dengan senyum Eunbi yang lagi-lagi terlihat begitu indah. Dia tidak tahu apa yang berbeda dari senyuman itu. Hanya saja senyuman itu mempengaruhi kinerja jantungnya.

 

Tiba-tiba terdengar sesuatu dari arah pintu kolam renang.

 

Eunbi menoleh untuk memastikan sesuatu, tapi keadaan yang gelap membuat eunbi tidak tahu pasti siapa yang datang.

 

Jangan bilang kalau itu adalah satpam sekolah. Matilah aku!

 

Sekarang matanya melirik ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu. Seperti mencari jalan keluar dari masalahnya sekarang.

Peraturan sekolah yang tidak memperbolehkan muridnya berada di area sekolah lebih dari jam tujuh malam membuat eunbi kelimpungan. Hukuman apa lagi yang akan dia terima? Rasanya itu tidak lebih dari membersihkan toilet sekolah lebih dari satu minggu. Membayangkannya saja membuat Eunbi rasanya tidak sanggup untuk tidur nanti malam.

 

Berpikir. Berpikir. Carilah sesuatu atau apapun itu Hwang Eunbi!

 

“sepertinya itu satpam sekolah. Sebaiknya kita-“

Baru saja kyuhyun akan berdiri dan menyelesaikan kalimatnya tapi-

BYURRR….

 

Satpam sekolah? Oh itu tidak baik. Pikir Eunbi

Tanpa pikir panjang gadis itu segera masuk ke dalam kolam renang dan menarik asal tangan kyuhyun.

 

Semua begitu tiba-tiba sampai kyuhyun tidak sempat memejamkan matanya. Di dalam air matanya hanya bisa melihat eunbi yang dari tadi sudah memejamkan matanya. Rambutnya berterbangan sembarang di dalam air, sebagian rambutnya bahkan sebagian helaian rambut itu membelai wajah kyuhyun. Otaknya kembali memutar saat eunbi tersenyum tadi. Semua terasa indah sampai tangan kyuhyun kembali ditarik ke atas dan mengembalikan kesadarannya.

 

Pemandangan selanjutnya adalah eunbi yang masih terengah-engah karena pasokan udara di paru-parunya mulai menipis.

“kurasa satpam itu sudah pergi. Baguslah jadi kita tidak akan kena hukum karena berada disini dijam seperti ini”

 

Kyuhyun berdiri membuat eunbi menatapnya heran. Pria itu balik menatap eunbi dan berkacak pinggang.

“baguslah kalau sudah pergi dan kau membuat kita terkunci disini.”

“APA?”

 

Ya Tuhan apa yang ada dipikiran eunbi tadi? Dia begitu saja menarik kyuhyun masuk ke dalam air, menenggelamkan mereka berdua dan akhirnya membuat mereka terkunci disini. Eunbi sudah menyerah berteriak untuk memanggil satpam itu kembali tapi sialnya bahkan eunbi tidak tahu kemana orang itu pergi. Dan kyuhyun pria itu sedang sibuk dengan ponselnya. Sepertinya benda canggih itu sudah tidak berfungsi lagi karena masuk ke dalam air.

 

Eunbi menatap takut kyuhyun, memangnya siapa yang berani mendekatinya untuk saat ini?

“cho soesangnim” kata eunbi hati-hati

“mianhae” lanjut eunbi.

 

Kyuhyun menoleh saat mendengar sesuatu dari arah sampingnya. Pria itu menoleh melihat gadis yang baru saja membuatnya basah kuyup menunduk penuh takut.

“kau minta maaf untuk apa? Untuk membuatku basah kuyup atau membuatku terkunci disini?”

Kalimat itu begitu menusuk eunbi, dia telah membuat dua kesalahan sekaligus atau mungkin tiga?ditambah merusak ponsel kyuhyun.

 

“maaf untuk semuanya” eunbi masih berbicara tanpa melihat lawan bicaranya. Bagaimana dia bisa berani menganggkat kepalanya sekarang, mengeluarkan suaranya saja sudah sangat sulit untuk dia lakukan sekarang.

 

PLETAKKK

“auwhh” eunbi mengaduh kesakitan.

 

Jitakan dari kyuhyun itu membuat eunbi menatap wajah menakutkan di depannya, tanggannya sibuk mengusap jidatnya yang terasa seperti akan retak. Sepertinya hobi baru kyuhyun adalah menjitak dahinya.

“kau bodoh atau apa?” kyuhyun kehilangan kata-katanya. Dia terlalu bingung bagaimana mengatakan kalau eunbi begitu bodoh karena mengira dia akan dihukum karena berkeliaran disini malam-malam. Dan kebodohan lainnya adalah menarik kyuhyun begitu saja masuk ke dalam air membuat mereka berdua basah kuyup dan sekarang terperangkap disini. Hal yang paling bodoh dari semua kebodohan ini adalah, hey kyuhyun itu gurunya. Jadi apakah eunbi lupa siapa yang dia ajak tercebur dan terkunci disini? Bahkan mungkin satpam itu tadi akan berfikir dua kali untuk menghukum eunbi dan melaporkannya pada pihak sekolah karena nyatanya dia berada bersama anak pemilik sekolah ini.

 

Dari semua kebodohan itu mana yang paling bodoh?

 

Eunbi menggosok-gosokkan kedua tanggannya berusaha menciptakan sedikit rasa hangat untuk tubuhnya. Ini sudah malam, bajunya basah kuyup dia hanya berharap kalau besok dia tidak mati kedinginan di tempat ini. Mata eunbi melirik sedikit tempat disampingnya, melihat kyuhyun yang sudah tidak sibuk lagi mencoba menggunakan ponselnya. Pria itu sekarang hanya duduk tenang sambil melipat kedua tanggannya di depan dada.  Sejak tadi Eunbi memilih untuk diam, dia tahu betul kesalahan apa yang sudah dia lakukan.

 

Hatchi!

 

Kyuhyun menoleh, hidung Eunbi sudah memerah. Mungkin sebentar lagi dia juga akan terserang flu. Tidak ada satu barang pun di tempat ini yang berguna untuk memberikan kehangatan yang ada hanya air dan air. Kyuhyun harus apa? Membakar tempat ini? Baiklah lupakan! Sekarang sebaiknya dia mencoba memejamkan matanya saja, walaupun dia tidak yakin akan bisa tidur.

**

Dengan jarak sekitar satu meter mereka tertidur bersandar pada dinding dan beralaskan lantai yang dingin. Mata mereka mengerjap mendengar suara sedikit gaduh dari luar.

 

Pria setengah baya itu mendekati kyuhyun dan Eunbi. Awalnya dia tidak yakin ada orang disini apalagi dipagi buta seperti ini karena sekolah libur hari ini.

“soesangnim apa yang kalian lakukan disini?” tanyanya tampak tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dua orang manusia duduk meringkuk dengan hidung sama-sama memerah. Apa yang sudah terjadi?

 

Kyuhyun membuka matanya, sesaat dia lupa dimana dia tidur tadi malam. Ya ampun! Kolam renang. Buru-buru kyuhyun berdiri.

“apa yang kau lakukan tadi malam? Kau mengunci kami berdua disini!”

“tapi-tapi saya tidak melihat siapapun disini tadi malam.”

 

Kyuhyun memejamkan matanya sebentar sebelum menoleh pada Eunbi yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.

Jelas saja pria tua itu tidak tahu kyuhyun ada disini karena nyatanya gadis bodoh itu sudah menyeretnya masuk ke dalam kolam renang.

“sudahlah lupakan. “ kyuhyun mencoba berdamai. Dia hanya butuh segera pulang dan masuk ke dalam selimut tebalnya setelah meminum obat. Kepalanya rasanya begitu pening dan hidung yang tidak bisa berhenti untuk mengeluarkan cairannya.

 

Eunbi masih berdiri di tempatnya, hanya melihat punggung kyuhyun yang sudah berjalan menjauh. Apakah kebodohannya tadi malam masih tertinggal di otaknya?

 

“apa kau akan tetap disini?”

Eunbi menoleh. Tentu saja tidak. Dia tidak akan berlama-lama lagi disini. Punggungnya hampir patah karena tidur di tempat yang bukan semestinya, dan badannya sudah menggigil kedinginan sejak tadi malam.

“aku akan pergi. Terima kasih” setelah membungkuk sedikit untuk memberi hormat, eunbi langsung berjalan pergi.

**

Kyuhyun memeluk dirinya sendiri, langkah kakinya bahkan tidak bisa setegas dan selebar biasanya. Hidungnya benar-benar gatal dan memerah. Pelayan dirumah ini memperhatikan kyuhyun heran, mulai dari penjaga di depan rumah sampai pembantu rumah tangga.

 

Nyonya cho keluar dari dapur, melihat anaknya yang semalam tidak pulang kerumah dan sekarang pulang dalam keadaan yang sangat kacau.

“apa yang terjadi?” tanyanya penuh prihatin.

Kyuhyun hanya bergeming di tempatnya. Tenaganya rasanya sudah habis hanya untuk menjawab pertanyaan itu.

“kenapa bajumu basah? Apa diluar hujan?”

“anggap saja ada hujan lokal” jawab kyuhyun sekenanya. Dia kemudian segera berlalu masuk ke dalam kamarnya. Kyuhyun berbalik saat berada di tangga ke tiga

“Eomma buatkan aku teh hangat. Aku akan mandi dulu”

Nyonya cho hanya mengangguk. Dia tidak yakin dengan jawaban kyuhyun. Hujan lokal. Yang benar saja. Tapi terlihat jelas bahwa keadaan putranya sedang tidak baik. Siapapun pasti tahu kalau kyuhyun terserang flu dadakan.

Setelah mandi dengan air hangat kyuhyun buru-buru mengambil baju persediaan untuk musim dingin. Suhu tubuhnya bahkan hampir menyerupai es.

“dasar murid bodoh. Apa yang ada di dalam pikirannya?”

“tunggu saja. Dia pasti akan mendapat hukuman yang pantas”

“memangnya apa yang dia pikirkan? Apa dia ingin membunuhku hidup-hidup dan menjadikannya boneka salju. Yang benar saja.”

“aku menyesal menemaninya tadi malam. Kalau tahu begini aku sendiri yang akan menguncinya di kolam renang.”

 

Kyuhyun berdecak dan segera masuk kedalam selimutnya. Memikirkan tentang Eunbi membuat kepalanya semakin pening dan terasa akan pecah. Kemarin mungkin kyuhyun tidak punya kekuatan untuk memarahi gadis itu, tapi tidak dengan besok saat kesehatannya sudah membaik.

TBC

AUTHOR’S NOTE: semoga tidak mengecewakan ya part ini. dan lagi-lagi author ingatkan untuk meninggalkan jejak setelah membaca story ini. TERIMA KASIH 🙂

tunggu next partnya ya 🙂

18 AGAIN [PART 3]

18 again

HAPPY READING GUYS 🙂

===PART 3===

Eunbi menatap bingung pada ember dan alat pel yang berdiri di pojok toilet. Dia tidak tahu harus diapakan benda-benda itu untuk memulai hukumannya. Demi Tuhan! Eunbi tidak pernah menggosok kamar mandi, bahkan dia tidak pernah  memegang sapu apalagi mengepel. Jadi harus dimulai dari manakah dia bertindak?

 

Jari telunjuknya masih memegangi pelipis kanannya, Eunbi masih berfikir. Haruskah dia melakukan ini semua? Bagiamana caranya?

 

Kau harus bisa Hwang Eunbi!

 

Setelah menggulung lengan kemejanya sampai ke siku, eunbi mengambil alat pel dan sabun dari dalam kaleng. Dua benda itu sudah ada ditangannya, matanya menatap tangan kanannya yang memengang alat pel dan tangan kirinya yang memengang sabun bergantian.

 

“baiklah. Ayo kita lakukan!”

 

Eunbi menuangkan sabun itu secara merata pada semua sudut toilet. Dia akan mulai dari dalam bilik-bilik toilet yang berjajar rapi di depannya. Ini adalah pekerjaan yang menyebalkan untuk Eunbi. Sangat menyebalkan.

 

Dua bilik toilet sudah selesai tinggal satu lagi. Dan lengannya sudah terasa akan patah. Eunbi sudah bosan dengan ini, apalagi suasana yang sangat sepi. Sendirian di toilet sekolahan dan murid yang lain sudah kembali ke asrama, ditambah langit yang sudah akan tenggelam. Kenapa ini terdengar sedikit horror? Eunbi bukanlah penakut tapi sekarang dia sudah merinding. Jadi apa bedanya? Sudahlah! Sepertinya Eunbi harus sedikit membuat keributan.

**

Kelas sudah selesai sekitar 15 menit yang lalu. Dan hampir semua guru sudah pulang atau berencana makan malam bersama tapi kyuhyun, pria itu masih belum berniat untuk pulang. Ya, dia masih punya sedikit tanggung jawab di sore hari seperti ini. ‘Melihat muridnya yang mendapat hukuman’

 

Suara nyanyian yang jauh dari kata merdu itu semakin mendekat seiring kyuhyun yang berjalan maju. Kyuhyun berdecak kesal, menyumpahi siapa saja yang baru saja mengeluarkan polusi suara itu.

 

Kyuhyun mematung di ambang pintu, mulutnya sedikit menganga. Eunbi masih saja bernyanyi dengan nada sumbangnya dan tarian aneh seperti rumput laut, membelakangi kyuhyun. Dalam beberapa detik kyuhyun masih diam, tidak bersuara. Otaknya berfikir apa seseru itu hukuman yang dia berikan atau gadis ini perlu rujukan rumah sakit jiwa?. Dan kyuhyun memilih gadis ini perlu rujukan rumah sakit jiwa.

“Hentikan suara cemprengmu itu murid baru!” kyuhyun berteriak

 

Eunbi berjingkat kaget dan membalik tubuhnya. Matanya tampak berkedip berkali-kali dengan mulut yang terbuka. Mukanya memerah karena malu lebih malu pada saat dia terjatuh di depan umum karena sepatu hak tingginya.

 

“dan hentikan tampang terkejutmu itu!”

