18 AGAIN [PART 2]

18 again

18 AGAIN [PART 2]

HAPPY READING

 

Setelah memperkenalkan diri didepan kelas, Eunbi mendudukkan dirinya dibangku disamping gadis dengan bando polkadot berwarna pink.

“Hallo. Namaku Min Yoojin”

Eunbi segera menjabat uluran tangan gadis yang bernama Min Yoojin itu. Sepertinya gadis ini cukup menyenangkan. Pikir Eunbi

“Hwang Eunbi” kata Eunbi kemudian

 

Mereka berdua saling tersenyum dan setelah semua kekacauan di pagi harinya, kali ini Eunbi merasa bahwa bukanlah sebuah keputusan yang buruk untuk kembali ke masa SMA nya. Setidaknya dia punya teman sebangku yang menyenangkan dan hobi berbicara bahkan sepertinya Yoojin tidak pernah kehabisan topic pembahasan walaupun mereka baru bertemu.

 

Kurasa dia adalah biang gossip

 

Eunbi tersenyum kaku menanggapi Yoojin yang asyik bercerita tentang semua murid-murid di dalam kelasnya seperti memberikan Eunbi sebuah penjelasan tentang rumus fisika yang tidak ada habisnya. Sejujurnya Eunbi senang dengan kepribadian Yoojin yang sangat berbanding terbalik dengan teman-temannya dulu. Tidak ada dari mereka yang suka berbicara sepanjang rel kereta api seperti Yoojin, mereka hanya akan berbicara kepada Eunbi saat dibutuhkan. Eunbi memang berada di salah satu kelas khusus untuk anak-anak kolongmerat, dan sekali lagi dari pada menyebut mereka teman Eunbi lebih suka menyebut mereka seperti ‘rekan bisnis’. Rekan bisnis yang sudah diwariskan oleh orang tua mereka.

 

 

Eunbi berjalan malas di sepanjang lorong sekolah, kalau saja cho kyuhyun tidak menyuruhnya menemuinya pada jam istirahat pasti dia tidak akan menolak ajakan Yoojin untuk memadamkan kelaparannya di kantin sekolah.

 

Di jam istirahat seperti ini ruang guru terasa lebih ramai dari tadi pagi walaupun beberapa mereka sudah pergi untuk makan siang dan tinggallah beberapa guru lain yang memakan bekalnya atau berkutat dengan pekerjaannya seperti cho kyuhyun.

 

Kyuhyun menggeser kursinya untuk melihat lebih jelas murid baru yang sudah berdiri di samping mejanya.

“ada apa Cho Soesangnim?”

“ini” kyuhyun memberikan sebuah kertas ke hadapan Eunbi.

“itu adalah form untukdata orang tua murid di kelasku. Kalau kau berbuat masalah maka aku akan langsung memanggil orang tuamu. Jadi jangan membuat masalah. Aku benci hal itu”

Eunbi hanya mengangguk mendengarkan penjelasan cho kyuhyun, matanya masih sibuk membaca kertas yang diberikan kepadanya.

“kembalikan itu besok”

**

“ada apa? Kenapa Cho Soesangnim menyuruhmu menemuinya?” yoojin segera memberondong Eunbi dengan berbagai pertanyaannya bahkan sebelumpantat Eunbi sempat menyentuh bangkunya.

 

“hanya ini” eunbi menyodorkan kertas yang diberikan cho kyuhyun padanya tadi.

“Ooo” Yoojin ber oh ria

“Aku pikir kau mendapat masalah. Kau tahu dia adalah salah satu guru yang menakutkan” lanjut yoojin

 

Merasa sedikit tertarik dengan topic yang sekarang Yoojin bahas, Eunbi membenarkan duduknya menghadap teman sebangku.

“Apa kau bisa memberitahuku bagaimana Cho Soesangnim?” ini bukan pertanyaan tapi lebih seperti permohonan. Eunbi rasa gadis yang duduk disebelahnya adalah orang yang tepat untuk menjawab pertanyaanya yang satu ini.

 

“jangan bilang kau tertarik pada Cho soesangnim” tebak yoojin asal. Matanya menatap Eunbi penuh selidik seperti mencari jawaban dari tebakannya lewat ekspresi yang gadis itu berikan. Sedangkan gadis yang menjadi objeknya saat ini hanya mengedipkan matanya berkali-kali tidak menjawabnya.

 

Kurasa tadi aku sempat tertarik padanya. Batin Eunbi

 

“Baiklah. Semua murid perempuan disini mengidolakan Cho Soesangnim tapi tidak setelah mengetahui bagaimana menakutkannya dia”

 

Alis Eunbi hampir menyatu dengan kerutan di dahinya. Yoojin mengerti murid baru ini masih belum paham apa yang dia maksud. Perlahan dia mebetulkan posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Eunbi.

 

“dengarkan aku baik-baik” perintahnya dan hanya mendapat anggukan dari Eunbi.

“Cho Soesangnim adalah guru paling tampan di sekolah ini. Kau pasti tahu itu”

Lagi-lagi Eunbi mengangguk. Ya, sejauh yang dia tahu tentang sekolah ini dan penghuninya memang tidak ada guru yang setampan Cho kyuhyun. Dan dapat dipastikan kalau semua kaum hawa di sekolah ini pasti menaruh minat pada guru yang satu itu.

 

“Tapi tidak dengan sifatnya. Kau tahu apa julukannya?”

Eunbi menggeleng. Tentu saja dia tidak tahu, dia baru setengah hari disekolah ini bagaimana dia bisa tahu tentang julukan Cho kyuhyun.

 

“malaikat kegelapan” kata yoonji pasti. Tentu dia tidak akan lupa tentang julukan wali kelasnya.

“apa?”

“kau tahu wajahnya seperti malaikat begitu tampan tapi sifatnya” yoojin menggeleng sebagai kelanjutan dari kalimatnya.

“Dia begitu kaku, kejam, dingin, tidak pernah berbasa basi selalu mengatakan apa yang dia mau dan melakukan apa yang dia inginkan. Kalau dia tidak suka maka dia akan bilang tidak suka. Bahkan aku tidak pernah melihatnya berbincang dengan guru-guru lain, sepertinya dia punya kehidupan sendiri.”

 

Ya, Eunbi setuju dengan kyuhyun yang selalu melakukan dan mengatakan apapun yang dia mau. Itu terjadi padanya tadi pagi, bagaimana pria itu dengan lancangnya menarik ikat rambut Eunbi.

