18 AGAIN [PART 5]

PART 5

HAPPY READING 🙂 DON’T FORGET TO COMMENT 🙂 🙂

 

Eunbi berjalan sambil sesekali menyeka hidungnya. Sweeter yang dia pakai tidak sepenuhnya membantunya menghilangkan rasa dingin ini. Rasa pusing dikepalanya sudah berkurang beruntung kamarin sekolah libur jadi eunbi bisa memanfaatkan waktu itu untuk istirahat seharian.

 

“hwang eunbi apa yang terjadi denganmu?”

Yoojin tiba-tiba datang dari arah belakang dan melihat eunbi heran sekaligus khawatir.

“aku sedang flu”

“di musim seperti ini?”

 

Ayolah. Yoojin jangan buat kepala sahabatmu ini kembali pusing.

 

Sebagai jawaban eunbi hanya mengangguk terlalu malas untuk menanggapi. Apakah eunbi harus menceritakan kejadian kemarin lusa padanya? Tidak. Eunbi cukup tahu bagaimana mulut gadis itu berfungsi. Dia jauh lebih hebat dari pada pencari berita diluar sana.

**

Hari ini sepertinya eunbi harus mempunyai keberanian yang lebih dari pada biasanya. Dia tidak yakin bisa menghindari hukuman kyuhyun untuk saat ini tapi lebih dari itu eunbi masih belum bisa menghapus rasa bersalahnya pada kyuhyun untuk kejadian kolam renang itu. Tapi sialnya adalah kelas kyuhyun ada di hari ini. Mungkin Eunbi akan berdoa jika kyuhyun akan memilih tidur dirumah dari pada menghadiri kelas hari ini.

 

Dan sepertinya doanya tidak benar-benar dijawab oleh Tuhan. Guru muda yang saat ini eunbi hindari sedang berdiri di depan kelas seperti biasanya. Mungkin tidak seperti biasanya karena, penampilan cho kyuhyun tidak sesempurna biasanya. Walaupun dia tetap terlihat tampan. Apa yang kau pikirkan hwang eunbi!

Ya. Semua orang bisa melihat kalau pria itu sedang sakit. Kulit putihnya terlihat sedikit pucat dengan hidung yang sedikit memerah, sama persis dengan kondisi eunbi yang diam di tempatnya dan mencekeram kuat-kuat sweeter miliknya.

 

“selamat pagi” kata kyuhyun membuka kelas. Dan sedetik kemudian terdengar jawaban dari semua anak di kelas ini.

“baiklah, hari ini kita-“

Hatchi!

 

Hatchi!

Yang terakhir itu bukanlah suara bersin kyuhyun, tapi Eunbi. Gadis yang menjadi penyebab dari keadaan ini.

 

Kyuhyun menutup hidungnya begitu juga dengan Eunbi, pandangan mereka beradu seperti sedang melakukan perbincangan.

“apa yang kau lakukan?”

“aku sedang flu soesangnim”

“bagus. Bahkan kau juga menyebabkan aku terkena flu ditengah-tengah musim seperti ini”

 

Kyuhyun masih tidak melepas tatapan matanya berusaha mengintimidasi eunbi, mencoba menyadarkan gadis itu kalau ini semua terjadi karena dirinya. Dan yang paling menjengkelkan untuk kyuhyun adalah tidak selang dari 5 detik dirinya bersin eunbi juga ikut-ikutan melakukan hal sama.

 

Dia sedang mengejekku atau apa?

 

Eunbi menunduk dan mengusap hidungnya. Bukan kesalahannya bukan, jika dia bersin hampir bersamaan dengan cho kyuhyun? Bagaimana bisa dia mengontrol hal itu? Mungkin memang kesalahannya karena telah membuat kyuhyun flu seperti sekarang. Tapi untuk yang barusan eunbi tidak harus disalahkan bukan?

 

“kita akan melanjutkan pelajaran kemarin”

Hatchi!

Sepertinya dia tidak bisa mengajar dengan baik untuk hari ini.

Kyuhyun kembali mengusap hidungnya tapi belum selesai dia melakukan itu-

Hatchi!

Eunbi kembali bersin selang beberapa detik dari kyuhyun. Sekarang tidak hanya kyuhyun yang menatap eunbi heran tapi hampir semua murid di kelas ini.

 

Yoojin menyenggol Eunbi dan membentuk mulutnya seperti mengatakan ada apa denganmu?

Eunbi menggeleng. Tentu saja tidak ada apapun yang terjadi selain dia yang terkena flu dan cho kyuhyun juga sedang flu.

 

“sepertinya tidak hanya aku yang terserang flu sekarang ini” kata kyuhyun setelah berhasil mengendalikan dirinya untuk tidak mengatakan pada eunbi ini semua adalah kesalahanmu nona hwang.

 

Hatchi!

Hachi!

Mereka berdua lagi-lagi bersin dengan waktu yang hampir bersamaan.

Eunbi segera mengusap hidungnya dan tanpa sadar dia tersenyum. Entah untuk alasan apa, tapi dia merasa lucu dengan keadaan sekarang. Dia yang menyebabkan mereka berdua terserang flu dan sekarang bahkan mereka berdua bersin hampir bersamaan.

 

Kyuhyun melihat Eunbi tersenyum bahkan hampir tertawa di tempatnya dan perlahan dia juga ikut menarik sedikit ujung-ujung bibirnya. Begitu tipis dan hampir tidak ketara, tidak ada yang menyadari itu kecuali Eunbi yang dari tadi masih menatap kyuhyun. Hatinya tiba-tiba merasa hangat, dia tidak pernah melihat senyum yang begitu sedikit seperti itu tapi begitu menenangkan hatinya. Senyuman yang langkah, bahkan eunbi berani bertaruh kalau belum pernah ada yang melihat kyuhyun tersenyum seperti itu.

 

Senyuman eunbi menular begitu saja pada kyuhyun. Dia ingin marah pada Eunbi tapi dia juga merasa sedikit lucu dengan ini semua. Bagimana bisa mereka bersin secara bersamaan? Dan itu terjadi tidak hanya satu kali.

**

Eunbi segera mengemasi buku-bukunya yang ada di meja, dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia pergi begitu saja seperti sedang mengejar seseorang.

 

Langkahnya terus saja mengikuti punggung kyuhyun pergi. Setelah kelas dibubarkan beberapa menit yang lalu eunbi ingin memberikan sesuatu untuk kyuhyun, seperti permintaan maaf atau mungkin pertanggung jawaban.

 

Eunbi hampir memanggil kyuhyun saat tiba-tiba ada yang merangkul pundaknya dari belakang.

“choi minho” kata Eunbi kemudian

“kau mau kemana?”

“aku akan-“

“sebaiknya kita pergi ke kantin dan menikmati makan siang.”  Minho memotong kalimat Eunbi sebelum gadis itu dapat menyelesaikan kalimatnya.

 

Eunbi sedikit kelimpungan mengatasi minho. Pria itu sudah menarik eunbi begitu saja menuju kantin.

**

Perlahan eunbi mendekat pada meja kyuhyun. Eunbi berhasil pergi dari minho dengan beralasan ingin pergi ke toilet kalau tidak mungkin dia tidak akan punya kesempatan untuk memberikan obat ini pada kyuhyun.

 

Ruang guru sangat sepi di jam makan siang seperti ini, tapi biasanya dia masih bisa menemui kyuhyun di jam segini.

 

Apa dia sedang makan siang

Setelah meletakkan obat flu itu di atas meja kyuhyun, eunbi menarik note di atas meja kyuhyun dan menuliskan sesuatu disana. Semoga kertas itu dapat membantunya untuk meminta maaf pada kyuhyun.

**

Kyuhyun meletakkan kopi yang baru dia belinya di atas meja kerjanya, matanya menyipit melihat sesuatu yang sepertinya bukan miliknya.

 

Soesangnim. Maafkan aku untuk kesalahan kemarin. Aku tahu aku salah dan aku siap untuk hukuman yang kau berikan.

Minumlah obat ini untuk meredakan flumu.

-hwang eunbi-

 

Setelah selesai membaca kertas note itu kyuhyun mengambil botol obat yang diletakkan disamping note itu tadi.

 

“aku tidak tahu tahu kau sedang merayuku untuk tidak menghukummu atau apa” kata kyuhyun pada dirinya sendiri.

Apapun maksud eunbi tapi nyatanya gadis itu sudah mengenai sebagian hati kyuhyun.

**

Eunbi menatap langit-langit kamarnya begitu senang, seperti sedang melihat bintang-bintang di langit sedang menempel di dinding kamarnya. Pikirannya sedang berkeliaran kemana-mana, tepatnya pada kejadian di kolam renang dan tadi siang. Dia tidak percaya kalau dia memberikan obat itu pada kyuhyun.

 

Sekarang apa yang dia pikirkan setelah menerima obat itu?

 

Eunbi tidak yakin kalau itu bisa menghindari dari hukuman kyuhyun. Tapi biarlah, bukankah itu semua terjadi karena kesalahannya jadi dia harus mempertanggung jawabkannya dan menerima hukuman itu dengan diam.

 

Suara pintu kamar mandi yang terbuka menyadarkan Eunbi, kalau dia tidak sendiri di ruangan ini. Na mi langsung naik ke atas ranjangnya dan menarik selimut sampai batas dada. Eunbi sudah tidak memaksa na mi mengerti tentang kondisi sebenarnya setelah dia memutuskan untuk mengambil jalan keluar itu. Mungkin nanti setelah seleksi itu dilakukan Eunbi akan mencoba memperbaiki hubungan ini kembali.

 

Na mi tampak gelisah, jika eunbi berfikir gadis ini sudah tertidur dari tadi nyatanya na mi bahkan tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya seperti sedang berperang. Perperangan batin.