Kyuhyun kembali bersuara, membuat kesadaran Eunbi kembali 100 % dari keterkejutannya. Eunbi berdehem sebentar untuk menormalkan suaranya yang terasa tercekat di tenggorokan.

“saya sedang melaksanakan hukumannya” ujar Eunbi dan pura-pura tidak peduli tentang kebodohannya. Meskipun gadis itu berharap lantai toilet ini menariknya ke dalam, menghilang dari hadapan cho kyuhyun. Eunbi malu. Tentu saja. Bahkan dia tidak bisa hanya membayangkan bagaimana konyolnya dirinya tadi.

 

“aku tahu. Dan kau tampak sangat menikmatinya” kata kyuhyun sedikit menyindir. Sebenarnya tidak masalah jika Eunbi sesenang itu dengan hukumannya, itu tidak penting untuk cho kyuhyun. Dia hanya sedikit terkejut atau sangat terkejut. Bernyanyi dengan suara yang jauh dari kata merdu dan berjoget seperti gadis perawan yang kesetanan, kyuhyun harus menyebut kegilaan seperti apa ini? Yang jelas itu kelakuan tadi begitu memalukan untuk kyuhyun.

 

“iya” kata Eunbi lirih sambil menuduk memejamkan matanya.

**

Sudah seminggu ini sejak kejadian yang memalukan itu, Eunbi sedikit menghidari bertatap muka dengan kyuhyun. Ya, meskipun dia tidak 100% berhasil karena tentu Eunbi tidak bisa menghindari pelajaran Cho kyuhyun. Sebenarnya cho kyuhyun tidak pernah mengungkit tentang kejadian memalukan itu, mungkin itu bukanlah apa-apa untuk kyuhyun tapi untuk Eunbi?. Dia bahkan masih tidak bisa tidur karena memikirkan hal gila itu. Baiklah, mungkin Eunbi sedikit berlebihan. Tapi dia adalah orang yang sangat sulit menghilangkan kejadian-kejadian buruk dalam hidupnya sampai membuatnya terus memikirkannya.

 

Hari ini hari minggu, Eunbi nampak kebingungan untuk memilih antara dress selutut atau celana jeans dengan kaos. Hari ini Yoojin mengajaknya untuk ke luar, dan jangan ditanya bagaimana senangnya Eunbi. Gadis itu bahkan sudah mandi sejak beberapa jam lalu, mengumpulkan semua baju-bajunya tapi sampai sekarang dia hanya mencoba ini dan itu. Ini bukan kencan!. Tentu saja. Dan Eunbi tidak perlu serepot ini bukan? Tapi gadis itu terlalu senang karena satu dari berjuta keinginannya akan terwujud ‘hang out bersama teman sekolah’. Terdengar kekanakan bukan?

 

Akhirnya Eunbi memilih memakai celana jeans yang dipadukan dengan sepatu berwarna putih.

 

Dari sekian banyaknya tempat yang ada di Seoul, Yoojin memilih mengajak Eunbi ke mall. Mata mereka berdua mengedar, Yoojin tampak semangat memperhatikan semua baju, tas, sepatu yang tertata apik di dalam outlet-outlet.

 

“uwahh, ini cantik sekali” Yoojin mengangkat tas selempang berwarna pink, dia berjingkrak semangat tapi detik kemudian mata Yoojin meredup. Menyadari perubahan mimik muka temannya itu, gadis yang dari tadi hanya mengikuti langkah Yoojin membuka suaranya.

“ada apa?”

“ini terlalu mahal” kata Yoojin lemas dan pergi melewati Eunbi, mungkin dia akan mencari tas yang lebih cocok untuk kantongnya.

 

Tangan Eunbi menarik price tag

Mata Eunbi menatap Yoojin dan price tag itu bergantian.

‘apa ini terlalu mahal? Bahkan ini tidak ada seperempat dari harga tasku’

Mungkin Eunbi sedikit terheran, ya lebih tepatnya dia tidak merasa kalau harga tas yang diinginkan Yoojin itu mahal. Bahkan mungkin Eunbi sanggup membeli selusin tas seperti ini. Tas itu bukanlah tas keluaran Valentino atau Gucci yang biasa Eunbi pakai.

“apa kau juga menginginkannya?”

Eunbi menoleh.

“Tidak” katanya sambil meletakkan tas pink itu kembali.

“Tunggu!”

“Kau memakai tas dari Gucci? Kenapa aku baru menyadarinya?”

Eunbi menggingit pipi bagian dalamnya. Ahh, dia tidak pernah berfikir jika dia telah salah membawa tas kesayangannya itu sekarang.

“ini Imitasi” kata Eunbi menyakinkan dan Yoojin melepas tangannya dari tas yang dipakai Eunbi.

“ini terlihat seperti asli”

“hahahaha” eunbi tertawa sumbang

“apa kau tidak tahu kehebatan barang-barang imitasi sekarang?”

Yoojin mengangguk.

“benar, bahkan aku tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.”

Eunbi tersenyum. Setidaknya gadis ini percaya dengan kebohongan yang kembali Eunbi ciptakan. Mungkin setelah ini Eunbi harus mengikuti casting drama karena acting nya.

“lagipula aku yakin toko ayam goreng keluargamu tidak bisa membeli tas mewah itu”

Karena inilah, Eunbi tidak bisa mengatakan ‘woy tas ini memang asli. Apa kau bercanda?’. Tentu dia tidak akan bertindak bodoh untuk mengatakan hal itu dan membuka penyamarannya. Memberitahu bahwa dia adalah anak tunggal pemilik perusahan elektronik besar di Korea Selatan.

**

Yoojin baru saja menerima pesan dari kekasihnya, sepertinya mereka memang sudah berjanji untuk bertemu hari ini. Eunbi sedikit kecewa karena yoojin tidak memberitahunya dari tadi tapi bukankah yoojin juga punya kehidupan pribadi yang harus dia lakukan sendiri.

 

setidaknya aku bisa berjalan-jalan sendiri pikir Eunbi

 

Seingatnya Eunbi tidak pernah berjalan kaki sendiri menyusuri deretan toko-toko yang berjejer rapi disepanjang pinggir jalan. Dia hanya akan terus dibuntuti oleh beberapa orang berjas hitam yang siap mengantarnya kemana saja, dan mengikutinya kemana saja, tentunya.

 

Kyuhyun masuk dengan malas, mendorong pintu kaca itu. Matanya mencari, wanita yang baru saja menghubunginya. Teman kencan butanya. Kencan buta di siang bolong? Tentu saja bukan. Kyuhyun terpaksa mengiyakan wanita yang selalu mengiriminya pesan dan menghubunginya dua hari terakhir ini. Dan kyuhyun masih punya sopan santun untuk tidak segera meneriaki wanita itu ‘aku tidak suka denganmu jadi pergilah! di hari pertama mereka bertemu. Kalau bukan karena ibunya memaksa kyuhyun melakukan kencan buta dengan anak temannya dua hari yang lalu, kyuhyun tidak sudi datang ke coffee shop menemui wanita itu yang pasti akan sangat membosankan nantinya.

 

Wanita cantik yang terlihat seumuran dengan kyuhyun melambai pada pria itu. Dia terlihat cantik dan elegan dengan gayanya. Choi Minah, gadis itu adalah salah satu anak pemilik pabrik kertas. Dan sejak dia mengenal kyuhyun atau mungkin bertemu dengannya sejak dua hari yang lalu akibat kencan buta yang diatur oleh ibunya dan ibu kyuhyun, sangat jelas bahwa dia sudah menaruh hati pada kyuhyun.

 

Kyuhyun tersenyum yang jelas dia paksakan, menarik ujung-ujung bibirnya dengan tarikan yang begitu kaku.

“oppa. Terima kasih sudah mau datang. Aku pasti sudah menganggu waktu istirahatmu” katanya manja dengan suara yang terdengar begitu menjijikkan untuk kyuhyun. Terlalu dibuat-buat dan kyuhyun tidak suka itu.

 

Tentu saja kau menganggu hari mingguku Choi Minah batin kyuhyun

 

Biasanya teman kencan buta kyuhyun akan pergi menjauh setidaknya setelah satu hari bertemu kyuhyun, karena ya siapa yang tahan dengan sikap kyuhyun. Bahkan saat para wanita-wanita itu mengirimkan pesan kepadanya tidak ada satupun yang kyuhyun balas. Bukan karena dia tidak punya waktu, tapi karena dia tidak suka dengan wanita-wanita itu. Jangan katakan kalau kyuhyun  gay? Tentu saja bukan, hanya saja kyuhyun tidak suka untuk berbasa basi, itu adalah karakter kyuhyun. Kalau dia tidak suka, apapun yang terjadi dia akan tetap tidak suka. Tapi wanita ini, Choi Minah. Dia benar-benar tidak pernah sedikit pun terganggu dengan sikap dingin Cho kyuhyun dan dengan mulutnya yang terlampau ember itu, dia memanfaatkan ibunya untuk membujuk kyuhyun menemui wanita itu sekarang.

Baiklah, kyuhyun akan menyelesaikan masalah ini sekarang.

“ada yang ingin aku katakan Minah shi” kata kyuhyun memulai

“benarkah? Apa itu?”

“maafkan aku. Tapi kita tidak bisa bertemu lagi, maksudku kekasihku sedikit terganggu dengan pesan yang selalu kau kirimkan kepadaku setiap 5 menit sekali”

 

Kekasih? Kebohongan yang bagus Cho kyuhyun.

 

“kekasih? Aku pikir oppa tidak punya kekasih karena menyetujui kencan buta itu” Minah sedikit memelas dan tampak bingung. Wajahnya yang tadi terlihat sangat berseri tiba-tiba meredup. Wah, rasanya harga dirinya benar diinjak oleh Cho kyuhyun.

“Eomma memaksaku”

Choi minah menghela nafasnya. Dia sudah merendahkan harga dirinya untuk menghubungi kyuhyun setiap hari yang bahkan tidak ada satupun pesan dibalas dan sekarang dia terang-terangan menolaknya.

“apa kau sedang mempermainkanku?” tanyanya geram

“tentu saja tidak. Tapi maafkan aku”

Cho kyuhyun memang pria yang sangat tidak peka dan mungkin sedikit kejam. minah yang berada di depannya tampak marah, dan sedih disaat yang bersamaan.

“kau tidak sedang berbohongkan oppa?”

“tidak”

“lalu siapa kekasihmu?”

 

Wanita ini!

Mungkin kepalanya lebih keras dari batu, pikir kyuhyun.

 

Harga diri Choi Minah sudah hilang sejak pertama kali bertemu kyuhyun. Dan itu sudah terlanjur hilang, jadi biarlah harga dirinya semakin diinjak oleh kyuhyun. Tentu minah tidak sebodoh itu untuk percaya bahwa pria yang masih diam ditempatnya itu sudah memiliki kekasih. Sejak mereka bertemu Minah sudah bertekad untuk merebut perhatian kyuhyun, dan itu tidak berubah sampai sekarang meskipun dengan harga diri yang dia letakkan di bawah kaki kyuhyun.

**

Eunbi mengerutkan dahinya saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Tepat saat dia baru saja menurunkan novel yang baru saja dia baca, matanya menangkap pria yang tampak casual dengan kaos dan celana jeans di depan mejanya. Mungkin tampilannya sedikit berbeda dari biasanya tapi eunbi bisa tahu dengan pasti siapa pria itu. Kyuhyun.

 

Jadi cho kyuhyun sedang berkencan

 

Ya, setelah dia memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri Eunbi memilih tempat ini untuk menikmati secangkir kopi dan membaca novel.

 

Eunbi cepat-cepat menunduk menyembunyikan wajahnya dibalik novel, dia tidak ingin dikatakan sedang mengintip cho kyuhyun yang sedang terang-terangan berkencan dan nantinya akan dihukum lagi membersihkan kamar mandi sekolah. Dan demi apapun itu benar-benar menjengkelkan!.

 

Dari sini, eunbi bisa mendengar dengan jelas apa saja yang mereka bicarakan. Dan eunbi baru tahu kalau wanita itu terlalu agressif untuk mendekati gurunya. Dan kyuhyun. Dia begitu kasar untuk menolak seorang wanita. Eunbi terkikik geli dari balik novelnya mendengar bagaimana wanita itu terus memaksa kyuhyun untuk mengatakan siapa kekasihnya. Eunbi berani bertaruh kalau kyuhyun tidak punya kekasih sekarang. Lihatlah, bahkan kyuhyun tidak bisa menjawab siapa nama gadis itu.

 

BYURRR

Kyuhyun berjingkat kaget mengusap wajahnya dengan telapak tangannya asal hanya untuk sedikit mengurangi basah di wajahnya. Ya, pria itu baru saja mendapat satu gelas americano di wajahnya membuat kemeja bagian atasnya ikut basah. Kyuhyun menggeram kesal.

 

“kau menolak wanita yang salah cho kyuhyun.” Habis sudah kesabaran gadis itu. Dia sudah menahan kemarahannya sejak pertama kali bertemu kyuhyun, dan tidak memikirkan semua yang pria itu lakukan. Tapi rasanya hari ini minah harus menyerah dan segera mengambil kembali harga dirinya yang baru saja dia letakkan di bawah kaki kyuhyun.

 

“dan kurasa kau harus memeriksakan dirimu, sepertinya kau gay!” lanjutnya

 

Baru saja kyuhyun akan berteriak di depan wanita itu, memakinya dengan sumpah serapah karena telah menjadikannya pusat perhatian coffee shop dengan menyiramnya dan mengakatan kalau dia gay. Hei. Apakah pria setampan cho kyuhyun adalah seorang gay?. Perhatian kyuhyun teralihkan pada wanita yang terkikik di balik novel, membiarkan wanita lain yang baru saja menghinanya berlalu begitu saja.

 

“apa kau akan terus tertawa disitu?!”

 

Eunbi kesusahan menelan ludahnya sendiri, seperti pasokan oksigen disekitarnya ikut menipis. Tanpa perlu menatap siapa yang berbicara eunbi sudah tahu siapa yang baru saja mengeluarkan suaranya. Malaikat kegelapan.

