Hold Me Tight {Part 8}

hols-me-copy

Title : Hold Me Tight

Author : Oh Honey

Genre : romance, sad, married life

cast : cho kyuhyun-oc/hwang eunbi

lenght : chapter

author’s note : buat yang nungguin lanjutan ff Hold me tight, maaf baru bisa publish sekarang. semoga pada suka 🙂

jangan lupa tinggalin jejak yaa, PLEASE 🙂

==HAPPY READING==

Angin berhembus melewati jendela kamar yang eunbi buka, menerbangkan anak rambutnya.

“eunbi ah. Hwang eunbi” kyuhyun menggoyang lengan eunbi saat wanita itu tidak menjawab panggilannya

“ne?”

“oh kau sudah pulang” kata eunbi yang baru menyadari kedatangan suaminya itu.

“kau melamun? Apa yang sedang kau pikirkan?”

Eunbi berbalik mengambil secarik kertas di atas nakas dan memberikannya pada kyuhyun.

“apa ini?”

“aku menemukannya difoto eomma saat aku mengunjunginya. Itu tulisan oppa, aku rasa oppa mengetahui sesuatu”

Kyuhyun membaca kalimat yang tidak terlalu panjang itu

“itu adalah nomer loker di perpustakaan sepertinya oppa menyembunyikan sesuatu disana” kata eunbi menjelaskan

“kau sudah mengeceknya?”

Eunbi menggeleng

“aku tidak tahu password apa yang digunakan oppa. Aku sudah menggunakan tanggal ulang tahunku, tanggal ulang tahun oppa, bahkan tanggal pernikahan appa dan eomma tapi tidak ada satupun yang berhasil”

“Ketika salju pertama turun dan mengabulkan doamu” kyuhyun membaca kertas itu

“kau tahu artinya ini?” tanya kyuhyun lagi

“aku sudah memikirkan kalimat itu berulang kali tapi aku tidak tahu apa maksudnya”

“kau pasti akan mengingatnya. Pelan-pelan saja. Kau pasti bisa hwang eunbi”

**

‘Ketika salju pertama turun dan mengabulkan doamu’ kalimat itu lagi-lagi berputar dalam pikiran eunbi, memaksanya untuk mengingat dan mengingat setiap kejadian yang pernah terjadi dulu.

Seketika dia melompat dari tempat tidurnya dan berlari keluar.

Ketika salju pertama turun dan mengabulkan doamu, kalimat itu diucapkan kakaknya waktu mereka berkunjung ke Okinawa dan melihat salju pertama turun. Dan itu terjadi pada saat mereka sedang berlibur musim dingin, bertepatan dengan hari kelulusan eunbi. Dan mungkin tanggal itu adalah password loker milik kakak eunbi.

 

Kyuhyun menatap aneh kamarnya, dia baru saja selesai mandi tapi tidak menemukan eunbi dikamar. Pria itu turun ke lantai bawah, inign memastikan bahwa eunbi mungkin sedang berada di dapur atau mungkin sedang menonton tv di bawah.

“eomma kau lihat eunbi?” tanya kyuhyun pada ibunya yang tidak sengaja melintas di depannya.

“ani. Kenapa?”

“ahh. Bukan apa-apa.”

Kyuhyun keluar dari rumah ingin menanyakan kepada pengawalnya apakah dia melihat eunbi atau tidak.

“pengawal min. kau melihat eunbi?”

“salah satu anak buah saya mengatakan kalau nona sedang bersamanya”

“dimana?” tanya kyuhyun menuntut

“perpustakaan Seoul”

**

Mobil kyuhyun melaju begitu cepat membelah kepadatan kota seoul di malam hari. Pria itu duduk tidak tenang di kursi penumpang. Ini sudah malam dan eunbi pergi dengan tiba-tiba. Dia hanya berharap semoga ini bukanlah sesuatu yang buruk.

 

“tolong aku ahjushi. Tolong buka pintunya” eunbi menyatukan kedua tangannya seperti memohon sesuatu

“perpustakannya sudah tutup nona. Kau bisa datang kesini besok pagi” kata penjaga perpustakaan itu

“tidak. Aku hanya sebentar ahjushi. Tolong aku ini benar-benar penting”

“sudah aku bilang, apapun itu kau bisa datang kesini besok” kata penjaga itu agak kesal.

“buka pintunya” tiba-tiba suara seseorang menginterupsi

“cho kyuhyun” gumam eunbi

“tapi tuan. Perpustakaannya sudah tutup, kau bisa datang lagi kesini besok”

Kyuhyun menggerakkan kepalanya seperti memberi kode kepada pengawal min, dan seperti mengerti pengawal min mendekati penjaga itu

“yak. Yak apa yang kalian lakukan?” protes penjaga itu saat kedua tanggannya tiba-tiba ditarik kebelakang.

Cho kyuhyun mengambil kunci dari dalam saku baju penjaga itu, membuka pintu perpustakaan.

Eunbi segera berlari menuju deretan loker-loker yang berjejer rapi.

Tangan itu bergetar memasukan deretan angka, tangan itu menarik loker dan berhasil, dia akhirnya berhasil membuka loker itu.

 

Ada sebuah map coklat didalam loker itu dan sebuah surat diatasnya. Eunbi mengambil surat dan membacanya.

Apa ini kau eunbi ah?. Maafkan oppa karena tidak bisa disampingmu sampai sekarang. berhati-hatilah pada paman, dia orang yang jahat. Disini ada sebuah surat pernyataan dari dokter tentang kematian appa. Mereka menemukan sebuah zat yang menyebabkan tubuh appa tiba-tiba lumpuh. Tapi mereka tidak tahu itu apa. Aku tidak pernah berfikir kalau appa dibunuh sampai aku mendengar percakapan paman dan kim tae hyun. Berhati-hatilah pada mereka, aku masih belum bisa mengumpulkan bukti untuk menyelamatkanmu.

Eunbi buru-buru mengeluarkan surat dari map coklat itu, dia tidak tahu pasti apa yang tercantum disitu tapi membaca surat kakaknya membuat eunbi sedikit mengerti.

Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

“racun yang mereka berikan pada appa sama seperti apa yang mereka berikan padaku waktu itu” gumam eunbi

 

Kyuhyun mengambil map dan surat dari tangan eunbi saat eunbi hampir menjatuhkannya. Wanita itu seperti mendadak kehilangan tulang-tulang yang menompang tubuhnya. Air matanya tumpah membahasi pipinya bahkan hidungnya sampai memerah.

 

Tulisan tangan itu jelas membuktikan segala kebusukan kim so hoon. Dan kyuhyun ikut marah dan sedih saat melihat eunbi begitu hancur seperti ini.

 

Kyuhyun menarik eunbi dalam pelukannya, menenangkan wanita itu yang tubuhnya terus bergetar. Mengeratkan pelukannya dan mengelus-elus rambut eunbi.

“oppa tahu semuanya. Dan pria itu membunuh oppa” eunbi berucap disela tangisnya yang masih pecah

“arra.” hanya itu yang mampu dia katakan. Sungguh dia tidak tahu kalimat apa yang bisa menghibur eunbi sekarang. kyuhyun sekarang mengerti kenapa eunbi begitu membenci pria tua itu, membunuh keluarganya satu-persatu bukankah itu sangat kejam? Hatinya sakit dan marah hanya membayangkan bagaimana hancurnya hidup wanita ini dulu. Jika membunuh bukanlah sebuah kejahatan yang keji maka kyuhyun ingin mencekik pria tua itu, pria sekaligus paman eunbi yang membuat hidup wanitanya berada di neraka. Tapi kyuhyun sadar dia tidak akan menyelesaikan masalah jika membunuh kim so hoon, dia hanya akan sama kejamnya dengan pria tua itu dan kyuhyun tidak mau. Eunbi benar salah satu cara agar kim so hoon menebus semua kesalahannya hanya dengan menjebloskannya ke penjara.

**

Kyuhyun menuntun tubuh eunbi menaiki satu persatu tangga menuju kamar mereka. wanita itu masih terlihat sedih dan murung. Mendudukan eunbi diranjang milik mereka dan kyuhyun ikut duduk disampingnya.

“aku akan menyuruh semua orang-orangku untuk menyelidiki kematian ayah dan kakakmu. Kau jangan khawatir”

Wanita itu masih terus menunduk menyembunyikan tangisannya yang kembali pecah.

Sekali lagi kyuhyun memeluk eunbi, meredam suara tangisnya dan sedikit mencoba menenangkannya.

 

Setelah merasa eunbi sudah sedikit tenang, kyuhyun menjauhkan tubuhnya memegang kedua pundak eunbi.

“sekarang tidurlah. Sudah malam” kata kyuhyun lembut

Pria itu lalu membaringkan tubuh eunbi dan menarik selimut sampai batas dadanya. Kyuhyun memutar, ikut membaringkan tubuhnya disamping eunbi dan kembali merengkuh tubuh itu kedalam pelukannya. Membiarkan lengan kyuhyun menjadi bantalnya dan dada kyuhyun sebagai sandarannya.

**

Eunbi kembali termenung sendiri di kamarnya setelah pria yang menemaninya tadi malam berangkat bekerja.

‘Oppa sudah tahu kalau samchon yang membunuh appa dan dia juga akan membunuhnya dan aku’ itulah yang sejak tadi berada didalam pikiran eunbi.

Eunbi menarik laci dan mengambil jam tangan kakaknya, jam tangan yang diberikannya sebagai hadiah kepada kakaknya karena diangkat menjadi presdir.

“apa yang harus aku lakukan, oppa?” gumamnya. Ada kesedihan, kebingungan dan rasa frustasi disetiap kata eunbi. Entah sampai kapan semua rasa sakit ini akan tergantikan menjadi sebuah kebahagian.

 

Eunbi hendak mengembalikan jam tangan itu saat mengingat sesuatu. Jam tangan ini, bisa merekam sesuatu.

 

Eunbi segera membuka laptop miliknya dan menyambungkan jam tangan milik kakaknya dengan laptop. Ada beberapa file video disana. Lagi-lagi air mata eunbi memabasahi pipinya. Kenyataan baru ini membuatnya kembali terisak.

 

Flashback on

eunbi menunggu kakaknya disalah satu sudut café, dia tahu kakaknya pasti sangat sibuk sekarang Karena posisinya yang baru. Saat melihat kakaknya berada di ambang pintu eunbi melambaikan tangannya pada pria berjas itu. Membuatnya langsung melangkah ke meja di sudut café.

“ada apa kau memintaku datang kesini? Kau tahu aku mempunyai banyak pekerjaan” omel pria itu

“cih. Sombong sekali”

Eunbi mengambil sebuah jam tangan dari dalam tas miliknya

“mana tanganmu” perintahnya

“apa?”

Tidak sabar dengan itu, eunbi langsung menarik tangan kiri kakaknya dan memakaian jam tangan itu.

“jam tangan ini sangat mahal. Jadi oppa tidak boleh merusaknya terlebih itu dariku” kata eunbi sambil memaikan jam tangan itu pada pergelangan tangan kakaknya.

“aku punya jam tangan banyak dirumah”

“ini berbeda, oppa lihat disini ada kamera kecil? Oppa bisa merekam lewat jam ini. oppa tinggal menekan ini untuk merekam sebuah video dan menekan ini untuk merekam suara” eunbi begitu telaten menunjukkan bagaimana cara kerja jam tangan ini yang hanya mendapat anggukan dari kakaknya.

**

Pria itu, kakak eunbi berjalan menuju sebuah ruangan. Ruangan pamannya, setelah menikmati makan siang bersama adiknya. Pria itu ingin menemui pamannya untuk menanyakan sesuatu tentang proyek perusahaan yang baru.

Pria itu masuk begitu saja setelah mengetuk.

“apa paman masih makan siang?” tanyanya pada diri sendiri saat melihat ruangan itu kosong.

Pria itu tanpa sungkan langsung duduk dikursi kebesaran pamannya dan melihat keluar jendela. Inilah salah satu hal yang dia suka dari ruangan ini, pemandangan kota seoul. Pria itu teringat tentang jam yang baru saja diberikan adiknya, dia melepas jam itu dan memainkannya.
“apa ini benar-benar bisa merekam?” gumamnya

Pria itu menekan tombol untuk merekam video yang diberitahu eunbi

“kau ada disini?”

Suara pamannya membuat pria itu memutar tubuhnya dan meletakkan jam tangannya pada meja kim so hoon

“ne. aku pikir paman masih makan siang jadi aku menunggu disini. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan tentang proyek baru kita”

 

Tok-tok

Ketukan pintu itu menginterupsi mereka berdua

“park jung soo ingin menemui anda” kata sekretaris kim so hoon

“suruh dia masuk”

“kita bahas itu nanti saja. Tidak apa-apakan?” tanya kim so hoon

“ne. aku bisa menanyakan itu nanti dirumah. Kalau begitu aku pamit dulu”

**

Pria muda itu hampir saja memasuki lift yang akan membawanya pada lantai tempatnya bekerja saat dia ingat sesuatu

“ah, aku meninggalkan jam tanganku” pria itu segera memutar langkahnya kembali ke ruangan kim so hoon.

Jika ini adalah sebuah kejuatan di hari ulang tahunnya atau mungkin april mop maka orang yang berada di dalam ruangan itu sukses membuatnya terkejut. Kakak eunbi mematung dipintu, dia sedikit menajamkan pendengarannya saat namanya dan keluarganya disebut-sebut.

 

“jadi kau masih disini setelah adik iparmu itu meninggal” kata park jung soo mengejek

“tenang saja aku akan segera menjadi presdir setelah aku membunuh anak itu”

“kau memang kejam, setelah membunuh tuan hwang kau juga akan membunuh anaknya. Kau memang pria tua kejam Hahahaha”

 

“presdir ada yang bisa saya bantu?”

Sekretaris kim so hoon mengalihkan fokus pria itu, membuatnya sedikit tersentak kaget.

“aku hanya ingin mengambil jam tanganku”

 

Mendengar ada seseorang yang berbicara diluar, kim so hoon berteriak dari dalam

“siapa itu?” tanyanya lebih kepada sekretarisnya

Pria itu membuka pintu dan merubah mimic wajahnya seperti tidak terjadi apa-apa. Melupakan sebuah kenyataan yang baru dia dengar.

“aku hanya ingin mengambil jam tanganku samchon”

Kakak eunbi segera mengambil jam tangannya dan berlalu setelah dia mengembangkan senyum palsunya di depan penjahat itu. Dia benci pada ketidak berdayaan ini, pada dirinya yang begitu pengecut hanya untuk menarik kerah baju kim so hoon dan melayangkan pukulannya. Hatinya menangis, menangis saat dia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.

 

Setelah kepergian ponakannya itu kim so hoon menatap park jung soo.

“bereskan dia secepatnya” perintahnya

**

Selama dua hari itu, tepatnya sebelum kecelakaan yang menimpanya. Dia tidak bisa tidur dengan tenang. Ada begitu kenyataan yang mengejutkan untuknya, pertama ayahnya dibunuh, kedua yang melakukan itu adalah pamannya, dan ketiga dirinya sendiri juga akan dibunuh. Hidupanya seperti sedang digantung disebuah jurang, hanya berharap takdir baik akan segera menghampirinya. Tapi dia harus berusaha bukan untuk mencapai takdir baik itu?

 

Dia memutuskan akan mengungkapkan ini semua sebelum, dia dan adiknya dibunuh. Dia harus bisa melindungi adiknya. Dia tidak tahu kapan waktu itu akan tiba, tapi sebelum itu dia akan sekuat tenanga mengumpulkan bukti-bukti itu.

Pria itu mamasukkan sebuah kertas dibelakang foto keluarganya disamping abu ibunya dan berniat kembali kerumah saat ponselnya bergetar. Park jung soo, pria itu menelepon dan memintanya datang ke sebuah bar.

 

Mobil itu berhenti pada persimpangan lampu merah, dia terus berfikir ada apa park jung soo meneleponnya. Sewaktu ditelepon pria itu mengatakan akan memberitahu tentang kematian ayahnya. Ya, karena alasan itu pria ini bersedia menemui park jung soo.

 

“kau sudah datang?” kata park jung soo, sepertinya pertemuan ini sudah direncanakan olehnya karena dia sudah memesan sebuah ruangan di bar ini.

“apa yang ingin anda katakan?”

“kau terburu-buru sekali. Duduklah dulu” ajak park jung soo

Pria itu akhirnya mendekat, mendudukkan dirinya di depan park jung soo.

 

“kalian pergilah dulu” perintah park jung soo pada beberapa anak buahnya.

Pada saat itu, pria itu tiba-tiba mengingat sesuatu. Jam tangan yang diberikan eunbi. Pria itu melepas jamnya dan meletakkannya di meja didepannya menghadap park jung soo setelah pria itu menekan tombol utnuk merekam. Bodoh, kenapa aku baru menyadari fungsi jam tangan ini, makinya dalam hati meruntuki kebodohannya.

 

“jadi apa yang ingin anda katakan?” tanyanya lagi setelah semua anak buah park jung soo pergi

“janganlah terburu-buru, kita bisa membicarkannya dengan minum” park jung soo menuangkan minuman yang disebut alcohol ke dalam gelas kosong didepan pria muda itu.

Pria itu langsung meneguk minuman dengan kadar alcohol yang cukup tinggi itu. dia ingin segera mendengar penjelasan park jung soo tanpa berniat menghabiskan minuman itu sedikit demi sedikit, setidaknya dia tidak perlu berlama-lama lagi disini.

“kau sungguh tidak sabaran”

“baiklah aku akan mengatakan sesuatu. Kau pasti sudah mendengarnya tempo hari di ruangan kim so hoon”

“tentang apa?”

Park jung soo menyeringai

“tentang kematian ayahmu”

“apa yang kau inginkan?”

“apa kau selalu langsung ke intinya? Baiklah aku suka pria sepertimu.”

“ijinkan perusahaanku bekerjasama lagi dengan daejung group” sambung park jung soo

“dan kau akan membuat daejung grup bangkrut karena permainan kotormu”

“hahahaha apa itu yang dikatakan ayahmu?”

Pria itu bungkam, tidak berniat mengatakan apapun

“aku akan mengatakannya kepada polisi tentang kebenaran itu asal kau memberikan kontrak kerjasama itu”

“apa kau sedang mengancamku?”

“tidak. Ini adalah semacam simbiosis mutualisme. Aku mengatakan kebenarannya dan kau mengijinkan JS company bekerjasama lagi dengan daejung grup. Bukankah ini adil?”

Park jung soo menyerahkan sebuah dokumen kepada kakak eunbi dan menyuruhnya untuk menandatanganinya.

“tanda tangani itu dan kau akan mendengar kebenarannya besok”

Jika kau masih hidup. Tambah park jung soo dalam hati

 

Dengan terpaksa pria muda itu menandatangani dokumen itu, meskipun dia tahu kerja sama dengan park jung soo hanya akan membuat perusahaannya lama-lama bangkrut. Pria itu sering mengambil keuntungan dari setiap proyek yang daejung kerjakan. Tapi itu tidak penting baginya, menyeret orang yang sudah membunuh ayahnya jauh lebih penting.

 

Setelah mendapat tanda tangan itu, park jung soo segera keluar dari ruangan itu.

“bereskan dia” katanya memerintah anak buahnya yang menunggu diluar

 

Kakak eunbi baru saja menekan tombol off pada jam tangannya dan berniat memakainya kembali, tapi dua orang pria berjas hitam tiba-tiba masuk dan memukul kepalanya. Jam tangan itu jatuh dibawah meja.

**

Pria itu tersadar dengan rasa pening dikepalanya, pria itu mendadak panic saat sadar bahwa mobilnya melaju begitu saja dengan dirinya yang sudah duduk di kursi kemudi. Entah bagaimana hal ini bisa terjadi, sepertinya anak buah park jung soo yang sudah melakukan ini semua.

 

Mobil itu melaju begitu saja, pria itu berusaha mengendalikan mobilnya dan dia menyadari bahwa rem mobilnya telah dirusak. Tikungan di depannya begitu tajam membuat dia membanting stir ke kanan dan ke kiri. Dan sialnya mobil itu menghantam begitu saja pagar pembatas jalan. Kepulan asap mulai keluar dari mobil itu.

Flashback off

Eunbi menghapus air matanya kasar, dan segera menutup laptopnya. Wanita itu meloncat dari ranjangnya dan berlari keluar rumah.

**

Kyuhyun baru saja akan pergi ke ruang rapat saat seseorang tiba-tiba berdiri didepan pintunya dengan nafas yang tersenggal-senggal, sepertinya wanita itu baru saja berlari.

“eunbi ah. Ada apa?” tanyanya panic

Eunbi langsung memeluk kyuhyun

“kyuhyun ah, aku menemukan buktinya. Aku menemukannya” katanya sambil menangis

Kyuhyun melepaskan pelukannya untuk melihat wajah wanita itu.

“kau bisa berkata dengan jelas”

“aku menemukan buktinya. Bukti kalau ayah dan oppaku dibunuh”

 

Eunbi menceritakan semuanya kepada kyuhyun, tentang bagaimana dia menemukan bukti itu sampai dia datang kemari.

“aku akan menghubungi pengacaraku untuk menyerahkan bukti itu ke kantor polisi” kata kyuhyun kemudian

**

Siang ini kim so hoon dan park jung soo dijemput paksa di rumahnya, mereka hanya bisa menuruti para polisi itu tanpa berniat membela diri. Ya, memangnya dia harus mengatakan apa lagi. Saat semua bukti itu tanpa cela sedikitpun mengungkap kebusukan mereka. pada akhirnya kebusukan dan kejahatan akan terungkap dengan sendirinya. Ini kah akhir yang dimaksud dengan takdir baik oleh kakak eunbi? Menyaksikan bagaimana sekarang takdir berpihak padanya, pada keluarga eunbi.

 

Ruangan yang dikelilingi oleh jeruji besi itu hanya mampu membuat kim so hoon mengumpat berkali-kali. Menyumpahi keponakannya yang sampai hati memasukannya ke dalam penjara. Ayolah kim so hoon apa kau lupa dengan semua kejahatan yang kau lakukan?

Dinginnya lantai penjara sepertinya tidak membuat pria itu lantas sadar diri, tetapi malah membuat hatinya di bakar oleh amarah.

**

-Presdir daejung group ditahan karena tunduhan melakukan pembunuhan berencana-

-kim so hoon dan park jung soo ditangkap polisi-

“apa yang kau lihat?” tanya kyuhyun. pria itu naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya disamping eunbi

“beberapa headline berita” kata eunbi dan meletakkan tabnya diatas nakas disamping tempat tidur.