 

“kalau saja dia bukan anak kepala sekolah, ketua yayasan, pemilik sekolah, ini maka aku pastikan dia akan dikeluarkan”

“apa?”

Matanya membulat dan teriakan spontannya membuat gadis yang berada di depannya sedikit memudurkan tubuhnya sangking terkejutnya. Tapi Yoojin kembali memposisikan tubuhnya seperti tadi.

“ jadi kalau kau bertanya apakah cho soesangnim kaya, maka aku akan menjawab iya. Dia adalah pewaris tunggal yayasan sekolah ini.”

Kalau melihat betapa besarnya sekolah ini maka Eunbi bisa menebak kalau keluarga cho kyuhyun adalah orang kaya meskipun tidak sekaya keluarganya tentunya. Sekarang Eunbi memahami satu hal, mungkin kyuhyun bertingkah seperti itu ‘bossy’karena dia memiliki kekuasaan disini. Orang kaya selalu sama. Apakah Eunbi baru saja mengolok orang kaya? Lalu bagaimana dengannya? Baiklah. Eunbi akan meralatnya. Tidak semua orang kaya bertingkah menyebalkan seperti itu. Mungkin diantara orang kaya yang bertingkah bossy maka kyuhyunlah salah satunya.

**

Eunbi sedikit merenggangkan ototnya, hari pertamanya terasa begitu melelahkan mungkin karena dia sudah lama tidak melakukan rutinitas ini. Yang dia butuhkan sekarang adalah kasur miliknya, dia sangat lelah sekarang. Lorong asrama ini terasa sangat jauh, dari tadi Eunbi masih belum melihat kamarnya bahkan setelah melewati beberapa belokan dan tangga.

 

Matanya menangkap seseorang yang berjalan tidak jauh didepannya. Dengan sedikit berlari Eunbi segera mengimbangi langkah kaki milik murid perempuan yang sudah Eunbi hapal membuat murid itu berhenti dan menoleh pada Eunbi.

“Kenapa kau mengacuhkan aku di kelas tadi, bahkan kita teman satu kamar” tuntut Eunbi. Dia sudah benar-benar kesal dengan sikap gadis ini. Siapa yang tahu kalau gadis ini adalah teman satu kelas Eunbi. Saat Eunbi berniat menyapanya gadis itu bahkan pura-pura tidak tahu dan lebih asyik dengan bukunya. Tapi bukankah seharusnya dia menyapa Eunbi karena dia adalah teman satu kamarnya?

 

“aku tidak suka berbasa basi dengan hal yang tidak berguna seperti itu”

Huh?!

Eunbi menghela nafasnya.

“Shin Na Mi. itu adalah hal yang penting karena kita adalah teman satu kamar dan satu kelas.”

Jangan ditanya bagaimana Eunbi bisa tahu nama gadis itu tanpa bertanya padanya. Tentu saja dia melihat name tag yang mengantung di seragam sekolahnya dan sedikit informasi dari Yoojin saat gadis itu menjelaskan tentang semua murid yang berada di kelasnya tadi pagi.

“jangan bersikap kita sedekat itu”

 

Eunbi menggeram ditempat melihat Na mi sudah melenggang pergi. Untuk pertama kalinya dia bertemu dengan orang yang sangat menyebalkan seperti Na mi. Seingatnya tidak ada temannya yang sedingin dan semenyebalkan Na mi. sepertinya Eunbi harus mulai berlatih kesabaran mulai dari sekarang.

 

 

Tangannya terus menggerakkan bolpoint di tangannya membuat tinta hitam itu menghiasi kertas yang putih. Eunbi memulai halaman kedua dari buku diarynya, menceritakan hari pertamanya di sekolah. Baginya hari pertamanya ini sangatlah luar biasa, dia kesal juga senang. Ah! Memikirkan tentang itu membuat Eunbi yakin kalau SMA nya yang kedua memanglah berbeda dari SMA nya yang lalu.

 

Eunbi menutup diarynya, tangannya masih memengang bolpoint dan matanya melirik sekilas Na mi yang tetap diam dan lagi-lagi dia seolah sibuk berkencan dengan buku-buku tebal setebal ensiklopedia.

Na Mi memanglah orang kutu buku yang tidak tertarik pada apapun selain tumpukan-tumpukan rumus yang harus dia pecahkan. Tidak heran kalau dia selalu berada di peringkat pertama mulai tahun pertama dia di sekolah. Semua murid di kelas tahu kalau gadis ini memang pintar tapi sayangnya sikapnya yang tidak memperdulikan keadaan sekitar membuat semua teman-teman di kelas tidak begitu tertarik dengan kehidupan si kutu buku ini. Tapi lagi-lagi Na mi tidak memperdulikan bagaimana murid lain memandangnnya. Mungkin meskipun ada kebakaran disekolah gadis itu masih saja tenang dan tidak peduli.

 

Ah! Aku harus mengisi form itu

 

Eunbi bangkit dari kursinya berjalan mendekati tas ransel yang dia letakkan di samping ranjang. Dia ingat harus segera mengisi form itu dan mengembalikkannnya pada Cho Soesangnim besok pagi.

 

Pertama Eunbi mengisi namanya dan kemudian beralih mengisi kolom untuk orang tua. Dia tentu tidak perlu berfikir untuk mengisi form ini karena itu hanya berisi informasi pribadi tentang no telp orang tuanya, nama orang tuanya dan alamat orang tuanya.

 

“sudah selesai” katanya lirih.

Dia membaca ulang form itu mulai dari atas dan matanya berhenti pada nama Ayahnya.

‘Hwang Tae Joo’

Eunbi kemudian mengambil correction pen dan menghapus nama Ayahnya. Dia tidak mungkin menuliskan nama Ayahnya, semua orang pasti akan tahu kalau dia adalah anak dari seorang Hwang Tae Joo pemilik perusahaan elektronik besar di Korea Selatan. Tidak. Tidak. Eunbi tidak ingin mengacaukan rencana yang sudah dia susun. Kemudian dia berfikir, jika bukan nama Ayahnya yang dia tulis disitu maka nama siapa?

Kim Ahjussi?

 

Lama dia berfikir sampai akhirnya dia benar-benar menulis nama kim ahjussi disana. Demi Tuhan dia tidak ingin menjadi anak durhaka karena tidak mengakui ayahnya atau menyumpahi ibunya akan berpisah dengan ayahnya dan memilih kim ahjussi sebagai ayah penggantinya. Eunbi tidak tahan hanya untuk membayangkannya saja.

Maafkan aku Ayah. Ini demi kebaikan.