 

Kyuhyun memang sudah lama mengetahui eunbi dari tadi, membiarkan eunbi terkikik geli dibalik novel karena pembicaran kyuhyun dengan minah tadi. Dan  sekarang dia sudah berdiri disamping kursi eunbi, menantikannya membuang novel yang pura-pura dia baca. Kyuhyun yakin seratus persen kalau novel itu hanya alibinya saja. Baiklah, apakah novel itu lebih menarik dari tontonan barusan? Tidak. Itulah pikiran Eunbi.

 

“oh! Soesangnim. Anda disini” kata Eunbi pura-pura terkejut setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya.

Kyuhyun melipat tangannya di depan dada tidak puas dengan jawaban Eunbi.

“dan kurasa kau sudah tahu keberadaanku dari tadi”

SKAK MAT!!!

“ti-tidak. Aku baru saja tahu kalau soesangnim juga disini” sial! Kenapa rasanya berbohong itu sangat susah. Bahkan suara Eunbi terdengar begitu gugup dan takut.

“sudah berapa kali aku bilang kau tidak pintar berbohong nona Hwang” kata kyuhyun menekankan kalimatnya pada marga wanita itu. Kyuhyun menundukkan kepalanya mensejajarkannya dengan wajah Eunbi membuat wanita itu mundur beberapa centi meter.

 

Beberapa detik Eunbi bahkan tidak sanggup hanya untuk menarik nafas sangking takutnya. Tapi tidak. Ini tidak benar. Eunbi harus mengumpulkan keberaniannya.

 

“baiklah. Aku memang mendengar semuanya. Tentang ‘aku sudah mempunyai kekasih, kau tidak perlu menghubungiku lagi dan kau harus memeriksakan dirimu karena kurasa kau adalah gay’. Ya, aku mendengar semuanya.” Bagus Hwang Eunbi kau baru saja memancing singa dari kandangnya. Mendapat tatapan yang begitu mengintimidasinya sampai membuat bulu-bulu halus kulitnya berdiri. Eunbi segera berdiri setelah berdehem untuk membasahi tenggorokannya dan mengumpulkan kekuatan lebih tentunya.

“maaf. Saya harus pergi” katanya buru-buru dan menunduk. Eunbi berharap jika sekarang ada alien yang membawanya pergi keluar angkasa dan tidak kembali. Andai itu ada.

 

Untuk kedua kalinya dia mematung di tempat dengan menahan amarahnya. Tanggannya mengepal, jujur dia bukan tipe pria yang bisa menyembunyikan kemarahannya walaupun dengan seorang wanita. Dan untuk kedua kalinya lagi dia membiarkan wanita yang baru menghinanya berlalu begitu saja dari hadapannya. Sungguh ajaib. Tidak selang 5 menit kyuhyun sudah mendapat penghinaan dari dua orang wanita sekaligus Dan wanita yang kedua adalah muridnya. Sialan! Dia harus benar-benar mendisiplinkan muridnya itu besok.

 

Eunbi keluar dengan memegangi dadanya, sepertinya jantungnya bisa melompat dari tempatnya sewaktu-waktu.  Berkali-kali dia merutuki kebodohannya karena mengatakan semuanya pada kyuhyun. Entah dia yang begitu polos atau dia yang begitu bodoh sampai tidak bisa berbohong dan mengatakan ‘aku tidak mendengar apapun soesangnim’

“bodoh bodoh bodoh!” dia terus saja merutuk sambil memukul-mukul kepalanya.

“baiklah. Lupakan hwang Eunbi.tunggu saja besok hukuman apa yang akan dia berikan padamu”

Belum selesai mulutnya menyemangati dirinya sendiri tapi otaknya menolak mentah-mentah dan mengingat hukuman kyuhyun terakhir kali. Jadi hukuman apa yang lebih berat dari membersihkan kamar mandi?

**

Hatinya masih dalam suasana yang buruk, keluar dari coffee shop sambil merutuk. Berjalan lurus begitu saja ketempat dia memarkirkan mobilnya di depan coffee shop tidak mempedulikan eunbi yang masih berdiri di depan toko. Atau mungkin kyuhyun tidak menyadari kehadiran wanita itu. Ayolah! Melihat Eunbi sekarang akan benar-benar menyulut api di dalam dirinya.

 

Eunbi masih menyumpahi dirinya sendiri karena begitu bodoh. Tapi satu detik kemudian dia terlihat panik, melihat wanita paruh baya berjalan ke arahnya.

 

“jung ahjumma?!”

“bagaimana ini? Bagaimana ini?”

 

Wanita paruh baya itu adalah tetangga Eunbi. Dia memang bukan tipe orang yang dekat dengan semua tetangganya tapi jung ahjumma?. Wanita paruh baya itu sering datang kerumahnya memberikannya beberapa masakan dan membiarkan eunbi bermain dengan anjing-anjingnya.

 

Dia panik sendiri ditempatnya mencoba mencari jalan keluar. Sungguh jika wanita tua itu bertemu dengannya maka tamatlah rencana indah yang dia bangun. Eunbi tidak yakin kalau dia bisa membujuk wanita itu untuk tidak mengatakan kepada keluarganya terlebih ayahya. Ayolah cari cara Hwang Eunbi!. Tentu saja ada cara.

 

Eunbi berlari, membuka pintu mobil dengan serampangan dan tidak mempedulikan kalau mobil itu bisa rusak kapan saja. Dan dia juga tidak peduli kalau sebentar lagi akan diteriaki maling.

 

Tangan kyuhyun hendak membuka pintu kemudinya, tapi dia kalah cepat dengan tangan seseorang yang dengan kasar langsung melesat masuk ke dalam mobilnya. Untung saja pintu mobil itu tidak mengenai kyuhyun. Kyuhyun mendengus kesal. Entah hari ini ada tsunami atau puting beliung yang jelas hidupnya benar-benar kacau hari ini.

 

Kyuhyun membuka pintu mobil itu lalu menyandarkan sebelah tangannya pada badan mobil.

“apa yang sedang kau lakukan?” kata kyuhyun datar dan penuh penekanan  disetiap katanya. Kepalanya masuk kedalam mobil melihat lebih jelas orang yang kurang ajar masuk sembarangan kedalam mobilnya.

 

Eunbi masih menunduk menyembunyikan kepalanya.

“kenapa ahjumma itu bisa ada disini?” tanyanya lirih entah kepada siapa.

 

“keluar!”

 

Eunbi tersentak saat ada yang memegangi lengan tangan kanannya atau lebih tepatnya mencekeram lengannya. Oh ya ampun! Dari tadi eunbi tidak mempedulikan pertanyaan kyuhyun dan asyik berputar dengan pikirannya sendiri. Bahkan eunbi tidak sempat berfikir tentang kemarahan kyuhyun sewaktu masuk ke dalam mobil hitam ini. Yang dia pikirkan saat melihat punggung kyuhyun adalah bagaimana caranya dia bisa menghindar dari ahjummah itu.

 

“sebentar. Sebentar. Tolong aku sebentar saja” katanya memelas.

Kyuhyun menarik kembali pergelangan tangan eunbi.

 

Apa dia bilang? Sebentar? Yang benar saja. Batin kyuhyun

 

“soe-soesangnim”

Eunbi hampir terhuyung jatuh karena tarikan kyuhyun yang begitu kuat.

 

“menyingkir dariku”

Kyuhyun melepaskan gengamannya kasar dan segera masuk kedalam mobilnya.

 

“tung-“

Eunbi menelan kembali kalimatnya. Mobil itu sudah melaju meninggalkannya.

 

Bagus. Eunbi sudah seperti wanita yang baru saja dibuang prianya dipinggir jalan.

“dasar pria kasar. Apa dia tidak bisa bersikap lembut kepada wanita?” mulut eunbi masih sibuk mengomel  dan menyumpahi kyuhyun yang sekarang bahkan sudah tidak terlihat dalam radius 500 meter membuat dia melupakan sesuatu,

 

“ah! Ahjumma itu”

Mata eunbi mengedar dan setelah itu dia dapat bernafas lega. Setidaknya wanita paruh baya itu sudah tidak terlihat.

**

Sudah lama eunbi tidak berkutat dengan kanvas dan cat seperti ini. Dulu hal seperti ini sudah menjadi rutinitasnya setiap hari, tapi sejak masuk kuliah dia sedikit melupakan salah satu hobinya ini.

Ini sudah minggu kedua eunbi bergabung di kelas melukis, dan selama itu eunbi selalu bersemangat untuk menyelesaikan lukisannya. Bahkan eunbi sering datang kesini di jam istirahat mengabaikan yoojin yang sering mengajaknya makan siang atau bergosip.

 

Kyuhyun membuka pintu di depannya membuat suara decitan dari benda itu. Beberapa pasang mata menatapnya tapi beberapa lagi masih asyik dengan fokusnya masing-masing. Sepertinya mereka terlalu asyik dengan dunia mereka dan tidak menyadari kehadiaran orang baru di tengah-tengah mereka, bahkan suara decitan pintu barusan tidak bisa menyadarkan mereka. Dalam ruangan yang lumayan luas ini hanya diisi oleh 10 orang dan beberapa sudut dipenuhi dengan kanvas dan bekas-bekas cat yang sudah mengering.

“selamat siang” katanya mencoba menyadarkan beberapa orang dengan suaranya yang berat.

 

Eunbi berhenti. Tangannya tiba-tiba menjadi kaku. Telinganya sepertinya mendengar sesuatu yang salah, seperti suara kyuhyun. Ya ampun! Apa karena dia masih tidak bisa melupakan kejadian memalukan tempo hari sampai bisa mendengar suara kyuhyun disini? Tidak-tidak. Mungkin dia hanya salah dengar.

 

“baiklah. Aku disini menggantikan Choi soesangnim yang cuti untuk beberapa minggu”

 

Tidak. Apa dia akan salah dengar lagi sekarang? Ini sudah dua kali dia mendengar suara kyuhyun dalam satu menit ini.

 

Eunbi mengangkat kepalanya. Dan detik itu juga dia menyesali keputusannya karena sekarang matanya sudah membulat dan sulit berkedip melihat sosok pria yang dia kira hanya halusinasi berdiri di depan. Mata kyuhyun kembali bertemu dengan mata eunbi dan menguncinya. Entah apa arti dari tatapan itu, tapi eunbi bahkan lebih kesulitan lagi untuk berkedip dan memutuskan kontak mata mereka.

 

Semua orang kembali fokus pada karya mereka setelah kyuhyun menyelesaikan perkenalan singkat tadi. Tapi tidak dengan eunbi, gadis itu masih mematung ditempatnya. Semangatnya yang tadi begitu menggebu-gebu tiba-tiba menghilang dibawa oleh angin. Sepertinya untuk hari ini dia tidak dapat menghindar dari kyuhyun, jika dua hari yang lalu saat pelajaran kyuhyun dia berani tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Maka hari ini, kesialannya akan benar-benar datang. Dan eunbi harus menyiapkan dirinya untuk mendapat hukuman karena kejadian coffee shop tiga hari yang lalu.

 

“jadi apa yang sedang kau lukis nona hwang?”

Mata kyuhyun menangkap seseorang yang duduk tidak nyaman di kursinya. Dan saat itulah dia menyeringai.

Kyuhyun berdiri di samping eunbi. Menanyakan sesuatu yang tidak terlalu penting baginya, tapi lihatlah respon gadis itu. Kyuhyun bisa melihat tubuh eunbi tiba-tiba menegang ditempatnya.

“aku-aku sedang menggambar bunga saga “ jawab Eunbi terbata.

 

Sial! Ini bukan pertanyaan sulit sampai eunbi harus terbata dan kesusahan menjawab pertanyaan kyuhyun.

“sepertinya kau kehilangan inspirasimu untuk melanjutkannya”

Tanpa Eunbi menoleh untuk melihat wajah menyebalkan kyuhyun, dia yakin kalau pria itu sekarang terlah menyeringai dan tertawa dalam hati karena berhasil membuat Eunbi seperti kambing bodoh.

 

Dan itu karenamu. Batin Eunbi

**

Eunbi buru-buru merapikan peralatannya saat kyuhyun semakin berjalan mendekat kearahnya. Kyuhyun tahu eunbi lagi-lagi menghindarinya.

 

Dan urusan kita belum selesai murid baru batin kyuhyun

 

“kurasa urusan kita belum selasai hwang eunbi”

Lagi-lagi eunbi mematung ditempatnya karena suara berat kyuhyun.

“memangnya ada apa cho soesangnim?” kata eunbi menoleh pada kyuhyun setelah berhasil menguasai keterkejutannya.

“kurasa kau tahu urusan mana yang belum selesai”

ini bukan jawaban cho kyuhyun.

“kurasa tidak ada”

Jelas gadis ini pura-pura tidak tahu maksud kyuhyun. Ini baru tiga hari dan dia tidak mungkin melupakan itu dalam waktu sesingkat itu. Mungkin ini bukanlah sesuatu yang tidak penting, tapi kyuhyun ingin memastikan sesuatu. Murid yang lain sudah pulang, dan inilah waktu yang tepat mengintimidasi gadis ini.

 

“kau selalu saja berbohong meskipun aku berkali-kali bilang kau tidak pandai berbohong”

 

Eunbi memejamkan matanya sebentar dan kembali menatap kyuhyun.

“soesangnim. Bagiku kejadian tempo hari saat kau menarikku dari mobilmu atau apapun itu, aku sudah melupakannya.”

“aku hanya memastikan kalau kau tidak membuat gosip yang tidak-tidak tentangku”

“memangnya apa yang harus aku gosipkan? Soesangnim yang berkencan, soesangnim yang menolak gadis cantik atau soesangnim yang gay?”

“Yak!!”

Kyuhyun berteriak begitu keras di depan wajah Eunbi sampai membuat gadis itu memundurkan tubuhnya beberapa centi.

 

Kadang-kadang eunbi memang sering tidak bisa mengontrol ucapannya. Dan dia sungguh menyesali hal itu.