“jangan khawatir kali ini mereka tidak akan pernah bebas”

Eunbi mengangguk

“gomawo cho kyuhyun”

“aku tidak melakukan apapun. Kau sendiri yang menemukan bukti-bukti itu”

“tetap saja. Aku tidak akan menemukannya tanpa bantuanmu”

Kyuhyun tersenyum

“pasti selama ini sangat berat untukmu”

“sekarang tidak lagi. Aku sudah mengungkapkan kebenarannya dan mempunyaimu”

Eunbi tersenyum begitu juga dengan kyuhyun. ‘dan mempunyaimu’ kyuhyun suka kata-kata itu.

“mau berlibur denganku?” tawar kyuhyun

“berlibur?”

Kyuhyun mengangguk

**

Mobil kyuhyun memasuki sebuah pelataran rumah yang terletak dipinggir sebuah pantai. Kali ini kyuhyun mengendara sendiri, tentu dia tidak ingin pengawal min ataupun anak buahnya mengganggu mereka berdua.

 

“wah cantik sekali” kata eunbi melihat pemadangan di depannya. Pantai.

Kyuhyun memeluk eunbi dari belakang dan wanita itu tampak senang dengan perlakukan kyuhyun.

“kau suka?” tanya kyuhyun

“sangat suka”

“jadi apa ini salah satu villa milikmu?”

Kyuhyun mengangguk “ne ini milikku”

“mau berjalan-jalan dipantai?”

Eunbi mengangguk antusias

 

Mereka berdua berjalan bergandengan diatas pasir pantai yang mengenai kaki telanjang mereka. angin sore menerbangkan sebagian rambut mereka. eunbi begitu senang saat air laut itu membasahi kakinya.

“aku benar-benar sudah lama tidak berjalan diatas pasir pantai seperti ini”

 

Mereka berdiri memandang matahari yang hampir tenggelam. Ini begitu sempurna bisa melihat matahari terbenam dari pinggir laut seperti ini.

“kyuhyun ah”

“hem” kyuhyun menoleh menatap wanita yang juga sedang menatapnya

“gomawo”

-cup-

Eunbi memberikan kecupan dibibir kyuhyun. mereka masih saling menatap saat kyuhyun menagkupkan kedua tangannya dipipi eunbi dan mencondongkan tubuhnya. Perlahan eunbi memejamkan matanya begitu pula dengan kyuhyun. Dua manusia itu pada akhirnya tidak benar-benar melihat matahari terbenam, tetapi asyik menikmati ciuman ditengah matahari yang terbenam.

**

Kyuhyun berbaring diatas sofa dan berbantalkan paha eunbi, pria itu beralasan jika dia sedang capek kerena menyetir tadi.

“kyu?”

“hem” pria itu menjawab dengan mata tertutup

“tentang perjanjian kerjasama kita. Besok pengacaraku akan memberikan dokumen pengalihan saham itu padamu, kau tinggal menandatanginya saja”

Kyuhyun langsung duduk tegap, bukan karena dia senang akan mendapatkan 70% dari saham yang dimilik eunbi tapi pada bahwa sebenarnya pria itu sudah melupakan perjanjian itu.

“kenapa?” tanya eunbi heran melihat reaksi kyuhyun

“kau masih memikirkan perjanjian itu?”
“bukankah itu yang aku janjikan padamu?”

“ani, maksudku adalah-“ kyuhyun menjeda kalimatnya dan merubah posisi duduknya menghadap eunbi

“maksudku adalah apa kau masih menganggapku orang lain?”

“ah itu- itu. aku hanya ingin menepati janjiku saja”

Kyuhyun menghela nafasnya

“lupakan saja tentang perjanjian itu”

“ne? tapi kau sudah membantuku jadi aku harus-“

“aku bilang lupakan saja tentang perjanjian itu”

“tetap saja aku harus menepati janjiku padamu”

“apa kau tidak mengerti juga?”

“apa?”

Lagi-lagi kyuhyun menghela nafasnya

“lupakan saja tentang perjanjian itu”

“tap-“

Eunbi tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba kyuhyun membungkamnya dengan ciuman, ciuman yang pada akhirnya juga membuat eunbi terlena.

 

Kyuhyun melepaskan ciumannya.

“apa kau masih tidak mengerti?”

“saranghae hwang eunbi” katanya kemudian

Eunbi hanya menatap manic mata itu, tidak bisa mencerna dengan cepat apa yang barusan kyuhyun katakan.

“apa kau tidak mencintaiku?” tanya kyuhyun lagi

Eunbi mengalungkan tangannya pada leher kyuhyun dan mencium pria itu. meskipun dia tidak bilang apapun. Tapi kyuhyun tahu wanita ini juga sama mencintainya dengan dirinya. Terkadang cinta jauh lebih indah diungkapkan dengan tindakan tidak hanya lewat kata, setidaknya itulah yang eunbi pikirkan sekarang.

**

Kim tae hyun mengunjungi ayahnya di penjara, menatap sedih ayahnya yang sekarang memakai baju seragam khas narapidana.

“appa, apa yang harus kita lakukan?”

“apa lagi? Keluarkan aku dari penjara?” kim so hoon berteriak di depan wajah anaknya.

“pengacara bilang tidak ada lagi yang bisa kita lakukan”

“yak. Lakukan apapun untuk mengeluarkanku”

Kim tae hyun hanya diam, berfikir bagaimana cara mengeluarkan ayahnya dari penjara.

“manfaatkan eunbi, suruh dia mencabut tuntutannya. Kalau kau tidak melakukannya maka kau juga akan masuk penjara. Polisi sedang menyelidiki tentang kematian donghae dan adiknya itu. kau mengerti?” akhirnya kim so hoon memberikan sebuah saran yang kim tae hyun rasa itu cukup bagus.

**

“aku pesan Americano dua” kata eunbi pada pelayan café itu

“baik. silahkan ditunggu sebentar”

Hari ini eunbi berniat berkunjung ke kantor kyuhyun. eunbi masih asik menunggu pesanannya sampai seseorang menyenggolnya.

“maafkan saya” kata pria itu sebelum dia pergi

“ini pesanan anda nyonya” belum sempat dia melihat wajah pria itu pelayan café ini menyadarkan eunbi kalau pesanananya sudah siap.

 

Eunbi langsung melangkah begitu saja menuju ruangan kyuhyun. Dia sudah hapal bentul tentang tempat kerja suaminya itu.

“oh nona eunbi” kata pengawal min saat melihat eunbi menunggu lift

“selamat siang pengawal min”

“selamat siang nona. Ada apa anda datang kesini, apakah kalian tidak jadi pergi?”

“ne?”

“bukankah anda tadi ingin pergi bersama tuan?”

“tidak. Aku bahkan tidak memberitahunya kalau aku akan kesini”

“tapi tuan cho bilang dia akan menemui anda, bahkan dia tidak mengijinkan saya ikut”

Eunbi mengacak-acak tasnya mencari dimana ponselnya. Tapi sial, dimana benda persegi itu?

Eunbi mengingat sesuatu, pria yang menyenggolnya dicafe itu. dia pasti mengambil ponsel eunbi

“pengawal min boleh aku pinjam ponselmu? Aku rasa ponselku dicuri”

“ne” pengawal min menyerahkan ponselnya kepada eunbi.

Buru-buru eunbi mendial up nomor kyuhyun, dan sial saat suara operator bilang nomor kyuhyun tidak aktif. Dia kembali mencoba menghubungi kyuhyun tapi lagi-lagi hanya suara operator yang terdengar.

Tangan eunbi sudah berkeringat, sebenarnya apa yang sedang terjadi.

Eunbi menekan beberapa deret angka.

Nada tersambung mulai terdengar.

“yoboseyo” kata diseberang sana

“cho kyuhyun dimana?” tanya eunbi langsung

“kau ternyata berfikir sangat cepat hwang eunbi.”

“aku bertanya dimana dia?”

“dirumahmu. Datanglah kesini dan lihat cho kyuhyunmu itu.”

Eunbi berniat menutup ponsel itu saat suara diseberang tiba-tiba terdengar lagi

“Jangan membawa siapapun. Datanglah sendiri. Kalau kau membawa seseorang aku tidak bisa memastikan pria ini tetap hidup. Kau mengerti?”

Eunbi menutup ponsel itu dan menyerahkannya pada pengawal min.

“berikan aku kunci mobilmu” perintahnya

“saya akan ikut” sebagai seorang pengawal tentu dia tahu, sekarang kondisinya sedang tidak baik.

“berikan kuncimu padaku pengawal min” eunbi hampir berteriak di depan pria itu.

Pengawal min pada akhirnya memberikan kunci itu pada eunbi.

Wanita itu segera melesat pergi, tapi kemudian dia berbalik dan menatap pengawal min.

“jangan ikuti aku”

—TBC—

Advertisements

Diary #Miss Him

diary-miss-him

Title : Diary #Misss Him

Author : Oh Honey

Lenght : series

Genre : Sad

Author’s Note : ini adalah series ketiga dari Diary. semoga suka dan jangan lupa comment. dan jangan lupa baca juga series sebelumnya biar tambah ngerti dengan alur ceritanya.

oke langsung aja, HAPPY READING ALL 🙂

Rindu. Satu kata yang sangat menyakitkan bagi sebagian orang, termasuk diriku. Tak pernah terbayangkan oleh diriku kalau merindukan seseorang akan terasa semenyakitkan ini, seolah nafasku direnggut paksa dan tak membiarkanku untuk hidup. aku tidak menyangka kalau rindu memiliki efek yang sangat besar bagi diriku, layaknya ledakan atom atom yang saling bertabrakan dan menimbulkan berbagai gelombang yang tak terdefinisikan.

 

Sudah 1 bulan aku dan appa pindah ke Gwangju kota yang sering aku kunjungi sewaktu aku kecil, karena nenekku memang tinggal disini. Di kota ini aku memiliki cukup banyak kenangan bersama oemma. Dan aku menemukan hobi baru disini yaitu MENGENANG sosok oemma lewat sudut sudut kota Gwangju. Menyenangkan rasanya saat aku dapat mengingat setiap momen momen indah bersama oemma. Ingin rasanya aku memutar waktu dan kembali ke masa masa dulu saat oemma masih ada disampingku, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya, aku ingin mengukir lebih banyak kenangan bersama oemma. Mengingat semua itu membuatku sadar kalau aku telah melewatkan begitu banyak kesempatan bersama oemma. Kesempatan yang tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.

 

Langit malam ini terlihat begitu tenang, tak ada tetesan air hujan yang mencoba menerobos keluar, hanya terlihat beberapa bintang bintang kecil yang seolah mencoba menyemarakkan sepinya langit malam ini.

Pikiranku jauh melayang entah kemana saat aku menerawang keatas, mencoba memahami perasaan langit yang terlihat sangat sepi. Dalam hati aku bertanya. Apa kau sedang merindukkan seseorang? Seperti diriku?.

 

Lagi dan lagi aku menulis di buku diary berwarna biru kesayanganku. Sepertinya menulis dairy sudah menjadi kebiasaanku. Dan aku tidak ingin kebiasaanku ini hilang karena memang inilah satu satunya tempatku meluapkan semua rasa yang ada diriku. Aku tidak dapat bercerita ke seorang teman karena memang aku tidak memiliki teman yang bisa kuajak berbagi cerita, aku juga tidak dapat bercerita pada appa karena aku tidak ingin membebani pikirannya dengan PERASAAN TIDAK JELAS yang aku rasakan. Hanya inilah cara satu satunya yang bisa aku lakukan untuk meluapkan semua perasaanku. Menulis.

 

Mengenai rindu, aku tau satu fakta tentangnya sekarang, yaitu rindu itu menyakitkan dan menyiksa. Ada banyak hal yang aku rindukan sekarang, kehidupanku dulu di seoul, teman teman sekolahku, guru sekolahku, oemma dan yang paling menimbulkan goresan terdalam dihatiku, KYUHYUN. Yah, aku merindukannya. Sangat.

Ingin rasanya aku menangis setiap mengingat namanya, ingin rasanya aku berteriak didepannya dan mengatakan kalau aku SANGAT MERINDUKANNYA. Ingin rasanya aku memeluknya dan menggenggam tanganya. Aku ingin semua itu.

Tapi kenyataan seolah menamparku cukup keras, menyadarkanku kalau semua itu tidak mungkin terjadi karena aku telah PERGI dari hidupnya. Sejenak aku berpikir apakah seharusnya aku tidak pergi?  Sehingga rindu ini tidak pernah ada?.

Aku benar benar merasa tersiksa dengan semua rindu ini, aku ingin menguburnya dalam dalam.

Aku hanya ingin MELUPAKANNYA tapi kenapa rindu ini selalu datang dan menganggu?

Kenapa rindu ini sangat menyiksaku? Kenapa aku sangat merindukannya? Kenapa semua tentang dirinya tak pernah mau pergi dari pikiranku. Bahkan saat aku tidur. Kenapa dia selalu muncul dimimpiku?. Kenapa dia selalu berhasil mengacaukan pikiranku?. Aku BENCI dengan semua rindu yang aku rasakan. Dapatkah aku membuang semua rindu ini?. atau dapatkah aku menghempaskan semua rindu ini bersama angin malam yang sedang bertiup?.

 

Flashback on

Sore itu aku pulang lebih awal dari biasanya, hari ini jadwal kuliahku tidak sepadat biasanya. Kulihat appa belum pulang, mungkin ia akan pulang 1 atau 2 jam lagi. Kulangkahkan kakiku menuju singasanaku. Kamar. Aku benar benar capek, tubuhku seperti diremuk. Kurebahkan tubuhku dikasur mencoba menenangkan setiap otot ditubuhku.

“eunbi ah..”

Aku merasa ada yang mengguncang guncangkan tubuhku. Mataku sedikit demi sedikit terbuka. Ah, rupanya aku ketiduran. batinku

“appa” ucapku lirih.

“kenapa kamu menangis?” Tanya appa dengan nada khawatir dan aku hanya tertegun mendengar pertanyaannya. Menangis? Aku menangis? Benarkah?

Kuusapakan jariku kedaerah mata dan benar AKU MENANGIS.

“anni appa, siapa yang menangis, aku sedang tidur” jawabku menyakinkan, aku tidak ingin appa khawatir dengan keadaanku.

“benarkah?”

Aku hanya mengangguk, menyakinkan.

“baiklah, tidurlah lagi”

Dan detik berikutnya appa mengusap kepalaku sambil tersenyum sebelum keluar dari kamarku. Lewat usapan lembut itu appa mencoba menguatkanku, mungkin appa memang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku tapi aku yakin appa merasakan ada sesuatu yang sedang menganggu pikiranku. Hanya saja ia tidak ingin menanyakannya padaku, appa memang selalu begitu. Selalu menungguku bercerita dari pada menanyakan apa yang sedang menganggu pikiranku.

Soal menangis. Aku sendiri tak tau kenapa aku tidur sambil menangis. Sampai beberapa detik setelah kesadaranku kembali sepenuhnya aku sadar apa yang membuatku menangis. Dan mengingat alasan itu membuatku ingin menangis lebih kencang. Secara tiba tiba air mataku menerembes keluar, dadaku terasa sangat sesak seolah ada ribuan batu didalamya, kusembunyikan wajahku dibalik batal agar appa tak mendengar tangisku. Aku mencoba meredam suara tangisku agar mendengarnya. Aku tak ingin ia mencemaskan diriku.

Entah apa yang aku pikirkan sebelum tidur sampai membuatku memimpikan sosok yang sangat aku rindukan selama 1 bulan terakhir ini. KYUHYUN. Laki laki itu seolah tidak membiarkan aku untuk hidup dengan tenang.

Berbagai pertanyaan secara spontan muncul dipikiranku. Bagaimana bisa aku menangis tanpa aku sadari? Kenapa efek kyuhyun begitu besar bagi diriku sampai membuat aku menangis setiap hari bahkan saat aku tidurpun aku menangis? Dan pertanyaan terakhir adalah pertanyaan yang sangat aku benci, sebegitu rindukah aku padanya sampai setiap apa yang aku lakukan tak pernah lepas darinya?

Ironis, mungkin itu kata yang tepat yang dapat menggambarkan keadaanku sekarang, aku memutuskan untuk pergi dari kyuhyun tapi aku tidak pernah bisa benar benar pergi darinya. Hari hariku tak pernah lepas darinya. Dibanding mengingat semua mata kuliah di kampus aku lebih sering mengingatnya. Dibanding memikirkan diriku aku lebih sering memikirkan tentangnya. Bahkan aku menangis dalam tidurku hanya karena aku bermimpi tentangnya.

Ada apa dengan diriku, kenapa aku benar benar tergila gila padanya?

 

Hari hari yang aku lewati selanjutnya tidak lebih baik dari hari sebelumnya, bahkan hari hariku lebih buruk. aku semakin merindukkannya sejalan dengan detik detik yang terus bertambah.

Dimalam minggu ini aku mengahabiskan waktuku bersama appa. Variety show menjadi pilihan aku dan appa untuk menghabiskan malam ini.

Disebuah sofa berwana putih aku mendudukkan diriku disamping appa, tak jarang gelak tawa appa terdengar ditelingaku. Aku senang appa bisa tertawa begitu lepas, setelah apa yang telah kita lewati berdua. Tapi entah kenapa pikiranku tiba tiba kosong, variety show yang sejak tadi menjadi fokusku sejenak hilang dari pikiranku.

“eunbi ah..”

Gunjangan appa menggembalikan kesadaranku.

“apa yang kau lamunkan?”

Aku mengerjapkan mataku berkali kali mencoba mencari kesadarnaku yang belum sepenuhnya kembali. Appa menatapku intens dan akupun juga menatapnya.

“tidak ada” jawabku bohong.  Harus aku akui aku terlalu sering melamun akhir akhir ini, bahkan saat makanpun terkadang pikiranku tiba tiba kosong.

“sejak kita pindah kesini, appa sering melihat kau melamun dan wajahmu terlihat murung. Apa kau tidak senang kita pindah kesini?”

Appa semakin memandangku intens, sepertinya aku sudah membuat appa sangat khawatir.

“anniyo appa,” aku menjeda kata kataku, berusaha mencari alasan apa yang harus aku ucapkan pada appa

“ aku hanya…aku hanya…” kata kataku tergantung diudara dan entah kenapa air mataku malah jatuh. Ini diluar kehendakku, aku sama sekali tidak ingin menangis sekarang tapi kenapa.. kenapa aku menangis.

“kenapa kau menangis?”

Raut wajah appa terlihat semakin khawatir, dia kemudian mengenggam tanganku.

“appa, aku merindukannya. Aku sangat merindukannya” ucapku lirih, sepertinya setiap organ tubuhku bekerja diluar kontrolku, aku tidak berniat mengatakan itu tapi entah kenapa kata kata itu yang justru keluar dari bibirku.

Dan detik berikutnya aku tidak bisa lagi mengontrol setiap tetes air mata yang keluar. Aku tidak bisa lagi menahan sesak didadaku. Aku menangis tersedu sedu, sampai dadaku terasa sangat sakit. Tegorokanku sakit dan mataku seolah menumpahkan semua air mata yang aku punya.

Sesekali kupukul dadaku dengan terisak mencoba meredam sakit ini

“appa, kenapa ini sangat menyakitkan?”

“kenapa aku sangat merindukannya?”

Ucapku dengan susah payah, karena tangis ini menyusahkanku untuk mengeluarkan satu katapun.

Mungkin appa tidak tau siapa sebenarnya yang aku rindukan, tapi appa seolah mengerti betul dengan apa yang aku rasakan. Dia membawaku kedalam pelukannya mencoba menenangkanku, dan dia juga ikut menangis bersamaku. Aku dapat mendengar isakannya perlahan dan itu semakin membuatku menangis tak karuan bahkan mataku terasa sangat panas dan suaraku sudah hilang entah kemana. Kueratkan pelukanku pada appa dan dapat aku rasakan appa juga mengeratkan pelukannya pada tubuhku.

Malam minggu yang seharusnya menyenangkan, menjadi sangat kelabu, sepertinya memang ini lah puncak kerinduanku, aku tidak bisa lagi menahannya.

**

Udara sore hari ini terasa lebih dingin dari biasanya, sepertinya musim dingin akan datang sebentar lagi. Ku eratkan mantel yang membalut tubuhku. Sesekali kulirik jam tangan kecil yang melingakr ditanganku.

“15 menit lagi” batinku. Saat ini aku sedang menunggu bus yang akan membawaku pulang.

Tanganku meraba raba kedalam tas selempang berwarna hitam milikku, mencoba mencari sebuah benda yang  aku rasa dapat menemaniku menunggu busku.

“ah ini dia” kataku pelan.

Ku colokkan headset berwana putih ke handphoneku. Kuputar sebuah lagu asal.

Perlahan dapat aku dengar music yang mengalun indah lewat handhoneku.

Satu lagu

Dua lagu

Dan lagu ketiga membuatku terdiam, pikiranku melayang entah kemana saat lirik demi lirik yang cukup dalam itu mengalun ditelingaku.

Maeil maeil neol saranghandago
Wichinyeon maeil maeil ni ireum buremyeon
Nae ape geudaega seo inneun
Sunganeul saenggakhae saenggakhae saenggakhar
Haru haru ni saenggake jam mot deureoyo
Haru haru geudaeppunijyo
Tteollyeooneun nae simjang sori deullyeoonayo
Saranghae saranghae saranghae

sigan jina dasi sewol jina
Uri hamkke handamyeon gyeote itdamyeo
Nan saenggakmanhaedo jakku nunmuli nayo

 

Trans : Hari demi hari, aku tak bisa tidur memikirkanmu
Hari demi hari, hanya kamu
Bisakah kamu mendengar suara hatiku yang bergetar?
Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu

Setelah waktu berlalu
Jika kita bersama, jika kamu disampingku
Hanya memikirkannya membuat aku menangis

 

I.O.I – I Love You, I Remember You (Ost Scarlet Heart Ryeo)

 

 

 

Lagu itu seolah menyindirku. Air mataku secara tiba tiba menerobos keluar. Kuusap air mata itu dengan jariku. Tapi sepertinya itu tidak menimbulkan efek, air mataku terus saja keluar seiring lirik yang terus mengalun tangisanku semakin menjadi, menimbulkan sebuah isakan yang sama sekali tidak aku inginkan. Aku tidak tau bagaimana reaksi orang disekitarku karena mataku kabur karena air mata.

“aggashi, kau tidak naik?”