Yakin Eunbi dalam hati. Ini hanya untuk walinya di sekolah baru ini tapi Eunbi dapat pastikan bahwa Ayahnya hanya satu dan itu bukan Kim Ahjussi.

**

Pagi ini Eunbi bangun lebih pagi. Ya, dia tidak ingin terlambat seperti kamarin. Bahkan dia meletakkan alarm di samping telinganya, tidak mungkin dia mengandalkan teman sekamarnya untuk membangunkannya yang ada Na mi akan meninggalkan seperti kemarin setelah dia memberitahu Eunbi betapa sedikitnya waktu yang dia butuhkan untuk sekedar mandi dan menggosok gigi. Lalu dimana Na mi? gadis itu sudah bersiap dengan seragam sekolahnya dan memasukkan beberapa buku di atas meja belajarnya ke dalam tas miliknya. Dan Eunbi tidak mau ambil pusing dengan gadis itu.

“rupanya kau tidak terlambat lagi” kata Na mi dingin dan tidak menatap lawan bicaranya. Eunbi hanya mengangguk dan berkata

“tentu. Aku tidak ingin kena masalah karena terlambat”

 

Na mi sudah selesai dengan kegiatannya, dia melesat pergi begitu saja dan hilang dari balik pintu. Percakapan yang singkat, sangat singkat malah untuk dua orang teman sekelas dan roommate di pagi hari.

 

Eunbi mencibir dalam diam dan kembali focus mengikat tali sepatu. Sejujurnya dia tidak terlalu pandai mengikat tali sepatu. Maksudnya dia tidak bisa mengikat tali sepatu begitu kuat dan tidak mudah terlepas. Sudah menjadi kebiasaannya jika dia harus membenarkan tali sepatu sebanyak yang dia bisa karena tali itu akan mudah sekali lepas. Sebenarnya apa yang sulit dari mengikat tali sepatu? Kita hanya perlu membuat simpulan dan menariknya, merapikannya maka selesai. Tapi itu terlalu sulit untuk Eunbi, makanya dari dulu dia lebih sering memakai sepatu tak bertali karena dia tidak ingin lelah karena bolak-balik berjongkok untuk membenarkan tali sepatunya. Dan Sialan Kim Ahjussi. Dia sudah menemani Eunbi hampir seumur hidup gadis itu, tapi kenapa dia menyiapakan sepatu bertali yang merepotkan seperti ini!.

 

Halaman sekolah pagi ini sudah tampak sangat ramai, para murid sudah mulai berdatangannya. Sesekali Eunbi menguap dan mengucek matanya, rasa kantuk masih mendominasi dalam tubuhnya sampai suara klakson mobil membuatnya terperanjat saat sebelah tangannya menutup mulutnya yang menguap.

“Yak!” Eunbi berteriak walaupun akhirnya dia juga minggir

 

Sebuah audi hitam melewati Eunbi, mobil yang baru saja menarik Eunbi pada 1000% kesadarannya dan menghapus semua rasa kantuk. Mata Eunbi sedikit memicing melihat manusia yang duduk di balik kursi kemudi dari balik kaca mobil yang gelap. Tapi segelap apapun itu, Eunbi masih dapat melihat bayangan pria tampan yang sialnya itu adalah Cho kyuhyun.

 

“apa yang kau pikirkan Hwang Eunbi. Sadarlah!” ujar Eunbi lirih

“memangnya apa yang kau pikirkan?”

Lagi-lagi Eunbi memekik kaget dan menatap kesal pada gadis yang tiba-tiba berdiri disampingnya dengan tampang tidak berdosa.

“kau mengangetkanku Yoojin” alih-alih menjawab pertanyaan Yoojin Eunbi lebih memilih menyeruakan kekesalannya. Dan gadis yang dia bicarakan hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli dan menampilkan cengiran kudanya.

“jadi siapa yang kau pikirkan?” tanyanya lagi

“tidak ada” kata Eunbi sambil berlalu meninggalkan Yoojin , tapi gadis itu dengan cepat dapat mengimbangi langkah Eunbi sampai mereka berjalan beriringan.

“apa kau sedang mengincar murid laki-laki disini?”

“ayolah. Kau tidak perlu sungkan untuk mengatakannya. Aku akan membantumu. Jadi siapa orangnya?”

“tidak ada yang aku pikirkan dan aku incar. Kau puas”

 

Yoojin berdecak tidak percaya dan tidak puas dengan jawaban Eunbi tentunya. Sepertinya jiwa penasaran dan keingintahuannya yang terlalu tinggi mencium sesuatu yang tidak beres. Itulah kenapa alasannya gadis ini dijuluki Ratu Gosip karena instingnya yang tajam dan mulutnya yang lebar.

 

Seperti biasanya beberapa murid akan menunduk pada kyuhyun saat dia melintas di depan mereka. Berjalan dengan tegas dan sedikit keangkuhan itulah cho kyuhyun. Dia hanya menanggapi dengan anggukan sapaan dari guru-guru yang lain.

 

“Cho Soesangnim. Apa yang kau lakukan pada muridku?!” tiba-tiba Kim Soesangnim menghardik cho kyuhyun dengan pertanyaannya yang jelas-jelas mengambarkan kekesalannya pada Cho kyuhyun. Salah satu guru pengajar bahasa Inggris itu langsung menghampiri Cho kyuhyun saat melihatnya baru masuk ke dalam ruang guru bahkan sebelum kyuhyun menyentuh kursi miliknya. Sudah menjadi rahasia umum jika tidak ada guru yang cocok dengan sikap bossy milik Cho kyuhyun. Entah itu bossy atau apa, tapi menurut kyuhyun dia hanya menerapkan hidup disiplin.

 

“muridmu yang mana?” jawab kyuhyun begitu tenang dan tidak terpengaruh oleh nada provokasi Kim soesangnim. Pria itu bahkan mendudukan dirinya dikursi empuk miliknya sebelum mengeluarkan laptop dan beberapa catatan dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.

 

“Lee Dongwook. Ibunya mengadu padaku kalau kau menghukumnya secara berlebihan. Apa kau ingin sekolah kita dituntut karena telah melakukan kekerasan?!” nada kim soesangnim sedikit naik dengan tangan yang bertolak pinggang seperti menunjukkan kalau dia benar-benar marah.

Kyuhyun menyeringai dan memutar kursinya menghadap kim soesangnim, tangannya dia lipat didepan dada.

“Jadi anak itu mengadu pada ibunya? Dan sepertinya kau takut dengan omelan ibu-ibu itu Kim soesangnim”

“KAU” tangan kim soesangnim terangkat dan membuat gerakan seperti menggenggam namun setelah itu dia menurunkan kembali tanggannya.