Kau baru saja membangunkan singa yang tidur hwang eunbi. Rutuknya dalam hati

 

“sudah kubilang aku bukan-“

Kyuhyun menghentikan kalimatnya saat dia mendengar sesuatu dari luar. Dia menoleh ke luar ruangan dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Mungkin dia hanya salah dengar saja.

“pergilah. Dan aku hanya berharap kau tidak membuat sebuah gosip disekolah ini” peringat kyuhyun untuk kedua kalinya.

 

Kyuhyun tidak peduli kalau gadis ini akan berfikir yang macam-macam tentangnya. Tentang kyuhyun yang gay. Dia sudah banyak mendengar itu semua dari sahabat-sahabatnya yang suka mengejeknya. Tapi saat ada gosip tentangnya di sekolah ini. Demi Tuhan. Dia tidak akan melepaskan orang itu. Kyuhyun selalu berusaha keras untuk menjaga citra baiknya apalagi di sekolah, dia tidak mungkin membiarkan gosip murahan menghancurkan namanya apalagi nama Ayahnya.

 

Meskipun sedikit bingung tapi eunbi tetap pergi juga. Ini bukan kesempatan kedua yang harus benar-benar dia pikirkan.

**

Setelah mandi dan mengganti bajunya dengan piyama eunbi buru-buru membaringkan tubuhnya di kasur. Hari ini sungguh melelahkan rasanya kakinya pegal semua. Andai saja ada pembantunya disini, pasti akan jauh lebih baik. Setidaknya eunbi bisa berbaring sambil membaca majalah fashion terbaru dan dipijat oleh pembantunya.

 

Kau tidak boleh mengeluh hwang Eunbi.

 

Shin na mi masih berkutat dengan buku matematika. Tapi kali ini dia sedikit kehilangan konsentrasinya. Menatap ragu-ragu Eunbi yang berbaring sambil memainkan ponselnya.

“hwang eunbi” katanya kemudian

 

Sedikit ragu eunbi menurunkan ponsel pintarnya, dan menatap na mi ragu. Apa dia baru saja bicara denganku? Batin eunbi. Tapi siapa lagi diruangan yang tidak begitu lebar ini yang bernama hwang eunbi selain dirinya.

 

“kau mendapatkan nilai matematika tertinggi dikelas tadi. Sebenarnya aku tidak suka ini tapi- apakah kau bisa membantuku?”

 

Eunbi tersenyum, tidak dia ingin tertawa sekarang. Bukan menertawakan na mi yang begitu cuek padanya tapi pada akhirnya dia juga membutuhkan Eunbi. Dia hanya ingin tertawa karena na mi begitu takut untuk mengatakan hal itu. Eunbi jadi berfikir apakah dia sangat menakutkan seperti ayahnya sampai gadis itu tidak berani bertanya. Atau karena harga diri gadis itu akan terluka?

 

“tentu saja. Aku akan membantumu”

Na mi berjalan perlahan mendekati ranjang eunbi dengan membawa dua buku tebal matematika. Berhari-hari belajar tentang logaritma masih saja membuatnya sedikit kesulitan.

“bisakah kau menjelaskan tentang ini” katanya sambil menunjuk nomor soal yang masih belum bisa dia pecahkan.

Eunbi mengangguk, dan kemudian mengambil pensil menjelaskannya dengan rumus-rumus sederhana yang mudah untuk dipahami membuat na mi berkali-kali mengangguk mengerti. Sepertinya Eunbi lebih cocok menjadi guru dari pada menjadi pewaris perusahaan besar.

 

Na mi menutup bukunya, tapi dia masih belum beranjak dari tempatnya tadi.

“ada yang ingin kau tanyakan lagi?” tanya Eunbi

“sebenarnya aku-“ na mi sedikit ragu untuk menanyakan hal ini.

“apa?”

“apa kau akan ikut seleksi untuk ikut olimpiade matematika?”

Eunbi tersenyum. Kenapa na mi harus takut jika hanya ingin menanyakan hal seperti ini.

Akhirnya Eunbi menggeleng sebagai jawaban. Jujur dia bahkan tidak berfikir tentang olimpiade dan lain-lain karena tujuan awalnya dia datang ke sekolah ini bukanlah untuk mencari prestasi apapun, tapi jauh lebih sederhana dari itu. Teman. Dia hanya ingin punya teman.

“aku rasa kau akan ikut. Dan kalau kau ikut aku pasti akan kehilangan kesempatanku untuk mewakili sekolah kita.” Na mi akhirnya tersenyum lega. Setidaknya dia bisa memastikan kalau eunbi tidak mendaftarkan diri untuk olimpiade itu.

“aku tidak tertarik dengan hal seperti itu.”jelas Eunbi

**

Pagi ini suasana sekolah terasa berbeda untuk Eunbi. Entah karena apa, para murid tampak sedang asyik dengan obrolan mereka.

Eunbi tersentak saat ada yang menyenggol bahunya.

“kau berjalan atau melamun?”

“choi minho!.” Protesnya pada murid laki-laki yang setiap harinya selalu merecoki kehidupannya.

Minho hanya mengangkat bahunya tanda tidak peduli

 

“sebenarnya apa yang sedang murid-murid bicarkan? Apa sekarang hari penting?” tanya Eunbi bingung.

 

“mereka sedang asyik bergosip” minho mensejajarkan langkahnya dengan Eunbi melihat wanita itu dari dekat.

 

Eunbi berhenti membuat minho ikut berhenti. Gadis itu tertarik tentang gosip yang berhasil membuat semua murid membicarakannya. Apa ini gosip pacaran antar sesama selebriti?

“memangnya ada gosip apa?”

“apa kau tidak tahu?” minho balik bertanya dan mendapat gelengan dari Eunbi.

“mereka membicarakan cho soesangnim yang gay”

“APA??”

**

Kyuhyun sedikit terlambat hari ini, bukan terlambat sebenarnya. Kalau biasanya kyuhyun akan berada di sekolah 30 menit sebelum kelas dimulai tapi kali ini dia datang 5 menit sebelum kelas dimulai. Jika bukan karena ada kecelakaan lalu lintas mungkin dia akan tepat waktu.

 

Para guru berkumpul membentuk kelompok-kelompok kecil. Ini bukan hal yang aneh untuk kyuhyun, dia tahu betul kalau tidak semua guru disini saling menyukai dan akhirnya mereka membentuk kelompok-kelompok kecil seperti murid-muridnya. Menggelikan.

Tapi bukan itu yang membuat kyuhyun berhenti di tengah-tengah jalan menuju mejanya.

 

Aku tidak menyangka kalau pria tampan seperti itu adalah penyuka sesama jenis

Aku pikir dia begitu sempurna kecuali kepribadiannya yang sedikit menyebalkan

Aku kasihan pada cho soesangnim

 

Sejurus kemudian kyuhyun menoleh membuat wanita yang pertama kali melihatnya menyenggol teman-temannya. Mereka sama-sama kaget dan tentu saja canggung. Menunduk memberi hormat kemudian berpencar sendiri-sendiri.

 

Kyuhyun meletakkan tasnya kasar. Kepalanya tiba-tiba ingin pecah karena berita sampah itu.

**

Rumus-rumus kimia yang dijelaskan Kim soesangnim tidak ada satupun dari mereka yang mampir ke otak eunbi. Gadis itu berfikir jika dia tidak menyebarkan gosip itu pada semua orang lalu siapa? Tidak ada satupun yang tahu tentang masalah ini, bahkan Eunbi tidak memberitahu yoojin tentang ini. Jadi siapa? Jika bukan Eunbi ataupun kyuhyun lalu siapa?

Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih sulit dari rumus matematika yang tadi malam dia ajarkan pada na mi.

Apa setelah ini kyuhyun akan berfikir kalau eunbi yang menyebarkan gosip itu?

 

Mata eunbi membulat karena pertanyaannya sendiri. Tidak. Dia bisa kena masalah kalau hal itu sampai terjadi.

**

Setelah bel istirahat berbunyi eunbi buru-buru keluar kelas. Dia hanya ingin mencari satu orang. Kyuhyun. Eunbi melangkah dengan cepat seperti dia akan ketinggalan pesawat, matanya begitu sibuk mengedar mencari sosok yang beberapa hari lalu dia hindari.

 

Kakinya berhenti saat lensa matanya menangkap pria yang dia cari di hadapannya berjalan ke arahnya.

 

Kyuhyun tidak menyadari kalau sudah ada seseorang yang menunggunya di 10 meter di depannya. Dia masih pusing dengan gosip yang membuat murid-murid dikelasnya memandangnya aneh. Bahkan tadi dia sempat mendengar mereka terang-terangan bergosip tentang dirinya di kelasnya. Sepertinya memberikan hukuman untuk mereka tidak akan cukup apalagi untuk informan yang begitu baik hati menyebarkan gosip itu.

 

“cho soesangnim” panggil eunbi membuat kyuhyun sadar kalau ada orang lain di depannya dan menghalangi jalannya.

“Ada apa?” tanyanya dingin

“ada yang ingin aku katakan pada soesangnim”

“apa?”

Eunbi menoleh ke kanan dan ke kiri berbicara di lorong sekolah ini dia rasa tidak tepat, dan di ruang guru itu lebih tidak tepat.

“kurasa disini tidak tepat”

 

Kyuhyun mengerutkan keningnya, dan berjalan mengikuti Eunbi yang sudah lebih dulu pergi. Sialan! Pertama kalinya dia menuruti muridnya dan mengikutinya entah kemana.

 

Atap sekolah.

 

Angin terasa jauh lebih kencang di atas sini membuat rambut eunbi yang tidak dia ikat bertebrangan tidak jelas. Dia berbalik melihat kyuhyun yang baru masuk ke area atap sekolah.

 

Kyuhyun berhenti. Matanya menatap lurus Eunbi yang ada di depannya seperti mengatakan apa yang kau inginkan.

 

“soesangnim mengenai gosip itu-“

Eunbi berhenti di tengah-tengah kalimatnya. Dia begitu takut menyebut gosip yang beredar itu.

 

Kyuhyun hanya mengerutkan dahinya menanti kelanjutan kalimat Eunbi.

“mengenai gosip itu. Aku mohon percayalah padaku kalau bukan aku yang menyebarkannya”

 

Eunbi berbicara begitu tulus tidak seperti biasanya saat berhadapan dengan kyuhyun yang akan berakhir dengan perdebatan atau hukuman. Kali ini dia benar-benar mengatakannya dari dalam hati.

 

Mungkin tadi sebelum gadis ini membawanya ke atap sekolah kyuhyun berfikir bahwa mungkin saja eunbi yang telah membuat gosip murahan seperti itu. Tapi setelah mendengar perkataan Eunbi barusan, kyuhyun tahu bukan dia orangnya.

“aku tahu”

“apa?” kata eunbi spontan. Bukan. Bukan karena dia tidak senang kyuhyun mempercayainya tapi karena apa secepat itu kyuhyun percaya padanya? Apa dia sudah tahu pelaku sebenarnya?

“kau menjelaskan padaku kalau bukan kau pelakunya tapi kenapa kau sekaget itu”

“tidak-“

Eunbi membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering.

“tidak. Bukan seperti itu. Maksudku apa soesangnim tahu siapa pelakunya?”

Kyuhyun menggeleng sebagai jawaban.

Tapi hal itu membuat eunbi semakin bingung. Kalau dia tidak tahu pelakunya lalu kenapa dia bisa mempercayai eunbi secepat itu?

“tapi bagaimana soesangnim tahu kalau aku bukan pelakunya?”

“jadi kau ingin aku berfikir kau pelakunya?”

Cho kyuhyun. Kau benar-benar membuat Eunbi mati dengan pertanyaannya sendiri.

“tidak tap-“

“ada seseorang di ruang melukis saat kita membahas tentang hal itu” kata kyuhyun seperti mengerti pertanyaan yang berputar dikepala kecil eunbi.

“apa? Siapa?” bagaimana bisa?”

Lagi-lagi kyuhyun menggeleng sebagai jawaban.

 

Lama eunbi terdiam untuk berfikir tentang semua kemungkinan sampai dia merasa ada yang menyentuh pundaknya.

“turunlah. Kelas akan dimulai sebentar lagi.”

 

Kyuhyun berlalu setelah menyadarkan eunbi dari lamunannya. Tapi eunbi rasa tidak. Dia kembali mematung menatap pundaknya yang baru saja disentuh kyuhyun.

“kurasa dia tidak sejahat yang aku kira”

Eunbi tahu satu hal sekarang, kalau kyuhyun bukanlah pria yang kejam dia hanya tidak bisa untuk melakukannya dengan cara yang halus dan kyuhyun tidak akan marah tanpa sebab yang jelas. Dia tipe orang yang suka menunjukkan kepeduliannya dengan cara-cara yang berbeda dengan orang lain.

***

Perlahan eunbi menuruni anak tangga. Pikirannya masih sedikit tertinggal di atap sekolah. Memangnya apa yang dia pikirkan? Pandangannya yang sedikit berubah kepada kyuhyun atau memikirkan siapa orang yang menyebarkan gosip itu?

 

Eunbi terdiam di tangga paling bawah. Semua murid nampak mengerubungi papan mading.

 

Apa ada gosip baru lagi?

 

Baru tiga langkah eunbi akan mendekat ke papan mading tapi suara yoojin yang memanggilnya membuat eunbi menggurungkan niatnya dan menoleh ke samping.

 

“Eunbi ah. Kau harus memberikan yang terbaik” kata yoojin bersemangat.

Tapi memberikan yang terbaik untuk apa?

“aku? Apa?” eunbi mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan arah pembicaraan yoojin.

“kemarilah”

Yoojin menarik tangan eunbi mendekati papan mading, membelah beberapa anak yang masih berkumpul disana.

“aku sudah mendaftarkanmu untuk ikut olimpiade matematika. Aku yakin kau bisa mewakili sekolah kita.”

“apa?” mata eunbi membulat mencari namanya di kertas yang tertempel di mading.

“yoojin ah. Aku-“

Kalimat Eunbi terhenti, setelah dia berbalik dan matanya bertemu dengan mata na mi. Ya Tuhan. Dia sudah bilang pada gadis itu kalau dia tidak akan ikut tapi apa sekarang.