 

“kau harus membuat eomma bangga dan mewakili sekolahmu untuk olimpiade matematika itu”

“lihatlah kakakmu. Bahkan dia bisa mendapat beasiswa di luar negeri”

“jika kau menang itu akan mempermudah kau melanjutkan sekolahmu”

“ingat eomma tidak punya uang untuk membayar uang kuliahmu nanti”

 

Na mi memejamkan matanya seiring hatinya mengambil keputusan.

**

Suara gemericik air dari dalam kamar mandi menandakan kalau eunbi belum selesai mandi. Na mi. Gadis itu berdiri tidak tenang di tempatnya, tangan kanannya memegang USB. Hanya dia yang tahu apa yang menganggu pikirannya. Tapi bukankah dia sudah memutuskannya tadi malam? Maka dengan perasaan yang masih kacau, na mi akhirnya mendekat juga. Dia memasukkan USB itu pada tas ransel milik eunbi. Hatinya masih meragu tapi dia tahu dia harus melakukan ini semua.

 

“apa yang kau lakukan?”

Na mi masih belum beranjak dari tempatnya walaupun dia sudah melakukan pekerjaannya dari tadi. Dia terperanjat karena suara Eunbi. Na mi berbalik.

“aku akan berangkat dulu”

Setelah mengatakan itu, na mi benar-benar pergi. Eunbi mengerutkan keningnya di tempat.

**

Seleksi olimpiade matematika akan dilakukan besok, dan kim soesangnim sebagai penanggung jawab terlihat begitu sibuk dan cemas. Bukan. Bukan karena dia takut jika muridnya tidak bisa mengerjakan itu dengan baik. Tapi-

“dimana aku meletakkannya?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Kemarin malam dia pikir dia meninggalkan USB nya di laci meja kerjanya tapi tidak ada dimana-mana. Dia sudah hampir membongkar semua ruang guru ini.

 

“kim soesangnim.”

Kim soesangnim terperanjat.

“aku ingin mengembalikan buku yang aku pinjam kemarin”

“letakkan saja disitu” jawab kim soesangnim sekenanya karena nyatanya dia kembali fokus membelah setiap tumpukan buku dan kertas di atas mejanya.

“soesangnim apa yang sedang kau cari?” na mi kembali membuka mulut.

“ah! Apa kemarin kau melihat USB ku?’

Na mi menggeleng

“tidak. tapi aku-“

**

seperti pagi biasanya sebelum kelas dimulai, eunbi sibuk mendengarkan cerita yoojin. Dan sialnya eunbi menikmati setiap kebiasaan paginya. Jika dulu dia akan datang ke sekolah lima menit sebelum kelas dimulai dan kembali akan sibuk dengan ponsel pintarnya atau buku-bukunya tapi hal ini sangat berbeda dan bertolak belakang dari itu.

 

“HWANG EUNBI!!”

Eunbi berjingkat di tempatnya, di mendonggak kaget. Teriakan kim soesangnim bahkan membuat semua murid dikelasnya terdiam secara bersamaan. Murid yang dari tadi sibuk dengan pekerjaan mereka hilang entah kemana. Suara-suara itu seperti hilang dibawa angin.

 

Belum sempat eunbi menjawab panggilan Kim soesangnim atau lebih tepatnya teriakannya, langkah kaki kim soesangnim yang besar-besar secepat kilat membawanya pada meja eunbi dan-

“soesangnim apa yang kau lakukan?” eunbi dibuat terkejut untuk kedua kalinya ketika kim soesangnim menarik kasar tas eunbi dan menumpahkan semua isinya di atas lantai.

“diamlah!” katanya penuh dengan penekanan dan menggeratkan semua gigi-giginya.

“tapi apa yang kim soesangnim lakukan?”

 

Kim soesangnim tidak menjawab tapi gerakan tangannya terhenti. Dia kembali berdiri setelah mengambil satu barang dari ceceran isi tas Eunbi.

 

“kau bisa menjelaskan ini diruanganku Hwang Eunbi” kata kim soesangnim penuh penekanan.

Semua orang terdiam begitupun Eunbi. Matanya sedikit memicing melihat USB yang diacungkan kim soesangnim padanya.

 

Bagaimana benda itu ada di dalam tasku?

Aku tidak punya USB seperti itu

 

FLASBACK

Satu hari yang lalu

“kim soesangnim”

Kim soesangnim mendongak dari layar laptopnya, sebelum meraih buku tebal dari laci mejanya. Na mi memang sudah bilang jika dia ingin meminjam salah satu buku milik kim soesangnim. Dia butuh banyak persiapan untuk mengikuti seleksi itu dan mewakili sekolahnya karena na mi tahu bagaimana pintarnya Eunbi dalam memecahkan setiap soal matematika.

 

Mata na mi memicing, matanya memang minus tapi dengan bantuan kacamata dia bisa melihat jika layar laptop itu menampilkan soal untuk seleksi dua hari lagi.

“ini”

Na mi tersentak dari lamunannya. Dia menarik lurus ujung bibirnya sebelum benar-benar pergi.

 

Hatinya meragu, semua malaikat dan setan dalam dirinya berperang. Na mi masih mematung di samping pintu ruang guru. Setelah melihat sedikit soal matematika itu, keegoisan dalam dirinya menginginkan yang lebih.

Perlahan dia memantapkan hatinya dan berjalan masuk ke dalam.

 

Hening.

Ruangan yang cukup besar ini tidak menampakkan siapapun, entah kemana mereka semua pergi.

Tangannya yang sedikit bergetar bergerak membuka satu demi satu laci. Na mi yakin benda yang dicarinya ada di dalam salah satu laci itu. Dan-

Gerakan tangannya terhenti. Lagi-lagi dia meragu. Na mi sudah sejauh ini tapi hatinya selalu meragu di setiap langkah yang dia ambil.

 

Na mi berdiri dan mengenggam benda kecil itu erat-erat. Tangannya masih bergetar. Langkahnya terhenti di ambang pintu saat mendengar derap langkah yang perlahan semakin dekat.

 

Eunbi masuk begitu saja, tidak menyadari kalau na mi masih bersembunyi di balik pintu. Mata na mi tak pernah lepas dari setiap gerakan yang eunbi lakukan.  Dia takut kalau tiba-tiba eunbi menyadari kehadirannya.

“hwang Eunbi. Apa yang kau lakukan disini?”

Eunbi berbalik dan tersenyum pada min soesangnim. Wanita muda dengan rambut sedikit kecoklatan.

“aku-aku hanya ingin meletakkan barang milik cho soesangnim” kata eunbi begitu gugup. Tentu dia tidak bisa memberitahukan yang sebenarnya padanya bukan.

 

Disaat kedua orang itu terlibat perbincangan, perlahan na mi keluar dari ruangan itu.

Jika tadi Na Mi sempat bingung harus dia apakan benda ini setelah dia selesai dengan urusannya, tapi setelah melihat eunbi dan min soesangnim tadi kembali setan dalam dirinya berteriak menemukan satu jalan untuk masalahnya.

 

FLASBACK OFF

**

BRAKK

kim soesangnim mengebrak mejanya, membuat semua orang yang ada di ruangan terperanjat kaget.

“yak! Apa kau masih mau bilang kalau bukan kau pelakunya?! Min soesangnim dan na mi tahu kau diam-diam datang ke ruangan ini”

Eunbi menggeleng untuk kesekian kalinya.

“tapi aku tidak melakukan itu.” Tegas Eunbi

Kim soesangnim menyeringai.

“tidak ada pencuri yang akan mengaku”

Eunbi menggeram. Pencuri? Dia baru saja dibilang pencuri?

 

“aku bukan pencuri.” desisnya

“soesangnim tidak bisa menuduhku begitu saja” lanjutnya

 

“ck. Sudah cukup aku melihat USB ku ada di dalam tasmu”

“sudah ku bilang bukan aku!” kali ini Eunbi berteriak. Dia sudah jengah mendengar setiap tuduhan yang kim soesangnim arahkan padanya. Dan demi Tuhan. Bahkan Eunbi tidak tahu betul apa yang sebenarnya terjadi, dia bahkan baru tahu kalau USB itu adalah milik kim soesangnim dan berisi soal untuk seleksi besok. Tapi ada apa ini? Kenapa dia yang dituduh menjadi pencuri disaat dia bahkan tidak tahu USB itu ada di dalam tasnya.

 

“yak!”

Eunbi memejamkan matanya rapat-rapat saat tangan kim soesangnim terangkat hendak menamparnya. Mungkin pria itu sudah kehilangan kesabarannya menghadapi Eunbi. Tapi siapa yang ingin mengakui kesalahan yang bahkan dia tidak pernah melakukan itu.

 

Dia tidak merasakan ada sesuatu yang menyentuh pipinya. Membuta Eunbi perlahan memberanikan membuka kelopak matanya.

 

“apa kau akan melakukan kekerasan di sekolah ini?” ini tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan tapi sebuah peringatan.

 

Tangan kim soesangnim tertahan oleh genggaman kyuhyun. Kim soesangnim menahan marahnya dan menghempaskan tangan kyuhyun begitu kasar. Tapi pria yang yang menahan tangannya itu tampak dingin dan datar seperti biasanya. Tidak mengerti bagaimana kemarahan kim soesangnim yang akan meledak.

 

“aku hanya ingin memberikan pencuri ini sebuah pelajaran.”

“bukan aku” sela Eunbi

“kau tidak memiliki bukti untuk membuktikan kalau dia yang mencuri USB itu”

“bukti seperti apa yang kau maksud?”

Kyuhyun bukannya tidak tahu kalau kim soesangnim telah menemukan USB itu di dalam tas Eunbi. Tapi entah kenapa dia masih tidak bisa mempercayainya begitu saja, padahal biasanya dia tidak memiliki banyak toleransi untuk urusan seperti ini. Ada beberapa hal yang meyakinkan kyuhyun bahwa Eunbi bukanlah orang yang seperti itu. Dia tahu betul kalau gadis itu tidak memerlukan bocoran soal itu untuk menang.