“aggashi”

Aku dapat mendengar suara teriakan sopir bus itu, bus yang aku tunggu sejak 15 menit yang lalu. Tapi seperti terhipnotis aku hanya duduk ditempatku tanpa bergeser barang sejengkalpun. Sampai pada akhirnya bus itu berlalu dihadapanku, aku juga masih terdiam ditempatku dengan lelehan air mata yang membanjiri pelupukku. Pikiranku kosong saat itu aku tidak bisa memikirkan apa apa. Bayangan bayangan kyuhyun berputar dikepalaku bak sebuah rol film.

Flashback off

 

Sampai detik ini rindu ini terus menggerogoti diriku, semakin hari semakin aku merindukannya. Awalnya aku berpikir kalau cintaku pada kyuhyun akan hilang seiring jarak yang aku buat tapi ternyata aku salah jarak yang aku buat justru membuatku semakin mengingatnya dan semakin merindukkannya. Bahkan hanya dengan memikirkannya saja air mataku keluar dengan sendirinya. Lalu apa keputusan yang harus aku ambil saat meninggalkan dan menunggunya terasa seperti buah simalakama.

Mampukah aku terus bertahan diatas segala rindu ini?

Mampukah aku melupakannya?

Andai rindu ini mudah, mungkin setiap langkahku akan selalu merindukannya.

Andai rindu ini mudah, mungkin setiap nafasku juga akan selalu merindukannya.

Andai rindu ini tak pernah ada, mungkin aku tak sesakit ini.

===THE END===

NB : jangan lupa isi kolom komentar dibawah ya, komentar dari kalian sangat bermanfaat untuk author 🙂

kamsahamida 🙂 🙂

Diary #First Love

diary-frist-love

Title : Diary #First Love

Author : Oh Honey

Genre : sad

Lenght : series

Author’s Note : halo semua, author balik lagi kali ini dengan ff diary. ff ini sebelumnya author buat oneshoot tapi karena tiba tiba muncul ide buat ngelanjutin nih ff jadi author putuskan buat ngelanjut nih ff dan ff ini bakal author jadiin series.

semoga suka ya dengan ide author yang super geje ini 🙂

HAPPY READING, GUYS 🙂 🙂

Aku sering mendengar tentang kata, cinta itu tidak harus memiliki, cukup dengan melihat orang yang kita cintai bahagia maka kita juga akan merasa bahagia.  sekalipun dengan orang lain? aku TIDAK PERCAYA itu dan juga, cinta tidak harus memilki? BULLSHIT .

Aku rasa tidak ada manusia di dunia ini yang sanggup merealisasikannnya. CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI, aku ingin tertawa rasanya. Entah siapa yang telah menciptakan kata kata itu, tapi aku rasa dia seorang malaikat paling baik yang pernah ada karena dia bisa mencintai seseorang tanpa harus memilikinya. Luar biasa.

 

Malam ini aku kembali menulis di buku dairy berwarna biru kesayanganku, aku mencoba  menumpahkan semua rasa yang ada didiriku semua beban yang ada dipikiran dan hatiku, layaknya langit malam ini yang menumpahkan semua bebannya lewat tetesan tetesan air hujan.

Lewat jendela kamarku aku dapat melihat tetesan tetesan air hujan membasahi setiap sudut kota, tidak menyisakan satu jengkalpun, nampaknya langit sudah sangat penggap untuk menanggung beribu ribu tetesan hujan dalam dirinya. Layaknya diriku.

Hari ini aku telah membuat keputusan yang berat, anni sangat berat karena aku harus menyakinkan appa untuk menyetujui keputusanku ini. tidak mudah memang untuk menjelaskan semua keputusanku ini pada appa, bahkan aku sampai menangis didepannya. Menyedihkan sekaligus memalukan.

Mengenai cinta tidak harus memiliki, awalnya aku percaya kalau itu mungkin saja terjadi, tapi pandanganku akan kata kata mutiara itu berubah saat aku mengalaminya sendiri. Cinta sepihak.

Aku tidak menyangka akan mengalami kisah melodrama ini, begitu klise dan menyakitkan. Cintaku pada kyuhyun tak akan pernah terbalas seperti yang aku harapkan. Seringkali aku berpikir untuk menunggunya tapi seringkali juga aku berpikir untuk melupakannya. Semua pikiran itu membuatku frustasi, aku tidak tahu langkah mana yang harus aku pilih. Menunggunya atau melupakannya. Keduanya sama sama menyakitkan dan menyiksa. Aku tidak yakin bisa melaluinya dengan mudah.

Kehidupanku bersama appa saat ini mungkin jauh lebih baik dari sebelumnya, tapi kisah cintaku, cinta pertamaku… jauh lebih buruk dari sebelumnya. Setiap hari aku harus melihat hal yang sama sekali tidak aku inginkan bahkan aku sangat membencinya. Kebersamaan kyuhyun dengan kekasihnya, park nana. Itulah alasan kenapa aku tidak percaya dengan kata CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI. Terlalu menyakitkan saat harus melihat kebersamaan orang yang kita cintai bersama orang lain. harus aku akui mereka memang terlihat serasi saat jalan bersama, tapi kenyataan itu justru seperti garam yang dengan sengaja ditaburkan pada luka hatiku, menyakitkan.

Ingin rasanya aku berteriak kepada mereka,

tidakkah kalian tau kalau apa yang kalian lakukan itu melukaiku?, tidakkah kalian tau betapa sakitnya hatiku saat harus melihatnya?, tidakkah kalian tau kalau aku setengah mati menahan luka ini sendiri?, tidakkah kalian kasihan padaku? Anni, aku tidak ingin mereka kasihan padaku. Aku sama sekali tidak ingin dikasihani oleh siapapun. Aku hanya ingin mereka tau kalau aku tersakiti.

 

Seharian ini aku merapalkan sebuah doa dalam hatiku, aku tidak tau bagaimana kehidupanku selanjutnya tapi aku harap keputusanku ini adalah keputusan yang tepat. Yah, aku rasa memang ini keputusan yang tepat. Setelah apa yang telah aku lakukan, uhh sepertinya aku benar benar bodoh atau urat maluku sudah putus. Entahlah, yang jelas semua ini karena efek kyuhyun atau lebih tepatnya cintaku pada kyuhyun. Aku benci mengingatnya.

 

Flashback

Hari ini adalah 7 hari sebelum hari kelulusanku dan itu berarti sebentar lagi aku akan benar benar menjadi wanita dewasa, ah senang sekali rasanya saat mengetahui kalau aku akan melepas gelar siswaku dan menggantinya menjadi MAHASISWA. Memikirkannya membuatku ingin berteriak sekeras kerasnya.

Dengan langkah tenang aku menyusuri koridor sekolah, hari ini aku ingin melepaskan semua beban yang menyiksaku. Berat memang, tapi aku telah memutuskan, aku akan mengungkapkan perasaanku pada kyuhyun. Terdengar gila?. Yah, sangat gila.

Walaupun aku sudah tau kata ‘penolakan’ yang akan aku dapatkan tapi aku tetap melanjutkan langkahku. Bodoh, yah aku benar benar bodoh, sudah tau kalau kyuhyun pasti akan menolakku tapi aku tetap nekat akan mengatakan perasaanku. Dasar bodoh. Tapi aku bisa apa saat aku tidak sanggup lagi menanggung perasaan ini. aku bisa apa saat rasa ini semakin membunuhku. Aku tidak ingin rasa ini membunuhku aku ingin aku yang MEMBUNUH rasa ini. yah, aku berpikir kalau kyuhyun benar benar menolakku itu akan membuatku membencinya dan melupakan semua rasa ini.

 

Kuhentikan langkahku saat aku hampir sampai di taman sekolah, kuhembuskan nafas beratku berharap ini dapat mengurangi rasa gugupku. Aku tidak menyangka kalau aku akan segugup ini sampai membuatku ingin kecing saat ini juga.

‘haruskah aku membatalkannya?’ Tanya ku dalam hati

‘anni, aku tidak boleh mundur’

‘tapi bagaimana kalau dia membenciku?’

Aku tertegun dengan pertanyaanku sendiri. Bagaimana kalau kyuhyun benar benar akan membencinku. Apakah aku sanggup menerimanya.

‘……itu akan memudahkanku melupakannya, karena aku juga akan membencinya’

Untuk terakhir kalinya kutarik nafasku dalam dalam sebelum aku melangkahkan kakiku kearah sosok jakung yang telah berdiri menatapku disamping bangku taman.

“kyuhyun ah..”

“kenapa kau lama sekali” rutuknya dengan wajah yang dibuat sebal.

“mianhae”

“eum, kenapa kau mengajakku bertemu disini tidak biasanya”

“…em.. itu.. karena..” ah, kenapa lidahku keluh sekali, padahal aku sudah berlatih sejak kemarin.

“karena, mwo?”

“karena ada yang ingin aku katakan.”

Kyuhyun menautkan alisnya, bingung.

“katakanlah”

“sebenarnya.. sebenarnya..”

“aissh sebenarnya apa?”

“sebenarnya aku menyukaimu” akhirnya, aku mengatakannya. Rasanya jantungku ingin meledak sekarang.

Kyuhyun menatapku tak percaya, aku bisa memaklumi sikapnya itu. Terlalu mengejutkan memang.

“mworago?”

“aku menyukaimu”

“eunbi ah, apa yang kau maksud menyukai adalah suka antara wanita dan pria?”

“eum”

“eunbi ah, bagaimana bisa.” Kyuhyun menjeda kata katanya.

“ Kita kan sudah berteman sudah cukup lama dan aku juga sudah..”

“arra, tapi aku bisa apa saat hatiku mengatakan itu, aku juga tau kau tak mungkin membalas perasaanku tapi aku hanya ingin mengatakannya, aku tidak ingin memendam ini seumur hidup”

“eunbi ah, mianhae” terlihat sekali dari wajahnya kalau ia sangat menyesal dengan apa yang ia katakan dan itu membuatku semakin ingin membencinya.

Kenapa dia harus meminta maaf dan menunjukkan wajah sedihnya?. Apa aku terlalu menyedihkan?. Rutukku dalam hati

“oh, kau tidak perlu minta maaf aku tidak berharap lebih darimu.” Ucapku dengan sedikit lirih, ini sangat bertolak belakang dengan apa yang hatiku katakan. Ingin rasanya aku menangis sekarang juga.

“aku pergi dulu kyuhyun ah”

Aku membalikkan tubuhku, sebelum air mataku mendesak keluar dihadapan kyuhyun. Aku tidak ingin terlihat menyedihkan dihadapannya. Dengan langkah tertatih kulangkahkan kakiku meninggalkan kyuhyun sendiri.

“auwww”

“gwenchana?” Tanya kyuhyun khawatir saat mengetahui aku terjatuh gara gara batu sialan ini.

Aku hanya mengacungkan tanganku membentuk tanda oke tanpa membalik wajahku kearahnya. Aku tidak ingin kyuhyun tahu kalau aku sedang menangis. Jika saja ini bukan disekolah sudah dipastikan kalau aku sudah menangis sesenggukan. Sakit sekali rasanya.

Dalam perjalanan pulang aku merutuki kebodohanku sendiri, aku merutuki semua yang telah aku lakukan karena pada akhirnya aku tidak sanggup menahan rasa sakit karena kyuhyun.

Kenapa masih terasa sakit saat aku sudah tau kalau kata itu yang akan kyuhyun ucapkan. Kenapa masih terasa sakit saat aku sudah menyiapkan diriku untuk menerima semua itu. Kenapa rasanya dadaku sesak sekali dan kenapa batu sialan itu seolah meledekku dengan membuatku terjatuh. Kenapa semuanya terasa menyakitkan. KENAPA?

Flashback off

 

Setelah kejadian itu setiap hari aku berperang dengan hati dan pikiranku, memilih jawaban yang tepat menunggunya atau meninggalkannya. Dan pada akhirnya aku memilih untuk MENINGGALKANNYA.

Hari ini di hari kelulusanku aku memutuskan untuk meninggalkan kyuhyun dan semua tentangnya. Aku memohon pada appa untuk pindah ke kota lain, dan aku bersyukur karena appa mau mengabulkan keinginanku walaupun dia tidak tau alasan utamaku memintanya pindah. Aku mengatakan padanya kalau aku tidak punya teman disini dan aku ingin mencari teman ditempat lain.

 

Siang tadi saat perayaan kelulusanku, aku meninggalkan sekolah lebih awal.

“tok..tok..tok” kuketuk pintu didepanku beberapa kali sampai terlihat seorang wanita paruh baya yang membuka pintu untukku. wanita itu tersenyum kepadaku.

“oh, eunbi ah. Apa kau mencari tuan muda cho, bukankah kalian ada perayaan kelulusan disekolah?”

“ne ajumma, aku kesini hanya ingin menitipkan ini” kataku dengan menyodorkan sebuah surat dengan amplop berwarna biru laut.

“apakah ini untuk tuan muda cho?”

“ne ajumma, tolong berikan kepadanya”

“ne”

“terimakasih ajuma, aku pamit dulu.”

Aku tidak tau apa yang aku lakukan sekarang, kenapa aku harus meninggalkan surat untuk kyuhyun sementara aku memutuskan untuk meninggalkannya. Aku benar benar tidak tau dengan diriku sendiri aku hanya ingin melakukan apa yang hatiku katakan. Setidaknya sebelum benar benar meninggalkannya aku ingin mengungkapkan perasaanku sekali lagi dan pergi dari hidupnya secara baik baik.

 

Dibanding kata CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI aku lebih percaya dengan kata TAK ADA CINTA PERTAMA YANG SUKSES. Karena pada akhirnya aku memilih pergi meninggalkannya dari pada aku menunggunya dengan terus melihat kebahagiannya bersama orang lain. mungkin aku terlihat sangat lemah dan pengecut saat ini karena telah menyerah dan memutuskan untuk pergi meninggalkan kyuhyun dan semua kenangan bersamanya. Tapi percayalah, melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain itu seakan sebuah racun yang membunuh kita perlahan. Sangat menyakitkan melebihi sebuah pisau yang menggores tepat dinadimu.

TAK ADA CINTA PERTAMA YANG SUKSES. Yah, pada akhirnya aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan kalau cinta pertamaku tidak sukses dan berakhir menyedihkan.

 

Saat ini ditengah tetesan air hujan yang seolah ikut menangis bersamaku aku berdoa pada Tuhan kalau keputusan yang aku ambil adalah benar, dan aku berharap Tuhan mau membantuku untuk melupakan perasaan ini. perasaanku pada kyuhyun.

Terima kasih langit, karena malam ini kau ikut menangis bersamaku.

—THE END—

author’s note : gimana readers? suka gak? atau ngerasa geje banget? apapun yang kalian pikirkan silakan masukin dikolom komentar ya,

kamsahamida sudah mau baca 🙂 🙂

Kiss in the Rain {Part 3-END}

kiss-in-the-rain-copy

Judul: Kiss in the Rain

Main cast: Cho Kyuhyun, Hwang Eunbi (OC), others

Genre: Romance, Sad

Length: Chapter

Author: Oh honey

Author’s note: baiklah author kembali lagi dengan ff baru. Semoga ff ini tidak mengecewakan, jujur ff ini dibuat dalam waktu satu hari jadi maaf untuk typo dan kata-kata yang kurang pas.

Bagi para readers yang udah baca PLEASE COMMENT, tinggalkan jejak kalian untuk author ini 🙂

-HAPPY READING-

 

“eomma” teriak wanita itu pada wanita paruh baya yang terlihat asyik dengan selang dan air yang keluar dari dalamnya, membasahi setiap kelopak bunga dalam pot-pot kecil.

“eunbi ah” wanita itu tersenyum suka cita menyambut anak gadisnya.

 

“kenapa tidak pernah mengunjungi eomma?” tanya wanita itu sambil meletakkan beberapa lauk di meja makan sederhana.

“bukan kah sekarang aku sedang berkunjung”

“kau ini”

Eunbi hanya tersenyum menanggapi

“berapa lama kau akan menginap?”

“aku tidak akan menginap sekarang. tapi aku akan menginap nanti setelah pekerjaanku selesai mungkin dua hari lagi” jelas eunbi.

 

Kamar ini masih tetap sama dan akan selalu sama. Ibunya tidak pernah merubah apapun di dalam kamar ini.

 

Eunbi menarik laci meja belajarnya dan menatap sendu buku kecil berwarna coklat yang terlihat sedikit kusam.

Mengelus buku itu hati-hati seolah bisa merusak buku itu jika eunbi menyentuhnya sedikit kasar.

 

Eunbi tersenyum sendiri membaca kembali kata-kata dalam buku dairy kecil miliknya, buku diary yang menemani masa SMA nya. Tanggannya terhenti pada halaman dimana nama kyuhyun mulai menjadi tokoh utama dalam bukunya. Kyuhyun. mengingat nama itu membuat eunbi teringat tentang kata-kata kyuhyun tadi siang. ‘dan aku lebih suka karena dia adalah kau’ kalimat itu selalu berputar di otaknya. Dia tampak sungguh-sungguh saat mengatakannya. Apa maksud kyuhyun sebenarnya?

 

Eunbi mengambil pencil di atas meja belajarnya. Menuliskan beberapa kalimat di halaman terakhir buku diarynya yang tersisa.

 

 

“eomma aku pulang dulu”

“jadi kau benar tidak akan menginap disini?”

“aku akan menginap lain kali. Sampaikan salamku pada appa”  pamit eunbi dan mengecup kening wanita paruh baya yang ia panggil eomma.

**

Ini sudah hampir jam sepuluh saat eunbi masih tidak bisa memejamkan matanya walau satu detik saja. Baguslah, dia mungkin akan memiliki mata panda keesokan harinya.

 

Eunbi bangkit dari ranjangnya dan menyambar tas selempang miliknya.

 

Suara decitan pintu kamar eunbi berpadu dengan decitan pintu di depan kamar eunbi. Kamar kyuhyun.

Mereka berdua saling memandang, terlihat sedikit canggung. Atau mungkin hanya eunbi saja yang seperti itu.

“kau mau pergi kemana?” tanya kyuhyun

“jalan-jalan. Aku bosan dikamar”

“ingin pergi bersama? Aku juga ingin menghirup udara segar”

 

Entah suasana macam apa yang menyelimuti mereka berdua.

Eunbi memutuskan pergi bersama kyuhyun setelah pria itu menawarinya pergi bersama.

“kita akan pergi kemana?” tanya eunbi memperhatikan sekitar. Dia tidak asing dengan jalanan ini walaupun ada beberapa perubahan di sisi kanan dan kiri jalan.

“tempat penuh kenangan” jawab kyuhyun penuh teka-teki.

 

Mobil  itu berhenti di seberang jalan sebuah gedung dengan jendela yang banyak dan lapangan basket di tengahnya.

“kenapa mengajakku ke sini?” tanya eunbi heran. Datang ke sekolah malam-malam begini dan untuk apa semua ini?

“hanya ingin mengingat-ingat”

Kyuhyun berjalan menuju taman bermain di seberang jalan sekolah SMA tempatnya dulu pernah mengenyam pendidikan.

Seperti diperintah langkah kaki eunbi mengikuti setiap jejak kaki kyuhyun. dan ikut duduk di atas ayunan di samping kyuhyun.

Beberapa detik mereka hanya terhanyut memandang gedung bertingkat dengan cahaya yang seadanya.

 

Kyuhyun benar, tempat ini memang penuh kenangan. Batin eunbi.

 

“jadi selama ini kau tahu kalau aku selalu memperhatikanmu?” tanya eunbi. Dia sudah ketahuan jadi untuk apa dia menutupinya lagi. Mulai sekarang dia bukan lagi pengagum rahasia.

“aku tahu. Karena aku juga selalu memperhatikanmu”

 

Seperti terjebak dalam pertanyaannya sendiri. Lagi-lagi eunbi kesulitan mencerna kalimat kyuhyun.

 

“aku tahu saat kau diam-diam melihatku di lapangan basket lewat jendela ruang kelasmu, memperhatikanku dalam sela-sela makan siangmu. Aku tahu semua” kata kyuhyun menjelaskan.

“rupanya aku benar-benar sudah ketahuan”

Kyuhyun hanya tersenyum. Ini terlihat sangat lucu. Saat dua pengemar rahasia saling membuka kartu. Seperti dua orang tolol yang sama-sama menertawakan diri satu sama lain.

“ah. Kyuhyun shi. Aku tidak pernah tahu alasannya kenapa kau menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya. Menjadi pewaris perusahaan yang besar bukankah itu sesuatu yang patut untuk disyukuri?”

“aku hanya bosan saja dengan semua orang yang pura-pura baik di depanku lalu mereka akan diam-diam mengataiku di belakangku. Aku benci kebohongan”

“aku tidak tahu kalau seandainya aku tahu kau anak orang kaya dari awal mungkin aku tidak akan mengamatimu diam-diam”

“jadi apa kau akan segera memberiku coklat, misalnya”

“hahaha kurasa” eunbi tertawa. Benar, apa yang dia lakukan saat eunbi tahu identitas kyuhyun. Mungkin mengaguminya dalam diam saja dia tidak berani. Sama seperti hari itu, hari dimana semua temannya tahu bahwa kyuhyun adalah anak pemilik perusahaan. Hari itu, dimana eunbi mulai menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang tanpa ia sadari selalu dia lakukan. ‘mengamati kyuhyun dalam diam’.

“lalu kenapa kau tidak melakukannya saat kau tahu aku adalah anak pemilik perusahaan besar?”

“aku? Harus berapa murid perempuan di sekolah yang harus aku singkirkan demi memberimu coklat?”

“mungkin kalau kau melakukan itu aku akan tetap berada di sekolah ini”

“ne?” telinganya mendadak seperti tuli

“kau alasannya aku bertahan di sekolah ini, tapi saat kau tidak menolehku lagi. Disaat itulah aku mulai kehilangan semangatku datang ke sekolah ini”

 

Cukup lama eunbi mencerna kalimat yang tidak terlalu panjang itu. Dan jujur dia senang mendengarnya. Mendengar bahwa dia adalah salah satu semangat kyuhyun.

 

“senang mendengarnya. Tapi aku terlalu takut. Aku tidak secantik dan sepintar murid perempuan yang lain, jadi apakah dia akan melihatku? Pertanyaan itu selalu berputar di otakku.”

Bukan. Bukan karena kyuhyun berbohong tentang statusnya. Tapi karena kenyataan itu membuat eunbi sedikit terdorong kebelakang. Dia terlalu jauh untuk dijangkau. Pikirnya.

 

Kyuhyun hanya menatap wanita itu sampai menyelesaikan kalimatnya. Dia memang beda. Di saat wanita lain akan berfikir bagaimana cara menarik hati kyuhyun, dia malah berfikir bagaimana caranya agar aku pantas untuk kyuhyun?, apakah aku memang pantas untuknya?