“yoojin ah. Aku tidak ingin ikut olimpiade itu” kata eunbi memberikan pengertian pada yoojin yang seenakknya telah mendaftarkannya.

“hey. Kau gila ya? Olimpiade ini adalah olimpiade nasional, semua orang bisa berharap mewakili sekolah kita. Dan aku yakin kau pasti bisa untuk itu.”

Eunbi terdiam. Disatu sisi dia melihat yoojin yang mempunyai niat yang bagus dengan mendaftarkannya untuk ikut seleksi itu tapi disatu sisi bagaimana dengan na mi? Eunbi bahkan bilang kalau dia tidak tertarik dengan hal seperti ini. Tapi nyatanya dia akan menjadi salah satu saingannya. Hubungan yang eunbi kira sudah mulai membaik dan mencair akan kembali buruk lagi.

**

“na mi. Tunggu aku”

Na mi berhenti tapi dia tidak ingin menatap eunbi yang sudah berdiri di sampingnya. Nafas eunbi masih sedikit memburu, sejak tadi dia berusaha ingin berbicara berdua dengan na mi tapi gadis itu selalu berusaha untuk menghindari eunbi.

“aku tahu kau pasti kecewa denganku karena aku mengikuti seleksi olimpiade itu. Tapi percayalah itu bukan atas keinginanku” eunbi  berusaha menjelaskan.

“na mi ah. Aku mohon percayalah padaku. Ak-“

“bagaimana kau tidak mengikuti seleksi itu kalau kau begitu mampu” kata na mi begitu dingin dan datar.

“bukan begitu. Aku-“

“sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya”

Setelah itu, na mi melenggang pergi begitu saja meninggalkan eunbi menelan semua kata-katanya.

 

Satu masalah belum selesai dan masalah lain sudah datang.

Ya Tuhan. Apa yang salah dengan sekolah ini sampai ada begitu banyak masalah yang harus Eunbi hadapi

**

Seperti biasanya meja makan besar ini hanya terisi oleh tiga orang saja. Kyuhyun duduk di tempatnya. Disela-sela kesibukan semua orang keluarga ini selalu menyempatkan untuk makan malam bersama. Setidaknya mereka akan saling mengobrol di sela-sela makan malam. Seperti saat ini.

“apa yang akan kau lakukan tentang rumor yang menyebar di sekolah?” Tuan Cho membuka percakapan

“rumor apa?” bukannya kyuhyun menjawab, nyonya cho segera menyela dengan pertanyaannya.

“tanyakan saja pada dia”

Nyonya cho beralih menatap putranya yang masih terlihat datar seperti biasanya. Kyuhyun masih bungkam. Dia tidak tahu apakah masalah ini harus dia ceritakan pada keluarganya.

“semua mengatakan kalau kyuhyun gay” kata tuan cho sama tenangnya dengan kyuhyun . sejenak nyonya cho membuka mulutnya dengan mata membulat sebelum

PLETAK

“Eomma!!” kyuhyun mengelus dahinya yang mendapat serangan mendadak.

“apa yang sudah eomma katakan. Cepatlah menikah. Kau bahkan kemarin menolak anak teman eomma yang cantik. Sekarang eomma malah berfikir kalau kau benar-benar tidak suka wanita”

“eomma!” kyuhyun menggeram di tempatnya.

“cepatlah cari kekasih. Sebelum kau membuat eomma benar-benar sakit kepala.”

Bertambahlah masalahnya. Dan ini semua gara-gara rumor sialan itu! Sudah kyuhyun duga jika efeknya akan sebesar ini. Menghancurkan harga dirinya, menghancurkan image nya di sekolah dan sekarang bahkan ibunya juga menuduhnya seperti itu. Ya Tuhan. Kyuhyun benar-benar ingin mencekik orang yang menyebarkan rumor itu. Mengingat tentang orang yang menyebarkan rumor itu, kyuhyun berfikir kenapa dia bisa langsung percaya saat Eunbi bilang kalau bukan dia pelakunya. Bisa saja bukan kalau sebenarnya Eunbi pelakunya. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu tentang masalah ini.

 

Mengingat kembali percakapan mereka di atap sekolah. Kyuhyun melihat bahwa gadis itu mengatakan yang sejujurnya. Ya. Seperti yang selalu kyuhyun katakan sebelumnya dia tidak pandai berbohong. Dan hati kyuhyun ingin mempercayai gadis itu. Mungkin dia tidak tahu pasti siapa yang sudah menyebarkan rumor itu tapi mata hatinya tahu pasti kalau bukan gadis bermarga Hwang itu yang melakukan hal seperti ini. Baiklah. Sepertinya kyuhyun harus membiarkan rumor ini tersebar secepat angin dan membiarkan angin itu juga yang membuatnya pergi.

TBC

AUTHOR’S NOTE: Terima kasih yang sudah baca dan komen di part sebelumnya. Dan lagi-lagi author ingetin untuk MENINGGALKAN JEJAK setelah membacara story ini. TERIMA KASIH 🙂

18 AGAIN [PART 2]

18 again

18 AGAIN [PART 2]

HAPPY READING

 

Setelah memperkenalkan diri didepan kelas, Eunbi mendudukkan dirinya dibangku disamping gadis dengan bando polkadot berwarna pink.

“Hallo. Namaku Min Yoojin”

Eunbi segera menjabat uluran tangan gadis yang bernama Min Yoojin itu. Sepertinya gadis ini cukup menyenangkan. Pikir Eunbi

“Hwang Eunbi” kata Eunbi kemudian

 

Mereka berdua saling tersenyum dan setelah semua kekacauan di pagi harinya, kali ini Eunbi merasa bahwa bukanlah sebuah keputusan yang buruk untuk kembali ke masa SMA nya. Setidaknya dia punya teman sebangku yang menyenangkan dan hobi berbicara bahkan sepertinya Yoojin tidak pernah kehabisan topic pembahasan walaupun mereka baru bertemu.

 

Kurasa dia adalah biang gossip

 

Eunbi tersenyum kaku menanggapi Yoojin yang asyik bercerita tentang semua murid-murid di dalam kelasnya seperti memberikan Eunbi sebuah penjelasan tentang rumus fisika yang tidak ada habisnya. Sejujurnya Eunbi senang dengan kepribadian Yoojin yang sangat berbanding terbalik dengan teman-temannya dulu. Tidak ada dari mereka yang suka berbicara sepanjang rel kereta api seperti Yoojin, mereka hanya akan berbicara kepada Eunbi saat dibutuhkan. Eunbi memang berada di salah satu kelas khusus untuk anak-anak kolongmerat, dan sekali lagi dari pada menyebut mereka teman Eunbi lebih suka menyebut mereka seperti ‘rekan bisnis’. Rekan bisnis yang sudah diwariskan oleh orang tua mereka.

 

 

Eunbi berjalan malas di sepanjang lorong sekolah, kalau saja cho kyuhyun tidak menyuruhnya menemuinya pada jam istirahat pasti dia tidak akan menolak ajakan Yoojin untuk memadamkan kelaparannya di kantin sekolah.

 

Di jam istirahat seperti ini ruang guru terasa lebih ramai dari tadi pagi walaupun beberapa mereka sudah pergi untuk makan siang dan tinggallah beberapa guru lain yang memakan bekalnya atau berkutat dengan pekerjaannya seperti cho kyuhyun.

 

Kyuhyun menggeser kursinya untuk melihat lebih jelas murid baru yang sudah berdiri di samping mejanya.

“ada apa Cho Soesangnim?”

“ini” kyuhyun memberikan sebuah kertas ke hadapan Eunbi.

“itu adalah form untukdata orang tua murid di kelasku. Kalau kau berbuat masalah maka aku akan langsung memanggil orang tuamu. Jadi jangan membuat masalah. Aku benci hal itu”

Eunbi hanya mengangguk mendengarkan penjelasan cho kyuhyun, matanya masih sibuk membaca kertas yang diberikan kepadanya.

“kembalikan itu besok”

**

“ada apa? Kenapa Cho Soesangnim menyuruhmu menemuinya?” yoojin segera memberondong Eunbi dengan berbagai pertanyaannya bahkan sebelumpantat Eunbi sempat menyentuh bangkunya.

 

“hanya ini” eunbi menyodorkan kertas yang diberikan cho kyuhyun padanya tadi.

“Ooo” Yoojin ber oh ria

“Aku pikir kau mendapat masalah. Kau tahu dia adalah salah satu guru yang menakutkan” lanjut yoojin

 

Merasa sedikit tertarik dengan topic yang sekarang Yoojin bahas, Eunbi membenarkan duduknya menghadap teman sebangku.

“Apa kau bisa memberitahuku bagaimana Cho Soesangnim?” ini bukan pertanyaan tapi lebih seperti permohonan. Eunbi rasa gadis yang duduk disebelahnya adalah orang yang tepat untuk menjawab pertanyaanya yang satu ini.

 

“jangan bilang kau tertarik pada Cho soesangnim” tebak yoojin asal. Matanya menatap Eunbi penuh selidik seperti mencari jawaban dari tebakannya lewat ekspresi yang gadis itu berikan. Sedangkan gadis yang menjadi objeknya saat ini hanya mengedipkan matanya berkali-kali tidak menjawabnya.

 

Kurasa tadi aku sempat tertarik padanya. Batin Eunbi

 

“Baiklah. Semua murid perempuan disini mengidolakan Cho Soesangnim tapi tidak setelah mengetahui bagaimana menakutkannya dia”

 

Alis Eunbi hampir menyatu dengan kerutan di dahinya. Yoojin mengerti murid baru ini masih belum paham apa yang dia maksud. Perlahan dia mebetulkan posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Eunbi.

 

“dengarkan aku baik-baik” perintahnya dan hanya mendapat anggukan dari Eunbi.

“Cho Soesangnim adalah guru paling tampan di sekolah ini. Kau pasti tahu itu”

Lagi-lagi Eunbi mengangguk. Ya, sejauh yang dia tahu tentang sekolah ini dan penghuninya memang tidak ada guru yang setampan Cho kyuhyun. Dan dapat dipastikan kalau semua kaum hawa di sekolah ini pasti menaruh minat pada guru yang satu itu.

 

“Tapi tidak dengan sifatnya. Kau tahu apa julukannya?”

Eunbi menggeleng. Tentu saja dia tidak tahu, dia baru setengah hari disekolah ini bagaimana dia bisa tahu tentang julukan Cho kyuhyun.

 

“malaikat kegelapan” kata yoonji pasti. Tentu dia tidak akan lupa tentang julukan wali kelasnya.

“apa?”

“kau tahu wajahnya seperti malaikat begitu tampan tapi sifatnya” yoojin menggeleng sebagai kelanjutan dari kalimatnya.

“Dia begitu kaku, kejam, dingin, tidak pernah berbasa basi selalu mengatakan apa yang dia mau dan melakukan apa yang dia inginkan. Kalau dia tidak suka maka dia akan bilang tidak suka. Bahkan aku tidak pernah melihatnya berbincang dengan guru-guru lain, sepertinya dia punya kehidupan sendiri.”

 

Ya, Eunbi setuju dengan kyuhyun yang selalu melakukan dan mengatakan apapun yang dia mau. Itu terjadi padanya tadi pagi, bagaimana pria itu dengan lancangnya menarik ikat rambut Eunbi.

 

“kalau saja dia bukan anak kepala sekolah, ketua yayasan, pemilik sekolah, ini maka aku pastikan dia akan dikeluarkan”

“apa?”

Matanya membulat dan teriakan spontannya membuat gadis yang berada di depannya sedikit memudurkan tubuhnya sangking terkejutnya. Tapi Yoojin kembali memposisikan tubuhnya seperti tadi.

“ jadi kalau kau bertanya apakah cho soesangnim kaya, maka aku akan menjawab iya. Dia adalah pewaris tunggal yayasan sekolah ini.”

Kalau melihat betapa besarnya sekolah ini maka Eunbi bisa menebak kalau keluarga cho kyuhyun adalah orang kaya meskipun tidak sekaya keluarganya tentunya. Sekarang Eunbi memahami satu hal, mungkin kyuhyun bertingkah seperti itu ‘bossy’karena dia memiliki kekuasaan disini. Orang kaya selalu sama. Apakah Eunbi baru saja mengolok orang kaya? Lalu bagaimana dengannya? Baiklah. Eunbi akan meralatnya. Tidak semua orang kaya bertingkah menyebalkan seperti itu. Mungkin diantara orang kaya yang bertingkah bossy maka kyuhyunlah salah satunya.

**

Eunbi sedikit merenggangkan ototnya, hari pertamanya terasa begitu melelahkan mungkin karena dia sudah lama tidak melakukan rutinitas ini. Yang dia butuhkan sekarang adalah kasur miliknya, dia sangat lelah sekarang. Lorong asrama ini terasa sangat jauh, dari tadi Eunbi masih belum melihat kamarnya bahkan setelah melewati beberapa belokan dan tangga.

 

Matanya menangkap seseorang yang berjalan tidak jauh didepannya. Dengan sedikit berlari Eunbi segera mengimbangi langkah kaki milik murid perempuan yang sudah Eunbi hapal membuat murid itu berhenti dan menoleh pada Eunbi.

“Kenapa kau mengacuhkan aku di kelas tadi, bahkan kita teman satu kamar” tuntut Eunbi. Dia sudah benar-benar kesal dengan sikap gadis ini. Siapa yang tahu kalau gadis ini adalah teman satu kelas Eunbi. Saat Eunbi berniat menyapanya gadis itu bahkan pura-pura tidak tahu dan lebih asyik dengan bukunya. Tapi bukankah seharusnya dia menyapa Eunbi karena dia adalah teman satu kamarnya?

 

“aku tidak suka berbasa basi dengan hal yang tidak berguna seperti itu”

Huh?!

Eunbi menghela nafasnya.

“Shin Na Mi. itu adalah hal yang penting karena kita adalah teman satu kamar dan satu kelas.”