“Cho Soesangnim, apa anda harus bersikap berlebihan karena anak itu terlambat datang ke kelas anda dan menyuruhnya mengepel semua ruang kelas?”

Terdengar helaan nafas pendek dari kyuhyun.

“jadi itu yang diceritakan anak itu. Aku tidak menghukumnya karena dia datang terlambat di kelasku tapi karena dia berani membolos kelasku dan lebih memilih merokok di dalam kamar mandi”

“AP-APA??” kim soesangnim tergagap seperti tersedak oleh ludahnya sendiri. Matanya mengerjap beberapa kali. Dan pria yang sedang dia hakimi dengan santai memutar kembali kursinya tidak memperdulikan tampang tolol Kim Soesangnim.

“kalau kim soesangnim sudah selesai maka menyingkirlah dari mejaku” kata kyuhyun dengan tangan yang sibuk menghidupkan laptop miliknya tidak memperdulikan lawan bicaranya dan kim soesangnim hanya bisa memejamkan matanya sebentar sebelum melangkah menjauh dari kyuhyun. Baru beberapa langkah kim soesangnim berbalik karena mendengar suara cho kyuhyun.

“o iya kalau dia ingin menuntut karena kekerasan maka lakukan saja”

 

Kim soesangnim sekarang benar-benar pergi dan melewati Eunbi yang selama beberapa menit yang lalu hanya mematung di jarak 3 meter dari meja Cho kyuhyun. Gadis itu tidak berani mendekat dan lebih memilih untuk berdiri di sini seperti orang bodoh.  Dia datang tepat pada saat kim soesangnim menghampiri meja kyuhyun dan inilah akhirnya Eunbi tidak bisa mundur dan tidak bisa maju.

 

“apa kau akan berdiri disitu saja”

Kyuhyun berbicara dengan mata yang masih tetap sama melihat laptop atau catatan-catatan miliknya. Dia memang sudah menyadari kehadiran Eunbi dari tadi, saat pria itu memutar kursinya menghadap kim soesangnim.

 

Eunbi hanya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti memastikan apakah kyuhyun baru saja berbicara dengannya atau dengan orang lain.

“aku berbicara denganmu murid baru” kali ini kyuhyun mengangkat kepalanya menatap Eunbi yang sekarang sedikit menganga.

 

Wow sepertinya dia adalah seorang cenayang batin Eunbi.

 

“saya hanya ingin menyerahkan ini”

Eunbi mengambil kertas dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada cho kyuhyun.

“baiklah sekarang pergilah”

Eunbi menunduk memberi hormat dan berbalik tapi belum sempat dia melangkah suara cho kyuhyun kembali memenuhi gendang telinganya.

“tunggu. Apakah kau sudah mengisinya dengan benar?”

“apa?” bukannya menjawab Eunbi malah balik bertanya.

“nama marga ayahmu kim dan marga ibumu Jung dan namamu Hwang. Apa kau pikir ada yang salah?”

Eunbi meremas-remas tangannya sesuatu yang selalu dia lakukan saat dia cemas.

Ayo. Berpikirlah Hwang Eunbi. Berpikirlah.

“Ah! Ayah kandungku sudah meninggal dan ibuku menikahi laki-laki dengan pria bermarga Kim. Aku pikir itu untuk waliku, jadi aku pikir kalau akan lebih berguna kalau menulis nama Ayah tiriku”

 

Maafkan aku Ayah.

 

Eunbi menggigit bibir bawahnya menantikan respon cho kyuhyun.

“baiklah. Kurasa itu tidak masalah”

“iya”  Eunbi menurunkan bahunya yang sempat tegang.

**

“Menyebalkan!”

Eunbi menghela nafasnya dan menatap tali sepatu itu malas. Dia sudah membenarkan ikatan tali sepatu itu sebanyak 3 kali di pagi ini bahkan sebelum bel masuk berbunyi, dan sekarang akan bertambah mejadi empat kali. Eunbi berjongkok kembali membenarkan tali sepatu miliknya.

 

“Bisa tolong ambilkan itu?”

Eunbi terdiam melihat bola basket yang berada di bawah kakinya dan pria yang berdiri menjulang tinggi di depannya.

 

Rupanya murid laki-laki ini yang berbicara tadi.

 

Eunbi berdiri sambil menepuk-nepuk lututnya dengan sebelah tangannya setelah berhasil mengikat kembali tali sepatunya.

“ini” Eunbi berucap dan menanti bola basket itu berpindah tangan pada pemilik aslinya.

“Thank you”

Eunbi hanya mengangkat bahunya dan pergi melewati murid laki-laki itu tapi hanya beberapa langkah karena suara laki-laki membuatnya harus berhenti.

“aku tidak pernah melihatmu. Apa kau murid baru?”

Eunbi menoleh dan matanya seperti memindai laki-laki yang berdiri di depannya dari bawah sampai atas kepala entah apa maksudnya.  Dia lumayan tampan, batin Eunbi.

“iya” Eunbi mengangguk mengiyakan.

“pantas saja, aku baru bertemu denganmu. Perkenalkan namaku Choi Minho” laki-laki yang mengaku bernama Minho itu mengulurkan tangannya setelah membenarkan letak bola basketnya menjadi mengampitnya disamping tubuhnya dengan tangan kirinya.

“Sialan!” Eunbi mengumpat

“Apa?” Minho hampir menyatukan kedua alisnya, dahinya berkerut. Dia memperkenalkan diri dan gadis itu mengumpat di depannya.?

“kita sudah terlambat 5 menit”

 

Minho mendengus tidak percaya dan menatap punggung Eunbi yang berlari menjauh membuatrambut kucir kudanya bergerak ke kanan dan ke kiri beraturan.

“dasar” Minho tersenyum seperti menertawakan dirinya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupannya dia diabaikan oleh gadis yang setinggi bahunya.

 

“Aishh Sialan!”

Minho mengumpat dan langsung berlari. Dia yang bodoh atau kerja otaknya yang melambat? Tidak menyadari kalau dirinya juga terlambat.

 

Eunbi menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang mengering, nafasnya masih memburu tidak beraturan.

“permisi” Eunbi melangkah masuk ke ruang kelas setelah mengetuk pelan pintu yang sedikit terbuka menampilkan guru wanita sekitar 40 tahunan dengan kaca mata minus miliknya dan rambut sebahu yang dikeriting.