 

Dan dengan sadar kyuhyun akan menjawab ‘kau sangat pantas untukku hwang eunbi’

 

Tetesan air itu jatuh membasahi lengan kyuhyun, membuatnya menengadah mengawasi langit. Dan pada saat itu hujan turun begitu deras secara tiba-tiba.

 

“hujan?” tanya eunbi terkejut.

 

Mereka berdua segera berlari masuk ke dalam mobil sebelum mereka benar-benar basah kuyup.

 

Kesialan apa lagi sekarang?. Mobil kyuhyun berjalan sangat mulus sampai dipersimpangan jalan mobil itu tiba-tiba berhenti.

“shit” umpat kyuhyun

“wae?”

“bahan bakarnya habis”

“benarkah? Lalu bagaimana?” tanya eunbi sedikit panic.

“kurasa ada halte bis di dekat sini. Kita bisa naik bis untuk sampai ke hotel”

“mobilmu?”

“biar aku menyuruh orang untuk mengambil mobilku nanti”

Setelah mengatakan itu kyuhyun membuka pintu mobil dan melesat keluar, meninggalkan eunbi yang masih bingung harus bagaimana.

 

Ketukan kaca mobil disampingnya membuat eunbi tersentak.

“keluar lah” perintah kyuhyun dari luar.

Eunbi buru-buru menarik tasnya dan sialnya hal itu membuat semua isinya tercecer di bawah kakinya. Dia mengambil serampang benda-benda yang keluar dari dalam tasnya.

 

Kyuhyun berdiri di samping pintu mobilnya menanti eunbi keluar dengan payung yang melindungi kepalanya dari tetesan-tetesan air hujan.

 

Mereka berdua berjalan beririgan menginjak genangan air yang mulai tercipta di jalanan.

Eunbi menghentikan langkahnya membuat kyuhyun juga ikut berhenti.

“kau masih kehujanan” kata eunbi menghadap kyuhyun dan menepuk-nepuk kecil pundak kyuhyun yang basah, meskipun dia tahu itu tidak akan membuat pundak itu kering.

“kau bisa menggeser payung nya sedikit” kata eunbi dan menggegam tangan kyuhyun yang memegangi gagang payung itu, menggesernya sedikit kea rah kyuhyun agar dia tidak kehujanan. Tapi pada saat itu..

“payung ini…” eunbi menengadah melihat payung yang dari tadi melindunginya.

Bodoh. Dia baru sadar kalau payung ini adalah payung yang dia berikan kepada kyuhyun 6 tahun lalu. Payung yang sekarang tampak sedikit lusuh dan warnanya yang sudah memudar.

“payung ini adalah payung yang aku berikan padamu waktu itu bukan? Kau tidak mengembalikannya?” eunbi masih mengamati payung itu. Bukankah waktu itu dia sudah bilang untuk mengembalikannya? Kenapa sekarang payung itu ada disini?

“aku tidak pernah mengembalikan payung ini. hanya ini yang mengingatkanku padamu”

 

Kata-kata kyuhyun membuat eunbi menurunkan pandangannya, menatap mata itu.

 

“aku selalu membawanya kemanapun seolah aku bisa bertemu denganmu lagi jika aku membawa payung ini” lanjut kyuhyun.

Jika kyuhyun seperti orang bodoh yang berharap bertemu dengan eunbi karena payung lusuh ini, maka katakanlah kyuhyun bodoh karena itu.

 

Eunbi melepaskan tangannya pada tangan kyuhyun. Dan mencoba menetralkan kembali detak jantungnya.

“kurasa kita bisa kembali berjalan.”

 

Dia mendahului kyuhyun, tapi kenapa tidak terdengan derap langkah kyuhyun yang mendekat ke arahnya. Bahkan ini sudah lima langkah eunbi meninggalkan kyuhyun, dan bajunya sudah mulai basah karena hujan.

 

Kyuhyun hanya menatap punggung eunbi yang bergerak menjauh darinya. Entah dimana akal sehatnya sekarang, sampai membiarkan eunbi kehujanan.

 

Eunbi memutar tubuhnya, memandang kyuhyun yang berada lima langkah di depannya.

“kyuhyun shi. Apa kau tidak ingin pulang?”

“apa kau tidak pernah berharap bertemu denganku?” ini bukan jawaban dari pertanyaan eunbi.

 

“apa kau tidak pernah merindukanku?” tanya kyuhyun lagi.

 

“kyuhyun shi?” suara eunbi begitu lirih bahkan lebih lirih dari suara hujan yang mengguyur badannya.

 

“aku sangat merindukanmu.” Lanjut kyuhyun, membuang payung itu sembarang dan berjalan cepat kearah eunbi. Menariknya dan menempelkan bibirnya pada bibir eunbi.

 

Semuanya terjadi begitu cepat sampai eunbi tidak sadar sejak kapan kyuhyun berjalan ke arahnya dan berada di depannya, menarik pingangnya dan…semua  terasa sulit untuk dijelaskan.

Kelopak matanya mulai tertutup dengan sendirinya, dan menikmati aroma kyuhyun yang berpadu dengan aroma hujan yang mengguyur mereka berdua.

 

Menunggu bis di malam hari seperti ini dan hujan yang seolah tidak ingin berhenti membuat suasana canggung begitu ketara menyelimuti keduanya.

 

Eunbi sibuk mengosok-gosokan tangannya saat bis itu berhenti di depannya.

 

Bahkan bis ini terasa melambat, entah ini karena hujan mengguyur jalanan atau ini hanya perasaan eunbi dan kyuhyun.

 

Kyuhyun hanya melihat eunbi melalui ekor matanya yang sibuk dengan pemandangan di luar dan tangan yang terus ia gosok-gosokan.

**

Entah pandangan seperti apa yang semua orang tunjukan untuk kyuhyun dan eunbi yang masuk ke dalam hotel dengan baju yang meneteskan beberapa air dari ujung-ujung. Mereka berjalan dalam diam melewati lorong dan belokan hotel.

 

Eunbi akan menarik engsel pintu itu sebelum suara kyuhyun masuk ke dalam gendang telinganya. Dia tidak berbalik menatap kyuhyun tapi dia mendengarkan setiap kata yang pria itu katakan.

 

Kyuhyun menunda niatnya untuk masuk ke dalam kamar hotel, dia memutar tubuhnya menatap punggung basah milik eunbi.

“eunbi ah. Soal ciuman tadi. Aku hanya tidak ingin menjadi pengecut untuk selamanya. Meninggalkanmu pergi waktu itu adalah penyesalan yang sampai sekarang menghancurkanku. Bertemu denganmu lagi adalah harapan baru untukku”

 

Kalimat itu berhenti, dan eunbi tidak berniat menanggapinya.

 

Dia terus menatap pintu kamar itu kosong, pintu kamar yang menghalangi matanya untuk menatap eunbi. Meskipun eunbi tidak mengharapkannya itu tidak menjadi masalah buatnya.

 

“oppa kau dari mana saja?” in jung berjalan mendekati kyuhyun yang masih berdiri di depan pintu dengan payung lusuh di tangannya.

“oh in jung ah” hanya itu yang mampu ia katakana. Dia sedang tidak ingin bertemu dengan wanita ini sekarang.

“kenapa kau basah kuyup, bukankah kau membawa payung?” tanya in jung bingung.

“aku masuk dulu. Kau masuklah juga” ini bukan jawaban yang in jung harapkan cho kyuhyun.

 

In jung menatap marah pintu kamar itu, dan kemudian beralih pada pintu kamar eunbi. Matanya tiba-tiba memanas. Dia seperti dikhianati oleh mereka berdua. Ayolah tanpa bertanya mendengar ucapan kyuhyun kepada eunbi tadi sudah dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki hubungan. Ya, in jung memang mendengar semuanya. Semua kalimat yang terlontar dari bibir tunangannya itu.

 

Hangatnya air yang keluar dari shower masih menyisakan dinginnya air hujan. Lagi-lagi pikirannya dipenuhi oleh kyuhyun, semua ucapannya dan ciuman itu.

Eunbi menyentuh bibirnya perlahan. Ingatan itu terus berputar di kepalanya.

Salahkah eunbi berfikir kalau kyuhyun juga mencintainya? Salahkan eunbi jika sekarang dia kembali berharap untuk memiliki kyuhyun? semuanya terasa abu-abu selama ini, dimana dia berfikir kalau hanya dia memperhatikan kyuhyun tanpa sebaliknya, berfikir bahwa hanya dia yang mengharapkan pertemuan kembali dengan kyuhyun tanpa sebaliknya. Tapi ternyata semua itu adalah salah, kyuhyun juga memperhatikannya dan kyuhyun juga mengharapkan pertemuan kedua dengannya.

 

**

“masuklah” kata kyuhyun setelah mendengar suara ketukan pintu.

“maaf sajangnim. Saya hanya ingin mengembalikan ini. saya menemukannya di mobil sajangnim waktu di pulau jeju. Maaf baru mengembalikannya sekarang.”

Pria muda itu, meletakkan buku coklat di atas meja kerja kyuhyun.

“terima kasih Wo bin shi”

 

Setelah kepergian anak buahnya itu, kyuhyun mengamati buku yang terlihat sedikit tua itu. Dia tidak pernah memiliki buku seperti ini. pikirnya

 

Dia tersenyum melihat nama yang terukir indah di halaman awal buku ini ‘hwang eunbi’ wanita itu, wanita yang menghindarinya sejak kejadian di pulau jeju itu.

 

Kyuhyun membalik halaman demi halaman dan membacanya sekilas. Dia tidak pernah menyangka jika eunbi suka menulis buku diary seperti ini.

Tapi tiba-tiba hatinya mencelos melihat namanya tiba-tiba muncul dalam diary itu. Membacanya satu demi satu dan kemudian kyuhyun akan tersenyum mengetahui bahwa semua yang ada di situ adalah semua kegiatannya yang mampu eunbi rekam, semua kegiatan eunbi saat dia diam-diam tersenyum di balik buku yang ia baca karena melihat kyuhyun duduk di depannya.

Dan buku ini berakhir pada saat dimana kyuhyun pergi, berakhir? Ada satu halaman lagi yang belum kyuhyun baca. Halaman terakhir.

 

Kau adalah cinta pertamaku. Senang bisa melihatmu kembali. Kau tidak tahu bagaimana aku selalu berdoa kepada Tuhan agar mempertemukanku denganmu. Tapi bertemu denganmu dengan situasi seperti sekarang terlalu menyakitkan untukku, tapi tak apa. aku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu bersama in jung. Terima kasih untuk semua kenangan yang telah kau berikan.

-seseorang yang akan selalu mencintaimu-

 

Sejurus kemudian kyuhyun langsung merampas jasnya yang mengantung di salah satu sudut ruangan dan meraih kunci mobilnya sembarang.

 

 

Wanita muda itu nampak tersenyum bahagia melihat betapa indahnya pesta pernikahan ini. setidaknya kebahagian kedua mempelai itu sedikit tertular kepada eunbi. Satu hari saja eunbi ingin melupakan bayang-bayang kyuhyun, untuk satu hari saja eunbi ingin membuka hatinya untuk kebahagiannya yang lain. Kebahagiannya tanpa kyuhyun. walaupun eunbi meragu akan hal itu, bisakah dia tanpa kyuhyun? bisakah dia hidup tanpa harapan akan bertemu kyuhyun? bisakah dia melihat kyuhyun nantinya bersama orang lain di altar yang telah ia siapkan?

 

**

Dia segera melesat masuk ke dalam hotel setelah memberikan kuncinya kepada valet.

 

“permisi. Apa kau tahu dimana hwang eunbi?” tanya kyuhyun pada salah satu pegawai hotel

“dia sedang berada di ballroom ada acara pernikahan yang harus ia urus sekarang”

“baiklah terima kasih”

 

Kyuhyun tidak perlu bertanya dimana letak ballroom di hotel ini, kakinya sudah melesat masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai tempat ballroom itu berada.

 

Dia berhenti di ujung koridor hotel itu, memandang eunbi di depan pintu ballroom dengan wanita paruh baya yang menggunakan baju tradisional khas korea. Hari ini dia sadar betapa menderitanya eunbi selama ini, mengurusi semua keperluan pertunangannya, mendekorasi gedung ini untuk acara pertunangannya, melihatnya melakukan photo prewedding dengan orang lain dan menyiapkan semua keperluan pernikahannya. Bukankah kyuhyun begitu brengsek sekarang?

 

Eunbi membungkuk sedikit memberi hormat kepada ibu mempelai wanita itu dan saat dia memutar tubuhnya. Pria itu. Pria itu ada di ujung koridor, menatapnya lurus dengan pandangan yang tidak bisa eunbi artikan. Bahkan eunbi hanya mampu berdiri mematung ditempatnya saat pria itu. Kyuhyun, mulai berjalan mendekat tanpa melepaskan kontak mata diantara mereka. Seolah manic mata itu menyuruh eunbi untuk tetap berdiri ditempatnya dan hanya boleh memandangnya.

 

Di saat pria itu sudah berada 15 cm di depannya, eunbi masih bungkam tidak bisa berkata dan tidak bisa melangkah pergi. Hinoptis macam apa yang telah kyuhyun lakukan.

 

“eunbi ah” suara kyuhyun terdengar begitu tulus saat memanggilnya, penuh dengan kasih sayang dan syarat akan kerinduan.

 

Tangannya tiba-tiba meraih eunbi dalam pelukannya. Pelukan yang selalu eunbi harapkan.

 

“kyuhyun shi” protes eunbi dan tangannya berniat mendorong dada kyuhyun saat suara berat itu kembali berucap

“biarkan seperti ini. sebentar saja”

Dan lagi-lagi seperti mantra dari sihir ternama eunbi hanya mampu menjatuhkan tangannya di samping tubuhnya, dan membiarkan kyuhyun memeluknya.  Tanpa mereka sadari, mereka telah menjadi bahan tontonan dan perbincangan untuk beberapa hari kedepan.

 

Setelah kyuhyun melepaskan pelukannya, dia segera membawa eunbi ke restoran di depan hotel. Akan sangat tidak nyaman jika kyuhyun membawanya ke restoran hotel.

 

Eunbi hanya sibuk memainkan cangkir tehnya yang belum ia sentuh sama sekali. Dia ingin bertanya tentang sikap kyuhyun yang tiba-tiba itu tapi dia tidak tahu kalimat apa dan bagaimana harus memulainya.

 

“ini” kyuhyun menyodorkan buku diary eunbi

 

Eunbi segera menatap kyuhyun dan secepat kilat segera meraih buku diary itu dan memasukkannya ke dalam tas selempang miliknya.

 

“bagaimana bisa buku ini ada padamu?”

“mungkin terjatuh di mobil saat kita di pulau jeju”

 

Eunbi hanya mampu menggigit bibir bawahnya. harapannya Cuma satu sekarang kyuhyun tidak membaca buku itu.

 

“maaf aku membacanya”

hancur sudah harapan eunbi.

Dia memberanikan diri menatap kyuhyun. dia takut kyuhyun akan marah membaca buku diarynya. Buku yang menjadi tempatnya bercerita tentang betapa sempurnanya kyuhyun dan begitu eunbi ingin memilikinya.

 

“kau sudah membacanya rupanya. Mianhae, kau bisa melupakan semua isi diary itu setelah ini.”

 

Dengan tangan yang sedikit gemetar eunbi merapikan tasnya dan siap pergi dari tempat ini, tapi tangan itu. Tangan kyuhyun yang dengan lancang memegang tangannya menahan eunbi untuk tidak melanjutkan langkahnya.

“eunbi ah. Sungguh aku senang kau bisa merasakan apa yang aku rasakan”

 

Apa? Kyuhyun bilang apa? Eunbi seperti sedang berada didalam ruangan kedap suara sampai tidak bisa mendengar dengan benar.

“aku senang karna cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku senang kau merasakah hal yang sama”

 

Seperti orang yang mendadak tolol eunbi hanya mampu menatap kyuhyun mencari kebohongan dalam setiap kalimatnya. Tapi nihil, hanya ada kejujuran yang bisa eunbi lihat.

 

“kyuhyun shi” suaranya lirih dan terdengar tidak percaya dengan semua yang diucapkan kyuhyun

 

“aku mencintaimu hwang eunbi” kalimat itu akhirnya meluncur dari bibir kyuhyun. kalimat yang selama ini ingin kyuhyun katakan, kalimat yang begitu indah untuk di dengar di telinga eunbi. Tapi lagi-lagi eunbi hanya mampu membatu dengan pandangannya yang seolah terkunci pada kyuhyun.

Hati dan akal sehatnya kembali berperang. Sungguh kalimat itu mampu menggetarkan hati eunbi membuatnya seperti terbang dan berjuta-juta kupu-kupu terbang menggelitik hatinya tapi kenyataan ini, kenyataan yang terlalu pahit untuk eunbi akui memaksa akal sehatnya untuk tetap merasakan rasa sakit ini.

 

Eunbi menarik tangannya.

“kyuhyun shi. Sudah kubilang untuk melupakan semua buku diary itu. Kau tidak perlu merasa terbebani seperti ini.”

 

“hwang eunbi. Aku serius.”

 

Akal sehatnya membawa eunbi melangkah keluar restoran tidak memperdulikan panggilan kyuhyun, dia berjalan semakin cepat dan hampir terlihat berlari. Dia tidak sanggup mendengar itu semua lagi. Kenapa baru sekarang? kenapa di saat hal ini tidak mungkin kyuhyun malah datang dan bilang cinta padanya? Akan lebih baik jika kyuhyun tidak tahu tentang buku diary itu dan biarlah dia yang menanggup semuanya sendiri.

 

Kyuhyun mencekal tangan eunbi di depan restoran, membaliknya tubuhnya dengan mudah.

“hwang eunbi dengarkan aku. Jika kau berfikir aku main-main maka kau salah. aku benar-benar mencintaimu”

 

Tumpah sudah air mata eunbi, ini terlalu membahagiakan dan begitu menyedihkan saat kyuhyun baru mengatakannya sekarang.

 

Tangan kyuhyun mengangkat kepala eunbi agar menatapnya.

“eunbi ah. Percayalah padaku” mohon kyuhyun

 

“kyuhyun shi. Semua ini tidak akan merubah keadaan. Kau akan segera menikah dan aku tidak ingin menjadi perusak dalam hubungan kalian” akhirnya suara eunbi terdengar oleh gendang telinga kyuhyun. tapi apakah ini sebuah penolakan?

 

“bisa. Kita bisa bersama. Aku bisa membatalkan pernikahan itu”

Semudah itukah kyuhyun mengatakan itu? Tapi sungguh hanya ini yang terlintas di otak cerdasnya. Dia ingin bahagia bersama eunbi bukan in jung atau wanita lain.

 

“kau gila? tidak. Kita tidak bisa” eunbi menghempaskan tangan kyuhyun kasar dan menghapus air matanya kasar.

“tidak. Kita tidak bisa” eunbi menggeleng meyakinkan jawabannya.

 

Kyuhyun hanya mematung memandangi punggung eunbi yang berjalan pergi meninggalkannya. Wanita itu sudah mulai menyeberang jalan saat lampu merah menyala.

 

Kesadaran kyuhyun kembali memenuhi raganya. Dia tidak akan melepaskan eunbi lagi tidak akan.

 

Kyuhyun segera berlari menyusul eunbi yang sudah berada ditengah jalan.

 

Tubuh rapuh wanita itu memutar ke belakang saat tangan kyuhyun kembali menariknya.

“saranghae. Hwang eunbi” kata kyuhyun lantang. Bahkan sampai terdengar oleh pengendara mobil  yang menanti lampu hijau.

Setelah itu, entah apa yang ada dipikiran kyuhyun.

Tangannya menarik tenguk eunbi, menyatukan bibir mereka dan ini adalah ciuman kedua mereka. Sama seperti ciuman mereka yang pertama eunbi hanya mampu memegang ujung jas kerja milik kyuhyun tanpa berniat mendorong pria itu menjauh darinya.

 

Suara riuh dari pejalan kaki dan pengendara yang melihat mereka membuat kyuhyun tertarik kembali pada kenyataan bahwa mereka masih berada di jalan. Dia membuka matanya perlahan dan segera menarik tangan eunbi menyeberang jalan, mengabaikan jiwa eunbi yang rasanya masih tertinggal disana.

 

**

Malam ini pikiran eunbi begitu kacau. Dia tidak tahu jalan mana yang harus ia pilih. Berjuang bersama kyuhyun yang pastinya akan membuat orang lain terluka atau melupakan semuanya, melupakan tentang rasa cintanya bahkan setelah dia tahu kalau kyuhyun juga mencintainya.

 

Pikirannya menerawang pada kejadian tadi sore.

Setelah kyuhyun menciumnya di jalan, dengan tingkah bossynya kyuhyun mengantar eunbi pulang. Dan sebelum eunbi keluar dari mobilnya telinganya mendengar suara kyuhyun.

“jangan khawatir aku akan mengurus semuanya.”

 

Sekarang bisakah eunbi hanya percaya pada kata-kata kyuhyun? untuk satu hari ini saja, biarkan dia merasakan cinta kyuhyun.

**

 PLAKK

Tamparan dari pria paruh baya itu, menyentuh pipi kyuhyun begitu kasar membuat kulit putihnya sedikit memerah.

“apa kau gila? apa yang harus aku jelaskan kepada keluarg kim?” teriaknya memaki anak laki-laki satu-satunya.

“mianhae appa. Tapi aku sangat mencintai eunbi”

 

PLAKK

Tamparan kedua itu mengenai pipi kanannya sampai membuatnya hampir terlempar sangking kuatnya.

“aku tidak pernah memaksamu untuk menikahi in jung. Kau melakukannya karena kau mau dan sekarang apa? Membatalkannya? Dimana otak cerdasmu itu cho kyuhyun?”

“aku tahu aku salah. aku akan mengurusnya”

Tuan cho menyunggingkan senyum mengejeknya. Anaknya ini memang terlalu keras kepala.

“mengurusnya kau bilang? Bagaimana kau mengurusnya? Membiarkan perusahaan kita dikuasai oleh keluarga kim begitu?”

 

Kyuhyun hanya diam. Dia memang bertekad akan megurus ini semua tapi bagaimana caranya, kyuhyun masih belum memikirkan itu. Dia tadi sangat bahagia saat tahu kalau eunbi juga mencintainya tanpa peduli tentang hal lain yang harus kyuhyun bereskan.

 

 

Kyuhyun duduk disamping ranjangnya dengan es ditangannya berusaha meredakan rasa ngilu akibat tamparan appanya.