“min soesangnim melihatnya datang ke ruang guru saat semua orang tidak ada dan yah, aku menemukan USB itu di dalam tasnya. Jadi aku harus membuktikan apa lagi cho soesangnim?”

“aku tidak bisa memastikan kalau dia tidak melakukan hal itu, tapi satu halyang  aku bisa pastikan kalau waktu itu dia datang kesini bukan untuk mengambil USB mu”

 

Kim soesangnim tersenyum mengejek.

“apa sekarang kau mencoba untuk melindungi muridmu?”

“kalau begitu jelaskan padaku untuk apa muridmu ini datang ke ruang guru disaat seperti itu”

 

“dia memiliki urusan denganku dan aku tidak harus menceritakan semuanya kepadamu.” Jawab kyuhyun tanpa ragu. Apa dia harus menceritakan pada kim soesangnim kalau Eunbi memberinya obat setelah menariknya masuk ke dalam kolam dan menyebabkannya flu? Biarlah itu menjadi rahasia mereka berdua kan

 

Tidak ada kata-kata yang terucap dari mulut eunbi. Gadis itu sekarang hanya sibuk mendengarkan begitupun semua orang yang ada diruangan ini. Tentu saja, eunbi tidak berani untuk mencela perdebatan ini dan mungkin tidak ada yang berani.

 

“kembalilah ke kelas. Sebentar lagi kelas dimulai”

Seperti biasanya ini adalah perintah yang harus eunbi lakukan. Sejujurnya dia berterima kasih kepada kyuhyun. Setidaknya eunbi tahu ada orang yang masih percaya padanya. Meskipun dia masih bingung dengan semua keadaan ini. Pertama, bagaimana mungkin USB itu ada di dalam tasnya jika dia bahkan tidak pernah melihat benda itu. Kedua, bagaimana bisa tiba-tiba kim soesangnim mencari itu di dalam tasnya jika tidak ada yang memberi tahunya. Tidak ada yang tahu jika waktu itu eunbi datang ke ruang guru selain min soesangnim. Tapi, hey kim soesangnim tadi bilang Na mi?

**

“na mi!”

Gadis itu mengangkat wajahnya dari lembaran-lembaran soal.

 

Setelah meminta Na mi untuk mengikutinya, disinilah mereka sekarang. Atap sekolah.

Eunbi berbalik. Dan pandangannya bertemu dengan mata na mi yang dibingkai dengan kaca mata miliknya.

“kau yang memberitahu kim soesangnim tentang USB itu di dalam tasku?” eunbi langsung bertanya tanpa basa-basi seperti dia sudah tidak punya waktu lagi.

“kau hanya ingin membahas ini?. Kalau begitu aku pergi”

Tapi belum sempat na mi benar-benar pergi. Tangannya tertahan oleh tangan Eunbi.

“ini bukan ‘hanya’ na mi. ini masalah yang besar”

Na mi tersenyum mengejek.

“semua orang tahu kalau USB itu ada di dalam tasmu, jadi apa lagi yang ingin kau buktikan?”

“kau yang memberitahu kim soesangnim?” Eunbi kembali bertanya tidak memperdulikan pertanyaan na mi. Dia hanya butuh jawaban untuk pertanyaannya itu bukan yang lainnya.

 

Na mi terdiam tidak menjawab Eunbi. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

“jawab aku Na mi!”

Na mi tersentak karena teriakan Eunbi.

Gadis itu menatap eunbi nyalang.

“iya. Aku yang memberitahu kim soesangnim. Lalu kau mau apa?”

Kali ini eunbi yang terdiam. Otak dan telinganya terasa sulit untuk mencerna semua itu.

“bagaimana kau tahu USB itu ada di dalam tasku?” kali ini eunbi tidak berteriak.

“kau tidak harus mencari bukti atas semua kesalahanmu”

Setelah itu na mi benar-benar pergi meninggalkan eunbi di atap sekolah. Bahkan kali ini Eunbi tidak berniat untuk mencegah gadis itu pergi. Pertanyaannya sudah terjawab dan dia bisa menebak semua jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya yang lain.

 

“itu tidak mungkin. Bagaimana Na mi melakukan hal itu”

**

Setelah memikirkan beberapa hal, Eunbi kembali turun, tatapannya tampak datar dan dingin tidak seperti biasanya mungkin karena marah atau kesal. Sayup-sayup dia masih bisa mendengar beberapa anak yang terang-terangan membicarakannya karena kejadian tadi. Tapi dia tidak peduli, eunbi melesat begitu saja masuk ke dalam ruang kelasnya. Bukan. Bukan tempat duduknya yang dia hampiri tapi tempat duduk gadis yang tidak pernah peduli dengan kehidupan sekitar bahkan sekarang Eunbi tahu kalau gadis itu tidak pernah memikirkan untuk berteman dengannya.  Na Mi.

 

Na mi mendongak, menatap malas Eunbi yang menjulang di depan mejanya. Dia bisa merasakan kalau tatapan eunbi tidak bersahabat seperti biasanya, dan tidak perlu ditanya kenapa gadis itu bersikap seperti ini.

 

“aku akan membuktikan kalau bukan aku yang bersalah shin Na mi” katanya penuh penekanan disetiap katanya seperti memaksa na mi untuk mengingat setiap kata yang diucapkan gadis itu.

Kau berurusan dengan orang yang salah. Anak kecil tambah Eunbi dalam hati.

 

Semua kelas terdiam bahkan Eunbi masuk kelas dengan cara serampangan. Telinga mereka merekam dengan jelas apa yang baru saja gadis itu katakan, tapi tidak ada yang tahu arti dari kalimat itu.

**

Satu hari ini sekolah terasa berbeda dari hari sebelum-sebelumnya. Untuk hari ini dia menyadari bahwa SMA keduanya memang berbeda dari yang sebelumnya. Tapi Eunbi tidak tahu apakah dia harus senang atau tidak.  Tidak ada yang percaya pada Eunbi kecuali yoojin dan minho, mereka masih bersedia menghabiskan makan siang bersama bahkan minho berusaha keras untuk menghiburnya, mengatakan kalau itu semua tidak penting dan tidak perlu memikirkan semua kata orang. Baiklah, mungkin itu sedikit menghibur Eunbi karena dia tahu masih ada orang yang percaya padanya. Dan Na mi-

 

Eunbi menghela nafasnya dalam-dalam sebelum merebahkan tubuhnya. Dia baru saja sampai asrama dan langsung membersihkan dirinya. Tidak. Dia tidak ingin bertemu dengan na mi dan membahas masalah itu lagi. Itulah sebabnya Eunbi menghindari na mi dan mungkin gadis itu juga. Lihatlah, bahkan dia sudah tertidur. Tidak seperti biasanya.

**

“Cho soesangnim”

Eunbi berlari kecil-kecil menghampiri kyuhyun yang sekarang sudah berhenti 2 meter di depannya.

“ada apa?”

“aku-aku” eunbi sedikit ragu untuk mengatakannya tapi dia tidak punya pilihan lain. Dari sekian banyak guru disini, Eunbi rasa hanya kyuhyun yang dapat dia percaya.

“apa?”

“bisakah kita bicara? Maksudku tidak disini. Ada hal yang ingin aku katakan”

 

Kyuhyun tidak suka diperintah apalagi oleh muridnya. Tapi pria itu mengekor juga dibelakang Eunbi.

 

Lorong sekolah yang sepi ini, membuat perbincangan mereka terasa begitu rahasia dan canggung.

 

Eunbi membasahi bibirnya, seperti mencoba melemaskannya. Dia takut kalau-kalau kalimat yang akan dia ucapkan tidak bisa keluar dari dalam mulutnya.

 

“apa?” tanya kyuhyun sedikit menuntut

“aku ingin meminta bantuan cho soesangnim”

“bantuan?”

Kyuhyun mengernyitkan keningnya tidak mengerti. Dan eunbi hanya mengangguk sebagai jawaban.

 

“dua hari lagi sekolah akan memutuskan hukuman atas kasusku kemarin. Tapi sebelum itu ada yang ingin aku lakukan”

“kau tidak perlu khawatir tentang kasus itu, aku bisa membereskannya.”

Tentu saja dia bisa, karena dia adalah anak dari pemilik sekolah ini. Kasus itu bisa dengan mudah dia tutupi dengan mengeluarkan Eunbi dari daftar peserta olimpiade lalu membuat soal yang baru lagi. Dan siapa yang berani membantahnya, kim soesangnimpun tidak akan mungkin bisa berkutik.

 

Eunbi menghela nafasnya.

“jika aku menerima begitu saja hukumanku atau kalau soesangnim membantu dengan kekuasaanmu itu sama saja mengaku kalau aku yang melakukannya.”

 

Ya, itu benar batin kyuhyun

Sejujurnya dia juga tidak pernah melakukan hal seperti itu. Seperti yang biasanya yang terjadi, kyuhyun adalah guru yang paling sering menghukum muridnya bahkan untuk kesalahan sekecil apapun. Dan sekarang dia menawarkan Eunbi sebuah bantuan? Yang benar saja!.

“bisakah soesangnim membantuku mencari bukti itu?”

Kyuhyun mengangguk begitu saja.

 

Setelah menceritakan apa rencananya pada kyuhyun, gadis itu menantikan respon dari kyuhyun. Dan seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu, kyuhyun tampak begitu serius untuk berfikir. Tapi-

“baiklah. Datanglah sepulang sekolah nanti”

 

Senyuman itu. Eunbi menarik ujung-ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan yang indah. Lagi-lagi selama beberapa detik, itu bisa menarik kesadaran kyuhyun dari dunia disekitarnya.

 

Ada apa denganku?