Mata guru bahasa inggris itu Nampak menyipit dari balik kacamata tebal yang dia gunakan.

“kenapa kalian terlambat?”

“ma-“

“maafkan saya”

Itu bukanlah suara Eunbi, bahkan Eunbi menghentikan kalimatnya saat suara lain menyahut dari arah belakang. Saat itu Eunbi sadar bahwa guru Kang tadi menyebut kalian.

 

Eunbi menoleh dan matanya menangkap bayangan murid laki-laki yang baru satu menit yang lalu bersamanya. Murid laki-laki yang masih membawa bola basket di tangannya, Choi Minho.

Eunbi masih berdiri mematung dengan  beberapa pertanyaan yang tidak bisa dia ungkapkan sampai laki-laki itu berjalan melalui Eunbi. Dan dia sadar bahwa dia sudah tampak sangat bodoh karena mengabaikan kelas yang mendadak sedikit riuh dengan gumaman dari beberapa murid perempuan dan guru Kang yang sudah berdiri tidak sabar menanti Eunbi untuk segera duduk dibangkunya. Guru itu sudah menyuruh Eunbi duduk saat gadis itu sedang asyik dengan pikirannya.

 

 

Jika dia tidak banyak bicara maka itu bukanlah Min Yoojin, dan seperti sekarang bahkan mungkin sebelum Eunbi benar-benar menyentuhkan pantatnya pada bangku miliknya gadis itu sudah melempar beberapa pertanyaan. Sepertinya jiwa keingintahuan gadis ini sangat besar dibandingkan orang lain seusianya.

“kau kenal dengan Minho? Bagaimana bisa kalian datang bersama?”

Min Yoojin bahkan tidak membiarkan Eunbi untuk menjawab pertanyaannya satu persatu seperti dia akan lupa jika menjeda pertanyaannya.

 

Eunbi menghela nafas.

“baiklah, biar aku jelaskan. Aku tidak mengenal murid laki-laki itu tapi mungkiniya”

Yoojin memberenggut bingung. Apa yang sebenarnya ingin Eunbi katakan? Mengenalnya atau tidak mengenalnya?

“maksudku mungkin aku hanya bertemu dengannya tadi pagi dan itu tidak sengaja. Dan siapa namanya tadi?”

“Minho. Choi Minho” jawab Min Yoojin cepat, lebih cepat dari sambaran petir.

“baik. Choi Minho. Aku tidak berangkat dengannya. Itu hanya kebetulan”

Yoojin menyangga dagunya seperti berfikir haruskah dia mempercayai apa yang dikatakan Eunbi. Tapi apa alasannya untuk tidak percaya pada gadis yang sekarang sudah focus memperhatikan beberapa catatan-catatan bahasa asing di papan tulis yang segera dia salin pada buku catatannya dan tidak memperdulikan Yoojin yang masih berperang dengan pikirannya. Yoojin memilih untuk percaya pada Eunbi, lagi pula Eunbi tidak mungkin kenal dengan Choi Minho.

**

“jadi kau satu kelas denganku?”

Eunbi dan Yoojin kompak menengadah menatap orang yang baru saja berbicara. Dan Yoojin hanya terpaku ditempat melihat siapa yang baru saja datang kemejanya, Choi Minho. Itu Choi Minho! Hati Yoojin bersorak. Setelah hampir dua tahun gadis itu berada di kelas yang sama dengan laki-laki itu belum pernah dia datang kemeja Yoojin tanpa alasan seperti ini. Ya, Choi Minho memang tidak terlalu suka untuk mengobrol sesuatu yang kurang penting dengan teman-temannya, kecuali teman team basketnya. Dia hanya akan berbicara kalau itu menurutnya penting dan mengabaikan beberapa gadis yang memohon untuk diajaknya mengobrol.

 

Sejak bertemu dengan Eunbi pagi tadi dan menyadari kalau gadis itu adalah teman sekelasnya, entah kenapa Minho merasa senang. Seperti penasaran yang terlalu dalam untuk mengenal lebih jauh tentang gadis ini. Seperti ada sesuatu dari gadis itu yang mampu membuatnya penasaran.

 

“kurasa iya, karena sekarang kita berada di satu kelas” ujar Eunbi santai.

 

Suasana di kelas mendadak penuh dengan bisikan-bisikan dan decakan-decakan, tentu saja itu karena Choi Minho yang tanpa ada angin tanpa ada hujan menghampiri meja Eunbi dan mengajaknya berbicara. Bukan karena apa-apa tapi semua gadis dikelas ini berani membayar mahal untuk mencuri perhatian Minho, murid laki-laki yang selalu cuek dengan wanita dan tidak pernah peduli sudah berapa banyak hati gadis yang sudah dia curi. Selama ini hanya ada satu gadis yang berhasil dekat dengan Choi Minho, gadis yang sama tenarnya di sekolah karena kecatikannya, murid perempuan dari kelas sebelah.

 

“senang satu kelas denganmu Hwang Eunbi”

Eunbi hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.

“sebelumnya perkenalkan. Namaku Choi Minho, aku tahu kau tidak mendengarkan perkenalanku tadi pagi”

“aku tahu. Namamu aku tahu”

Minho bersedekap dan menyisir sedikit bagian depan rambutnya dengan jarinya.

“Ck!. Aku tidak tahu kalau aku seterkenal itu”

“Tidak. Yoojin memberitahuku kalau namamu Choi Minho”

Seketika Minho menurunkan tangannya. Matanya menatap tidak percaya kalau baru saja ada yang tidak setuju tentang ‘dirinya yang terkenal’. Demi Tuhan seantero sekolah tahu siapa Choi Minho dan mungkin dia bisa dibandingkan dengan beberapa deret artis korea karena ketampanannya.

 

Mungkin itu karena dia murid baru pikir Minho

 

Eunbi menoleh pada Yoojin yang baru saja menyenggol lengannya, dari tadi gadis ini hanya menjadi penonton setia atau lebih tepatnya menikmati nikmat Tuhan yang berdiri di dekatnya. Mulut Eunbi membentuk kata apa tanpa bersuara pada yoojin.

Dia Choi minho kata yoojin menggerakkan bibirnya dan tanpa suara seperti yang Eunbi lakukan. Yoojin rasa setelah ini dia harus memberikan sebuah pengetahuan tentang pria tenar di sekolah ini kepada Eunbi. Hey, dia baru saja menjatuhkan harga diri dari seorang Choi Minho! Idola dari semua kaum hawa termasuk Yoojin, tentunya.