Jangan ditanya bagaimana Eunbi bisa tahu nama gadis itu tanpa bertanya padanya. Tentu saja dia melihat name tag yang mengantung di seragam sekolahnya dan sedikit informasi dari Yoojin saat gadis itu menjelaskan tentang semua murid yang berada di kelasnya tadi pagi.

“jangan bersikap kita sedekat itu”

 

Eunbi menggeram ditempat melihat Na mi sudah melenggang pergi. Untuk pertama kalinya dia bertemu dengan orang yang sangat menyebalkan seperti Na mi. Seingatnya tidak ada temannya yang sedingin dan semenyebalkan Na mi. sepertinya Eunbi harus mulai berlatih kesabaran mulai dari sekarang.

 

 

Tangannya terus menggerakkan bolpoint di tangannya membuat tinta hitam itu menghiasi kertas yang putih. Eunbi memulai halaman kedua dari buku diarynya, menceritakan hari pertamanya di sekolah. Baginya hari pertamanya ini sangatlah luar biasa, dia kesal juga senang. Ah! Memikirkan tentang itu membuat Eunbi yakin kalau SMA nya yang kedua memanglah berbeda dari SMA nya yang lalu.

 

Eunbi menutup diarynya, tangannya masih memengang bolpoint dan matanya melirik sekilas Na mi yang tetap diam dan lagi-lagi dia seolah sibuk berkencan dengan buku-buku tebal setebal ensiklopedia.

Na Mi memanglah orang kutu buku yang tidak tertarik pada apapun selain tumpukan-tumpukan rumus yang harus dia pecahkan. Tidak heran kalau dia selalu berada di peringkat pertama mulai tahun pertama dia di sekolah. Semua murid di kelas tahu kalau gadis ini memang pintar tapi sayangnya sikapnya yang tidak memperdulikan keadaan sekitar membuat semua teman-teman di kelas tidak begitu tertarik dengan kehidupan si kutu buku ini. Tapi lagi-lagi Na mi tidak memperdulikan bagaimana murid lain memandangnnya. Mungkin meskipun ada kebakaran disekolah gadis itu masih saja tenang dan tidak peduli.

 

Ah! Aku harus mengisi form itu

 

Eunbi bangkit dari kursinya berjalan mendekati tas ransel yang dia letakkan di samping ranjang. Dia ingat harus segera mengisi form itu dan mengembalikkannnya pada Cho Soesangnim besok pagi.

 

Pertama Eunbi mengisi namanya dan kemudian beralih mengisi kolom untuk orang tua. Dia tentu tidak perlu berfikir untuk mengisi form ini karena itu hanya berisi informasi pribadi tentang no telp orang tuanya, nama orang tuanya dan alamat orang tuanya.

 

“sudah selesai” katanya lirih.

Dia membaca ulang form itu mulai dari atas dan matanya berhenti pada nama Ayahnya.

‘Hwang Tae Joo’

Eunbi kemudian mengambil correction pen dan menghapus nama Ayahnya. Dia tidak mungkin menuliskan nama Ayahnya, semua orang pasti akan tahu kalau dia adalah anak dari seorang Hwang Tae Joo pemilik perusahaan elektronik besar di Korea Selatan. Tidak. Tidak. Eunbi tidak ingin mengacaukan rencana yang sudah dia susun. Kemudian dia berfikir, jika bukan nama Ayahnya yang dia tulis disitu maka nama siapa?

Kim Ahjussi?

 

Lama dia berfikir sampai akhirnya dia benar-benar menulis nama kim ahjussi disana. Demi Tuhan dia tidak ingin menjadi anak durhaka karena tidak mengakui ayahnya atau menyumpahi ibunya akan berpisah dengan ayahnya dan memilih kim ahjussi sebagai ayah penggantinya. Eunbi tidak tahan hanya untuk membayangkannya saja.

Maafkan aku Ayah. Ini demi kebaikan.

Yakin Eunbi dalam hati. Ini hanya untuk walinya di sekolah baru ini tapi Eunbi dapat pastikan bahwa Ayahnya hanya satu dan itu bukan Kim Ahjussi.

**

Pagi ini Eunbi bangun lebih pagi. Ya, dia tidak ingin terlambat seperti kamarin. Bahkan dia meletakkan alarm di samping telinganya, tidak mungkin dia mengandalkan teman sekamarnya untuk membangunkannya yang ada Na mi akan meninggalkan seperti kemarin setelah dia memberitahu Eunbi betapa sedikitnya waktu yang dia butuhkan untuk sekedar mandi dan menggosok gigi. Lalu dimana Na mi? gadis itu sudah bersiap dengan seragam sekolahnya dan memasukkan beberapa buku di atas meja belajarnya ke dalam tas miliknya. Dan Eunbi tidak mau ambil pusing dengan gadis itu.

“rupanya kau tidak terlambat lagi” kata Na mi dingin dan tidak menatap lawan bicaranya. Eunbi hanya mengangguk dan berkata

“tentu. Aku tidak ingin kena masalah karena terlambat”

 

Na mi sudah selesai dengan kegiatannya, dia melesat pergi begitu saja dan hilang dari balik pintu. Percakapan yang singkat, sangat singkat malah untuk dua orang teman sekelas dan roommate di pagi hari.

 

Eunbi mencibir dalam diam dan kembali focus mengikat tali sepatu. Sejujurnya dia tidak terlalu pandai mengikat tali sepatu. Maksudnya dia tidak bisa mengikat tali sepatu begitu kuat dan tidak mudah terlepas. Sudah menjadi kebiasaannya jika dia harus membenarkan tali sepatu sebanyak yang dia bisa karena tali itu akan mudah sekali lepas. Sebenarnya apa yang sulit dari mengikat tali sepatu? Kita hanya perlu membuat simpulan dan menariknya, merapikannya maka selesai. Tapi itu terlalu sulit untuk Eunbi, makanya dari dulu dia lebih sering memakai sepatu tak bertali karena dia tidak ingin lelah karena bolak-balik berjongkok untuk membenarkan tali sepatunya. Dan Sialan Kim Ahjussi. Dia sudah menemani Eunbi hampir seumur hidup gadis itu, tapi kenapa dia menyiapakan sepatu bertali yang merepotkan seperti ini!.

 

Halaman sekolah pagi ini sudah tampak sangat ramai, para murid sudah mulai berdatangannya. Sesekali Eunbi menguap dan mengucek matanya, rasa kantuk masih mendominasi dalam tubuhnya sampai suara klakson mobil membuatnya terperanjat saat sebelah tangannya menutup mulutnya yang menguap.

“Yak!” Eunbi berteriak walaupun akhirnya dia juga minggir

 

Sebuah audi hitam melewati Eunbi, mobil yang baru saja menarik Eunbi pada 1000% kesadarannya dan menghapus semua rasa kantuk. Mata Eunbi sedikit memicing melihat manusia yang duduk di balik kursi kemudi dari balik kaca mobil yang gelap. Tapi segelap apapun itu, Eunbi masih dapat melihat bayangan pria tampan yang sialnya itu adalah Cho kyuhyun.

 

“apa yang kau pikirkan Hwang Eunbi. Sadarlah!” ujar Eunbi lirih

“memangnya apa yang kau pikirkan?”

Lagi-lagi Eunbi memekik kaget dan menatap kesal pada gadis yang tiba-tiba berdiri disampingnya dengan tampang tidak berdosa.

“kau mengangetkanku Yoojin” alih-alih menjawab pertanyaan Yoojin Eunbi lebih memilih menyeruakan kekesalannya. Dan gadis yang dia bicarakan hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli dan menampilkan cengiran kudanya.

“jadi siapa yang kau pikirkan?” tanyanya lagi

“tidak ada” kata Eunbi sambil berlalu meninggalkan Yoojin , tapi gadis itu dengan cepat dapat mengimbangi langkah Eunbi sampai mereka berjalan beriringan.

“apa kau sedang mengincar murid laki-laki disini?”

“ayolah. Kau tidak perlu sungkan untuk mengatakannya. Aku akan membantumu. Jadi siapa orangnya?”

“tidak ada yang aku pikirkan dan aku incar. Kau puas”

 

Yoojin berdecak tidak percaya dan tidak puas dengan jawaban Eunbi tentunya. Sepertinya jiwa penasaran dan keingintahuannya yang terlalu tinggi mencium sesuatu yang tidak beres. Itulah kenapa alasannya gadis ini dijuluki Ratu Gosip karena instingnya yang tajam dan mulutnya yang lebar.

 

Seperti biasanya beberapa murid akan menunduk pada kyuhyun saat dia melintas di depan mereka. Berjalan dengan tegas dan sedikit keangkuhan itulah cho kyuhyun. Dia hanya menanggapi dengan anggukan sapaan dari guru-guru yang lain.

 

“Cho Soesangnim. Apa yang kau lakukan pada muridku?!” tiba-tiba Kim Soesangnim menghardik cho kyuhyun dengan pertanyaannya yang jelas-jelas mengambarkan kekesalannya pada Cho kyuhyun. Salah satu guru pengajar bahasa Inggris itu langsung menghampiri Cho kyuhyun saat melihatnya baru masuk ke dalam ruang guru bahkan sebelum kyuhyun menyentuh kursi miliknya. Sudah menjadi rahasia umum jika tidak ada guru yang cocok dengan sikap bossy milik Cho kyuhyun. Entah itu bossy atau apa, tapi menurut kyuhyun dia hanya menerapkan hidup disiplin.

 

“muridmu yang mana?” jawab kyuhyun begitu tenang dan tidak terpengaruh oleh nada provokasi Kim soesangnim. Pria itu bahkan mendudukan dirinya dikursi empuk miliknya sebelum mengeluarkan laptop dan beberapa catatan dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.

 

“Lee Dongwook. Ibunya mengadu padaku kalau kau menghukumnya secara berlebihan. Apa kau ingin sekolah kita dituntut karena telah melakukan kekerasan?!” nada kim soesangnim sedikit naik dengan tangan yang bertolak pinggang seperti menunjukkan kalau dia benar-benar marah.

Kyuhyun menyeringai dan memutar kursinya menghadap kim soesangnim, tangannya dia lipat didepan dada.

“Jadi anak itu mengadu pada ibunya? Dan sepertinya kau takut dengan omelan ibu-ibu itu Kim soesangnim”

“KAU” tangan kim soesangnim terangkat dan membuat gerakan seperti menggenggam namun setelah itu dia menurunkan kembali tanggannya.

“Cho Soesangnim, apa anda harus bersikap berlebihan karena anak itu terlambat datang ke kelas anda dan menyuruhnya mengepel semua ruang kelas?”

Terdengar helaan nafas pendek dari kyuhyun.

“jadi itu yang diceritakan anak itu. Aku tidak menghukumnya karena dia datang terlambat di kelasku tapi karena dia berani membolos kelasku dan lebih memilih merokok di dalam kamar mandi”

“AP-APA??” kim soesangnim tergagap seperti tersedak oleh ludahnya sendiri. Matanya mengerjap beberapa kali. Dan pria yang sedang dia hakimi dengan santai memutar kembali kursinya tidak memperdulikan tampang tolol Kim Soesangnim.

“kalau kim soesangnim sudah selesai maka menyingkirlah dari mejaku” kata kyuhyun dengan tangan yang sibuk menghidupkan laptop miliknya tidak memperdulikan lawan bicaranya dan kim soesangnim hanya bisa memejamkan matanya sebentar sebelum melangkah menjauh dari kyuhyun. Baru beberapa langkah kim soesangnim berbalik karena mendengar suara cho kyuhyun.

“o iya kalau dia ingin menuntut karena kekerasan maka lakukan saja”

 

Kim soesangnim sekarang benar-benar pergi dan melewati Eunbi yang selama beberapa menit yang lalu hanya mematung di jarak 3 meter dari meja Cho kyuhyun. Gadis itu tidak berani mendekat dan lebih memilih untuk berdiri di sini seperti orang bodoh.  Dia datang tepat pada saat kim soesangnim menghampiri meja kyuhyun dan inilah akhirnya Eunbi tidak bisa mundur dan tidak bisa maju.

 

“apa kau akan berdiri disitu saja”

Kyuhyun berbicara dengan mata yang masih tetap sama melihat laptop atau catatan-catatan miliknya. Dia memang sudah menyadari kehadiran Eunbi dari tadi, saat pria itu memutar kursinya menghadap kim soesangnim.

 

Eunbi hanya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti memastikan apakah kyuhyun baru saja berbicara dengannya atau dengan orang lain.

“aku berbicara denganmu murid baru” kali ini kyuhyun mengangkat kepalanya menatap Eunbi yang sekarang sedikit menganga.

 

Wow sepertinya dia adalah seorang cenayang batin Eunbi.

 

“saya hanya ingin menyerahkan ini”

Eunbi mengambil kertas dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada cho kyuhyun.

“baiklah sekarang pergilah”

Eunbi menunduk memberi hormat dan berbalik tapi belum sempat dia melangkah suara cho kyuhyun kembali memenuhi gendang telinganya.

“tunggu. Apakah kau sudah mengisinya dengan benar?”

“apa?” bukannya menjawab Eunbi malah balik bertanya.

“nama marga ayahmu kim dan marga ibumu Jung dan namamu Hwang. Apa kau pikir ada yang salah?”

Eunbi meremas-remas tangannya sesuatu yang selalu dia lakukan saat dia cemas.

Ayo. Berpikirlah Hwang Eunbi. Berpikirlah.

“Ah! Ayah kandungku sudah meninggal dan ibuku menikahi laki-laki dengan pria bermarga Kim. Aku pikir itu untuk waliku, jadi aku pikir kalau akan lebih berguna kalau menulis nama Ayah tiriku”

 

Maafkan aku Ayah.

 

Eunbi menggigit bibir bawahnya menantikan respon cho kyuhyun.

“baiklah. Kurasa itu tidak masalah”

“iya”  Eunbi menurunkan bahunya yang sempat tegang.

**

“Menyebalkan!”

Eunbi menghela nafasnya dan menatap tali sepatu itu malas. Dia sudah membenarkan ikatan tali sepatu itu sebanyak 3 kali di pagi ini bahkan sebelum bel masuk berbunyi, dan sekarang akan bertambah mejadi empat kali. Eunbi berjongkok kembali membenarkan tali sepatu miliknya.