 

Perbincangan itu selesai tapi tidak ada yang berniat untuk berpamitan lebih dulu. Entah apa yang sedang mereka tunggu. Bukankah urusan mereka sudah selesai? Eunbi asyik menatap ujung sepatunya dan sibuk dengan pikirannya, disisi lain kyuhyun tampak begitu santai dan cool seperti biasanya memasukkan tanggannya kedalam saku celana dan menatap lurus ke depan. Tidak tahu pasti apa yang sedang dia perhatikan tapi ya, mungkin itu hanya sebagai pengalih perhatiannya dari Eunbi. Eunbi. Gadis itu. Apa yang special darinya? Batin kyuhyun.

 

“soesangnim.”

“Ng” jawab kyuhyun tanpa menoleh pada Eunbi.

“apa flumu sudah hilang?”

 

Pertanyaan macam apa itu hwang Eunbi!

Eunbi mengutuk pertanyaannya sendiri. Untuk apa dia bertanya seperti itu, jika dia bisa melihatnya sendiri. Hidung kyuhyun sudah tidak memerah seperti waktu itu dan pria itu juga tidak bersin-bersin.

 

“iya. Dan itu berkatmu”

“apa?” eunbi hampir berteriak. Bukan. Bukan karena dia tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh kyuhyun tapi- apa dia baru saja menerima semacam ucapan terima kasih?

 

Kyuhyun menyunggingkan senyumannya.

“dan berkatmu juga aku terserang flu”

“ah itu-“

Eunbi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“mianhae. Cho soesangnim. Aku benar-benar tidak ada maksud untuk itu”

“kau membuatku flu dan kau juga yang memberiku obat. Jadi bukankah itu sudah impas”

“jadi aku tidak perlu lagi menerima hukuman?” tiba-tiba Eunbi menjadi bersemangat. Tentu saja. Bahkan setiap hari dia akan berfikir hukuman apa yang akan dia dapatkan dari cho kyuhyun.

“apa kau begitu menginginkan sebuah hukuman?”

“tidak-tidak. Tentu saja tidak. Tapi aku hanya berfikir jika mungkin aku akan dihukum mengepel semua gedung sekolah selama satu minggu. Dan dapat aku pastikan jika setelah itu aku akan terbaring di rumah sakit”

“hahaha aku akan memikirkan hal itu.”

 

Eunbi terdiam karena suara tawa kyuhyun, dia seperti baru saja melihat matahari terbit dari barat. Apa ini nyata? Pikirnya.

Sadar dengan kelakuannya, kyuhyun berdehem untuk mengusir sedikit rasa malu yang baru dia rasakan.

 

“aku suka melihat cho soesangnim tertawa seperti itu, terlihat semakin tam-“

Eunbi menggigit bibir bawahnya, dia hampir saja kelepasan menyebut pria itu tam-

“tampan?” sela kyuhyun ditengah perdebatan batin eunbi.

Buru-buru gadis itu menggeleng tidak setuju. Ya, meskipun sebenarnya kata itu yang ingin dia katakan tadi.

“kau tidak perlu mengatakan sesuatu yang semua orang sudah tahu”

“aishhh. Aku menyesal hampir mengatakan hal itu”

“jadi benar kau menyebutku tampan”

 

Bodoh kau eunbi. Apa gunanya kau menyangkal tadi jika sekarang kau malah mengakuinya dengan mulutmu sendiri.

 

Eunbi memanyunkan bibirnya tidak suka dan kyuhyun, pria itu kembali tertawa. Apa begitu senangnya mendengar kata tampan? Tentu saja tidak. Kyuhyun sudah terlalu sering mendengar kata itu sampai telinganya terasa panas setiap harinya. Hanya saja itu lebih terdengar menyenangkan jika diucapkan seperti tadi. Entah karena Eunbi yang mengatakannya atau karena itu terdengar begitu tulus, atau mungkin keduanya.

 

Kyuhyun menghentikan tawanya. Dia sadar tidak ada yang sangat lucu disini, tapi hal sederhana itu bisa membuat dia kembali mengingat untuk tertawa.

“pergilah. Sebentar lagi kelas dimulai” kata kyuhyun dengan tangan yang tanpa dia sadari membuat gerakan kecil di atas kepala Eunbi.

 

Bukannya mendengarkan kyuhyun dan segera berbalik meninggalkannya. Eunbi masih mematung ditempatnya seperti ada lem yang merekat di sepatunya sampai tidak bisa menarik kakinya untuk melangkah dari sini. Bukan. Bukan karena dia tidak ingin menghadiri kelas dan lebih memilih mengobrol bersama kyuhyun tapi itu karena-

 

Hey cho kyuhyun baru saja mengacak-acak sedikit rambutku teriaknya dalam hati.

 

Bukan mengacak dalam artian yang sebenarnya, tapi lebih sedikit mengelus. Dan tiba-tiba jantungnya berdetak tidak karuan seperti ada seseorang yang menabuh genderang begitu keras sampai eunbi tidak yakin kalau jantungnya akan baik-baik saja.

 

“kau tidak mau masuk kelas?”

Eunbi tersentak dari lamunannya sendiri.

“ah! Iya. Aku akan kembali ke kelas. Terima kasih cho soesangnim”

 

Setelah itu Eunbi benar-benar pergi, tapi efek sentuhan kecil itu masih ada sampai dia berada di depan kelasnya. Mungkin anak-anak yang melihatnya di lorong tadi akan berfikir Eunbi gila. Gila karena kasusnya. Mengingat tentang kasus itu, Eunbi jadi ingat jika dia harus melakukan sesuatu.

**

Semua anak sudah pergi mengisi perut mereka yang kosong meninggalkan yoojin, eunbi dan na mi yang tidak pernah tertarik dengan yang namanya makan siang. Eunbi bahkan sempat berfikir kalau na mi bukanlah manusia. Bagaimana dia bisa bertahan hanya dengan memakan roti di pagi hari dan mie instan di malam hari. Ya, mungkin gadis itu sudah kenyang hanya setelah dia membaca berhalaman-halaman lembar buku. Tapi bukan itu yang ingin Eunbi lakukan. Mengatamati na mi dari jauh? Yang benar saja.

 

“jadi apa yang akan kau lakukan?” yoojin tiba-tiba membuka suara

“aku? Apa?”

“tentang kejadian kemarin. Sekolah akan mengambil keputusan dalam dua hari kedepan”

“tentu saja aku akan membuktikan bahwa bukan aku yang melakukan hal itu”

“caranya?”

“ melihat rekaman cctv” eunbi segaja sedikit mengeraskan suaranya dan menekan kalimatnya pada kata ‘cctv’. Matanya sibuk mengukur ekspresi apa yang na mi sekarang sedang tunjukan dari balik punggung berseragam itu.

 

Deg

Tangannya tiba-tiba terasa bergetar dan dingin. Na mi menegang di tempatnya.

Cctv? Kenapa aku melupakan hal itu?

 

Tidak. Dia sudah sejauh ini. Bagaimana mungkin ini bisa menjadi sangat berantakan dari apa yang dia bayangkan. Kadang otak cerdasnya memang berjalan sedikit lambat, atau mungkin Eunbi yang terlalu pintar.

 

“aku sudah meminta bantuan cho soesangnim untuk hal itu. Kau tahukan kalau kita tidak bisa masuk sembarangan ke tempat itu.” Tambah Eunbi dengan masih terus melihat na mi dari belakang.

 

Eunbi yakin kalau gadis itu melupakan hal yang satu ini. Cctv. Dan itu bisa menjadi celah untuknya.

**

Kyuhyun sibuk dengan komputer di depanya. Kali ini bukan untuk mengerjakan pekerjaannya tapi mencari sebuah kebenaran. Meskipun dia tidak tahu siapa pelaku sebenarnya atas kejadian pencurian itu. Tapi lagi-lagi dia percaya begitu saja pada Eunbi saat gadis itu mengatakan kalau na mi yang melakukannya. Gadis culun itu. Kyuhyun sampai tidak habis pikir bagaimana gadis yang cenderung anti sosial dan hanya sibuk dengan dunianya sendiri melakukan hal seperti ini. Semua catatannya salama ini selalu bersih.

 

Kyuhyun mendesah dan melemaskan sedikit bahunya setelah melihat rekaman cctv.

Eunbi benar. Tentu saja sekarang kyuhyun tahu betul siapa yang melakukannya, seperti yang dikatakan eunbi. Na mi.

 

Suara ketukan pintu membuat kyuhyun menoleh.

“masuklah” katanya kemudian

Tanpa ragu Eunbi langsung mengambil duduk di kursi sebelah kyuhyun.

 

“aku sudah mendapatkan buktinya” kata kyuhyun memulai

Eunbi hanya menatap kyuhyun ragu.

“na mi?” tanyanya Eunbi memastikan.

Kyuhyun mengangguk

 

Pria itu kemudian memutar video yang baru saja ditontonnya.  Dimulai dari na mi yang masuk ke ruang guru kemudian Eunbi dan begitulah kebenaran yang sebenarnya.

 

“kau tidak akan dihukum apalagi dikeluarkan dari sekolah, tapi sebaliknya”

 

Na mi kesulitan menelan ludahnya sendiri, rasanya seperti menelan duri yang sulit untuk dia cerna. Nafasnya menjadi pendek-pendek. Ya, gadis itu menguping setiap pembicaraan yang Eunbi dan kyuhyun lakukan.

 

Dikeluarkan dari sekolah. Tidak. Tidak. Aku tidak boleh dikeluarkan dari sekolah. Tidak. Tidak boleh.

**

Na mi mengendap-endap masuk ke dalam ruangan sesaat setelah Eunbi dan kyuhyun meninggalkan ruangan itu. Sebelum penjaga itu datang, maka na mi harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya.

 

Matanya sibuk mengamati semua folder-folder di layar komputer. Dia tidak tahu kalau dia akan melakukannya sampai sejauh ini. Kebohongan demi kebohongan dia lakukan untuk menutupi kebohongan yang lainnya.

 

Hapus.