 

“setelah ini kau akan tahu seberapa terkenalnya aku”

Ini seperti janji yang tersirat untuk Eunbi yang diucapkan Minho. Mungkin besok, gadis ini sudah menyadari betapa berpengaruhnya Choi Minho untuk semua gadis disekolah ini. Dan Minho hanya akan melihat bagaimana respon Eunbi selanjutnya.

 

Minho pergi dan kumpulan gadis yang dari tadi sengaja menguping ikut berhamburan menginggalkan kelas. Eunbi masih saja santai dan tidak mengerti betapa berharganya moment yang baru saja dia ciptakan bersama Choi Minho dan dapat dipastikan kalau sekarang hal itu sudah menjadi topik terhangat di kantin sekolah atau beberapa sudut sekolah. Ya, itu adalah pendapat Yoojin.

 

“kau bodoh!” hardik Yoojin pada Eunbi

“apa?”

“kau baru saja membuang waktu yang sangat berharga dengan Minho”

“memangnya apa yang aku lakukan?” jawab Eunbi polos

 

Benar. Gadis ini tidak tahu apa-apa tentang Minho batin Yoojin.

Yoojin sedikit menggeser duduknya menjadi menghadap Eunbi.

“dengarkan aku. Choi Minho dia adalah murid laki-laki paling tenar di sekolah, semua gadis disini berani bertaruh untuk menarik perhatiannya.”

“lalu?”

 

Astaga apa gadis ini belum mengerti juga?!

 

Eunbi masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan Yoojin dan kenapa gadis itu mengatai Eunbi bodoh hanya karena pria bernama Choi Minho itu.

“dia tidak pernah berbicara dengan murid perempuan di sekolah ini seperti apa yang dia lakukan padamu tadi”

Kerutan di kening Eunbi semakin bertambah bahkan alisnya mengerut hampir menyatu.

“maksudmu dia gay?”

 

“auch!”

Eunbi menggosok lengannya yang baru saja mendapat pukulan dari Yoojin.

“kau gila mengatainya gay?”

“lalu apa?” Eunbi jadi kesal sendiri.

“dia adalah pria mahal. Tampan, keren, pandai berolahraga, dan kapten team basket disekolah ini. Hanya saja dia terlalu cuek pada gadis-gadis di sekolah ini. Dan kau baru saja mendapat jackpot karena dia mengajakmu mengobrol” kata yoojin sumringah

 

Eunbi tahu pendapat Yoojin tentang Minho memang benar tampan, keren Eunbi tentu tidak buta untuk tidak melihatnya.Tapi-

“apa istimewanya dengan mengobrol?”

Sekarang Yoojin benar-benar ingin membenturkan kepala Eunbi pada tembok karena dia masih belum juga mengerti.

“karena dia adalah Choi Minho. Choi-Minho” kata Yoojin dengan penekanan pada kata Choi Minho berharap dengan ini Eunbi akan mengerti.

“sudahlah. Aku ingin ke kantin, aku lapar”

 

“Aishhh”

Yoojin mengenggam tanganya diudara gemas. Dia sudah terlalu meledak-ledak menceritakan Choi Minho dan Eunbi hanya cuek seperti omongan Yoojin yang panjang kali lebar itu tidak ada yang berhasil bersarang di kepala cantik Eunbi.

**

Ini adalah salah satu pelajaran yang Eunbi sukai dari kecil. Kesenian. Dia bahkan ikut les melukis waktu SMP hingga lulus SMA, baginya dia bisa meraih kesenangan, kenyamanan, kedamaian lewat melukis. Intinya dia suka seni.

 

“Selamat Siang” suara kyuhyun menggema keseluruh sudut kelas dan para murid berteriak menjawab sapaan cho kyuhyun.

 

Apakah ada yang penting sampai dia datang ke kelas ini?

 

Eunbi menantikan informasi yang akan disampaikan guru muda yang sialan tampan itu. Seperti pemberitahuan tentang peraturan sekolah yang terbaru, mungkin. Dia kan wali kelas sekaligus anak pemilik sekolah ini.

 

“kali ini kita akan membahas tentang prespektif” kata kyuhyun lagi setelah meletakkan dua buku yang dia bawa.

 

Apa? Prespektif? Jangan bilang kalau-

 

“dia guru kesenian?” Tanya Eunbi entah pada siapa, tapi suaranya dapat didengar oleh yoojin dan gadis itu sekarang sedang menatap Eunbi heran.

“kau berfikir kalau dia guru matematika?”

Eunbi mengangguk tanpa menoleh, pikirannya masih syok. Demi apapun, Cho kyuhyun tidak memiliki sesuatu yang disebut santai yang selalu melekat pada guru kesenian. Lebih pantas dan tidak akan mengejutkan kalau sekarang kyuhyun bilang ‘mari kita belajar algoritma’. Dia kaku, tidak santai, semaunya, bossy dan menyebalkan. Apakah kalian berfikir itu cocok untuk guru kesenian?

 

“semua murid disini juga akan setuju jika Cho soesangnim menjadi guru matematika. Kau tahu dia sudah seperti rumus matematika yang memusingkan. Tapi kalau dia menjadi guru matematika kurasa aku akan betah berada dikelas selama dua jam dengan rumus-rumus itu. Kekekeke kurasa itu ide yang bagus, aku bisa memandangi wajahnya yang tampan”

Yoojin berceloteh begitu panjang seperti rel kereta api yang tidak ada habisnya, dan kekehannya baru saja membangunkan singa dari tidurnya.

 

“Yak! Siapa yang melemparku Bodoh!” Yoojin mengumpat dan mengelus kepalanya yang terkena serangan mendadak.

 

“aku. Nona Yoojin”

Kyuhyun melipat tangannya di dada dan tatapan tajamnya berhasil menusuk Yoojin dengan segala kebodohannya karena baru saja mengumpat. Tenggorokannya terasa tercekat dan terasa sulit hanya untuk menelan ludahnya sendiri.

 

Eunbi tercengang di tempatnya menatap kyuhyun dan tampang terkejut Yoojin. Dia sama takutnya dengan Yoojin, tatapan kyuhyun yang tajam lebih menakutkan dari tatapan milik Ayahnya. Selama ini Eunbi pikir Ayahnyalah yang paling menyeramkan didunia ternyata semua pendapat itu harus Eunbi patahkan karena pria yang sekarang berjalan mendekat kearah mejanya jauh lebih menakutkan.

 

Hentakan sepatu pantovel milik kyuhyun seperti alunan music horror yang mengisi sepinya ruang kelas. Kemana semua murid yang tadi masih berkasak-kusuk tidak jelas?