 

“kyuhyun ah” suara itu membuat kyuhyun menoleh kearah pintu yang menyembulkan sedikit kepala nunanya.

“wae? Nuna ingin mengejekku?” tanya kyuhyun tidak peduli.

 

Wanita itu masuk ke dalam kamar kyuhyun, menutup pintunya dan mendudukan dirinya di samping kyuhyu.

“aku tidak tahu kalau kau sekeren ini”

Kyuhyun hanya tersenyum mendengarnya. Nunanya memang selalu punya cara untuk menggodanya. Sekarang dia bilang keren setelah kedua pipinya mendapat tamparan dari appanya, apa ini masuk akal?

 

“jika nuna hanya ingin menggodaku maka keluarlah. Pipiku masih terasa panas karena tamparan appa jadi diamlah”

 

“aku tidak menggodamu. tapi aku mengatakan sejujurnya. Kau memang keren hari ini. mempertahankan cintamu, bukankah itu keren”

“aku hanya tidak ingin menjadi pengecut lagi”

 

“NUNAAA” kyuhyun mendelik kearah Ahra, seenaknya saja dia mencubit pipi kyuhyun yang masih memerah menimbulkan rasa sakit yang lain.

“ternyata adikku memang sudah dewasa. Aku bangga padamu”

“apa kau baru menyadari itu?”

“perempuan itu pasti sangat baik karena bisa merubahmu menjadi pria sejati, setidaknya aku harus berterima kasih padanya.”

 

Lagi-lagi kyuhyun hanya mampu tersenyum sampai suara Ahra merusak senyumnya.

“hilangkan senyum bodohmu itu cho kyuhyun.”

“aishhh keluarlah”

“eiyyy rupanya kau benar-benar jatuh cinta” ahra menggeleng lemah melihat tingkah adiknya. Sebenarnya ahra sedikit kaget saat kyuhyun bilang ingin membatalkan pernihakannya yang hanya kurang 3 minggu, tapi melihat kyuhyun yang tidak pernah berani menentang appanya bersikap seperti tadi sunggu di luar batas. Ahra tahu kyuhyun tidak main-main dengan ucapannya.

 

“kyuhyun ah. Kau tahu, nuna akan selalu ada di sisimu. Nuna bangga kau bisa mengambil sikap. Segeralah bawa dia kemari dan jadikan dia istrimu. Apapun yang kau lakukan nuna harap kau selalu bahagia. Kejarlah kebahagianmu. Nuna percaya padamu?”

Kalimat ini adalah kalimat pertama yang ahra katakana kepada kyuhyun yang terdengar begitu tulus dan menyejukkan. Dan kyuhyun senang mendengarnya, setidaknya dia tahu ada orang lain yang akan selalu mendukungnya.

**

Suara bel itu membuat eunbi segera melesat membuka pintu tanpa melepas apron pink miliknya.

 

“siap-“ pertanyaannya tertelan udara saat tiba-tiba tubuhnya berada dalam pelukan seseorang.

“biarkan seperti ini sebentar” tanpa melihatpun eunbi tahu siapa pria yang berani memeluknya tanpa permisi.

 

Perlahan tangan eunbi mulai melinggar di pinggang kyuhyun, ikut membalas pelukannya.

 

Kyuhyun tersenyum dibalik punggu eunbi saat dia merasakan tangan itu ikut membalas pelukannya.

Kyuhyun melonggarkan pelukannya dan menatap eunbi yang berdiri salah tingkah di depannya.

 

“kenapa datang pagi-pagi begini?”

“jadi apa kau ingin aku datang malam-malam?” tanya kyuhyun dengan nada menggoda.

 

Pria gila. dia selalu mengatakan apa yang ia inginkan dan melakukan apa yang dia mau.

 

“apa kau sedang memasak? Kebetulan sekali aku sedang lapar” tanpa disuruh kyuhyun sudah melesat masuk ke dalam rumah eunbi.

 

Eunbi mencicipi sup yang masih mengepulkan asapnya itu sebelum menaruhnya ke dalam mangkuk.

 

“wahhh…ini terlihat lezat” kata kyuhyun antusias

 

“ternyata kau pandai memasak ya, ini benar-benar enak”

Eunbi hanya tersenyum melihat kyuhyun yang tampak begitu antusias dengan menu sarapannya.

“jadi kau datang kesini hanya untuk menumpang makan? Kau selalu seenaknya. Tiba-tiba datang, memelukku seenaknya dan menciumku semaumu”

“itu karena aku menantikan saat-saat seperti itu dari dulu sampai aku tidak rela melepaskan pelukanmu dan masalah ciuman itu apa aku harus meminta ijin terlebih dulu seperti ‘bolehkan aku menciummu?” kyuhyun menatap eunbi mengoda dan kyuhyun semakin suka melihat eunbi yang terlihat lucu saat tangannya membekap mulutnya seperti mengantisipasi ciuman kyuhyun.

 

“heol kau tampak seperti pria playboy sekarang”

 

Kyuhyun masih sibuk menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

“kyuhyun shi” panggil eunbi lembut

“shi?? Apa aku orang lain untukmu? Panggil aku oppa”

“Shiro usia kita sama, jadi aku tidak mungkin memanggilmu oppa.”

“aku lebih tua lima bulan darimu, asal kau tahu”

Eunbi menggeleng tanda tidak setuju. Oppa katanya, oh meskipun eunbi mencintai kyuhyun tapi memanggilnya oppa tidak pernah ada dalam imajinasinya.

“baiklah panggil aku kyuhyun saja tanpa shi” tegas kyuhyun.

 

Baiklah tidak apa-apa hwang eunbi setidaknya kau tidak harus memanggilnya oppa.

“kyuhyun ah” panggil eunbi kemudian

“wae?”

“soal perkataanmu kemarin. bisakah aku percaya padamu?” tanya eunbi hati-hati.

 

Kyuhyun meletakkan sendoknya, menggegam tangan eunbi.

“ehm. Kau bisa percaya padaku”

 

Satu kali ini saja, eunbi ingin mempercayai kyuhyun bahwa mereka memang bisa bersama. Dia ingin bahagia bersama kyuhyun.

**

“untuk apa lagi kau datang kemari?” tanya in jung nyalang pada kyuhyun. beraninya pria itu datang ke tempat kerjanya setelah semua penghinaan yang ia lemparkan untuknya dan untuk keluarganya.

“mianhae in jung ah” kata kyuhyun tulus.

“mian? Setelah kau membuat keluargaku terhina kau bilang mian?”

“mianhae” kata kyuhyun lagi seperti tidak ada kata lain yang pantas untuk dia katakana. Dia tahu dia sudah terlalu menyakiti hati wanita ini.

“berhenti mengatakan kata mianhae. Bahkan kau tidak pantas mengatakan kata itu cho kyuhyun. dasar pria brengsek” maki in jung membabi buta.

“aku mencintai eunbi dan aku tidak ingin kau semakin terluka karena pernikahan ini”

“aku sudah sangat terluka karena kau”

“arra. itu sebabnya aku memohon kepadamu untuk melepaskanku. Kau pantas mendapatkan pria lain yang lebih pantas untukmu. Jika kita menikah itu hanya akan menambah rasa sakitmu karena sampai kapanpun aku tidak bisa mencintaimu kim in jung. Kita mungkin menikah tapi itu hanya akan memiliki tubuhku tidak dengan hatiku.”

In jung mendegus kesal

“apa kau berfikir akan menikah dengan eunbi setelah kau menikahiku?”

“pikirkanlah kembali in jung ah aku tidak ingin kita semua terluka”

“kau yang membuat ini semakin rumit cho kyuhyun” teriak eunbi frustasi

“mianhae in jung ah. Maaf karena telah melukaimu.ini aku kembalikan cincin pertunangan kita”

 

Setelah mengatakan itu kyuhyun menggeser kursinya dan pergi meninggalkan in jung yang masih diselimuti perasaan marah.

 

“ARGH..” teriak in jung marah, membanting semua yang ada di mejanya membuat ruangan kerja ini berantakan.

“brengsek kau cho kyuhyun” maki in jung untuk kesekian kalinya.

**

Telinganya mendadak penuh dengan orang-orang yang terus membicarakannya, tidak tanggung-tanggung bahkan mereka sengaja membicarakan eunbi di depannya.

Tidak ada yang tidak tahu tentang kisah mellow drama yang ia ciptakan kemarin mulai dari pelukan tiba-tiba kyuhyun sampai ciuman di tengah jalannya. Semuanya tidak luput dari bahan perbincangan.

 

Eunbi tahu eunbi salah tapi dia juga tidak bisa mencengah perasaannya yang tumbuh begitu saja. Kalau saja dia bisa, dia lebih memilih jatuh cinta kepada orang lain, bukan kyuhyun yang sudah mempunyai calon istri.

**

“kyu kita pulang saja” rengek eunbi.

“tidak. Kau harus bertemu orang tuaku”

“tidak. Tidak sekarang. ini bukan waktu yang tepat. Kau antar aku pulang saja ya”

Seperti tuli kyuhyun tidak mendengar semua keresahan eunbi. Kyuhyun hanya berfikir mungkin jika orang tuanya melihat eunbi mereka akan berubah pikiran.

 

Mobil itu berhenti di depan rumah bergaya tradisional yang sangat besar.

Mata kyuhyun sedikit menyipit melihat mobil yang parkir di depan rumahnya. Mobil in jung. Untuk apa dia kesini?

 

Tidak mau ambil pusing, kyuhyun melepas seat beltnya dan segera keluar memutar jalannya dan membukakan pintu untuk eunbi.

 

Eunbi menggeleng lemah pada kyuhyun.

“keluarlah”

“tidak”

“kyu-kyu apa yang kau lakukan” eunbi menjerit dalam gendongan kyuhyun. selalu seperti ini bertingkah seenakanya.

 

Kyuhyun menurunkan eunbi di depan pintu masuk keluarga cho.

 

Tangan mereka berdua masih bertautan saat semua orang memandang ke arahnya, tuan cho, nyonya cho, ahra dan in jung.

 

Mendapat tatapan tidak suka membuat eunbi berusaha melepaskan genggaman tangan kyuhyun tapi semakin dia berusaha melepaskannya semakin erat pula kyuhyun menggegam tangannya.

 

“rupanya kau sudah pulang. Aku menunggumu dari tadi” kata in jung memulai.

“ada yang ingin aku sampaikan pada kalian semua” kata kyuhyun tidak menanggapi in jung yang sudah duduk dengan amarah yang terkumpul di kepalanya.

“bicaralah. Tapi sebelumnya ada yang ingin aku sampaikan. Pernikahan kita dimajukan minggu depan” in jung menekankan kata minggu depan di kalimatnya.

“mwo? Kau gila?” teriak kyuhyun tidak percaya.

Kyuhyun menghampiri in jung yang duduk diantara keluarga meninggalkan eunbi yang hanya bisa mematung ditempatnya. Tidak seharusnya dia ada disini. Batinnya.

 

“in jung ah. Kau tahu betul bahwa aku mencintai eunbi dan pernikahan ini hanya akan menyakitimu” kata kyuhyun frustasi.

 

In jung berdiri dari duduknya menatap kyuhyun menatang.

“kalau begitu biar kita hancur bersama-sama cho kyuhyun”

“kau gila” desis kyuhyun

 

“cukup. Cukup cho kyuhyun. mungkin kau sekarang hanya butuh menjernihkan pikiranmu. Sekarang mungkin kau bisa berkata kau mencintai wanita lain tapi percayalah itu hanya perasaan saling mengangumi dan in jung kau mengenalnya sejak dulu.” Kata tuan cho mencoba menetralkan perdebatan ini.

“appa tidak tahu. Aku jauh lebih dulu mengenal eunbi dari pada in jung. Dan aku akan tetap membatalkan pernikahan ini”

“cho kyuhyun” teriak tuan cho frustasi.

 

“keputusan sudah dibuat cho kyuhyun. kau hanya perlu datang kepernikahan kita. Dan kau-“ in jung menjeda kalimatnya, memandang eunbi rendah.

“kau bukan lagi karywan hotel. Kau dipecat” kata in jung lantang

“kau-“ kyuhyun menatap nyalang in jung

“wae? Kau ingin membela selingkuhanmu ini? perempuan murahan ini?” teriak in jung mengabaikan semua pasang telinga dan mata yang terlibat dalam pertengkaran ini.

“in jung ah jaga ucapanmu” kata kyuhyun memperingatkan.

 

Air mata eunbi lagi-lagi tumpah. Dia lebih sering menangis sekarang.

“maafkan saya. Saya tidak akan mengganggu kyuhyun lagi” akhirnya eunbi dapat mengatakan kalimat itu tanpa tersendat oleh deru air matanya.

 

“hwang eunbi apa yang kau lakukan?” teriak kyuhyun tidak terima

“maafkan saya” eunbi membungkuk memberi hormat dan segera pergi meninggalkan rumah ini.

“hwang eunbi berhenti” teriak kyuhyun dan berlari menyusul eunbi.

 

“apa lagi?” tanya eunbi frustasi saat langkahnya dihalangi oleh tubuh kyuhyun.

“kau bilang kau percaya padaku kan?”  kyuhyun menggegam tangan eunbi tapi dengan mudah eunbi menarik tangannya.

“seharusnya kita tidak sejauh ini. kau aka menikah dan aku salah karena telah merebutmu dari calon istrimu”

“eunbi ah. Tidak ada yang merebutku dari siapapun.”

Eunbi menggeleng tidak setuju

“tidak. Aku yang salah”

“eunbi ah. Dengarkan aku kau hanya harus percaya padaku dan kita akan bahagia bersama”

“tidak. Kita tidak bisa”

“kita bisa. Kita pasti bisa”

Kyuhyun menangkup wajah eunbi memaksanya menatap kyuhyun, dan pandangan mereka bertemu.

“cho kyuhyun. kau tahu aku akan mencintaimu sampai kapanpun, tapi sungguh melihatmu hancur seperti ini jauh lebih menyakitkan untukku. Kau pantas bahagia dengan ataupun tanpaku. In jung wanita yang tepat untukmu. Berbahagialah untukku”

Eunbi sedikit berjinjit untuk mencium kyuhyun tepat di bibirnya. Bahkan ciuman yang selama ini kyuhyun inginkan dimana eunbi yang menciumnya terlebih dulu terasa menyakitkan saat air mata milik eunbi dapat ia rasakan membasahi pipinya.

 

“saranghae. Cho kyuhyun” kata eunbi kemudian setelah melepas kontaknya dengan kyuhyun.

 

Belum sempat kesadarannya kembali eunbi sudah menghilang di hadapannya. Meninggalkan bekas air mata yang sekarang beradu dengan air mata miliknya.

**

Ahra mendengar tangisan itu, tangisan kyuhyun yang tidak pernah ia dengar saat pria itu tumbuh dewasa. Sesakit itukah sampai adiknya menangis? Begitu berartikah eunbi untuknya sampai rasanya adiknya tidak sanggup untuk meneruskan hidupnya tanpa eunbi? Kenapa jalan cinta adiknya serumit ini?

Dia hanya menyandarkan tubuhnya di dinding kamar milik kyuhyun, dia tidak sanggup melihat adik kesayangannya menjadi lemah seperti ini. bahkan ahra hampir menangis karena mendengar tangisan yang memilukan itu.

**

“ada apa unnie datang kemari”

“in jung ah. Aku tahu kau perempuan yang baik”

“apa maksud unnie?” tanya in jung pada calon kakak iparnya itu

“aku tahu kyuhyun. dia tidak pernah mempertahankan wanita seperti dia mempertahankan eunbi, aku tidak pernah melihatnya sebahagia saat dia bertemu eunbi. In jung ah, unnie mohon lepaskan kyuhyun.”

In jung tersenyum mengejek.

“unnie datang kesini hanya ingin mengatakan itu? Melepaskan kyuhyun?”

“kita sama-sama wanita in jung ah. Kau tahu eunbi begitu terluka saat ini bukan hanya dia tapi juga kyuhyun”

“lalu bagaimana denganku? Adik unnie itu juga telah menghancurkanku”

“arra. unnie minta maaf untuk itu. Tapi jika kau benar mencintai kyuhyun biarkanlah dia bahagia. Cinta itu tentang pengorbanan in jung ah bukan tentang obsesi”

**

In jung menatap dirinya di cermin, pantulannya dengan gaun pengantin terlihat begitu cantik. Tapi benarkah semua ini? tanyanya dalam hati. Dia mencintai kyuhyun tapi semua ini terasa kosong dan menyakitkan saat tahu bahwa ini hanya cinta bertepuk sebelah tangan.

 

Jas itu masih menggantung disudut ruangan, ruangan untuk mempelai pria. Haruskah ini terjadi? teriaknya dalam hati. Sejak kejadian di rumahnya, kyuhyun tidak bisa menghubungi eunbi. Mungkin dia sudah berada di kampung halamannya, tapi seperti pria pengecut lagi kyuhyun tidak bisa datang menjemputnya. Inikah yang kau sebut cinta cho kyuhyun? ejeknya dalam hati.

 

Pria itu menatap wanita dengan balutan gaun pengantin yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Entah untuk apa in jung datang ke ruang tunggu miliknya.

“ada apa?” tanya kyuhyun acuh

“apa kau begitu membenciku sampai kau bersikap begini?” tanya in jung balik

“katakanlah apa maumu?”

In jung mendengus

“kau memang pria brengsek cho kyuhyun”

“apa kau datang kesini hanya ingin mennghinaku?”

“pergilah. Pergilah temui eunbi. Kau benar aku tidak akan bahagia hanya menikah denganmu tanpa cinta. sekarang pergilah”

 

Apa? Pergi? Wanita ini sedang tidak bercanda kan?

“apa maksudmu?”

“apa kata-kataku kurang jelas. Kita batalkan pernikahan ini” kata in jung memperjelas

“tap- tapi”

“kau tidak mau?”

Sialan kau in jung, apa kyuhyun bisa langsung percaya denganmu setelah kau mati-matian mepertahankan pernikahan ini.

“bukan begitu tapi apa kau serius?”

In jung mengangguk mantap

“aku sendiri yang akan mengumumkannya. Jadi sekarang pergilah”

 

Kyuhyun tersenyum sumringah, dia akan membawa eunbi kembali dalam pelukannya.

 

Sebelum kyuhyun benar-benar meninggalkan ruangan ini, dia memutar tubuhnya saat sampai di depan pintu

“in jung ah”

“ehm”

“maafkan aku. Aku harap kau bisa mendapatkan yang lebih dariku. Dan terima kasih”

 

Pintu itu tertutup meninggalkan in jung dengan jas pengantin milik kyuhyun yang masih tergantung di sudut ruangan.

“dasar pria brengsek” umpatnya untuk terakhir kali.

**

Mungkin tempat ini meniggalkan kenangan yang menyakitkan untuknya. Tempat photo prewedding kyuhyun dengan in jung. Mengingat mereka, tiba-tiba otaknya mengingat tentang pernikahan yang akan berlangsung tadi siang. Pernikahan yang sempat ia persiapkan.

 

Menjelang senja angin masih berhembus begitu kencang menerbangkan anak rambut miliknya. Berada di tebing ini, mengingatkannya pada kyuhyun, pria yang sampai sekarang masih memenuhi hati dan pikirannya.

 

Sekali lagi angin itu hampir membuka dress selutut miliknya dan ini mengingatkannya dengan kyuhyun.

Berhenti berfikir tentangnya hwang eunbi. Batinnya.

 

Tangannya berhenti bergerak saat tiba-tiba lengan itu menangkup dressnya dengan tangannya. Dan pungung eunbi merasakan sesuatu bahkan telinganya dapat mendengar deru nafas yang terdengar beraturan.

 

Eunbi segera membalik tubuhnya. Jantungnya hampir melompat sangking kagetnya.

Apa dia sedang berhalusinasi lagi? Kyuhyun di depannya, apakah ini mimpi?

 

“kau tidak sedang bermimpi hwang eunbi” kata kyuhyun seperti mengerti seperti setiap pertanyaan yang terlintas di dalam otaknya.

“cho kyuhyun”

Tangan eunbi perlahan menyentuh wajah kyuhyun, memastikan bahwa ini nyata. Pria dengan kemeja putih yang berdiri di depannya ini adalah nyata bukan halusinasinya.

“kau benar cho kyuhyun?” tanyanya lagi tidak percaya

“ehm. Aku cho kyuhyun. pria yang sangat mencintai eunbi”

Eunbi langsung memeluk kyuhyun, menangis di dalam pelukannya.

 

Setelah tangisnya mereda, eunbi melonggarkan pelukannya pada kyuhyun.

“apa kau kesini ingin mengucapkan salam perpisahan?”

Kyuhyun menggeleng tidak setuju

“lalu?” tanya eunbi lagi

“aku datang menjemput pengantinku”

Eunbi tersenyum kecut.

“ah, benar kau sudah menikah. Jadi apa kau kesini karena kau sedang berbulan madu dengan in jung?”

Kyuhyun kembali menggeleng

“aku ingin menjemput pengantinku. Kau hwang eunbi. Kau pengantinku”

“ne?”

Kyuhyun tertawa melihat setiap reaksi yang eunbi ciptakan.

“aku belum menikah. In jung membatalkan pernihakannya.” Terang kyuhyun

“ah begitu rupanya”

“begitu rupanya? Aku datang kesini jauh-jauh dan mengatakan kalau pernikahanku batal dan kau hanya bilang begitu?” kyuhyun tidak bisa menutupi keterkejutannya. Hanya ini respon yang ia dapat? Tidak masuk akal

“jadi aku harus bagaimana?. Kau tidak jadi menikah ja- kau tidak jadi menikah?” teriak eunbi kemudian. Terkutuklah otak lemotnya.

Kyuhyun tertawa.

“iya aku tidak jadi menikah. Kau puas”

“tap-tapi bagaimana bisa?” tanya eunbi masih tidak percaya. Bagaimana bisa ini terjadi saat in jung begitu mempertahankan rencana pernikahan ini.

“apa kau mendadak tuli dan bodo saat tidak ada aku”

“auwh” eunbi mengosok keningnya yang mendapat jitakan dari kyuhyun.

“yak!” teriak eunbi protes

“dan sekarang kau berani berteriak kepadaku?”

 

“huwahhhh…eunbi tiba-tiba menangis begitu keras

“eunbi ah. Aku tidak bermaksud memarahimu. Maafkan aku hem?” kyuhyun berusaha merayu eunbi. Memegang kedua pundaknya dan mencoba menenangkannya. Apa dia sudah sangat keterlaluan dengan eunbi?