 

“Bisa tolong ambilkan itu?”

Eunbi terdiam melihat bola basket yang berada di bawah kakinya dan pria yang berdiri menjulang tinggi di depannya.

 

Rupanya murid laki-laki ini yang berbicara tadi.

 

Eunbi berdiri sambil menepuk-nepuk lututnya dengan sebelah tangannya setelah berhasil mengikat kembali tali sepatunya.

“ini” Eunbi berucap dan menanti bola basket itu berpindah tangan pada pemilik aslinya.

“Thank you”

Eunbi hanya mengangkat bahunya dan pergi melewati murid laki-laki itu tapi hanya beberapa langkah karena suara laki-laki membuatnya harus berhenti.

“aku tidak pernah melihatmu. Apa kau murid baru?”

Eunbi menoleh dan matanya seperti memindai laki-laki yang berdiri di depannya dari bawah sampai atas kepala entah apa maksudnya.  Dia lumayan tampan, batin Eunbi.

“iya” Eunbi mengangguk mengiyakan.

“pantas saja, aku baru bertemu denganmu. Perkenalkan namaku Choi Minho” laki-laki yang mengaku bernama Minho itu mengulurkan tangannya setelah membenarkan letak bola basketnya menjadi mengampitnya disamping tubuhnya dengan tangan kirinya.

“Sialan!” Eunbi mengumpat

“Apa?” Minho hampir menyatukan kedua alisnya, dahinya berkerut. Dia memperkenalkan diri dan gadis itu mengumpat di depannya.?

“kita sudah terlambat 5 menit”

 

Minho mendengus tidak percaya dan menatap punggung Eunbi yang berlari menjauh membuatrambut kucir kudanya bergerak ke kanan dan ke kiri beraturan.

“dasar” Minho tersenyum seperti menertawakan dirinya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupannya dia diabaikan oleh gadis yang setinggi bahunya.

 

“Aishh Sialan!”

Minho mengumpat dan langsung berlari. Dia yang bodoh atau kerja otaknya yang melambat? Tidak menyadari kalau dirinya juga terlambat.

 

Eunbi menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang mengering, nafasnya masih memburu tidak beraturan.

“permisi” Eunbi melangkah masuk ke ruang kelas setelah mengetuk pelan pintu yang sedikit terbuka menampilkan guru wanita sekitar 40 tahunan dengan kaca mata minus miliknya dan rambut sebahu yang dikeriting.

Mata guru bahasa inggris itu Nampak menyipit dari balik kacamata tebal yang dia gunakan.

“kenapa kalian terlambat?”

“ma-“

“maafkan saya”

Itu bukanlah suara Eunbi, bahkan Eunbi menghentikan kalimatnya saat suara lain menyahut dari arah belakang. Saat itu Eunbi sadar bahwa guru Kang tadi menyebut kalian.

 

Eunbi menoleh dan matanya menangkap bayangan murid laki-laki yang baru satu menit yang lalu bersamanya. Murid laki-laki yang masih membawa bola basket di tangannya, Choi Minho.

Eunbi masih berdiri mematung dengan  beberapa pertanyaan yang tidak bisa dia ungkapkan sampai laki-laki itu berjalan melalui Eunbi. Dan dia sadar bahwa dia sudah tampak sangat bodoh karena mengabaikan kelas yang mendadak sedikit riuh dengan gumaman dari beberapa murid perempuan dan guru Kang yang sudah berdiri tidak sabar menanti Eunbi untuk segera duduk dibangkunya. Guru itu sudah menyuruh Eunbi duduk saat gadis itu sedang asyik dengan pikirannya.

 

 

Jika dia tidak banyak bicara maka itu bukanlah Min Yoojin, dan seperti sekarang bahkan mungkin sebelum Eunbi benar-benar menyentuhkan pantatnya pada bangku miliknya gadis itu sudah melempar beberapa pertanyaan. Sepertinya jiwa keingintahuan gadis ini sangat besar dibandingkan orang lain seusianya.

“kau kenal dengan Minho? Bagaimana bisa kalian datang bersama?”

Min Yoojin bahkan tidak membiarkan Eunbi untuk menjawab pertanyaannya satu persatu seperti dia akan lupa jika menjeda pertanyaannya.

 

Eunbi menghela nafas.

“baiklah, biar aku jelaskan. Aku tidak mengenal murid laki-laki itu tapi mungkiniya”

Yoojin memberenggut bingung. Apa yang sebenarnya ingin Eunbi katakan? Mengenalnya atau tidak mengenalnya?

“maksudku mungkin aku hanya bertemu dengannya tadi pagi dan itu tidak sengaja. Dan siapa namanya tadi?”

“Minho. Choi Minho” jawab Min Yoojin cepat, lebih cepat dari sambaran petir.

“baik. Choi Minho. Aku tidak berangkat dengannya. Itu hanya kebetulan”

Yoojin menyangga dagunya seperti berfikir haruskah dia mempercayai apa yang dikatakan Eunbi. Tapi apa alasannya untuk tidak percaya pada gadis yang sekarang sudah focus memperhatikan beberapa catatan-catatan bahasa asing di papan tulis yang segera dia salin pada buku catatannya dan tidak memperdulikan Yoojin yang masih berperang dengan pikirannya. Yoojin memilih untuk percaya pada Eunbi, lagi pula Eunbi tidak mungkin kenal dengan Choi Minho.

**

“jadi kau satu kelas denganku?”

Eunbi dan Yoojin kompak menengadah menatap orang yang baru saja berbicara. Dan Yoojin hanya terpaku ditempat melihat siapa yang baru saja datang kemejanya, Choi Minho. Itu Choi Minho! Hati Yoojin bersorak. Setelah hampir dua tahun gadis itu berada di kelas yang sama dengan laki-laki itu belum pernah dia datang kemeja Yoojin tanpa alasan seperti ini. Ya, Choi Minho memang tidak terlalu suka untuk mengobrol sesuatu yang kurang penting dengan teman-temannya, kecuali teman team basketnya. Dia hanya akan berbicara kalau itu menurutnya penting dan mengabaikan beberapa gadis yang memohon untuk diajaknya mengobrol.

 

Sejak bertemu dengan Eunbi pagi tadi dan menyadari kalau gadis itu adalah teman sekelasnya, entah kenapa Minho merasa senang. Seperti penasaran yang terlalu dalam untuk mengenal lebih jauh tentang gadis ini. Seperti ada sesuatu dari gadis itu yang mampu membuatnya penasaran.

 

“kurasa iya, karena sekarang kita berada di satu kelas” ujar Eunbi santai.

 

Suasana di kelas mendadak penuh dengan bisikan-bisikan dan decakan-decakan, tentu saja itu karena Choi Minho yang tanpa ada angin tanpa ada hujan menghampiri meja Eunbi dan mengajaknya berbicara. Bukan karena apa-apa tapi semua gadis dikelas ini berani membayar mahal untuk mencuri perhatian Minho, murid laki-laki yang selalu cuek dengan wanita dan tidak pernah peduli sudah berapa banyak hati gadis yang sudah dia curi. Selama ini hanya ada satu gadis yang berhasil dekat dengan Choi Minho, gadis yang sama tenarnya di sekolah karena kecatikannya, murid perempuan dari kelas sebelah.

 

“senang satu kelas denganmu Hwang Eunbi”

Eunbi hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.

“sebelumnya perkenalkan. Namaku Choi Minho, aku tahu kau tidak mendengarkan perkenalanku tadi pagi”

“aku tahu. Namamu aku tahu”

Minho bersedekap dan menyisir sedikit bagian depan rambutnya dengan jarinya.

“Ck!. Aku tidak tahu kalau aku seterkenal itu”

“Tidak. Yoojin memberitahuku kalau namamu Choi Minho”

Seketika Minho menurunkan tangannya. Matanya menatap tidak percaya kalau baru saja ada yang tidak setuju tentang ‘dirinya yang terkenal’. Demi Tuhan seantero sekolah tahu siapa Choi Minho dan mungkin dia bisa dibandingkan dengan beberapa deret artis korea karena ketampanannya.

 

Mungkin itu karena dia murid baru pikir Minho

 

Eunbi menoleh pada Yoojin yang baru saja menyenggol lengannya, dari tadi gadis ini hanya menjadi penonton setia atau lebih tepatnya menikmati nikmat Tuhan yang berdiri di dekatnya. Mulut Eunbi membentuk kata apa tanpa bersuara pada yoojin.

Dia Choi minho kata yoojin menggerakkan bibirnya dan tanpa suara seperti yang Eunbi lakukan. Yoojin rasa setelah ini dia harus memberikan sebuah pengetahuan tentang pria tenar di sekolah ini kepada Eunbi. Hey, dia baru saja menjatuhkan harga diri dari seorang Choi Minho! Idola dari semua kaum hawa termasuk Yoojin, tentunya.

 

“setelah ini kau akan tahu seberapa terkenalnya aku”

Ini seperti janji yang tersirat untuk Eunbi yang diucapkan Minho. Mungkin besok, gadis ini sudah menyadari betapa berpengaruhnya Choi Minho untuk semua gadis disekolah ini. Dan Minho hanya akan melihat bagaimana respon Eunbi selanjutnya.

 

Minho pergi dan kumpulan gadis yang dari tadi sengaja menguping ikut berhamburan menginggalkan kelas. Eunbi masih saja santai dan tidak mengerti betapa berharganya moment yang baru saja dia ciptakan bersama Choi Minho dan dapat dipastikan kalau sekarang hal itu sudah menjadi topik terhangat di kantin sekolah atau beberapa sudut sekolah. Ya, itu adalah pendapat Yoojin.

 

“kau bodoh!” hardik Yoojin pada Eunbi

“apa?”

“kau baru saja membuang waktu yang sangat berharga dengan Minho”

“memangnya apa yang aku lakukan?” jawab Eunbi polos

 

Benar. Gadis ini tidak tahu apa-apa tentang Minho batin Yoojin.

Yoojin sedikit menggeser duduknya menjadi menghadap Eunbi.

“dengarkan aku. Choi Minho dia adalah murid laki-laki paling tenar di sekolah, semua gadis disini berani bertaruh untuk menarik perhatiannya.”

“lalu?”

 

Astaga apa gadis ini belum mengerti juga?!

 

Eunbi masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan Yoojin dan kenapa gadis itu mengatai Eunbi bodoh hanya karena pria bernama Choi Minho itu.

“dia tidak pernah berbicara dengan murid perempuan di sekolah ini seperti apa yang dia lakukan padamu tadi”

Kerutan di kening Eunbi semakin bertambah bahkan alisnya mengerut hampir menyatu.

“maksudmu dia gay?”

 

“auch!”

Eunbi menggosok lengannya yang baru saja mendapat pukulan dari Yoojin.

“kau gila mengatainya gay?”

“lalu apa?” Eunbi jadi kesal sendiri.

“dia adalah pria mahal. Tampan, keren, pandai berolahraga, dan kapten team basket disekolah ini. Hanya saja dia terlalu cuek pada gadis-gadis di sekolah ini. Dan kau baru saja mendapat jackpot karena dia mengajakmu mengobrol” kata yoojin sumringah

 

Eunbi tahu pendapat Yoojin tentang Minho memang benar tampan, keren Eunbi tentu tidak buta untuk tidak melihatnya.Tapi-

“apa istimewanya dengan mengobrol?”

Sekarang Yoojin benar-benar ingin membenturkan kepala Eunbi pada tembok karena dia masih belum juga mengerti.

“karena dia adalah Choi Minho. Choi-Minho” kata Yoojin dengan penekanan pada kata Choi Minho berharap dengan ini Eunbi akan mengerti.

“sudahlah. Aku ingin ke kantin, aku lapar”

 

“Aishhh”

Yoojin mengenggam tanganya diudara gemas. Dia sudah terlalu meledak-ledak menceritakan Choi Minho dan Eunbi hanya cuek seperti omongan Yoojin yang panjang kali lebar itu tidak ada yang berhasil bersarang di kepala cantik Eunbi.

**

Ini adalah salah satu pelajaran yang Eunbi sukai dari kecil. Kesenian. Dia bahkan ikut les melukis waktu SMP hingga lulus SMA, baginya dia bisa meraih kesenangan, kenyamanan, kedamaian lewat melukis. Intinya dia suka seni.

 

“Selamat Siang” suara kyuhyun menggema keseluruh sudut kelas dan para murid berteriak menjawab sapaan cho kyuhyun.

 

Apakah ada yang penting sampai dia datang ke kelas ini?

 

Eunbi menantikan informasi yang akan disampaikan guru muda yang sialan tampan itu. Seperti pemberitahuan tentang peraturan sekolah yang terbaru, mungkin. Dia kan wali kelas sekaligus anak pemilik sekolah ini.

 

“kali ini kita akan membahas tentang prespektif” kata kyuhyun lagi setelah meletakkan dua buku yang dia bawa.

 

Apa? Prespektif? Jangan bilang kalau-

 

“dia guru kesenian?” Tanya Eunbi entah pada siapa, tapi suaranya dapat didengar oleh yoojin dan gadis itu sekarang sedang menatap Eunbi heran.

“kau berfikir kalau dia guru matematika?”

Eunbi mengangguk tanpa menoleh, pikirannya masih syok. Demi apapun, Cho kyuhyun tidak memiliki sesuatu yang disebut santai yang selalu melekat pada guru kesenian. Lebih pantas dan tidak akan mengejutkan kalau sekarang kyuhyun bilang ‘mari kita belajar algoritma’. Dia kaku, tidak santai, semaunya, bossy dan menyebalkan. Apakah kalian berfikir itu cocok untuk guru kesenian?

 

“semua murid disini juga akan setuju jika Cho soesangnim menjadi guru matematika. Kau tahu dia sudah seperti rumus matematika yang memusingkan. Tapi kalau dia menjadi guru matematika kurasa aku akan betah berada dikelas selama dua jam dengan rumus-rumus itu. Kekekeke kurasa itu ide yang bagus, aku bisa memandangi wajahnya yang tampan”

Yoojin berceloteh begitu panjang seperti rel kereta api yang tidak ada habisnya, dan kekehannya baru saja membangunkan singa dari tidurnya.