“apa yang sedang kau obrolkan?”

Suara dingin kyuhyun begitu tepat menghujam yoojin dan Eunbi membuat mereka tidak bisa berkutik.

 

Yoojin segera berdiri dari kursinya membuat gerakan yang sangat tiba-tiba sampai suara kursi yang bergeser mengagetkan Eunbi. Yoojin membungkuk dihadapan kyuhyun yang sudah berdiri disamping mejanya.

“maafkan saya soesangnim” sesal Yoojin.

 

Kyuhyun berdecak tidak suka. Di dalam peraturan kelasnya tidak boleh ada murid yang mengabaikannya saat sedang berbicara. Kyuhyun sangat tidak suka dengan itu.

“Ck. Sepertinya obrolan dengan teman sebangkumu tadi sangat seru” kyuhyun menyindir.

 

Merasa dirinya ikut terlibat dan sindiran kyuhyun yang benar-benar tepat sasaran membuat Eunbi sadar dari kebodohannya.

 

Eunbi berdiri dan membungkuk.

“maafkan saya soesangnim” katanya lirih tapi masih dapat ditangkap oleh gendang telinga kyuhyun.

 

“awh!”

“awh!”

Yoojin dan Eunbi mengaduh kesakitan dan mengelus dahinya. Cho kyuhyun baru saja menjitaknya dan jangan ditanya seberapa sakit itu.

 

“berdiri di depan kelas. Angkat sebelah kakimu dan angkat kedua tangan kalian diatas” kata kyuhyun sambil melangkah menjauh kembali ke depan kelas.

 

Eunbi menatap kyuhyun tidak percaya bercampur geram. Matanya ikut menajam meskipun tidak setajam milik kyuhyun yang berhasil mengintimidasinya tadi.

 

“ada yang ingin kau katakan hwang Eunbi?”

Lagi-lagi suara datar dan dingin milik kyuhyun menyambangi telinga Eunbi. Pria itu dari tadi memperhatikan Eunbi yang masih berdiri di tempatnya dan tidak peduli pada hukuman yang baru saja kyuhyun katakan. Bahkan yoojin dengan sadar diri segera berjalan cepat nyaris berlari ke depan kelas melaksanakan hukumannya.

 

Eunbi menghela nafasnya.

“tidak ada soesangnim” katanya mengalah. Dia hanya berfikir logis karena tidak mungkin dia berteriak kau berani menghukumku?! meskipun dia sangat ingin mengutuk pria itu dengan segala kesombongan dan sikap bossy nya yang menyebalkan.

**

“Sialan! Lenganku rasanya mau patah” Yoojin memukul-mukul lengannya seperti memberi sedikit pijatan meskipun dia tahu itu tidak berpengaruh apa-apa.

“kau pikir kita dihukum karena siapa?” Eunbi bertanya seperti memberikan jawaban pada Yoojin bahwa bukan hanya legannya saja yang seperti akan patah tapi juga lengan Eunbi.

“kau memancingku untuk menceritakan tentang malaikat kegelapan itu?”

“hey. Kau yang mengumpat!” ingat Eunbi. Tentu saja mereka tidak akan kena hukuman seperti ini kalau mulut Yoojin yang cerdas itu tidak mengumpat, setidaknya dia tidak akan dihukum berdiri di depan kelas selama kelas berlangsung. Mungkin mereka hanya akan mendapat jitakan dari Cho kyuhyun seperti yang mereka terima tadi. Dan Sungguh itu benar-benar sakit!

“baiklah. Baiklah. Kau salah dan aku juga salah” yoojin mengaku salah dan memang benar itu kesalahan mereka berdua.

 

Gadis itu sekarang menyadarkan punggungnya pada bangku miliknya membuat kepalanya sedikit menengadah dan bayangan yang berdiri disampingnya membuat Yoojin kembali duduk tegap.

“kau mau kemana?” Tanya yoojin

“menyerahkan form ekstrakurikuler”

**

“sepertinya aku sudah mengikuti petunjuk yang Yoojin berikan” Eunbi mengusap pelipisnya bingung. Seperti yang yoojin katakan padanya bahwa ruang seni berada di lantai tiga sekolah ini, tapi dia masih belum menemukan ruangan dengan benda-benda seni seperti kanvas untuk melukis. Lorong-lorong yang dia lewati terlalu sepi untuk ruangan ekstrakurikuler.

“kurasa aku salah jalan”

Baru saja dia akan berbalik badan, tapi telinganya mendengar sesuatu.

 

Seperti biasa kyuhyun selalu menyempatkan dirinya datang ke tempat ini. Ruangan berdebu yang bisa menyumbat pernafasannya sewaktu-waktu, barang-barang tak berguna yang dibiarkannya tergeletak begitu saja. Tapi ada satu barang yang terlihat bersinar dari pada tumpukan bangku yang sudah tak terpakai, disudut ruangan yang berdebu itu, ditutupi kain putih yang tampak sudah usang.

 

Perlahan tangannya yang bergerak di atas grand piano itu menciptakan sebuah alunan nada yang indah. Mata kyuhyun terpejam menikmati setiap nada yang telah dia ciptakan, tidak menyadari bahwa ada seorang penonton di balik jendela yang tingginya hanya sebatas dagu Eunbi.

 

Gadis itu memang sudah menghentikan langkahnya di depan ruangan ini sejak music itu mulai mengalun, dia pikir dia telah benar-benar menemukan ruangan yang dia cari tapi ternyata dia salah. Ruangan ini hanyalah gudang sekolah yang begitu gelap dan pengap. Dan ditengah kegelapan dan kepengapan itu, Eunbi bisa melihat kyuhyun duduk diatas kursi kecil di depan piano. Tangannya menciptakan sebuah nada yang indah. Sejenak Eunbi terpesona kepada kyuhyun, mungkin untuk yang kedua kalinya. Sekarang dia tidak ragu lagi kalau kyuhyun yang selama ini terkenal begitu kaku adalah guru kesenian yang luar biasa.

 

Permainan itu selesai dan Eunbi tersenyum di balik jendela yang sedikit buram karena tumpukan debu-debu, entah apa yang membuatnya menarik ujung-ujung bibirnya. Hatinya hanya terasa begitu senang dan damai disaat yang bersamaan. Dia belum pernah mendengar permainan piano sebagus itu.

 

Matanya tidak berkedip tapi juga tidak membulat, mata hazelnut itu terkunci pada mata tajam milik kyuhyun. Sepersekian detik, dia masih diam mematung dengan mata yang masih menerawang jauh pada mata kyuhyun.