Dia baru saja menghapus salah satu folder disana. Sejenak dia menghela nafas penuh kelegaan sebelum-

 

“na mi. apa yang kau lakukan?” eunbi berdiri di balik punggung na mi. ya, gadis itu tidak pergi. Eunbi tahu kalau ini akan terjadi. Tidak. dia sengaja melakukan ini.

 

Lagi-lagi na mi hanya bisa membatu di tempatnya.

“kau ingin menghilangkan bukti itu?”  eunbi melangkah mendekat dan matanya tidak pernah lepas dari na mi yang sekarang sudah berdiri dan berbalik menghadapnya setelah berhasil menguasai dirinya.

 

“ kalau iya. Memangnya kenapa?”

 

Bukan Eunbi yang berhasil dibuat terkejut oleh ucapannya sendiri tapi na mi yang terkejut. Eunbi mengangkat sebuah USB. Rupanya dia tadi sudah memindahkan file itu ke dalam USB nya.

“lakukan apapun yang kau suka, tapi aku tidak akan membiarkannya.”

“apa yang kau lakukan?” na mi menggeratkan semua giginya.

“seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan SHIN NAMI”

“jelaskan padaku. Apa salahku sampai kau melakukan ini semua padaku?” lagi-lagi Eunbi menuntut gadis itu untuk berbicara.

 

“kau tidak boleh membuatku dikeluarkan dari sekolah. Kumohon berikan USB itu padaku” bukannya menjawab pertanyaan Eunbi, na mi masih bersikukuh mengutamakan semua ambisinya. Ambisi yang menghancurkan dia dan Eunbi secara bersamaan.

“kau tidak bisa melakukan hal ini. Berikan padaku kumohon.”

“kenapa aku tidak bisa melakukan hal ini. Aku hanya akan mengungkap kebenaran”

“kau tidak mengerti apa yang sedang kau lakukan hwang Eunbi!” kali ini na mi sedikit berteriak. Dia sudah hampir kehilangan kesabarannya, lalu bagaimana dengan Eunbi?

“kita lihat saja apa yang besok sekolah putuskan”

Eunbi hampir menghilang dari balik pintu, tapi suara na mi menahan langkahnya.

 

“aku tidak punya pilihan lagi Eunbi ah.” Suara na mi terdengar lebih melemah, tidak sekeras tadi.

 

Eunbi berbalik menatap na mi yang sudah berkaca-kaca. Memangnya siapa yang menderita disini?

“apa yang tidak kau punya na mi. kau bisa mengatakan padaku kalau kau tidak ingin aku ikut. Aku akan senang hati akan mundur. Baiklah mungkin kau kecewa padaku karena setelah aku bilang aku tidak ikut tapi setelah itu namaku ada dalam daftar, tapi percayalah yoojin yang mendaftarkanku bukan aku” Eunbi berucap begitu saja, mengungkapkan semua keluhan yang dia rasakan kepada na mi berharap gadis itu bisa mengerti.

 

“aku harus bisa mewakili sekolah ini untuk olimpiade itu. Tapi dengan kau ikut itu menghacurkan semuanya”

“dengan melakukan semua ini? Kau sadar apa yang kau lakukan? Kau membuatku sebagai pencuri atas semua kesalahanmu. Kau mengerti itu?!”

Eunbi tidak bisa berkata-kata lagi. Dia ingin tenang tapi na mi selalu berhasil memancingnya.

 

“apa ini demi beasiswamu?” tebak Eunbi asal setelah berhasil mengontrol kembali dirinya.

“demi keluargaku”

Eunbi mengerutkan keninngnya tidak mengerti.

“aku hidup di keluarga yang selalu menuntutku untuk selalu berada di urutan no 1. Mereka tidak peduli apapun yang terjadi padaku. Hanya itu yang mereka inginkan dariku. Jadi kau hanya akan menjadi batu dalam langkahku.”

Na mi mengusap air matanya kasar. Dia tidak tahu sejak kapan air mata itu menerobos dinding pertahanannya. Inilah yang selalu menjadi beban gadis itu, setiap hari dia hanya akan mendengar orang tuanya untuk menyuruhnya belajar dan belajar. Bahkan dia sampai lupa kapan terakhir dia bermain bersama teman sebayanya. Ya, dia memang sudah terbiasa dengan itu semua tapi tetap saja saat orang tuanya membandingkan dengan kakak-kakaknya yang berhasil sekolah di luar negeri berkat beasiswa lalu diterima di perusahaan yang besar di korea selatan dia selalu kesal. Terkadang dia berfikir bagaimana orang tuanya tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya. Mereka hanya berfikir kalau hanya dengan belajar maka hidupnya akan bahagia. Mungkin orang tua na mi mempunyai pandangan yang berbeda. Pernah sekali saat masih di sekolah dasar saat na mi tidak mendapatkan peringkat satu disekolah dia harus rela terkurung selama satu hari penuh didalam kamar tanpa makanan. Sejak saat itu na mi bersumpah bahwa dia tidak akan pernah lagi tertinggal walau hanya satu langkah dari temannya. Jadi, apakah sekarang kalian paham bagaimana perasaan na mi? kenapa gadis itu memilih jalan seperti ini?

 

Eunbi lagi-lagi dibuat mematung oleh jawaban na mi, na mi bahkan sudah pergi meninggalkanya setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan. Lalu bagaimana dengan Eunbi sekarang? Apa yang harus dia lakukan?

**

Semua orang tampak bersitegang didalam ruang rapat. Lebih tepatnya hanya kim soesangnim dan cho kyuhyun. Jelas saja guru muda itu merasa geram dengan kim soesangnim karena menuduh Eunbi sembarangan. Baiklah, mungkin bukan salah pria tua itu kalau kenyataannya hubungan mereka berdua memang tidak terlalu baik dari awal. Apalagi sejak kyuhyun menghukum murid kim soesangnim yang ketahuan merokok, pasti kejadian ini menjadi salah satu kesempatan untuk memukul kyuhyun mundur. Dan ya, na mi. sepertinya kyuhyun meninggalkan muridnya yang satu itu. Gadis yang bahkan tidak pernah mendapat satu hukuman pun dari kyuhyun harus melakukan hal yang begitu tak terduga.

 

Na mi bergetar di tempatnya, sekarang dia dan Eunbi berdiri di hadapan cho kyuhyun, kim soesangnim dan tuan cho. Ayah kyuhyun itulah yang menentukan keputusan nanti.

 

Eunbi menatap ragu semua orang yang ada di dalam ruangan sebelum dia mengatakan apa yang harus dia katakan.

 

Eunbi menatap semua orang ragu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya menandakan kalau dia sedang cemas.

 

“maafkan saya. Saya memang mencuri USB itu dari kim soesangnim”

Itu adalah suara Eunbi.

 

Mata kyuhyun membulat. Apa gadis ini gila? Jelas-jelas bukan dia yang melakukan hal itu, dan kyuhyun juga tahu hal itu.

“Eunbi. Katakan yang sejujurnya” kata kyuhyun menekan. Tapi seolah telinga Eunbi tidak mendengar apapun.

“sekali lagi. Maafkan saya. Saya akan menerima apapun hukumannya.” Inilah keputusan yang pada akhirnya Eunbi pilih. Dia memang ingin membuktikan pada semuanya jika dia tidak bersalah, tapi hatinya terlalu baik untuk menghancurkan orang lain demi mengungkap kebenaran itu. Eunbi memang tidak pernah berada diposisi na mi tapi dia tahu bagaimana rasanya tidak punya pilihan dalam hidup. Sepertinya eunbi sedikit beruntung dari gadis itu karena dia mempunyai keberanian untuk melakukan hal yang dia inginkan.

 

“Eunbi! Kita berdua tahu siapa pelakunya” sekali lagi kyuhyun menekan Eunbi.

“apa yang kau-“

 

“sudahlah cho soesangnim. Dia sudah mengaku”

Kim soesangnim menyungginkan senyum kemenangannya tapi dia langsung merubah mimik mukanya setelah menyadari tatapan tak bersahabat dari kyuhyun. Kadang-kadang kyuhyun memang tampak sangat menakutkan dengan tatapan seperti itu.

 

“aku dan Eunbi sudah mengecek cctv. Bukan Eunbi yang melakukan itu tapi na mi”

Merasa namanya disebut, na mi merasa semakin ketakukan. Dahinya sudah dipenuhi oleh keringat dingin. Apa yang bisa gadis itu katakan sekarang? Dia bahkan tidak sanggup hanya untuk mengatakan satu kalimat saja untuk membela dirinya.

 

“Eunbi katakan yang sebenarnya.!” Lagi-lagi kyuhyun menekan Eunbi. Baru kemarin gadis itu memintanya untuk membantu mencari bukti dan membebaskannya dari masalah ini. Tapi setelah semua yang mereka lakukan, gadis itu bahkan tidak mendengarnya sekarang.

 

“tidak ada yang ingin saya katakan lagi. Saya pamit”

Setelah itu Eunbi benar-benar pergi tidak menghiraukan kyuhyun yang memanggilnya. Dia bahkan tidak peduli meninggalkan ruangan itu sebelum mendengar keputusan yang dibuat Tuan Cho.

**

Na mi keluar setelah Tuan cho memintanya untuk pergi. Gadis itu tidak tahu apakah dia harus senang atau tidak. Dengan eunbi mengakui kejadian itu membuat dia bebas dari hukumannya, tapi kenapa harga dirinya seakan terluka dengan itu. Sebagian dari hatinya merasa menyesal dengan kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan.

 

Gadis itu tidak jadi melangkah lebih jauh lagi karena ponselnya tiba-tiba bergetar.

Drt..drt…

Lama dia memandangi layar ponselnya sebelum dia pergi.

**

Na mi memandangi eunbi yang berdiri memunggunginya. Orang yang baru saja mengirimi pesan adalah dia. Eunbi. Dia sudah menunggu na mi sejak tadi di atap sekolah ini. Ada beberapa hal yang ingin gadis itu sampaikan.