 

“apa kau tahu seberapa banyak aku menangis karenamu. Seberapa banyak aku berharap kau akan datang menemuiku. Aku bahkan tidak sanggup memejamkan mataku karena kau selalu muncul dalam pikiranku. Apa kau tahu itu semua? Dasar kau pria brengsek” deretan kalimat itu tiba-tiba meluncur bebas di sela tangis yang tidak bisa eunbi tahan

 

Ternyata eunbi menangis bukan karena kyuhyun yang memarahinya dan kyuhyun suka Kenyataan ini, kenyataan kalau ternyata eunbi benar-benar mencintainya.

 

Kyuhyun menariknya dalam pelukannya.

“mianhae. Aku memang pria brengsek”

 

Punggung itu sudah tidak bergetar, kyuhyun melonggarkan pelukannya.

“eunbi ah” panggil kyuhyun

Dan yang dipanggil hanya menunduk menyembunyikan wajahnya.

 

Demi neptunus, eunbi merasa begitu malu karena bertingkah seperti tadi. Tiba-tiba menangis dan memaki kyuhyun.

“apa kau malu?” tebak kyuhyun asal

“ani”

“kalau begitu tatap aku”

Eunbi menggeleng dan masih menunduk

“kau benar-benar malu padaku karena menangis seperti tadi?”

“ani. Kenapa aku harus malu?” tanya eunbi menantang dan  menatap kyuhyun.

“akhirnya kau menatapku”

Sial. Kyuhyun licik. Eunbi mengumpat dalam hati, menyumpahi kebodohannya.

“eunbi ah mianhae” kata kyuhyun tulus

“ehm”

“saranghae”

“ehm”

“ehm?” kata kyuhyun mengulang jawaban eunbi.

“apa kau tidak mencintaiku?” tanya kyuhyun lagi

“kau tahu betul bagaimana perasaanku”

“apa? Bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak bilang.”

“tidak aku tidak bisa mengatakannya.”

“wae? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?”

“ani” tolak eunbi

“kalau begitu katakan kalau kau mencintaiku”

“apa harus?”

Kyuhyun mengangguk mengiyakan

“sarang-saranghae” kata eunbi lirih

“katakanlah lebih keras. Bahkan aku tidak bisa mendengar satu huruf pun dari ucapanmu.”

Pria sialan. Eunbi melayangkan tatapan membunuhnya seperti akan mencekiknya hidup-hidup

“cepat katakan” tuntu kyuhyun

“SARANGHAE CHO KYUHYUN.” kata eunbi tepat di depan wajah kyuhyun.

Dan secepat kilat pula kyuhyun menyambar bibir eunbi, memaksanya merasakan betapa dia sangat mencintainya melalui ciumannya.

 

Semburat jingga itu begitu cantik menghiasi langit sore, mereka berdua kembali menatap indahnya senja di atas tebing ini dengan tangan yang saling bertautan

 

“kenapa kau suka menciumku tiba-tiba?”

“karena aku begitu merindukanmu”

 

THE END

Kiss in the Rain {Part 2}

kiss-in-the-rain-copy

Judul: Kiss in the Rain

Main cast: Cho Kyuhyun, Hwang Eunbi (OC), others

Genre: Romance, Sad

Length: Chapter

Author: Oh honey

Author’s note: baiklah author kembali lagi dengan ff baru. Semoga ff ini tidak mengecewakan, jujur ff ini dibuat dalam waktu satu hari jadi maaf untuk typo dan kata-kata yang kurang pas karena author tidak sempat membaca ulang.

Bagi para readers yang udah baca PLEASE COMMENT, tinggalkan jejak kalian untuk author ini 🙂

-HAPPY READING-

Untuk pertama kalinya eunbi merasa ada yang salah pada acara yang ia selenggarakan, hatinya menjerit tidak suka.

Semuanya berjalan lancar sejauh ini, tidak ada permasalahan dan pertunangan ini siap dilaksanakan dua jam lagi. Tapi kenapa dia merasa tidak suka dengan ini semua? Dia seperti seseorang yang tidak professional saat hatinya ikut campur dalam pekerjaannya, menguasai hatinya. Bahkan hatinya melupakan tentang posisi manajer itu dan lebih memilih membatalkan semua persiapan pertunangan ini yang sialnya dia sendirilah yang mengatur semuanaya, menyiapkan semuanya. Tapi kyuhyun berhak bahagia bukan? Dengan wanita pilihannya, dengan seseorang yang ia cintai. Hatinya kembali terluka saat otaknya mengatakan itu.

Semua tamu perlahan mulai memenuhi ballroom hotel ini. semuanya benar-benar akan selesai sekarang. Perasaannya kepada kyuhyun, cinta dalam diamnya semuanya harus berakhir sekarang.

Pandangannya tiba-tiba mengabur oleh air mata yang sudah terkumpul dipelupuk matanya mendesak untuk keluar. Bahkan telinganya mendadak tuli, ballroom yang riuh serasa menjadi sepi dalam seketika. Hatinya sakit, sangat sakit sampai eunbi tidak tahu apakah dia masih bisa bertahan setelah ini. Hati dan akal sehatnya berperang untuk kesekian kalinya.

Dan dari jauh matanya dapat menangkap pria dengan balutan jas mahal dan tersenyum bahagia menyapa para tamu. Dia masih sama, tampan dan tidak bisa dijangkau. Kenyataan ini, sesakit inikah kenyataan ini? jika eunbi bisa memilih, untuk saat ini saja eunbi ingin mengatakan ‘aku mencintaimu. sangat mencintaimu’ kalimat yang sejak lama terkubur dalam hatinya dan hanya tertulis pada diarynya. Untuk terakhir kalinya dia ingin mengatakan itu. Tapi itu tidak mungkin bukan? Lagi-lagi kenyataan ini. kyuhyun akan segera bertunangan bahkan kurang dari dua jam.

Dua pasang cincin itu sudah berada di depannya, menantinya untuk memasangkannya pada wanita yang berdiri di hadapannya dengan balutan dress berwarna peach dan sapuan make up yang mempercantik wajahnya. Sejak dua minggu lalu, saat kyuhyun bertemu kembali dengan eunbi entah kenapa dia mulai meragu untuk melakukan ini semua. Bukankah kyuhyun mencintai Kim In jung? Hatinya kembali meragu untuk mengatakan hal itu.

Dan untuk pertama kalinya kyuhyun menyumpahi tangannya yang dengan lancang memasangkan cincin itu pada jari manis in jung, mengabaikan semua keraguan yang terus memenuhi hatinya.

Manic matanya menangkap wanita di ujung sana yang hanya mampu menatap lurus. Pandangan yang tidak bisa kyuhyun artikan. Dia tampak sedih. Tapi untuk apa? Batinnya. Bukankah dia yang terjebak dalam cinta sebelah tangan dan cinta dalam diam. Sialan dia terdengar seperti pria yang sangat patut untuk dikasihani sekarang. matanya masih mengunci wanita itu dalam pandangannya sampai wanita itu berbalik, meninggalkan tempat pertunangan ini.

Eunbi tidak sanggup, kakinya bahkan terasa tidak bertulang. Suara tepukan tangan itu setelah cincin terpasang pada jari manis kyuhyun bagaikan suara yang begitu menakutkan. Air matanya tumpah setelah dia tahan mati-matian. Dia ingin berteriak memaki dirinya yang begitu menyedihkan.

Selangkah demi selangkah eunbi mulai merajut langkahnya meninggalkan suasana penuh suka cita ini yang begitu kontras dengan hatinya sekarang.

***

Jika dia bisa melangkah mundur, maka eunbi akan memilih menolak projek ini. Dia tidak akan sibuk dengan persiapan pernikahan kyuhyun, pria yang ia cintai seperti sekarang.

Eunbi mengambil serampangan baju dari dalam lemarinya, memakainya cepat setelah lima menit lalu in jung menghubunginya untuk mengecek baju pernikahannya. Ini gila. eunbi harus melihat baju pernikahan yang akan digunakan calon istri kyuhyun. Dengan alasan dia ada acara amal di Busan dengan gampangnya dia menyuruh eunbi untuk melihat gaun pengantinnya. Apakah dia berfikir bagaimana perasaan eunbi sekarang? hancur tak tersisa.

Butik dengan design yang begitu mewah memamerkan beberapa gaun putih yang terlihat begitu apik dan mewah.

Eunbi membungkuk sedikit pada pegawai butik

“aku hwang eunbi. Nona in jung memintaku untuk melihat gaun pengantinnya” jelasku

“oh silahkan ” kata pegawai itu menyuruhku mengikuti langkahnya masuk lebih dalam ke dalam butik.

“APA??” teriakku spontan. Ini adalah kegilaan kedua setelah in jung memintaku untuk melihat gaun pengantinnya. dan ini apa lagi? Dia memintaku mencobanya? Huh?! Eunbi mendengus.

“bukankah aku hanya harus melihatnya? Kenapa mencobanya?” tanyaku

“ini adalah feeting pertama dan nona in jung bilang jika bentuk tubuhnya sama dengan anda jadi anda diperintahkan untuk mencobanya agar kita segera membenahi kekurangannya.”

In jung sialan. Sekarang dia sudah menyamakan tubuh eunbi dengan dirinnya? Iblis macam apa dia itu sebenarnya?

Masuk kedalam sebuah ruangan yang hanya tertutupi oleh tirai disekelilingnya adalah keputusan yang sulit untuk eunbi. Bahkan sekarang pantulan dirinya di cermin terlihat lebih menyedihkan. Rambut yang di ikat dengan mahkota kecil di atas kepalanya dengan gaun pengantin milik orang lain melekat pada dirinya. Cantik. Dia tahu sekarang dia tampak cantik tapi hatinya untuk kesekian kalinya terluka karena kenyataan ini.

Ponsel kyuhyun bergetar membuatnya mengeluarkannya dari dalam saku jasnya.

From: in jung

Maaf oppa. Aku tidak jadi ke butik sekarang. mendadak ada acara amal di busan yang tidak bisa aku tinggalkan.

 

Kyuhyun tersenyum kecut membaca pesan singkat yang diterimanya. Dia bahkan menunda makan siangnya hanya untuk datang ke butik ini dan melupakan jadwal berenangnya di akhir pekan. Dan dengan gampangnya in jung mengatakan maaf ? terkutuklah, karena sekarang kyuhyun sudah berada di dalam butik dengan berbagai macam gaun pengantin.

Tangannya memasukkan kembali ponsel pintar itu ke dalam saku jasnya dan pada saat itu suara tirai yang bergeser di depannya menampakan wanita dengan gaun pengantin yang terasa begitu pas membalut tubuhnya.

Eunbi. Kata kyuhyun lirih

Eunbi menatap lurus saat pegawai butik itu menyibak tirai di depannya. Halusinasi? Batinnya. Apakah dia sangat ingin menikah dengan kyuhyun sampai membayangkan dia berada di luar tirai itu seolah menantinya disana? matanya bahkan tidak sanggup hanya sekedar untuk berkedip takut kalau bayangan pria itu hilang dalam pandangannya.

Ini bukan mimpi.

Eunbi masih tidak percaya bahkan setelah mendengar suara kyuhyun. pegawai butik itu masih mengukur dan melihat gaun pengantin yang melekat pada tubuhnya seperti menelaah bagian mana yang harus diperbaiki. Dan tubuh eunbi masih terlihat kaku saat menangkap kyuhyun dengan pandangan matanya yang tidak pernah lepas melihatnya. Apa dia marah karena aku memakai gaun pengantin wanitanya?

“baiklah sudah selesai” kata pegawai butik itu kemudian

“apa aku bisa melepasnya sekarang?” tanyaku polos

“tentu saja”

Kyuhyun masih berdiri mematung ditempatnya, memperhatikan pegawai butik itu mengukur gaun pengantin yang melekat pada eunbi. Entah untuk alasan apa kyuhyun berdiri disini. Dia tidak sedang menunggu gilirannya melakukan feeting baju tapi kaki dan matanya seolah tidak ingin beranjak barang satu senti saja dalam memandangi wanita dengan gaun pengantin itu.

Langkah kakinya yang ragu mulai mendekat selangkah demi selangkah kearah kyuhyun.

“selamat siang cho kyuhyun shi” sapa eunbi canggung

“selamat siang”

“maaf tapi calon istri anda yang meminta saya untuk melihat gaun pengantinnya” calon istri? Seperti pil pahit yang terpaksa ia telan eunbi begitu menyesal mengatakan hal itu.

“arra”

“sekali lagi maafkan saya” eunbi menunduk meminta maaf

“tidak apa-apa”

Mereka berdua keluar beriringan tapi hanya suara kendaraan di luar sana yang memenuhi setiap langkah yang mereka rajut.

“kalau begitu saya pamit dulu”

Dan eunbi segera memutar tubuhnya, melangkah meninggalkan kyuhyun.

“tunggu”  kyuhyun melangkah maju menyusul eunbi yang sudah lima langkah di depannya.

“ada apa?” tanya eunbi polos

“apa kau tidak membawa mobil?”

“aku naik taxi”

“kalau begitu masuklah, biar aku mengantarmu” tawar kyuhyun

“tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri”

Ini pasti akan berlangsung lama, perdebatan ini. tidak akan selesai sampai satu orang diantara mereka mengatakan iya.

“tap-tapi sungguh aku bisa pulang sendiri” kata eunbi saat dengan santainya kyuhyun menarik tangannya menuntunnya masuk kedalam mobilnya.

“ini hanya ucapan terima kasih karena kau telah membantu in jung”

In jung? Mendengar nama itu membuat eunbi tiba-tiba kehilangan tenaganya untuk menolak tawaran kyuhyun. benar, ini hanya ucapan terima kasih kyuhyun. lalu apa yang kau harapkan hwang eunbi? Kyuhyun memang sengaja mengantarmu? Dalam mimpimu saja!

Suara radio yang selalu kyuhyun putar di dalam mobilnya yang memenuhi kecanggungan ini. kyuhyun berdehem sekedar untuk membasahi tenggorokannya.

“apa kau sudah makan siang?” tanyanya

“ne? ah. Ne. belum” eunbi mengumpat karena kejujurannya. Seharusnya dia bilang sudah bukan? Sekarang apa lagi yang eunbi harapkan, makan siang bersama kyuhyun?

“kalau begitu kita makan siang dulu sebelum mengantar kau pulang”

Eunbi segera memutar tubuhnya menghadap kyuhyun dan melupakan deretan gedung yang dari tadi menjadi objek pemandangannya

“ne?” tanyanya tidak percaya.

Kyuhyun terkekeh mendengar pertanyaan eunbi. Bahkan suara renyah tertawanya memenuhi telinga eunbi membuat dia hampir kehilangan nafasnya.

“kenapa sekaget itu. Aku tidak akan menculikmu”

Sial. Ini pasti sangat memalukan. Hwang eunbi tolong control emosimu sekarang.

“maaf” kata eunbi kemudian.

**

Restoran steak yang begitu ternama di Seoul menjadi pilihan kyuhyun untuk mengisi perutnya yang kosong.

“jadi sudah sejauh mana persiapan pernikahanku?” tanya kyuhyun. yang demi Tuhan dia tidak ingin membahas itu bersama eunbi walaupun wanita ini lah yang mengatur persiapan pernihakannya. Tapi dia tidak punya bahan pembicaraan lain bukan untuk dibahas?

“ah masalah itu. Ini sudah 50% anda tidak perlu khawatir semuanya pasti akan sesuai dengan yang anda harapkan”  mulutnya mungkin bisa dengan lancar mengatakan tentang persiapan pernikahan kyuhyun tapi percayalah tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada mengatakan hal ini.

Beruntung pelayan restoran itu datang tepat waktu sebelum air mata eunbi kembali tumpah karena mengingat tentang pahitnya kenyataan ini.

“sudah berapa lama kau bekerja di hotel itu” tanya kyuhyunyang masih sibuk dengan pisau dan garpu miliknya membelah steak itu menjadi potongan-potongan kecil sebelum dimasukkan ke dalam mulutnya.

“satu tahun”

“satu tahun tapi kau tampak sangat berpengalaman di bidang ini” kata kyuhyun jujur.

“terima kasih”

“apa kau tidak mengingatku?”

“ne??” tanya eunbi penuh keterkejutan sampai-sampai tangannya terasa tidak sanggup hanya untuk mengangkat pisau kecil itu.

Kyuhyun meletakkan pisau dan garpunya. Menangkupkan kedua tangannya di meja dan menatap eunbi. Dia tidak akan menjadi pengecut lagi. Tidak lagi.

“kalau aku tidak salah kita pernah satu sekolah, yah meskipun itu tidak sampai satu semester karena aku harus pindah”

Dia ingat. Kyuhyun ingat itu.

Dan bodoh kau hwang eunbi karena pura-pura tidak mengenalnya. Bagaimana bisa kau melakukan hal ini?

Sangat sulit untuknya sekarang sekedar untuk menelan ludahnya sendiri.

“maafkan aku” kata eunbi tulus

“wae? Kenapa minta maaf?”  kyuhyun mengerutkan keningnya bingung. Apa dia melakukan hal yang salah sampai meminta maaf seperti itu.

“aku tahu anda satu sekolah denganku tapi aku pura-pura tidak mengenal anda karena aku pikir anda tidak akan tahu aku dan akan sangat memalukan jika aku tiba-tiba bertingkah mengenal anda. Maafkan aku”

Harga diri eunbi sudah hancur sekarang, meskipun hatinya senang mengetahui fakta bahwa kyuhyun mengingatnya.

“puhahahaha….” Kyuhyun hampir melupakan keberadaannya di restoran ternama saking bahagianya. Dan semua orang sudah menatap dua orang itu heran.

“maaf maaf” kata kyuhyun setelah tawanya mulai mereda. Kyuhyun menatap eunbi yang dahinya sudah dipenuhi dengan kerutan-kerutan bingung.

Kau tampak sangat bodoh cho kyuhyun.

Sadar dengan kegilaannya kyuhyun berdehem dan menatap eunbi kembali.

“maaf. Aku terlalu senang karena kau juga mengingatku. Aku pikir aku saja yang mengingatnya.”

Senang? Kyuhyun bilang senang?

Seperti ada berjuta kelopak bungan yang bermekaran menggelitik perutnya. Bahkan otomatis menarik ujung bibirnya membentuk lengkungan yang menghiasi wajah cantiknya berpadu dengan senyuman di wajah kyuhyun. entah mereka tersenyum untuk apa. Tapi kenyataan bahwa mereka saling mengingat membuat hati mereka tiba-tiba menghangat.

**

Setelan baju casual dan tubuhnya yang dibaringkan di sofa ruang keluarga membuatnya terlihat sangat nyaman. Tapi sesungguhnya kyuhyun sedang cemas menanti ponselnya bergetar. Bukan karena dia menanti investor meneleponya atau sesuatu yang lebih penting dari itu.

Drt…drt…

Getaran ponsel itu membuatnya seketika duduk tegap, merampas ponselnya yang tergeletak di meja.

Senyuman itu sekali lagi terbit dari wajahnya.

‘kau benar. kau bahkan selalu mendapat hukuman karena tidak membawa buku pelajaran’ kyuhyun segera memutar tubuhnya kebelakang menatap wanita yang terlihat tidak berdosa itu karena telah membaca pesan singkat miliknya.

“nuna…”teriak kyuhyun jengkel

“wae? Kenapa kau meneriakiku seperti itu?” untunglah jantung ciptaan Tuhan bisa menghalau dari serangan mendadak kyuhyun

“kau membaca pesanku?”

“iya wae?”

“WAE???” sekali lagi teriakan itu keluar begitu lancang dari bibir kyuhyun

“kenapa kau selalu berteriak?” tanya Ahra, kakak kyuhyun tidak kalah kencang

“kau…” kata kyuhyun dengan tatapan membunuh

Ahra memutar langkahnya, duduk disamping adiknya yang dia tahu akan segera meledak. Tapi kenapa ini terasa lebih menarik. Menggoda kyuhyun.

“tidak ada yang lucu dari pesan itu. Kenapa kau sampai sesenang itu?”

“memangnya kenapa? Aku hanya senang”

“nuna?!” kyuhyun menyingkirkan tangan Ahra yang berada di keningnya kasar.

“kau tidak gila kan?” heol. Bahkan sekarang wanita ini mengira adiknya gila.

“yak!”

“aku hanya bertanya saja” kata Ahra acuh.

“siapa eunbi?”

Pertanyaan yang tiba-tiba menjadikan perbincangan ini lebih serius dari sebelumnya.

“kau berselingkuh?”  selain gila dan sekarang selingkuh. Apa lagi yang akan Ahra katakana pada kyuhyun.

Tatapan membunuh itu membuat ahra sadar bahwa pertanyaannya sedikit keterlaluan.

“baiklah-baiklah. Kau tidak berselingkuh. Jadi siapa dia?”

“hanya teman lama” kata kyuhyun seperti menerawang jauh ke masa lalu

“teman?”

Kyuhyun menoleh menatap kakaknya

“ehm. Teman”

Suasana ini tiba-tiba berubah menjadi sedikit mellow. Ahra tidak bisa mengartikan setiap kata dan tatapan kyuhyun saat kata teman meluncur dari bibirnya.

**

“jadi apakah anda akan menemani lansung mereka untuk photo prewedding atau anda mau orang lain?”

“biar aku saja Na na shi” eunbi mungkin sudah gila karena memilih pilihan ini. biarlah hatinya terluka lagi, jika dengan luka ini bisa membawa eunbi pada kenyataan yang ada. Biarlah itu terjadi.

Photo prewedding kyuhyun dan in jung akan dilakukan di jeju dan gilanya eunbi ingin melihat mereka melakukan proses ini.

“jeju? Kenapa cinta ini harus dimulai di jeju dan berakhir di jeju juga?” tanya eunbi miris pada dirinya sendiri.

Eunbi memang bukan penduduk asli Seoul, orang tuanya menetap di jeju dan pertemuan pertamanya dengan kyuhyun adalah di jeju. Senior high school di jeju menjadi tempat mereka bertemu.

**

Angin pulau jeju mulai menyentuh kulit eunbi. Tanah kelahirannya, eunbi merindukan ini semua.

Kasur empuk hotel ini menjadi tempat untuk beristirahat yang paling nyaman. Meskipun eunbi lebih suka jika dia sekarang menginap di rumah orang tuanya. Tapi biarlah, dia akan menginap setelah pemotretan ini selesai.

Pagi menjelang begitu cepat bagi eunbi seperti dia tidak ingin hari ini segera tiba.

Hamparan padang rumput yang begitu luas dan laut yang berada di bawah membuat angin bertiup sedikit lebih kencang. Tempat ini begitu sempurna.