 

Kyuhyun tidak melepaskan tatapannya tapi dia berdiri dan bergerak melangkah.

 

Eunbi memutus kontak mata itu dan mengumpat dalam hati. Dia ketahuan.

Bodoh!!

Eunbi mengumpat dan langsung berjongkok, menyembunyikan tubuhnya dibalik tembok. Dia mengumpat sebanyak-banyaknya dalam hati, seharusnya dia sudah berlari dari tadi bukan terperangkap dalam tatapan dalam milik kyuhyun. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Berlari?

 

Tentu saja hwang Eunbi kau harus berlari!

 

Eunbi memutar tubuhnya, telapak kakinya siap akan berlari tapi suara itu-

“apa yang kau lakukan disini?”

Kenapa pertanyaan ini terasa mematikan untuk Eunbi? Suara dingin dan tajam itu seperti mengiris telinganya.

 

Eunbi memejamkan matanya sebentar dan memutar tubuhnya menghadap sepatu kyuhyun yang terlihat sangat mengkilap, mungkin pria itu menyemirnya setiap hari. Apa yang kau pikirkan hwang Eunbi? Tapi sungguh sepatu itu jauh lebih menarik dari pada wajah kyuhyun yang tampan. Eunbi tidak yakin jika ‘malaikat kegelapan’ itu tidak menjadi setan kegelapan sekarang.

 

Kyuhyun menatap gadis yang berjongkok dibawah kakinya seperti kucing kelaparan. Gadis itu masih menunduk tidak berani mengangkat kepalanya.

 

Perlahan Eunbi mengangkat kepalanya memamerkan cengiran kudanya.

“aku hanya mengikat tali sepatuku” dusta Eunbi

Dan jangan bilang kyuhyun akan percaya begitu saja. Dia sudah menangkap basah Eunbi tadi, dan gadis itu bilang dia hanya mengikat tali sepatu?

“ck. Kau tak pandai berbohong murid baru”

Eunbi mengumpat mengikuti mata kyuhyun.

Sialan!


 

Kenapa saat-saat seperti ini ikatan tali sepatu Eunbi tidak lepas? Akan lebih baik kalau dia benar-benar harus berjongkok dan mengikat kembali tali sepatunya meskipun Eunbi sudah bosan dengan kegiatan mengikat tali sepatu.

 

Eunbi langsung berdiri membuat tubuhnya yang hanya setinggi bahu kyuhyun berhadapan dengan tubuh tegap milik cho kyuhyun. Matanya memberanikan diri untuk menatap kyuhyun.

Dia sudah ketahuan, jadi mau apa lagi?

“aku hanya ingin menyerahkan ini, tapi sepertinya aku salah jalan” kata Eunbi sambil mengulurkan form untuk ekstrakurikuler melukis.

“di jam segini? Dan membolos dari pelajaranmu?”

“aku tidak membolos. Kang Soesangnim tidak masuk hari ini. Jadi kelasku kosong sekarang”

“kau berani menjawabku?!”

Kyuhyun geram sendiri. Tidak pernah dalam sejarahnya mengajar di sekolah ini ada murid yang berani menatap matanya seperti yang Eunbi lakukan sekarang.

 

“apa?” Mata Eunbi menajam.

Dia bertanya dan aku menjawabnya, dan sekarang dia bilang kau berani menjawabku?? Aku yang bodoh atau dia yang bodoh?

“soesangnim bertanya dan aku hanya menjawabnya. Jadi dimana kesalahanku?” lanjut Eunbi.

 

“aishh yak! Yak! Lepaskan!”

Tangan Eunbi sibuk memegangi tangan kyuhyun yang menjewer telinganya.

“ah! Yak! Yak! Itu sakit lepaskan!”

 

Mulut gadis ini batin kyuhyun.

Dia terus membawa Eunbi menuruni anak tangga dengan mulut Eunbi yang terus berteriak. Sepertinya telinga kyuhyun akan benar-benar tuli setelah ini.

 

Kyuhyun melepaskan tanggannya pada telinga Eunbi membuat gadis itu memegangi daun telinganya yang sedikit terlihat memerah.

“yak! Ini sakit sekali!” teriaknya sekali lagi.

“yak?! Kau bilang yak?! Kau mau dihukum?!” kata kyuhyun nyaris berteriak

 

Eunbi menggigit bibir bawahnya canggung. Dia kesal. Tentu saja. Dan dia lupa kalau pria yang berdiri di depannya sekarang adalah gurunya. Eunbi segera menunduk menyesal.

“maafkan saya” sesalnya dengan masih menunduk.

“sepertinya kau belum tahu aku?!” ini bukan pertanyaan tapi pernyataan untuk kyuhyun.

 

Aku tahu. Malaikat kegelapan jawab Eunbi dalam hati.

 

“bersihkan seluruh toilet setelah pulang sekolah! Mengerti?!”

Mata Eunbi membulat sempurna.

“apa?”

“jangan buat aku mengulang kalimatku jika kau tidak ingin hukumannya bertambah”

 

Kyuhyun memutar tubuhnya melangkahkan kakinya ke arah yang berlawanan dengan Eunbi. Kyuhyun tidak tahu bagaimana ekspresi gadis itu sekarang dan kyuhyun tidak ingin tahu.

 

“dia berani macam-macam denganku. Tunggu saja. Akan aku tunjukan diriku yang sebenarnya” gumam kyuhyun seiring langkah kakinya yang menghentak begitu tegas lantai lorong sekolah.

Kyuhyun sedikit kesal saat ada muridnya yang tidak menghormatinya seperti tadi, mengintipnya, berteriak di depannya, menatapnya dengan tatapan yang menatang.

“aishh. Kau akan menyesal murid baru.”

 

“huh!” Eunbi mendengus kesal

“apa dia baru saja menghukumku?”

Tubuh kyuhyun sudah hilang di baling tembok tapi eunbi masih saja menghadap ke arah kepergian pria menyebalkan itu. Mulut Eunbi masih sedikit menganga, terlalu syok untuk menghadapi kenyataan ini.

“memangnya apa salahku? Karena aku mengintipnya?”

“YAK!!! Pria gila! Kau berani menghukumku?!”

TBC

AUTHOR’S NOTE: Maaf baru publish part 2 sekarang, janjinya kemarin tapi karena ada beberapa kesibukkan jadi baru bisa sekarang. Maaf ya 😦

sekali lagi author ingetin bagi yang udah baca JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK 🙂

TERIMA KASIH