 

Eunbi berbalik setelah mendengar derap langkah yang mendekat ke arahnya.

“na mi. ada sesuatu yang ingin aku katakan” katanya tanpa basa-basi

“na mi. mungkin aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu selama ini berlangsung. Tapi aku tahu bagaimana rasanya saat kita tidak punya pilihan untuk menentukan hidup kita sendiri.”

“dengan aku mengakui itu semua, aku berharap kau bisa lebih berani lagi untuk menentukan hidupmu sendiri. Kau tahu. Kau tidak akan pernah bahagia jika kau terus bersembunyi.”

“orang tuamu, keluargamu, dan dirimu tidak akan bahagia dengan semua kebohongan dan kepalsuan yang selama ini kau lakukan.”

 

Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Eunbi katakan untuk seseorang. Dia tidak yakin sejak kapan dia menjadi sedikit lebih dewasa seperti ini. Bahkan na mi hampir meneteskan air matanya. Dia akhirnya merasa sebagai orang yang paling bodoh didunia. Apapun yang eunbi katakan tadi, itu benar-benar menyentuh hatinya. Gadis yang dia sakiti bahkan tidak memakinya atau menamparnya, sesuatu yang lebih melukai harga dirinya.

Na mi bukanlah orang jahat yang mata hatinya sudah tertutup. Gadis itu bahkan tidak bisa tidur sejak melakukan hal itu, dia hanya gadis polos yang hanya terlalu takut menghadapi kenyataan. Kenyataan kalau dia bisa saja menjadi nomor dua.

 

“na mi. aku tidak tahu kau menganggapku temanmu atau musuhmu. Tapi asal kau tahu. Kau tetap teman bagiku”

 

Teman yang memberiku warna di 18 again ku

 

Kali ini air matanya tidak bisa dia tahan lagi.

“mianhae eunbi ah. Mianhae. Seharusnya aku memang tidak melakukan hal itu. Katu tahu aku terlalu pengecut untuk mengakui itu semua.”

 

Na mi benar-benar menangis dipelukan Eunbi. Sudah cukup bagi eunbi dengan na mi menyesali hal itu. Dia tahu kalau na mi adalah anak yang baik.  Mungkin lebih baik Eunbi yang mendapatkan hukuman itu, kalaupun dia harus keluar dari sekolah ini, itu tidak masalah. Lagi pula dia datang kesini bukan untuk belajar tapi dia punya maksud sendiri. Dia bisa melanjutkan kehidupannya, kembali ke rumah mewahnya tapi na mi, eunbi pasti akan menyesal jika na mi benar-benar keluar dari sekolah ini. Mimpinya memang merasakan kehidupan SMA senormal mungkin, tapi dia pasti akan sangat merasa bersalah kalau mimpinya harus membunuh mimpi yang lain.

**

Kyuhyun akhirnya keluar dari persembunyiannya saat na mi sudah pergi meninggalkan eunbi di atap sekolah. Dia tidak bermaksud menguping pembicaraan kedua gadis itu. Dia memang bermaksud mencari eunbi dari tadi saat gadis itu sedang bersama na mi. Menuntut penjelasan dari gadis itu.

 

“jadi na mi yang menghapus rekaman cctv itu?”

Eunbi berbalik dan menatap kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.

Kepalanya mengangguk.

“maafkan aku karena telah mengecewakan cho soesangnim. Ada banyak pertimbangan yang sudah aku pikirkan” hanya itu yang mampu Eunbi katakan.

 

Kyuhyun menghela nafasnya.

“aku hanya tidak mengerti apa yang kau pikirkan sampai kau melakukan hal ini”

“aku hanya terlalu egois jika aku mengatakan pada semua orang tentang kenyataan ini”

“tapi memang itu yang harus terjadi” lagi-lagi emosi kyuhyun sedikit meluap. Bagaimana bisa gadis ini berfikir seolah-olah semuanya baik-baik saja.

“ada beberapa hal yang soesangnim tidak tahu”

“apa itu?”

Kyuhyun kembali frustasi saat Eunbi menggeleng sebagai jawaban.

“aku tidak bisa mengatakannya sekarang”

“lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau mungkin akan mendapatkan hukuman yang berat. Di skors selama satu bulan atau mungkin dikeluarkan”

Eunbi tersenyum.

“aku akan menghadapi apapun hukuman itu”

Kyuhyun menyerah. Dia bisa apa kalau gadis yang ingin dia bela merelakan begitu saja hukuman yang bahkan tidak seharusnya dia terima.

“kau rupanya senang mendapatkan hukuman” ejek kyuhyun

Eunbi tertawa.

“Dan itu karena soesangnim terlalu sering menghukumku”

 

Mereka berdua kemudian terdiam. Hanya angin yang mengisi setiap ruang disekitar mereka. Angin yang menerbangkan setiap anak rambut mereka, membuat sedikit berantakan rambut hitam itu.

 

“tentang na mi dan rekaman cctv itu. Maksudku tentang na mi yang sudah menghapus rekaman cctv itu. Biarlah menjadi rahasia kita. Aku mohon”

“dan kau merelakan dirimu?”

“kumohon. Na mi jauh lebih membutuhkan hal ini dari pada aku.”

“baiklah. Dan kau tetap menyimpan rekaman cctv itu dalam USB mu?”

“tidak. Aku sudah menghapusnya”

“kau memang sudah siap dengan hukumannya.”

Entah ini benar atau salah. Tapi lagi-lagi kyuhyun hanya bisa menghargai setiap keputusan gadis itu. Gadis yang sekarang sedang tersenyum ke arahnya karena lontaran kalimat yang baru saja kyuhyun katakan.

**

Angin yang menyebabkan daun-daun bergesekkan menyentuh kulit mulusnya. Ini adalah hari ketiga eunbi menjalani hukumannya. Sepertinya Eunbi harus bersyukur karena dia tidak ditendang dari sekolah itu, di skors selama 2 minggu itu terasa tidak begitu berat. Setidaknya Eunbi bisa menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan sendirian, ya itu lebih baik dari pada terkurung di dalam asrama yang terasa menyeramkan saat semua penghuninya tidak ada disana.

 

Jadi aku harus kemana sekarang?

 

Kakinya terus melangkah menyusuri trotoar. Dia memang tidak punya tujuan tapi ini terasa mengasikkan untuk Eunbi. Dia tidak tahu kalau berjalan ditengah-tengah mobil-mobil yang berjejer jauh lebih mengasikkan dari pada berada di dalam benda itu. Langit siang yang terlihat sangat cerah, beberapa orang yang berlalu lalang dengan kesibukkan mereka sendiri menjadi pemandangan yang tidak pernah Eunbi sadari sebelumnya.

 

Menikmati secangkir kopi, kurasa tidak buruk.

 

Eunbi berdiri di depan meja kasir. Otaknya masih berfikir mimuman apa yang harus dia pesan. Americano atau caffelatte.

 

“aku pesan Americano”

“caffelatte”

Eunbi berbalik.

Bukan. Bukan hanya karena orang disampingnya memesan hampir bersamaan dengannya tapi karena-

 

“cho soesangnim?”

Merasa namanya disebut, kyuhyun memutar tubuhnya menghadap gadis dengan penampilan casualnya. Rok putih pendek, kaos, tas selempang kecil, sepatu kets putih dan jangan lupakan rambut yang di ikat menjadi satu.

“apa yang kau lakukan disini?”

Bukannya balik menyapa kyuhyun malah mengajukan sebuah pertanyaan.

 

“aku? Hanya berjalan-jalan”

Kyuhyun menepuk dahinya pelan. Ya ampun dia lupa kalau gadis ini sedang berada di dalam masa hukumannya. Tapi berada di tempat ini.

 

Aku mohon jangan terulang lagi

 

“apa yang soesangnim lakukan?”

“aku?” kyuhyun tampak bingung sendiri menjawabEunbi. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri.

 

Eunbi ikut mengedarkan pandangannya dan-

 

“apa cho soesangnim sedang berkencan?”

Tepat.

Mengukur bagaimana ekspresi kyuhyun. Ya ampun tebakannya benar.

 

“bukan kencan. Hanya sedang bertemu saja:” elak kyuhyun

“kencan buta?”

 

Ya Tuhan apa dia seoerang cenanyang?

 

“kau tidak sedang membuntutikukan?”

Eunbi menggeleng. Yang benar saja, untuk apa dia mengikuti kyuhyun yang berkencan. Dia memang bosan di asrama tapi tidak dengan mengikuti kyuhyun. Lebih baik dia mati kebosanan di asrama.

 

“jadi gadis yang mana? Apakah cho seoesangnim akan menolaknya juga?”

 

Kyuhyun menghembuskan nafasnya malas. Kenapa sekarang muridnya ini seolah ikut campur dalam kehidupan pribadinya?. Tapi kyuhyun tidak peduli itu tentang hal itu.

kau lihat wanita yang disana?”

Eunbi mengikuti arah jari telunjuk kyuhyun. Dan mengangguk.

 

Gadis  dengan rambut berwarna sedikit kecoklatan, penampilan yang feminim, tas branded, dan riasan make up yang sederhana. Tidak ada yang salah dari penampilan gadis itu, kecuali kyuhyun. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Jangan katakan kalau dia benar-benar tidak suka dengan yang namanya wanita.

 

“aku sudah menolaknya asal kau tahu. Tapi sepertinya gadis itu kehilangan telinganya.”

 

Bagaimana kyuhyun menjelaskan tentang gadis itu. Dia jauh lebih menakutkan dari gadis-gadis yang sebelumnya yang dia temui. Akan lebih baik kalau gadis itu segera menyiram kyuhyun dengan air digelasnya dan hubungan mereka akan berakhir.