Hanya tatapan yang tidak bisa diartikan yang mempu eunbi lakukan. Pasangan di depannya Nampak begitu sempurna, begitu serasi dan kenyataan itu membuat eunbi terluka untuk kesekian kalinya.

Sesi pertama dari photo prewedding ini telah usai, sekarang tinggal menunggu mempelai wanita itu berganti pakaian dan pemotretan akan kembali dilakukan.

Eunbi berjalan sedikit menjauh dari beberapa orang yang sibuk mengatur lokasi yang mana yang paling bagus.

Berdiri dipinggir jurang dan terpaan angin laut yang menerjang wajahnya membuat eunbi sesekali memejamkan matanya seperti menikmati setiap belaian angin yang menerbangkan sebagian rambutnya kebelakang.

Matanya terbuka saat merasakan dress selututnya naik karena terpaan angin, kedua tangannya mencoba menenangkan dress itu. Dan untuk kedua kalinya eunbi harus dibuat kewalahan karena angin itu kembali menerbangkan dressnya. Terkutuklah angin ini, dressnya kembali berkibar dan untuk kesekian kalinya tangannya kembali sibuk untuk membuat dress itu diam tapi tangan eunbi tiba-tiba diam saat ada seseorang dibelakang punggungnya dan tangannya mengikatkan jas di pinggangnya.

“seharusnya kau tidak memakai dress jika tidak ingin dia tersingkap dan memamerkan pahamu” suara berat yang tepat disamping telinganya itu membuat eunbi tiba-tiba hanya mampu berdiri mematung. Eunbi tidak perlu membalik tubuhnya untuk tahu siapa pemilik suara itu. Kyuhyun. pria itu. Dia yang sekarang masih sibuk mengingatkan jasnya dan berdiri dibelakang eunbi.

“selesai” kyuhyun menarik tangannya di depan eunbi dan menarik tubuhnya yang menempel di punggung eunbi.

“terima kasih” kata eunbi gugup bahkan dia tidak sanggup menatap kyuhyun yang sekarang berdiri di sampingnya.

Angin masih bertiup kencang tapi dua insan manusia itu masih setiap berdiri dipinggir jurang menikmati sesuatu yang indah. Kebersamaan. Saat mereka berdiri berdampingan hanya berdua di pulau terindah korea selatan.

“jeju adalah tempat yang penuh dengan kenangan” kata kyuhyun membuka percakapan.

“ehm.” Kata eunbi mengiyakan, walaupun dia tidak tahu kenangan seperti apa yang kyuhyun maksud tapi tentang jeju yang penuh kenangan. Eunbi juga merasakannya. Saat pertemuannya dengan kyuhyun adalah kenangan terindah di jeju.

“masa SMA ku yang terbaik adalah di sini. Terima kasih untuk semuanya”

Eunbi menoleh menatap kyuhyun

“terima kasih untuk apa?” tanya eunbi heran

Kyuhyun menoleh dan menatap eunbi, sejenak mata mereka bertemu

“karena kau melihatku sebagai kyuhyun bukan anak dari pewaris perusahaan besar di Seoul”

“ah..itu”

Kyuhyun ingat saat orang lain tidak melihatnya karena dia menutupi statusnya sebagai pewaris sebuah perusahaan dan setelah statusnya terbuka semua orang mulai berjalan mendekat ke arahnya, tapi eunbi dia justru seperti terdorong ke belakang. Entah apa yang ada di dalam benaknya, tapi sejak saat itu dia tidak melihat eunbi yang diam-diam menatapnya saat mereka makan siang dikantin, tidak melihat eunbi yang pura-pura datang ke perpustakaan hanya untuk melihatnya. Semuanya seolah terasa hampa saat eunbi bersikap seperti itu dan pindah ke kembali Seoul adalah jalan yang harus kyuhyun lakukan.

“aku pindah ke Seoul waktu itu karena tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan di jeju”

“apa?” eunbi tidak mengerti dengan arah pembicaraan kyuhyun.

“aku tahu kau mulai menghilangkan kebiasaanmu yang memperhatikanku diam-diam saat semua orang mengetahui statusku yang sebenarnya.”

Seperti ada berjuta-juta letusan balon di atas kepalanya. Kyuhyun tahu itu? Dia memperhatikannya?

Eunbi kembali menatap kyuhyun yang tatapannya masih menatap lurus ke depan. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Lidahnya terasa keluh bahkan terasa sulit untuk mengatakan satu huruf saja.

Kyuhyun memutar tubuhnya menghadap eunbi. Memandang wajah itu dengan teliti.

“aku senang ada seseorang yang melihatku sebagai kyuhyun, memperhatikanku diam-diam, aku suka dengan itu dan aku lebih suka karena dia adalah kau”

Kalimat kyuhyun terasa begitu sulit untuk eunbi cerna. Dia hanya mampu menatap dan memandang iris hitam milik kyuhyun yang beradu dengan miliknya, mencari setiap makna dalam kata-kata kyuhyun.

Mereka saling menatap dengan angin yang terus berhembus dan menerbangkan bunga-bunga dandelion seperti butiran salju yang turun dari langit. Rambut yang berkibar tak beraturan dan deburan ombak di bawah seolah membawa mereka menyelami pikiran masing-masing, dan menikmati setiap getaran hangat yang menyelimuti hati mereka.

TBC

Kiss in the Rain {Part 1}

kiss-in-the-rain-copy

Judul: Kiss in the Rain

Main cast: Cho Kyuhyun, Hwang Eunbi (OC), others

Genre: Romance, Sad

Length: Chapter

Author: Oh honey

Author’s note: baiklah author kembali lagi dengan ff baru. Semoga ff ini tidak mengecewakan, jujur ff ini dibuat dalam waktu satu hari jadi maaf untuk typo dan kata-kata yang kurang pas.

Bagi para readers yang udah baca PLEASE COMMENT, tinggalkan jejak kalian untuk author ini 🙂 🙂

-HAPPY READING-

Hentakan mantap hak sepatunya yang runcing berpadu dengan kerasnya lantai marmer yang dia injak menciptakan suara yang terdengar seirama.Tarikan ujung bibirnya tidak pernah lepas dari wajahnya, menyapa semua orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Hiasan bunga-bunga yang tertata rapi dengan dominasi warna putih memenuhi semua sisi ruangan ini.

Dia menghentikan langkahnya menatap altar itu begitu puas. Sempurna pikirnya.

Dia akan menikah?

Tidak. Dia tidak akan menikah sekarang

Menghadiri pernikahan temannya?

Tidak. Dia sedang tidak punya undangan untuk datang kepernikahan untuk dua bulan ini.

“Eunbi shi. Semuanya sudah siap” kata perempuan dengan seragam dan tulisan Park Na Na yang terukir indah pada name tag dada sebelah kirinya.

“bagus. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun.Kau paham?” Tanyanya dengan tetap fokus mengamati setiap ornament ruangan besar yang disulap menjadi ruangan yang mewah dan terasa begitu penuh dengan harum bunga yang memenuhi rongga hidungnya.

Ya, menjadi ketua tim di salah satu hotel yang terkenal di Seoul dan bertanggung jawab terhadap semua perencanaan pernikahan seperti ini membuat eunbi kadang-kadang harus mengurut keningnya memikirkan ‘apakah pesta ini akan berjalan lancar? Apakah semuanya sesuai dengan rencana? ’ tapi setelah melihat mempelai yang tersenyum tulus menyapa semua tamu undangan kerutan kening itu berubah menjadi tarikan ujung bibirnya. Bisa ikut andil dalam acara yang penuh suka cita ini, ya meskipun ini bukanlah pesta pernikahannya tapi eunbi sangat menyukai pekerjaan seperti ini. menyaksikan kedua insan yang saling mencintai bersatu dalam ikatan janji suci disaksikan taburan bunga-bunga kelopak mawar membuat akal sehatnya tiba-tiba menerawang dalam fantasi liar yang tidak sengaja ia bentuk. ‘kapan dia bisa merasakan hal seperti itu? Betapa hangatnya tangannya berada dalam genggaman seseorang yang menyatukannya dalam ikatan pernikahan yang sakral.’

“Apa ada lagi yang harus dipersiapkan?”

Suara Park Na na membuyarkan kisah roman picisan yang ia ciptakan dalam otaknya.

“pastikan semuanya sesuai dengan rencana. Jangan ada hal sekecilpun yang melenceng saat acara”

**

Air  yang  terus bergerak seiring gerakan seseorang yang ada di dalam air membuat beberapa percik air membasahi pinggiran kolam renang.

Pria dengan tubuh yang bisa dibilang perfect tidak terlalu atletis tapi cukup terlihat sangat sexy. Tetesan air yang  jatuh saat dia perlahan menyisir rambutnya ke belakang dengan kedua tangannya menambah kesan sexy dan begitu…entahlah ini sulit untuk di deskripsikan.

Kyuhyun mengambil handuk yang terletak dibangku pinggir kolam renang, mengosokkannya pada rambut basahnya. Jus jeruk favoritnya menjadi penutup acara renangnya di akhir pekan. Sempurna batinnya. Hanya hal seperti ini yang selalu menjadi rutinitasnya di akhir pekan dan ini cukup dia syukuri. Tidak ada tumpukan kertas yang harus segera dia baca, tidak ada acara rapat yang mengganggu jam makan siangnya ataupun tidak ada suara sekretarisnya yang selalu membacakan jadwal untuknya setiap hari.

“apa kau hanya akan berada di kolam renang sepanjang akhir pekan seperti ikan?”

Kyuhyun segera menoleh, dan sedetik kemudian dia mendesis tidak suka. Selalu seperti ini, wanita yang  3 tahun lebih tua darinya itu selalu senang menggodanya.

“apa nuna sedang mengatakan kalau adikmu ini tidak laku sampai tidak punya hal lain yang harus dilakukan di akhir pekan?”

“oh baiklah nuna lupa kalau adikku ini akan segera bertunangan”

Bertunangan? Oh kyuhyun sedang tidak ingin mengingat tentang hal itu untuk sekarang. bukan karena dia tidak mencintai calon tunangannya atau pun hal ini terjadi karena perjodohan. Ya, meskipun semuanya tidak salah. kyuhyun dikenalkan dengan calon tunangannya oleh orang tuanya. Teman bisnis semacam itu, tapi masalah pertunangan ini kyuhyun tidak mengiyakan karena dia diancam akan dicoret dari daftar ahli waris atau semacamnya. Dia nyaman bersama wanita yang bergaya glamor dengan embel-embel ahli waris sebuah hotel ternama di Seoul. Tidak ada yang tidak ia miliki, kulit yang putih bersih dengan rambut khas asia. Kaya, bukankah itu sudah jelas. Bahkan mungkin hartanya tidak akan habis untuk anak cucunya nanti.

Kyuhyun beruntung bukan?

**

Pagi ini seperti pagi sebelum-sebelumnya, selalu sibuk dengan rutinitas yang sama mengurus ini dan itu.

Kursi kerja ini terasa sangat nyaman bagi wanita muda itu. Sampai suara ketukan pintu itu membuatnya sedikit membenarkan letak duduknya menjadi lebih tegap dari sebelumnya.

“eunbi shi, manajer memanggilmu keruangannya”

“baiklah aku akan kesana”

Setelah kepergian Park Na na eunbi berdiri dari singgasananya yang nyaman, membenarkan sedikit baju sebelum ke ruangan pria paruh baya yang terkenal cerewet itu.  Sungguh tidak ada yang ingin berurusan dengan pria itu. Bahkan semua orang di hotel ini menyebutnya ‘pria gila’ dengan tingkat ke-perfecsionisan tinggi.

Selama sepanjang karirnya disini dan sepanjang dia keluar masuk ruangan itu, tidak pernah eunbi merasa sangat bahagia seperti ini. bukan karena dia mendapat bonus atau hadiah tak terduga. Oh sungguh tidak ada yang menyenangkan dari ini.

‘eunbi harus menggurus pertunangan sampai pernikahan anak pemilik hotel ini’ ini hebat bukan? Bukan-bukan, bukan  masalah dia mengurusi pernikahan anak pemilik hotel ini tapi dia akan mendapat posisi sebagai manajer jika dia berhasil membuat pesta yang luar biasa dan berkesan bagi orang nomor satu di hotel ini.

Eunbi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. tidak untuk posisi manajer. Tidak akan pernah dia melepaskan kesempatan ini begitu saja.

**

“appa sudah mengatur tentang pertunangan kita” kata wanita itu yang masih focus dengan pasta dipiringnya. Ini adalah menu favoritnya, bahkan ini adalah pasta kedua untuk makan siangnya hari ini. beruntung tubuhnya tidak gampang gemuk hanya karena mengkonsumsi pasta berlebih. Anugerah yang para wanita sangat inginkan.

“oh arra. ahjussi sudah memberitahuku tadi”

“baguslah”

“makanlah pelan-pelan. Tidak ada yang ingin merebut pastamu” kata kyuhyun kemudian. Inilah yang kyuhyun suka dari wanita bermarga Kim ini, dia selalu apa adanya. Tidak ada kata ‘demi menjaga image’ sesuatu yang kebanyakan para wanita kaya lakukan.

Kim In jung, wanita yang akan segera bergelar tunangan cho kyuhyun atau calon istri cho kyuhyun pengusaha muda berpestasi dan wajah tampannya yang seperti magnet untuk kaum hawa. Dia adalah satu-satunya wanita beruntung dari sekian banyak kaum hawa di dunia ini.

In jung hanya terkekeh kemudian melanjutkan makannya kembali, berkutat dengan sendok dan garpu dan pasta kesukaannya.

**

Pertemuan dengan calon pasangan berbahagia, pewaris hotel ini akan segera berlangsung. Entah kenapa eunbi mendadak menjadi gugup. Ayolah, ini bukan ujian masuk universitas atau apapun demi Tuhan eunbi sudah sering melakukan hal seperti ini, melakukan meeting dengan kliennya, menyiapkan semuanya sampai pernikahan yang indah tercipta. Tidak ada bedanya dengan sekarang, dia hanya perlu duduk, menyamakan konsep yang ia punya dengan keinginan kliennya. Klien? Eunbi rasa itu bukan kata yang tepat, dia adalah anak pemilik hotel tempatnya bekerja jadi eunbi harus menyebutnya apa? Ng…seperti penentu hidup dan mati eunbi. Jika eunbi gagal menciptakan pernikahan yang spektakuler maka habislah karirnya, jika eunbi berhasil mewujudkannya maka karirnya akan meningkat satu level. Ini gila. Tidak pernah eunbi merasa terbebani seperti sekarang.

Restoran hotel bintang lima ini menjadi pilihannya untuk bertemu dengan orang ‘penentu hidup dan matinya’. Eunbi tidak mungkin membawa kedua orang itu ke dalam ruang kerjanya yang sempit.

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan lobi, menampakkan dua orang yang tampak sangat serasi dengan pakaian mahal dari brand ternama menggantung indah di tubuhnya. Langkah mereka begitu tenang dan mantap, beberapa orang memberi hormat saat mereka berjalan.

Untuk beberapa detik eunbi hanya mematung di tempatnya. Meyakinkan matanya bahwa ini bukanlah ilusi.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Manik matanya beradu dengan iris hitam yang masih tampak sama seperti beberapa tahun lalu. Dan sial. Dia masih begitu…tampan. Umurnya yang bertambah semakin mempertegas karisma dan wibawa yang ia miliki. Oh sialan, eunbi berkali mengumpat dalam hati. Haruskah dia bertemu dengan pria ini sekarang? dalam keadaan seperti ini?

Kyuhyun melihat gadis itu lagi, gadis masa lalunya. Cantik. Dia masih tetap cantik. Hanya kata itu yang mampu tergambar didalam pikirannya. Apakah sekarang kyuhyun lupa kalau dia akan segera bertunangan? Sialan. kenapa otaknya tiba-tiba mengingat hal itu.

“eunbi shi” suara mendayu itu menarik eunbi dan kyuhyun kembali pada kenyataan.

“ne? ah ne. Kim In jung shi. Silahkan duduk” kata eunbi tergagap.

‘dia tidak mungkin mengenalku. Jadi tenanglah hwang eunbi’ katanya meyakinkan hatinya sendiri.

“sebelumnya. Perkenalkan saya hwang eunbi dari divisi WO di hotel ini” eunbi mulai membuka perbincangan.

“jadi kau yang akan bertanggung jawab atas acara pertunanganku?”

“benar. saya yang akan melayani anda” kata eunbi sopan.

Pikiran eunbi tiba-tiba kacau. Oh, ini sudah beberapa tahun saat enbi melihat pria ini tapi kenapa hatinya masih gugup berada dengan radius yang sangat dekat dengannya. Lebih dekat dari sebelumnya malah.

Semua konsep yang ia rancang selama beberapa hari tiba-tiba tertimbun di dalam lapisan terdalam otaknya. Sebesar itukah pengaruh pria ini? membuat laju kerja otaknya tiba-tiba melambat.

Penjelasan demi penjelasan mulai melesat keluar dari bibirnya, konsep yang tertimbun di dalam otaknya mulai terurai.

“jadi konsep seperti apa yang anda inginkan?” tanya eunbi kemudian.

“oppa. Kau suka konsep yang mana?” tanya in jung menatap kyuhyun meminta pendapat. Dan sekarang eunbi sadar bahwa mereka benar- benar serasi. Senyum kecut tiba-tiba terukir diwajahnya. Hatinya sakit melihat ini. kenapa? Eunbi bahkan tidak tahu kenapa.

“terserah kau saja” suara berat itu mengisi gendang telinganya. Suara yang selalu eunbi nantikan dan rindukan. Suara yang selalu eunbi harap bisa menyebut namanya. Suara yang selalu membuat eunbi tersenyum bodoh saat mendengarnya.

**

Suara rintikan hujan di luar seperti backsound untuk suasana hatinya sekarang. Duduk termenung di sofa dekat jendela, menerawang jauh pada titik-titik air yang jatuh membasahi jendela kamarnya. Tidak ada malam yang begitu sendu seperti ini sebelumnya. Pikirannya tanpa bisa ia kendalikan kembali mengingat dan mengingat setiap detail wajah tampan pria yang ia temui tadi siang. Begitu susahnya eunbi menghapus semua yang berhubungan dengan kyuhyun baik hati dan pikirannya butuh sekitar 6 tahun untuk dia bisa sedikit menguasai hati dan pikirannya, dan sial harus eunbi akui pria itu terlalu menguasai setiap kerja otaknya dan berharap akan bertemu dengannya lagi suatu hari. Lagi-lagi eunbi mengumpat dalam hati, harusnya dia tidak berdoa dan berharap agar Tuhan kembali mempertemukan dia dengan pria itu. Setidaknya tidak dengan keadaan seperti ini. tidak dengan kyuhyun yang akan segera menjadi milik orang lain.

‘apa yang kau pikirkan hwang eunbi?’ eunbi berkata pada dirinya sendiri, memaksa hati dan pikirannya melihat sebuah realita yang begitu menyakitkan.

Helaan nafas yang panjang itu kembali ia lakukan. Begitu kuatkah pengaruh kyuhyun baginya? Hanya bertemu denganya kembali membuat dia tidak bisa menghilangkan bayangan pria itu. Pria yang diam-diam ia cintai, pria yang perlahan memenuhi setiap pikirannya setiap hari, pria yang tidak pernah tahu akan semua perasaan gila ini, pria yang tidak pernah bisa eunbi jangkau. Ya, eunbi hanya bisa mencintainya dalam diam. Dia adalah kyuhyun. yang tidak pernah melihat eunbi walau hanya satu kali saja.

Kenangan yang hanya bisa dia simpan, kenangan yang hanya dirinya yang tahu itu tiba-tiba berputar dalam otaknya.

Flashback on

Suasana di kantin ini selalu sama setiap harinya, para murid akan dengan senang hati mengisi setiap pojok tempat duduk.

Dan eunbi masih mengunyah makan siangnya sampai laki-laki itu datang. murid laki-laki yang baru pindah satu bulan lalu.

Seolah giginya tidak sanggup lagi mengunyah nasi yang sudah masuk ke dalam mulutnya, dan seperti diperintah semua matanya, tatapannya hanya memandang pada satu objek yang duduk di depannya meskipun laki-laki itu membelakangi eunbi tapi melihat punggungnya sudah membuat kerja saraf eunbi tiba-tiba menjadi lumpuh. Ini gila. Benar. ini benar-benar gila. Eunbi bahkan mengakui hal itu, tidak pernah dia begitu memuja makhluk yang berbeda jenis dengannya sampai seperti ini. Seolah kyuhyun mempunyai magnet yang begitu kuat melebihi gravitasi bumi dan dengan sengaja menarik eunbi begitu dalam ke dalam pusaran pesonanya.

“eunbi ah”

Suara sahabatnya itu menarik paksa pada riuhnya kantin siang ini.

Min young, memutar tubuhnya melihat objek yang menjadi pusat perhatian eunbi.

“kau sedang memandangi Siwon?” tebaknya asal

“mwo?” eunbi hampir tersedak oleh makanannya sendiri. Siwon? Min young bilang siwon? Bagaimana bisa?

“ani” jawabnya lagi cepat. Entah dia harus senang atau tidak. Dia senang karena min young tidak memergokinya memandang kyuhyun diam-diam, tapi siwon… oh sungguh eunbi tidak pernah tertarik pada pria yang menjadi primadona sekolah ini.

“lalu kau sedang melihat siapa? Kyuhyun?” lagi. Min young menebak asal.

“an-ani. Aku tidak sedang melihat mereka” dia menggigit bibir bawahnya gugup.

Min young memutar kembali tubuhnya, melihat sekali lagi dua pria yang duduk membelakanginya.

“tidak ada yang tidak mengincar siwon disini. Dia tampan dan kaya, bukankah itu sempurna? Dan kau harus segera menyingkirkan semua murid disini jika ingin bersamanya termasuk aku” terang min young, sebenarnya siapa yang peduli tentang siwon, tentang berapa banyak murid perempuan disini yang berbaris mengantri hanya untuk mendapatkan nomor teleponnya. Sungguh, eunbi tidak peduli tentang itu semua.

“tapi jika kau mengincar kyuhyun. pria miskin itu. Kurasa kau akan segera mendapatkannya.” Lanjut min young diselanya mengunyah makan siangnya.

Eunbi merengut tidak suka.

“bagaimana bisa kau membeda-bedakan orang seperti itu” kata eunbi tidak suka.

Sekali lagi, eunbi mengangkat kepalanya untuk melihat laki-laki itu. Tapi matanya terkunci pada iris gelap milik kyuhyun saat kyuhyun berjalan melewatinya. Seolah tiba-tiba suara murid lain yang memenuhi kantin tiba-tiba menghilang dan hanya terdengar suara detak jantungnya yang sedikit lebih cepat dari biasanya.