 

“Yak! Siapa yang melemparku Bodoh!” Yoojin mengumpat dan mengelus kepalanya yang terkena serangan mendadak.

 

“aku. Nona Yoojin”

Kyuhyun melipat tangannya di dada dan tatapan tajamnya berhasil menusuk Yoojin dengan segala kebodohannya karena baru saja mengumpat. Tenggorokannya terasa tercekat dan terasa sulit hanya untuk menelan ludahnya sendiri.

 

Eunbi tercengang di tempatnya menatap kyuhyun dan tampang terkejut Yoojin. Dia sama takutnya dengan Yoojin, tatapan kyuhyun yang tajam lebih menakutkan dari tatapan milik Ayahnya. Selama ini Eunbi pikir Ayahnyalah yang paling menyeramkan didunia ternyata semua pendapat itu harus Eunbi patahkan karena pria yang sekarang berjalan mendekat kearah mejanya jauh lebih menakutkan.

 

Hentakan sepatu pantovel milik kyuhyun seperti alunan music horror yang mengisi sepinya ruang kelas. Kemana semua murid yang tadi masih berkasak-kusuk tidak jelas?

“apa yang sedang kau obrolkan?”

Suara dingin kyuhyun begitu tepat menghujam yoojin dan Eunbi membuat mereka tidak bisa berkutik.

 

Yoojin segera berdiri dari kursinya membuat gerakan yang sangat tiba-tiba sampai suara kursi yang bergeser mengagetkan Eunbi. Yoojin membungkuk dihadapan kyuhyun yang sudah berdiri disamping mejanya.

“maafkan saya soesangnim” sesal Yoojin.

 

Kyuhyun berdecak tidak suka. Di dalam peraturan kelasnya tidak boleh ada murid yang mengabaikannya saat sedang berbicara. Kyuhyun sangat tidak suka dengan itu.

“Ck. Sepertinya obrolan dengan teman sebangkumu tadi sangat seru” kyuhyun menyindir.

 

Merasa dirinya ikut terlibat dan sindiran kyuhyun yang benar-benar tepat sasaran membuat Eunbi sadar dari kebodohannya.

 

Eunbi berdiri dan membungkuk.

“maafkan saya soesangnim” katanya lirih tapi masih dapat ditangkap oleh gendang telinga kyuhyun.

 

“awh!”

“awh!”

Yoojin dan Eunbi mengaduh kesakitan dan mengelus dahinya. Cho kyuhyun baru saja menjitaknya dan jangan ditanya seberapa sakit itu.

 

“berdiri di depan kelas. Angkat sebelah kakimu dan angkat kedua tangan kalian diatas” kata kyuhyun sambil melangkah menjauh kembali ke depan kelas.

 

Eunbi menatap kyuhyun tidak percaya bercampur geram. Matanya ikut menajam meskipun tidak setajam milik kyuhyun yang berhasil mengintimidasinya tadi.

 

“ada yang ingin kau katakan hwang Eunbi?”

Lagi-lagi suara datar dan dingin milik kyuhyun menyambangi telinga Eunbi. Pria itu dari tadi memperhatikan Eunbi yang masih berdiri di tempatnya dan tidak peduli pada hukuman yang baru saja kyuhyun katakan. Bahkan yoojin dengan sadar diri segera berjalan cepat nyaris berlari ke depan kelas melaksanakan hukumannya.

 

Eunbi menghela nafasnya.

“tidak ada soesangnim” katanya mengalah. Dia hanya berfikir logis karena tidak mungkin dia berteriak kau berani menghukumku?! meskipun dia sangat ingin mengutuk pria itu dengan segala kesombongan dan sikap bossy nya yang menyebalkan.

**

“Sialan! Lenganku rasanya mau patah” Yoojin memukul-mukul lengannya seperti memberi sedikit pijatan meskipun dia tahu itu tidak berpengaruh apa-apa.

“kau pikir kita dihukum karena siapa?” Eunbi bertanya seperti memberikan jawaban pada Yoojin bahwa bukan hanya legannya saja yang seperti akan patah tapi juga lengan Eunbi.

“kau memancingku untuk menceritakan tentang malaikat kegelapan itu?”

“hey. Kau yang mengumpat!” ingat Eunbi. Tentu saja mereka tidak akan kena hukuman seperti ini kalau mulut Yoojin yang cerdas itu tidak mengumpat, setidaknya dia tidak akan dihukum berdiri di depan kelas selama kelas berlangsung. Mungkin mereka hanya akan mendapat jitakan dari Cho kyuhyun seperti yang mereka terima tadi. Dan Sungguh itu benar-benar sakit!

“baiklah. Baiklah. Kau salah dan aku juga salah” yoojin mengaku salah dan memang benar itu kesalahan mereka berdua.

 

Gadis itu sekarang menyadarkan punggungnya pada bangku miliknya membuat kepalanya sedikit menengadah dan bayangan yang berdiri disampingnya membuat Yoojin kembali duduk tegap.

“kau mau kemana?” Tanya yoojin

“menyerahkan form ekstrakurikuler”

**

“sepertinya aku sudah mengikuti petunjuk yang Yoojin berikan” Eunbi mengusap pelipisnya bingung. Seperti yang yoojin katakan padanya bahwa ruang seni berada di lantai tiga sekolah ini, tapi dia masih belum menemukan ruangan dengan benda-benda seni seperti kanvas untuk melukis. Lorong-lorong yang dia lewati terlalu sepi untuk ruangan ekstrakurikuler.

“kurasa aku salah jalan”

Baru saja dia akan berbalik badan, tapi telinganya mendengar sesuatu.

 

Seperti biasa kyuhyun selalu menyempatkan dirinya datang ke tempat ini. Ruangan berdebu yang bisa menyumbat pernafasannya sewaktu-waktu, barang-barang tak berguna yang dibiarkannya tergeletak begitu saja. Tapi ada satu barang yang terlihat bersinar dari pada tumpukan bangku yang sudah tak terpakai, disudut ruangan yang berdebu itu, ditutupi kain putih yang tampak sudah usang.

 

Perlahan tangannya yang bergerak di atas grand piano itu menciptakan sebuah alunan nada yang indah. Mata kyuhyun terpejam menikmati setiap nada yang telah dia ciptakan, tidak menyadari bahwa ada seorang penonton di balik jendela yang tingginya hanya sebatas dagu Eunbi.

 

Gadis itu memang sudah menghentikan langkahnya di depan ruangan ini sejak music itu mulai mengalun, dia pikir dia telah benar-benar menemukan ruangan yang dia cari tapi ternyata dia salah. Ruangan ini hanyalah gudang sekolah yang begitu gelap dan pengap. Dan ditengah kegelapan dan kepengapan itu, Eunbi bisa melihat kyuhyun duduk diatas kursi kecil di depan piano. Tangannya menciptakan sebuah nada yang indah. Sejenak Eunbi terpesona kepada kyuhyun, mungkin untuk yang kedua kalinya. Sekarang dia tidak ragu lagi kalau kyuhyun yang selama ini terkenal begitu kaku adalah guru kesenian yang luar biasa.

 

Permainan itu selesai dan Eunbi tersenyum di balik jendela yang sedikit buram karena tumpukan debu-debu, entah apa yang membuatnya menarik ujung-ujung bibirnya. Hatinya hanya terasa begitu senang dan damai disaat yang bersamaan. Dia belum pernah mendengar permainan piano sebagus itu.

 

Matanya tidak berkedip tapi juga tidak membulat, mata hazelnut itu terkunci pada mata tajam milik kyuhyun. Sepersekian detik, dia masih diam mematung dengan mata yang masih menerawang jauh pada mata kyuhyun.

 

Kyuhyun tidak melepaskan tatapannya tapi dia berdiri dan bergerak melangkah.

 

Eunbi memutus kontak mata itu dan mengumpat dalam hati. Dia ketahuan.

Bodoh!!

Eunbi mengumpat dan langsung berjongkok, menyembunyikan tubuhnya dibalik tembok. Dia mengumpat sebanyak-banyaknya dalam hati, seharusnya dia sudah berlari dari tadi bukan terperangkap dalam tatapan dalam milik kyuhyun. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Berlari?

 

Tentu saja hwang Eunbi kau harus berlari!

 

Eunbi memutar tubuhnya, telapak kakinya siap akan berlari tapi suara itu-

“apa yang kau lakukan disini?”

Kenapa pertanyaan ini terasa mematikan untuk Eunbi? Suara dingin dan tajam itu seperti mengiris telinganya.

 

Eunbi memejamkan matanya sebentar dan memutar tubuhnya menghadap sepatu kyuhyun yang terlihat sangat mengkilap, mungkin pria itu menyemirnya setiap hari. Apa yang kau pikirkan hwang Eunbi? Tapi sungguh sepatu itu jauh lebih menarik dari pada wajah kyuhyun yang tampan. Eunbi tidak yakin jika ‘malaikat kegelapan’ itu tidak menjadi setan kegelapan sekarang.

 

Kyuhyun menatap gadis yang berjongkok dibawah kakinya seperti kucing kelaparan. Gadis itu masih menunduk tidak berani mengangkat kepalanya.

 

Perlahan Eunbi mengangkat kepalanya memamerkan cengiran kudanya.

“aku hanya mengikat tali sepatuku” dusta Eunbi

Dan jangan bilang kyuhyun akan percaya begitu saja. Dia sudah menangkap basah Eunbi tadi, dan gadis itu bilang dia hanya mengikat tali sepatu?

“ck. Kau tak pandai berbohong murid baru”

Eunbi mengumpat mengikuti mata kyuhyun.

Sialan!


 

Kenapa saat-saat seperti ini ikatan tali sepatu Eunbi tidak lepas? Akan lebih baik kalau dia benar-benar harus berjongkok dan mengikat kembali tali sepatunya meskipun Eunbi sudah bosan dengan kegiatan mengikat tali sepatu.

 

Eunbi langsung berdiri membuat tubuhnya yang hanya setinggi bahu kyuhyun berhadapan dengan tubuh tegap milik cho kyuhyun. Matanya memberanikan diri untuk menatap kyuhyun.

Dia sudah ketahuan, jadi mau apa lagi?

“aku hanya ingin menyerahkan ini, tapi sepertinya aku salah jalan” kata Eunbi sambil mengulurkan form untuk ekstrakurikuler melukis.

“di jam segini? Dan membolos dari pelajaranmu?”

“aku tidak membolos. Kang Soesangnim tidak masuk hari ini. Jadi kelasku kosong sekarang”

“kau berani menjawabku?!”

Kyuhyun geram sendiri. Tidak pernah dalam sejarahnya mengajar di sekolah ini ada murid yang berani menatap matanya seperti yang Eunbi lakukan sekarang.

 

“apa?” Mata Eunbi menajam.

Dia bertanya dan aku menjawabnya, dan sekarang dia bilang kau berani menjawabku?? Aku yang bodoh atau dia yang bodoh?

“soesangnim bertanya dan aku hanya menjawabnya. Jadi dimana kesalahanku?” lanjut Eunbi.

 

“aishh yak! Yak! Lepaskan!”

Tangan Eunbi sibuk memegangi tangan kyuhyun yang menjewer telinganya.

“ah! Yak! Yak! Itu sakit lepaskan!”

 

Mulut gadis ini batin kyuhyun.

Dia terus membawa Eunbi menuruni anak tangga dengan mulut Eunbi yang terus berteriak. Sepertinya telinga kyuhyun akan benar-benar tuli setelah ini.

 

Kyuhyun melepaskan tanggannya pada telinga Eunbi membuat gadis itu memegangi daun telinganya yang sedikit terlihat memerah.

“yak! Ini sakit sekali!” teriaknya sekali lagi.

“yak?! Kau bilang yak?! Kau mau dihukum?!” kata kyuhyun nyaris berteriak

 

Eunbi menggigit bibir bawahnya canggung. Dia kesal. Tentu saja. Dan dia lupa kalau pria yang berdiri di depannya sekarang adalah gurunya. Eunbi segera menunduk menyesal.

“maafkan saya” sesalnya dengan masih menunduk.

“sepertinya kau belum tahu aku?!” ini bukan pertanyaan tapi pernyataan untuk kyuhyun.

 

Aku tahu. Malaikat kegelapan jawab Eunbi dalam hati.

 

“bersihkan seluruh toilet setelah pulang sekolah! Mengerti?!”

Mata Eunbi membulat sempurna.

“apa?”

“jangan buat aku mengulang kalimatku jika kau tidak ingin hukumannya bertambah”

 

Kyuhyun memutar tubuhnya melangkahkan kakinya ke arah yang berlawanan dengan Eunbi. Kyuhyun tidak tahu bagaimana ekspresi gadis itu sekarang dan kyuhyun tidak ingin tahu.

 

“dia berani macam-macam denganku. Tunggu saja. Akan aku tunjukan diriku yang sebenarnya” gumam kyuhyun seiring langkah kakinya yang menghentak begitu tegas lantai lorong sekolah.

Kyuhyun sedikit kesal saat ada muridnya yang tidak menghormatinya seperti tadi, mengintipnya, berteriak di depannya, menatapnya dengan tatapan yang menatang.

“aishh. Kau akan menyesal murid baru.”

 

“huh!” Eunbi mendengus kesal

“apa dia baru saja menghukumku?”

Tubuh kyuhyun sudah hilang di baling tembok tapi eunbi masih saja menghadap ke arah kepergian pria menyebalkan itu. Mulut Eunbi masih sedikit menganga, terlalu syok untuk menghadapi kenyataan ini.

“memangnya apa salahku? Karena aku mengintipnya?”

“YAK!!! Pria gila! Kau berani menghukumku?!”

TBC

AUTHOR’S NOTE: Maaf baru publish part 2 sekarang, janjinya kemarin tapi karena ada beberapa kesibukkan jadi baru bisa sekarang. Maaf ya 😦

sekali lagi author ingetin bagi yang udah baca JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK 🙂

TERIMA KASIH