Setiap kyuhyun bilang. ‘aku sudah punya kekasih, aku tidak tertarik dengamu’ gadis itu hanya akan bilang. ‘dan aku akan membuatmu tertarik padaku dan selalu menunggumu’.

Sialan! Apa gadis itu benar-benar gila. Baiklah, mungkin sebentar lagi kyuhyun yang akan benar-benar gila.

 

“soesangnim menolaknya dengan cara yang sama?”

 

“aku sudah mencoba segala cara asal kau tahu”

“sudahlah, aku tidak seharusnya menceritakan ini padamu”

 

Kyuhyun berbalik setelah mengambil pesanannya tapi suara Eunbi menahannya.

“aku bisa membuat dia pergi”

Kyuhyun mengerutkan keningnya.

“berpura-pura menjadi kekasihku?”

Eunbi menggeleng

“aku bisa membantu soesangnim. Tapi soesangnim harus menuruti keinginanku?”

**

Eunbi merubah sedikit tatanan rambutnya, membiarkannya terurai dan memoles sedikit warna merah pada bibirnya. Kyuhyun sudah duduk di depan gadis itu. Dari tampilannya dia sepertinya gadis terpelajar, terpandang dan sedikit keras kepala. Eunbi tidak tahu kalau orang seperti itu ada, gadis yang seolah menaruh harga diri di urutan paling akhir. Jika saja itu Eunbi, eunbi akan segera menampar kyuhyun dan melengang pergi setelah pria sialan itu mengatakan ‘maafkan aku kau bukan tipeku, aku tidak tertarik padamu atau maaf aku mencintai orang lain’ benar-benar sialan kyuhyun itu!.

 

Perlahan dia berjalan mendekat dengan langkah kaki yang dia buat-buat, akan lebih baik kalau dia memakai heels sekarang hentakan hak sepatu yang runcing akan berpadu dengan lantai cafe membuat dia semakin menjiwai peran ini, tapi itu tidak masalah.

 

“cho kyuhyun shi” sapa Eunbi setelah dia berada di depan pria itu.

“iya” kyuhyun memberenggut tidak mengerti. Kalau saja eunbi mengatakan apa rencananya mungkin kyuhyun tidak akan terlihat begitu bodoh seperti sekarang.

“kau masih punya hutang padaku”

“hutang?”

“kau belum membayar pesananmu kemarin”

“pesanan? Apa?”

“ya ampun kau tidak sedang pura-pura pikun kan? 200 won. kau harus membayar 200 won untuk satu malam kemarin”

“apa?”

“yak! Jangan memancingku. Cepat bayar!” eunbi menaikkan suaranya membuat pelanggan yang lain ikut tersedak dari minumannya.

“apa yang harus aku bayar?!”

 

Eunbi tersenyum mengejek.

“ya ampun pria ini”

 

“agashi. Sepertinya kau salah orang” kata gadis yang duduk di depan kyuhyun, tepat disamping Eunbi berdiri.

“yak! Apa kau tidak tahu siapa pria ini? Kusarankan agar kau cepat-cepat pergi darinya”

 

“Tuan. Cepat berikan 200 won ku” kata eunbi mendesak.

“apa yang aku harus bayar padamu?”

“yak! Apa aku harus berteriak disini dan memberitahu semua orang? Eiyy aku bukan orang seperti itu tuan. Aku akan menyimpan rahasiamu rapat-rapat.”

“tapi jika kau lupa aku akan mengingatkannya.”

Eunbi membungkuk membuat wajahnya sejajar dengan wajah kyuhyun dan gadis itu.

“kemarin kau memintaku mencarikan seorang pria muda dan kau sudah menghabiskan malam bersama degannya. Jadi setelah kau bersenang-senang sebaiknya kau membayarku tuan.”

“apa?”

Mata kyuhyun membulat. Sialan! Kyuhyun terjebak sendiri pada rencananya. Kalau tahu begini dia tidak akan mengiyakan tawaran Eunbi untuk membantunya atau lebih baik memaksa Eunbi untuk menjadi kekasih pura-puranya. Tapi ini- ya ampun harga diri cho kyuhyun benar-benar berada di bawah sepatunya.

 

“apa? Pria?” gadis itu ikut bertanya dan dengan entengnya Eunbi mengangguk.

“jika tuan membayarku maka aku akan membawa mereka semua yang tampan-tampan ke depan pintu apartemenmu”

 

“oppa. Kau tidak-“

“aku-“ kyuhyun terpojok dia bingung sendiri dengan jawaban yang harus dia katakan.

“eiyy. Nona. Aku harap kau tidak berkata terlalu keras. Ini hanya menjadi rahasia kita. Kau tahu tidak semua orang bisa menerima kehadiran pria seperti tuan ini dengan baik disini. Lingkungan kita masih terlalu awam untuk mengenal cinta sesama jenis. Oh ya ampun. Apa kau salah satu teman wanitanya. Terkadang dia butuh wanita untuk menutupi jati dirinya dan-“

Eunbi  menghentikan kalimat panjangnya setelah gadis disampingnya tiba-tiba berdiri.

 

“kupikir kau pria yang sempurna tapi- ya ampun aku bahkan tidak sanggup hanya mengatakannya.”

“oppa mulai hari ini aku tidak akan mengganggumu lagi. Anggap saja kita tidak pernah bertemu.”

 

 

“BUAHAHAHAHA…”  eunbi tertawa begitu keras mengundang perhatian pengunjung cafe yang lain. Perutnya bahkan sampai terasa kaku.

“oh ya ampun. Aku bahkan sampai akan menangis karena terlalu banyak tertawa”

 

“kau sudah puas tertawa?”

“apa cho soesangnim tidak lihat tadi bagaimana ekspresi gadis itu. Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya. Dia benar-benar ketakutan karena mendengar cho soesangnim seorang-“

“seorang apa?”

Eunbi menelan ludahnya, rasa humor yang tadi dia rasakan tiba-tiba hilang dibawa angin. Tatapan kyuhyun benar-benar membuat suasana yang tadi terasa sedikit hangat membeku seperti es. Bagaimana gadis itu bisa lupa kalau kyuhyun mungkin saja marah karena hal tadi. Mungkin? Eunbi rasa itu bukan lagi ‘mungkin’ tapi benar-benar marah.

“kau puas menertawakan aku nona hwang?” ini bukan pertanyaan tapi sebuah peringatan.

 

Gadis ini memang benar-benar gila. Apa dia tidak tahu dengan siapa dia sedang berhadapan. ‘malaikat kegelapan’

 

“aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya membantu saja” jawab Eunbi pura-pura tenang dan tidak terjadi apa-apa. Meskipun dalam hatinya dia sedang mengutuk ide gila yang tiba-tiba muncul diotaknya tadi. Eunbi tidak tahu dari mana hal itu muncul dikepalanya sampai melupakan kalau mungkin saja masa skornya akan bertambah menjadi 4 minggu.

 

Kyuhyun menyenderkan punggunya pada sandaran kursi, menatap Eunbi dengan pandangan menghakimi.

“apa ini yang kau sebut sebuah ide? Kau gila? Apa kau tidak punya cara lain?”

“tapi dengan seperti itu dia tidak akan menganggu cho soesangnim lagi”

 

PLETAK

“auwh” eunbi mengadu kesakitan karena dahinya baru saja mendapat sebuah pukulan yang begitu menyakitkan. Lagi dan lagi eunbi harus merelakan dahinya sebagai sasaran kemarahan cho kyuhyun. Mungkin kalau ada kejuaraan menjitak eunbi rasa kyuhyun akan keluar sebagai pemenangnya.

“kau tidak hanya membuat dia pergi tapi kau juga baru saja membuat harga diri dan imageku menjadi benar-benar buruk”

“tapi itu hanya menjadi rahasia kita. Tidak ada yang mengetahuinya makanya aku mengatakannya dengan pelan”

**

“cho soesangnim. Kau harus menepati janjimu”

“aish” Eunbi mendengus kesal. Kyuhyun semakin mempercepat langkah kakinya. Telinganya sudah jenggah mendengar gadis itu berteriak-teriak dibelakangnya sejak tadi.

 

Ya ampun apa dia lupa kepada siapa dia merengek?

Baiklah mungkin Eunbi berhasil mengusir gadis penganggu itu dengan sangat baik, tapi kyuhyun gay? Demi Tuhan dia bisa langsung mencekik Eunbi jika tidak di depan umum seperti ini.

 

Kyuhyun tiba-tiba berhenti membuat Eunbi hampir terjungkal karena kaget. Dia segera berbalik tapi kenapa Eunbi merasa takut melihat dia mengeraskan rahangnya dan tatapan matanya yang tajam, oh Eunbi akan mati berdiri disini jika kyuhyun terus menatapnya dengan cara seperti itu.

 

“apa? Apa yang kau mau? Menemanimu nonton? Menemanimu bermain di game center?”

“soesangnim sudah berjanji padaku” jawab Eunbi dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar oleh kyuhyun dengan sangat jelas.

“dan kau melakukannya dengan cara yang sangat bagus. Aku bahkan tidak menyangka kau akan melakukan hal itu. Terima kasih. Terima kasih karena kau telah menyelamatkan hidupku”

Eunbi menunduk.

“maafkan aku. Hanya itu yang terpikirkan olehku. “

 

Kyuhyun berkacak pinggang dan membuang nafasnya kasar. Dia bingung harus marah atau malah berterima kasih pada gadis ini.

 

“jadi kau ingin kemana?” kata kyuhyun kemudian.

 

Eunbi langsung mengangkat kepalanya bersemangat.

“game center”

**

“Aishh menyebalkan!”

Eunbi menghentakan kakinya dan memberenggutkan bibirnya kesal. Sementara pria yang tadi harus berdebat dulu dengan Eunbi untuk datang kesini malah terlihat sangat menikmati permainan ini. Kyuhyun bahkan tertawa karena berhasil mengalahkan Eunbi untuk ketiga kalinya.