Flashback end

**

Kyuhyun meletakan kaca mata bacanya pada meja kerja miliknya. Hampir dua jam berkutat dengan laptop dan dokumen itu membuat ototnya terasa kaku.

“hujan?” tanyanya pada dirinya sendiri saat gendang telinga menangkap suar gemericik air di luar. Bahkan dia tidak sadar bahwa sejak dua jam yang lalu hujan sudah mengguyur Seoul, menciptakan genangan-genangan air tidak beraturan di jalan.

Langkah kakinya perlahan mendekati jendela besar di ruang kerjanya, menyibak gorden coklat yang menghalangi pemandangannya.

Lelehan air yang langit tumpahkan telihat jelas di kaca jendela miliknya. Memasukkan kedua tangannya pada saku celananya dan menikmati setiap suara sendu yang hujan ciptakan, mencium aroma tanah yang basah karenanya. Dan ini seperti de javu. Hujan dan suara yang dibawanya menarik kyuhyun pada 6 tahun lalu.

Flashback on

Kyuhyun benci saat-saat seperti ini. saat tiba-tiba langit menumpahkan berjuta-juta tetesan air dan membuatnya menunda kepulangannya.  Dan sialnya lagi, ini adalah hari pertamanya sekolah disini. Dia tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa sekarang ini.

‘haruskah aku menelopon Kang ahjushi untuk menjemputku?’ teriak kyuhyun dalam hati. Dia bosan, menunggu dan menunggu tapi hujan masih setia membasahi pelataran sekolahan dan menjebaknya disini. Di lorong sepi sekolahan.

‘aku tidak mungkin meminta Kang ahjushi untuk menjemputku’ hatinya kembali berbicara.

Kyuhyun menghela nafasnya dalam-dalam. Mungkin dia harus menunggu disini sampai hujan reda.

Tubuh tegapnya dia sandarkan pada tembok kokoh ruang kelas di belakangnya. Dia sedikit merutuki nasibnya karena menolak tawaran siwon untuk menumpang di mobilnya.

“ini” selama dua detik kyuhyun menatap payung di depannya heran kemudian beralih pada sosok perempuan di depannya.

Alis kyuhyun berkerut tidak mengerti.

“pakailah. Aku meminjamnya di ruang administrasi, kau bisa memakainya” katanya menjelaskan, melihat kyuhyun yang hanya mematung membuatnya tahu bahwa laki-laki itu sedang bingung.

Eunbi meletakkan payung itu disamping kyuhyun.

“kau harus mengembalikannya besok. Kalau tidak aku akan kena marah”

Setelah mengatakan itu eunbi segera pergi melewati lorong dan berhenti di depan pintu masuk. Mengeluarkan payung dari dalam tasnya dan siap membelah derasnya hujan.

Seperti orang bodoh, kyuhyun masih menatap lurus gadis yang sekarang sudah berada di tengah-tengah hujan dengan payung kuning dan rambut kuncir kudanya yang bergerak ke kanan ke kiri seiring langkah kakinya.

Tanpa kyuhyun sadari sejak saat itu dia sering memperhatikan gadis itu. Meskipun gadis itu tidak pernah menatap kyuhyun secara langsung.

Flashback end

Pengecut. Itulah yang sekarang kyuhyun pikirkan. Betapa pengecutnya dirinya dulu. Andai dulu dia berani berjalan mendekat pada murid perempuan itu, tentu dia tidak akan begitu menyesal seperti sekarang. tapi waktu tetaplah waktu, sesuatu yang tidak bisa kyuhyun putar kembali, sesuatu yang akan terus berjalan meninggalkan beberapa penyesalan.

Wajah gadis itu masih memenuhi pikirannya sampai sekarang terlebih setelah tadi siang.

Kyuhyun menghela nafas dalam-dalam.

Kebodohan itu kembali menjadi penyesalan kyuhyun. betapa mulutnya terasa sulit terbuka hanya untuk mengatakan halo atau semacamnya dan berpura-pura tidak mengenal wanita itu adalah hal yang kyuhyun pilih.

Dan kyuhyun hanya bisa meratapi kebodohannya dan berharap hujan malam ini bisa menghapus semua penyesalan yang ia tumpuk di dalam hati.

Dingingnya angin malam yang dibawa hujan tidak membuat eunbi meninggalkan jendela kamarnya dan bergelut dengan selimut tebal miliknya. Dia seperti terhipnotis oleh setiap suara hujan yang masuk kedalam indra pendengarannya. Hanya memandang lelehan air hujan yang membasahi kaca jendela miliknya.

—–TBC—–

Diary #Life

diary-copy

Title : Diary #life

Author : Oh Honey

Genre : sad

Author’s Note : ff ini murni dari pemikiran author sendiri, kalau minat silakan baca kalau gak tertarik yaudah tinggalin aja.

Kalau udah baca jangan lupa comment. Comment kalian sangat author butuhkan.

Sorry for typo

HAPPY READING 🙂

 

Kelas ini begitu berisik membuatku tidak bisa hanya sekedar menghapal satu baris rumus sekalipun, aku memang bukan tipe orang yang bisa belajar dimana saja dan kapan saja. aku butuh mood dan kesunyian, tidak seperti sekarang dimana semua menghabiskan waktu dengan teman-teman dekat mereka. Saling bertukan cerita, belajar bersama atau sekedar bermain. Lalu bagaimana denganku? Satu hal yang aku tahu aku tidak lagi punya teman untuk bisa duduk disebelahku dan bercerita bersama. Kasihan. aku benci kata itu. Aku tidak ingin mengasihani diriku sendiri, aku sudah bahagia sekarang dan akan selamanya bahagia.

Buku dengan sampul biru yang beberapa bulan ini menjadi favoritku sekaligus teman saat tidak ada lagi teman untuk ku ajak bicara, saat aku duduk sendiri di jam – jam kosong atau jam istirahat dan disaat aku lebih focus mengatur hidupku kembali. Betapa berat semua cobaan yang telah aku lalui, dan betapa jauh lebih indah hari demi hari yang aku lalui. Semuanya ada dalam buku ini. jika kalian bertanya bagaimana kehidupanku selama beberapa bulan ini, maka kalian bisa melihatnya pada buku dairy sederhana yang aku beli dipasar. Bukan buku dengan sampul yang elegan tapi hanya sampul buku yang terlihat sangat sederhana.

***

Aku hwang eunbi seorang gadis yang tengah duduk dibangku kelas 3 SMA. Aku menulis ini di buku dairyku, buku diary pertamaku. Sebelumnya aku tidak pernah tertarik untuk menulis hal hal semacam ini, tapi saat ini aku sangat tertarik dengan ini.

 

Aku telah melalui banyak hal setahun terakhir ini, perjalanan hidupku seolah jauh lebih bergelombang dari tahun tahun sebelumnya. Ada begitu banyak hal yang bisa aku ceritakan, tapi aku tidak yakin bisa menuliskan semuanya dibuku ini. sangat sedih saat aku harus mengingat kembali saat saat itu. Saat saat terpurukku.

Saat itu musim gugur dibulan september, aku tidak ingat tanggalnya yang dapat aku ingat hanya bagaimana cerita ini berawal, cerita yang membuat hidupku berputar 360 derajat.

 

Sore itu aku pulang kerumah dengan membawa banyak kantong belanjaan, ya hobiku adalah shopping. Menghabiskan uang orang tuaku. tapi aku bukan anak yang nakal hanya saja kebiasaan shoppingku seolah bagai candu bagiku.

tidak ada yang aneh saat aku memasuki rumah sampai aku melihat appa berada di ruang keluarga dan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku jelaskan, aku berjalan kearahnya dengan senyuman.

“appa”

“eunbi ah, berhentilah belanja sesuatu yang tidak penting.”

“aku hanya membeli beberapa pakaian dan 2 sepatu” kataku dengan memperlihatkan katong belanjaanku pada appa

“hentikanlah kebiasaan burukmu itu, appa sudah tidak punya uang lagi” ada nada marah, kesal dan sedih dari nada bicara appa saat itu.

“apa maksud appa dengan tidak memiliki uang?”

“kita sudah bangkrut eunbi ah” suara appa sedikit melemah diakhir.

Katong belanjaan yang sejak tadi berada dalam genggamanku jatuh mengenai lantai marmer yang ada dibawah kakiku, menimbulkan suara yang tidak terlalu keras. Aku menatap wajah appa dalam dalam, menelisik setiap detail wajah itu berusaha menemukan kebohongan. Tapi aku tidak menemukannya.

Sore hari itu terasa begitu memilukan bagiku. Appa menceritakan semuanya, mulai dari kenapa perusahaan mengalami kebangkrutan dan bagaimana aku dan appa harus hidup setelah ini.

Semalaman aku mengunci diriku didalam kamar meluapkan semua  rasa sedihku pada tumpukan bantal, aku manangis sejadi jadi, tidak peduli jika besok mataku akan bengkak atau air mataku akan habis. Aku hanya ingin meluapkan semua perasaanku.

Satu kenyataan yang membuat hariku semakin kelabu saat itu adalah kenyataan kalau aku harus meninggalkan rumah tepatku dibesarkan. Yang aku cemaskan bukan karena aku harus tinggal dirumah yang mungkin jauh lebih kecil dari ini tapi yang aku cemaskan adalah aku harus meninggalkan semua kenangan yang ada dirumah ini, kenangan bersama oemma. Karena hanya sudut sudut rumah inilah yang mampu mengingatkanku pada sosok oemma. Yah, perempuan hebat yang telah melahirkanku itu telah pergi kesurga terlebih dulu saat  usiaku masih sangat kecil, bahkan aku tidak hapal betul bagaimana detail wajahnya. Apakah wajahnya memilki tahi lalat atau ada bintik hitam? Aku tidak tahu. Yang aku tahu dia memiliki mata yang sama sepertiku, coklat dan sedikit lebar.

Malam itu perasaanku benar benar tak karuan, aku tak tahu harus berbuat apa selain menangis. Aku ingin marah tapi aku tidak tahu harus meluapkan amarahku pada siapa, Tuhan? Apakah pantas aku marah kepada Tuhan, Appa? Aku juga tidak pantas marah kepadanya aku justru merasa sangat bersalah padanya. Selama ini aku tidak tahu kesulitan apa saja yang ia hadapi, aku tidak tahu bagaimana susahnya ia mencari satu sen uang untukku , aku tidak tahu kesedihan apa saja yang telah ia lalui untukku, aku tidak tahu bagaimana berat hidupnya tanpa oemma dan hanya hidup bersamaku. Aku tidak tahu semua itu, selama ini aku hanya sibuk dengan urusanku sendiri, menghabiskan uang appa, pergi kesana kemari, tanpa memikirkan appa. Aku benar benar merasa menjadi anak yang tidak berguna.

**

 

Dihari berikutnya aku dan appa pindah kerumah yang jauh lebih kecil dari rumah kita. Aku mengemasi setiap barang barangku sambil menangis. Sangat berat rasanya saat aku harus memasukkan barang barangku dan semua kenangan didalamnya kedalam box.

Appa menatapku dengan tatapan sedih, aku tahu dia sangat menyesali keadaan ini, menyesal karena membuat aku harus melewati hal seberat ini diusiaku yang masih 17 tahun.

Appa mendekatiku dan memelukku, aku tidak dapat lagi menahan isakanku saat tangan tangan kekar itu merengkuh tubuhku. Aku menangis dalam pelukan appa.

“appa, aku tidak bersedih jika aku harus pindah kerumah yang jauh lebih kecil dari rumah kita, tapi aku bersedih ketika aku harus meninggalkan semua kenangan yang ada dirumah ini.” aduku pada appa.

“kenangan itu ada disini” appa meenyentuh dadanya sambil menatapku.

“bukan dirumah ini, rumah ini hanya sebagai fasilitas untuk kita mengingat kenangan itu.”

“kalau fasilitas itu harus hilang, bagaimana kita mengingat kenangan itu?.”

Appa tersenyum kepadaku.

“kenangan itu tertanam jauh didalam hati, jadi bagaimana kalau fasilitas itu hilang? Kau cukup mencarinya jauh kedalam hatimu. Kenangan tidak akan pernah hilang dari dalam hati.”

Aku merenungi setiap perkataan appa, memasukkannya kedalam hati. Kata kata itu membuatku sadar kalau tidak masalah jika aku harus meninggalkan rumah ini, rumah yang penuh kenangan. Karena setiap kenangan itu ada didalam hatiku. Yang jadi masalah adalah saat aku harus tidak lagi bersama appa, sosok laki laki tegar yang mampu menguatkan aku, laki laki yang seolah bagai perisai untukku.

**

 

Kesan pertama yang aku tangkap saat melihat rumah baruku bersama appa adalah sempit dan pengap. Rumah itu hanya sebesar ukuran ruang tamu rumah kami yang dulu, memiliki jendela kecil disetiap ruangannya, tidak ada AC, tidak ada penghangat ruangan bahkan tidak ada tempat perapian. Sebuah rumah yang sangat sederhana.

Dalam hati aku berkata ‘aku tidak yakin bisa tinggal disini, bahkan aku tidak yakin bisa melewatkan satu malam disini’

Appa melihat keraguan dalam diriku, kemudian ia menepuk punggungku pelan dan masuk lebih jauh kedalam rumah baru kami.

Lagi lagi appa berhasil menguatkan aku, tepukan ringan yang ia berikan padaku seolah bagai cambuk bagi diriku. Ku langkahkan kaki menyusul appa, menelisik setiap detail rumah, mencari sesuatu yang istimewa dari rumah ini.

 

Hari hari berikutnya terasa semakin berat, setiap hari aku harus berjalan kesekolah, aku harus membiayai diriku sendiri dengan bekerja, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan bahkan memimpikannya saja aku tidak pernah. Kehidupanku benar benar telah berubah 180 derajat.  jika saja aku punya pilihan lain untuk kembali ke masa lalu aku akan memilih pilahan itu. Tapi sayangnya aku tidak memiliki pilihan itu. Aku merasa benar benar tidak sanggup melalui semua ujian hidup ini. aku ingin lari dari kenyataan ini. aku ingin semuanya cepat berlalu. Aku ingin kehidupanku yang dulu. Aku ingin hidup seperti dulu, memiliki segalanya tanpa perlu berkerja keras seperti sekarang. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu.

**

Saat musim dingin tahun lalu aku menyadari satu hal, sesuatu yang aku cari. Keistemewaan yang dimiliki rumah kecilku dan appa.

Saat itu aku pulang sedikit larut, pekerjaan part time membuatku harus pulang lebih malam dari biasanya. Aku melihat appa sedang duduk didepan jendela memperhatikan sesuatu diluar. Aku penasaran dengan apa yang sedang appa lihat. Kulangkahkan kakiku mendekat kearahnya.

“appa.”

Appa menoleh kearahku.

“kau baru pulang?”

Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan appa.

“apa yang sejak tadi appa perhatikan?”

“duduklah disini”

Appa mengeser duduknya dan aku duduk disamping appa.

“lihatlah itu, sangat cantikkan”

Sebuah pemandangan yang indah dapat aku lihat dari jendela kecil yang selama ini tidak pernah aku pandang istimewa. Pijaran pijaran lampu dari rumah rumah yang ada didaerah bawah rumah kami sangat luar biasanya indah. Bagai bintang bintang dimusin dingin. Aku heran kenapa aku baru menyadarinya sekarang, kenapa aku melewatkan hal seindah ini.

Malam itu aku belajar bahwa sesuatu yang kita pandang sangat kecil dan sama sekali tidak istimewa bisa menjadi sesuatu yang sangat besar dan sangat istemewa jika kita mau melihat lebih jauh.

Mulai saat itu jendela kecil itu menjadi tempat teristimewaku dirumah.

**

Hari hari selanjutnya terasa lebih ringan dari sebelumnya, aku sudah terbiasa dengan kehidupan serba sederhana yang aku jalani bersama appa. Aku tidak lagi mengeluh, aku tidak lagi merasa terbebani dengan segala berat hidup ini.

Langkahku bersama appa solah lebih ringan saat appa berhasil menemukan investor baru untuk perusahaan appa yang nasibnya sudah diujung tanduk. Saat itu aku dapat sedikit bernafas lega. Membuang semua keraguan yang ada pada diriku.

Dengan berpegang keyakinan yang kuat kalau semua penderitaan ini akan berakhir aku menjalani hariku dengan lebih bersyukur, bersyukur karena Tuhan masih mengasihani aku, bersyukur karena segala ketakutan yang aku hadapi akan pergi, dan bersyukur karena sejauh ini aku bisa melewati penderitaan ini.

**

Masa terpurukku bukan hanya tentang penderitaan yang aku lalui bersama appa tapi juga tentang teman temanku. Dua wanita yang saat ini sedang duduk di dua bangku didepanku, jung hyesun dan cho heyna mereka adalah temanku. Teman? Aku tidak yakin bisa menyebut mereka teman setelah apa yang mereka lakukan padaku. Mereka meninggalkan aku saat mereka tahu kalau appa bangkrut dan aku harus meninggalkan rumah. Entah apa yang ada dipikiran mereka sampai pergi meninggalkan aku, apa mereka malu berteman denganku karena aku tidak lagi tinggal dirumah yang besar? Entahlah,aku tidak ingin memikirkannya lagi. Bagiku sekarang mereka bukan temanku lagi. Aku tidak membenci mereka tapi aku sangat kecewa dengan sikap mereka terhadapku. Disaat aku sangat membutuhkan dukungan dari mereka , mereka justru berpaling dariku. Kenyataan itu benar benar tidak bisa aku lupakan. Aku sedih waktu itu bahkan sangat sedih karena harus kehilangan teman yang aku miliki, tapi kesedihan itu sekarang seolah menjadi rasa syukur. Aku bersyukur karena Tuhan memperlihatkan bagaimana sifat asli mereka. Kalau saja waktu itu mereka tidak berpaling dariku sudah dipastikan kalau aku akan hidup dalam bayang bayang kepura puraan mereka. Dan akan jauh lebih menyakitkan jika aku terlambat mengetahuinya.

 

 

Dan laki laki yang duduk tidak jauh dari tempatku, laki laki yang aku anggap istemewa, dia juga temanku. Aku juga tidak yakin dengan menyebut dia teman karena pada kenyataannya aku ingin dia lebih dari sekedar teman, aku memiliki perasaan khusus untuknya. Cinta. Laki laki bernama cho kyuhyun. Aku sudah mengenalnya saat aku di junior high school dia teman yang sangat baik, pintar berolah raga, dan juga tampan. Semua yang ada pada dirinya terlihat sangat sempurna dimataku.

Malam itu saat aku terpuruk dan mengangis dikamarku, aku meneleponnya, ingin bercerita tentang apa yang aku alami hari ini. tapi apa yang aku dapat, sebuah kenyataan pahit yang tidak lebih buruk dari kenyataan kalau appa telah bangkrut.

“yoboseyo” sahut kyuhyun dari ujung telepon.

“kyuhyun ah” kataku dengan tangis yang berusaha aku tahan.

“eunbi ah, apa kau tahu kalau muali hari ini aku berkencan dengan park nana?” suara bahagia kyuhyun seolah menjadi pisau yang mengoyak ngoyak hatiku, menghancurkannya sampai tak tersisa.

Tak ada ucapan selamat yang aku ucapan untuknya karena detik berikutnya aku sudah mematikan sambungan telepon. Aku mengangis tak karuan, aku sudah tidak bisa lagi menahan desakan air mataku. Aku tidak habis pikir dengan apa yang dia katakan. Mengetahui kalau kyuhyun menjalin hubungan dengan wanita lain membuat aku semakin kalut. Aku memang sudah tahu kalau kyuhyun menyukai gadis bernama park nana itu walaupun tidak dari mulut kyuhyun sendiri, tapi aku tidak tahu kalau sebegini sakitnya saat aku harus mendengarnya langsung dari kyuhyun. Malam itu seolah menjadi malam tergelap dalam hidupku.

Sejak saat itu aku menghindari bertemu kyuhyun, aku tidak lagi berbicara dengan kyuhyun. Dan dia juga baik baik saja dengan hal itu, bahkan dia terlihat bahagia bersama kekasihnya. Dan tentu saja itu membuat aku sedih dan benci melihatnya, melihat kyuhyun bahagia bersama wanita lain. sangat menyakitkan memang melihat kyuhyun bahagia bersama wanita lain tapi ternyata merindukannya jauh lebih menyakitkan. Memendam rasa rindu itu seolah memendam ratusan bom yang siap meledak, tidak akan lega sampai bom itu meledak begitu pun rindu tidak akan lega sampai kita menyampaikan rindu itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan, kyuhyun telah bersama orang lain.

Sering aku berandai andai, andai aku tidak pernah mengenal kyuhyun mungkin aku tidak akan pernah mencintainya, andai aku tidak pernah mencintainya mungkin aku tidak pernah merindukannya, andai aku punya keberaniaan sedikit saja saat itu untuk mengatakan perasaanku padanya mungkin aku tidak akan memendam perasaan ini sendiri. Tapi apa yang bisa aku lakukan dengan kata andai itu, semuanya telah terjadi kyuhyun telah bahagia bersama orang lain dan aku harus menerima kenyataan itu suka atau tidak suka.

**

Saat ini, perusahaan appa sudah mulai bangkit lagi,Hutang hutang yang menumpuk di bank sudah terlunasi. Dan itu berarti masa terpurukku sudah usai aku telah melewati semua itu bersama appa hanya bersama appa, tidak ada teman, tidak ada keluarga apalagi orang lain. Hanya bersama appa.

Banyak hal yang aku pelajari dari perjalanan hidup yang baru saja aku lewati ini, kesetiaan, cinta, kasih semuanya diuji dalam ujian hidup itu. Melalui semua itu aku tahu siapa yang tulus menyanyangiku dan siapa yang hanya berpura pura. Membuatku memandang hidup jauh kedepan.

Dan satu pelajaran berharga yang aku dapat hidup itu nagai roda yang terus berputar, kita tidak bisa selalu berada diatas adakalanya kita berada dibawah. Bagaimana roda itu berputar? Aku sudah merasakannya. Dan saat ini aku berharap ada roda lain dalam hidupku yang berputar. Kyuhyun. Aku berharap suatu saat laki laki itu dapat mengerti perasaanku dan menatapku. Tidak masalah jika nanti dia tidak menjadi milikku aku hanya ingin dia tahu perasaanku yang sebenarnya. Tidak masalah jika dia hanya menantapku sebentar kemudian berpaling karena aku hanya ingin dia pernah menatapku.

—-THE END—