“berhentilah tertawa” sentak Eunbi

 

Kyuhyun menghentikan tawanya. Sudah lama dia tidak bermain disini dan itu terasa sangat menyenangkan.

“kau mengajakku bertanding tapi permainanmu begitu payah. Aku bahkan tidak pernah melihat permainan sepayah itu”

“berhenti mengejekku. Apa soesangnim sering memainkan ini?”

Kyuhyun tampak pura-pura berfikir.

“ya. Tapi kurasa itu sudah lama”

“sudahlah kita main yang lain saja. Permainan balap mobil itu tidak seru”

 

“dasar payah” katanya begitu pelan seperti sedang bergumam.

Kyuhyun menyunggingkan senyumnya dan segera berjalan menyusul eunbi yang sudah menjauh darinya.

 

Kyuhyun dan Eunbi terlihat begitu menikmati setiap permainan yang ada, mereka seperti lupa berapa umur mereka. Kadang berteriak bersama atau tertawa bersama.  Mungkin tidak akan ada yang menyangka kalau pria yang sekarang sedang asyik memasukkan bola basket pada ringnya itu adalah seorang guru.

 

“ah. Aku lelah. Kita pergi saja dari sini” Eunbi merenggangkan kedua tangannya dia tidak tahu kalau bermain game bisa sangat melelahkan seperti ini.

“baiklah. Kita pulang saja aku akan mengantarmu ke asrama”

“pulang?”

“ini bahkan masih sore. Kita masih bisa menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk berkeliling”

“kau ingin menambah hukumanmu?”

“ke taman kota tidak masalah”

Bukannya menjawab Eunbi malah memberikan kyuhyun saran tempat yang harus dia kunjungi selanjutnya.  Baiklah, itu terdengar sebagai saran tapi lebih kepada sebuah permintaan.

 

“baiklah ayo”

Eunbi masih sibuk tersenyum tidak jelas saat kyuhyun sudah melenggang pergi di depannya.

**

Sore hari seperti ini taman kota penuh dengan orang-orang yang sengaja menikmati senja bersama orang-orang terdekat mereka. Lalu bagaimana dengan Eunbi. Kyuhyun dan Eunbi?

Nngg..untuk saat ini mereka dekat. Ya, hanya itu.

 

“soesangnim. Kau masih marah tentang tadi?” tanya Eunbi hati-hati.

Kyuhyun diam tidak menjawab. Membuat Eunbi menarik kesimpulan.

 

Rupanya dia masih kesal

 

“aku akan pergi dulu mencari minum.” Kata Eunbi dan gadis itu pergi setelah mengatakannya

 

Kyuhyun tidak tahu. Bagaimana bisa dia berada disini bersama Eunbi. Ya, kyuhyun masih sadar saat mengendari mobilnya kesini. Tapi dia tidak tahu bagaimana bisa dia menuruti Eunbi dengan begitu mudahnya untuk kesini. Dan dia diam saja saat gadis itu berpamitan untuk pergi. Rupanya otaknya sedang tidak berfungsi dengan baik, mungkin efek dari dia bermain terlalu lama tadi.

 

Eunbi sudah mendapatkan dua botol air minum. Dia tidak yakin kalau dengan ini dapat menghilangkan rasa kesal kyuhyun padanya. Tapi apa salahnya dicoba.

 

Langkah kakinya berhenti di lima meter di belakang kyuhyun.

 

“aku baru saja meninggalkannnya sebentar.” Kata Eunbi lebih kepada dirinya sendiri. Dia akui kalau kyuhyun itu tampan. Ya ampun. Apa dia baru saja menyebut kyuhyun tampan? Baiklah. Kyuhyun memang tampan tapi Eunbi tidak tahu kalau para wanita tidak akan membiarkannya mengganggur sedikit saja. Lihat saja sekarang, saat kyuhyun sudah dihampiri wanita berambut merah seperti nyala api, pakaian terbuka bahkan Eunbi bisa melihat warna bra wanita itu, bagaimana tidak. kalau dia memakai pakaian yang sangat tipis dengan bentuk punggung yang terbuka. Sebenarnya dia akan club malam atau taman kota? Atau gadis ini habis berkencan dan meninggalkan kekasihkanya karena melihat kyuhyun? Dasar wanita tidak tahu malu! Hey! Kenapa Eunbi jadi yang marah? Sudahlah. Yang pasti dia punya satu cara untuk mengusir gadis yang entah dari mana itu.

 

Kyuhyun mencoba menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Sialan! Dia bahkan sampai kesulitan mencari nomor telepon Eunbi. Kalau dia tidak ingat dengan siapa dia datang kesini maka kyuhyun sudah pergi dari tadi. Double sialan! Gadis yang duduk disebelahnya benar-benar menganggu. Awalnya kyuhyun pikir dia hanya seorang wanita yang menanyakan alamat tapi ya ampun. Sejak tadi wanita itu selalu mengganggu kyuhyun. Apa tidak ada satu hari saja dia bisa hidup tenang tanpa ada makhluk seperti ‘dia’.

 

“nona. Maaf aku harus pergi”

kyuhyun  sudah berdiri dan baru akan melangkah pergi saat wanita itu tiba-tiba merentangkan kedua tangannya di depan kyuhyun.

 

“setidaknya berikan aku nomor ponselmu” katanya memaksa

 

Kyuhyun menghembuskan nafasnya frustasi

“nona pergi dari hadapanku. Aku-“

 

“oppa. Maaf meninggalkamu lama”

Kalimat kyuhyun terpotong saat tiba-tiba tangannya di rangkul oleh seseorang. Dan oppa? Kegilaan gadis ini rupanya belum hilang.

“ini untukmu”

“tapi- dia siapa?” tanya Eunbi pura-pura tidak menyadari kehadiran wanita itu.

“kau tidak sedang mengganggunya kan? Ya ampun. Apa kau tidak bisa mengganggu orang lain saja. Dan berhentilah menatap kekasihku seperti itu atau akan kucongkel matamu”

“yak! Memangnya kau siapa melarangku menatapnya”

“aku? Aku KE KA SIH NYA. jadi pergilah dan goda pria lain saja ahjumma”

“ahjumma? Kau ingin mati?”

“memangnya aku harus memanggilmu apa. Kulitmu yang kusam, keriput di sekitar matamu. Oh atau aku harus memanggilmu halmonie?”

“ayo kita pergi sayang”

 

Eunbi menyeret kyuhyun pergi meninggalkan wanita tadi dengan kekesalannya yang tidak bisa dia tahan lagi. Astaga. Mungkin dia akan menghacurkan bumi dengan cara menghentakkan kakinya begitu keras seperti itu.

 

Kyuhyun terdiam. Memorinya memutar kejadian tadi berkali-kali seperti tidak bosan saat Eunbi mengatakan ‘aku kekasihnya’. Mungkin hari ini kerja otaknya memang sedang dalam masalah.

 

Eunbi berhenti dan tertawa.

“apa soesangnim tidak lihat bagaimana ekspresi wanita tadi. Dia pasti sangat kesal saat aku memanggilkan ahjumma. Astaga lagi-lagi aku hampir menangis karena tertawa.”

 

Merasa tidak ada respon. Eunbi terdiam dan melihat kyuhyun.

 Dia marah lagi?

“sekali lagi aku membuat wanita tidak penting seperti tadi pergi. Apa soesangnim marah karena aku berpura-pura sebagai kekasihmu? Soesanangnim marah karena aku menyebut soesangnim sebagai penyuka sesama jenis jadi tadi aku-“

 

Chup-

Kyuhyun mencium Eunbi begitu saja, menempelkan bibirnya pada bibir Eunbi membuat gadis itu menelan semua kata-katanya dengan mata membulat. Hanya beberapa detik bahkan Eunbi tidak sadar apa yang baru saja terjadi.

 

Astaga ciuman pertamaku

 

Kyuhyun berdehem untuk membasahi tenggorokkannya.

Apa yang baru saja aku lakukan?

“itu hanya sebagai bukti kalau akau masih suka dengan makhluk yang namanya wanita” kata kyuhyun kemudian setelah berhasil menguasai dirinya.

“ayo kita pulang”

 

Perlahan Eunbi menyentuh bibirnya. Pandangannya terasa masih kosong karena terkejut.

“apa yang barusan terjadi?” tanyanya kepada dirinya sendiri.

“apa yang dilakukan cho soesangnim barusan?”

Oh. Dia bisa gila!.

 

Tiba-tiba suasana canggung menjadi selimut diantara Eunbi dan kyuhyun. Gadis itu menyesal kenapa dia tidak naik bus saja dari pada terjebak satu mobil dengan kyuhyun. Tidak ada yang berucap atau kyuhyun hanya serius mengemudi dan Eunbi gadis itu bahkan masih menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba melompat tidak karuan. Haruskah dia segera mengunjungi rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan?

 

Mobil berhenti di sebuah bangunan sekolah saat Eunbi masih berselancar di dunianya sendiri sampai suara kyuhyun menyadarkannya.

“kau tidak turun?”

“turun?”

“ah iya. Iya aku akan turun” buru-buru Eunbi melepaskan seatbealt dan membuka pintu mobil dengan cara yang begitu cepat.

“terima kasih cho soesangnim” kata Eunbi setelah keluar dari mobil kyuhyun dan pria itu sudah menghidupkan mobilnya siap menancap gas. Kalau saja gadis itu tahu, kalau sebenarnya dia juga mati-matian menenangkan detak jantungnya dan pura-pura tenang padahal dia sampai merasa khawatir kalau gadis itu bisa mendengar detak jantungnya

TBC

AUTHOR’S NOTE: part ini panjang ya… tapi semoga kalian yang baca enggak bosen. dan author ingetin lagi bagi kalian yang baca untuk meninggalkan jejak. TERIMA KASIH 🙂

ditunggu next partnya ya 🙂